Me-reka Rasa

Andai manusia diberi kemampuan untuk bisa merasa apa yang dirasakankan apappun di luar dirinya sendiri: hewan, tetumbuhun sampai manusia lainnya, dapat kita bayangkan betapa itu akan menyiksa. Namun, rentetan perusakan, kekerasan dan penghakiman sepihak ini sepertinya tak akan terjadi.

Di tengah tanah lapang yang berdebu, di saat mentari mulai mendaki, orang-orang berpekik dan melempari sang pelacur tak berdaya dengan apapun yang bisa mereka genggam. Kita tahu orang-orang itu geram karena perbuatan si wanita pelacur yang mereka anggap nista tak bermoral. Mereka yang merasa suci terpanggil untuk menghakimi dan menafikan ia yang kotor, ia yang “kafir.”

Di tengah drama penyiksaan itu berlangsung, datanglah seorang pemberani yang dengan seperti konyol membiarkan tubuhnya menjadi perisai bagi tubuh si pelacur dari hujanan sambitan sekumpulan orang yang tengah teramat marah. Lalu ia berbalik pada hakim-hakim “swasta” itu dan berteriak dengan kata-kata yang sangat jelas: “Siapa di antara kamu yang

tidak berdosa, hendaklah ia yang mula-mula melemparkan batu kepada perempuan itu.” Suasana mendadak hening. Tinggal isak tangis si pelacur dan derap kaki si penyiksa yang satu per satu undur diri.

Wanita pelacur itu, anggap Isa sebagai penyelamat. Isa menyelamatkan dirinya dari ketakadilan dan kesemena-menaan atas nama “hukum”, “moral” dan “kebenaran.” Ia puja Isa sebagai juru selamat karena Isa tak hanya tanggungkan raganya demi menyelamatkan nyawanya, namun Isa telah berani korbankan reputasi sosialnya yang luhur demi seorang pelacur seperti dirinya yang waktu itu semua orang anggap tak bernilai dan layak diperlakukan tak manusiawi.

Tapi sebenarnya Isa tak hanya menyelematkan diri wanita teraniaya itu. Lebih dari itu, ia menegaskan suatu pandangan dan sikap hidup yang bersumber dari wahyu Yang Maha Agung, yang kelak menjadi ajaran Kasih Isa Al-Masih yang mampu menginspirasi berjuta umat manusia, menjadi penawar bagi angkara murka.

Sayang hari ini Isa al-Masih tak lagi hadir di tengah-tengah kita. Tragedi amuk terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik yang lenyapkan tiga orang penganut Ahmadi terjadi dan berlalu begitu saja. Bom meledak di banyak tempat bahkan di dalam rumah Tuhan sekalipun. Banyak nyawa meregang, banyak tubuh terkorbankan tapi tak ada seorang pun, layaknya Isa, yang berteriak lantang dan langsung pada mereka : “Apa kalian wakil Tuhan yang boleh menghakimi iman orang lain?”

Namun sebenarnya saya ragu apakah kalimat Isa yang dulu dilontarkannya pada para penyiksa pezina masih memiliki manuat yang sama, yang mampu menghentikan ayunan golok dan hantaman tangan orang-orang yang mendaku prajurit tuhan itu? Atau kata-kata Isa yang merujuk pada suatu yang ilahiyah itu sebenarnya kini sudah tak memiliki lagi relevansi di tengah praktik-praktik penghakiman dan penghukuman jalanan saat ini yang berawal dari sesuatu yang begitu kompleks dan memiliki “kegelapannya” sendiri yang melampaui dari sekadar moral dan doktrin agama? Mungkin. Sekali lagi mungin, di dalamnya terkandung berbagai muatan kepentingan, mulai dari politik, ekonomi, dan apapun yang malu-malu jika terlalu kentara dan akhirnya memakai baju agama sebagi kedok dan pelindung.

Konon, ajaran kasih Nabi Isa a.s mengajari umatnya untuk sejenak berpikir dan mereka-rasa tentang akibat dari suatu tindakan sebelum bertindak pada orang lain. Tamparlah diri sendiri dan hayati apa rasanya sebelum menampar orang lain. Jika diri merasakan tamparan itu sakit maka orang lainpun akan merasakan sama dengan yang diri rasakan. Apabila kita tak mau disakiti maka orang lainpun pasti tak ingin menanggung kesakitan.

Sungguh menggugah nasihat dari seorang sufi besar zaman ini, Abah Anom Suryalaya: “Janganlah merasa pintar tapi harus pintar merasa.”

Apapun muatan itu, sekuat bagaimanapun motif itu, jika kita sedikit saja bisa berempati dan merasakan walau secuil apa yang dirasakan si liyan, tentu penghakiman dan penghukuman semena-mena itu tidak akan pernah terjadi. Mungkin Nabi Isa a.s, Rasulullah Muhammad s.a.w dan pengajar Kasih dari golongan para nabi lainnya secara zahiriyah tidak ada lagi di tengah-tengah kita. Tapi yakinlah bahwa Cinta mereka senantiasa hidup dan akan memadamkan bara dendam yang meraja.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 34 Tanggapan... read them below or add one }

alkatro mengatakan...

inikah fenomena alam perilaku ataukah hanya teka teki sang sangkuni yang mencoba membangun fatamargona ini menjadi seolah nyata?
met liburan akang :D

warsito mengatakan...

salam kenal brow


dah ane follow balik

Insanitis mengatakan...

Mas Katro: banyak kemungkinan dalam setiap fenomena mas (sok tua bijak, hehe)
Mas Warsito: Thanks,salam kenal juga :)

Obat Sakit 2011 mengatakan...

sungguh sangat tersiksa gan bila hal itu terjadi

Obat Sakit 2011 mengatakan...

follow back sukses

f4dLy :) mengatakan...

inilah fenomena kehidupan dimana hati nurani sudah tak ada lagi...

free adobe tutorials mengatakan...

Ketika kita merasa apa yang dirasa seluruh alam... Rabbana ma khalakta hadza batila.. ke AKU an akan musnah karena kita tahu seluruh alam bertasbih kepadaNya.
Rosulullah sebagai uswatun hasanah, bertugas untuk menyempurnakan akhlak. Mari kita bangun dalam diri kita akhlak yang sesuai dengan tuntunan sang penghulu para nabi dan rosul. Tidak ada hak bagi kita untuk men judge atas keimanan orang lain.

"belum ada kolom sedekah gan... semangaatt..." hehehe

Arief Bayoe Sapoetra mengatakan...

Salam kenal & udah saya follback.... ngomong2 sayembara nulis itu kontes ta kang.......?hehehehe

nyayu amibae mengatakan...

Aku datang..

Kunjungan perdana dan salam kenal.. :)

Me-reka Rasa : Indahnya damai... :)

vamos angie mengatakan...

Siang... kunjungan perdana...
nice post!!
lam kenal... mampir2 ya...
:)

Yudi Darmawan mengatakan...

saya tak merasa diajarin dengan tulisan ini, tapi bermakna sekali, agar lebih tepat dalam mengambil suatu sikap dengan fikiran yang matang..

salam kenal dan salam follow..

Cyaam mengatakan...

jiah... ada yudi diatas
hehehe, halo mas... saya berkunjung balik. salam kenal yah, ijin follow juga :)

Sketsaku mengatakan...

inspirasi sejuta umat, semilyar bahkan seluruh umat manusia...tentang kasih sayang sesama.

Renaldy mengatakan...

Memang begitulah manusia. Jika melihat kertas putih dan bersih berkata "Kosong" tetapi cukup dengan sati titik kecil saja sudah beranggapan "kotor"

Salam kenal ya...:D
ijin folow... :)

Anonim mengatakan...

kang nami blog na hade lah

zasachi mengatakan...

Peace daahh.. ^^
jauh lebih indah


salam kenal, kunjungan balasan nih :)

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

saya juga pernah baca kisah ini di bible.

Magic Paper mengatakan...

kunjungan balik,,, nice post, menguak wajah Indonesia saat ini.....

choirunnangim mengatakan...

assalamu'alaikum Mas..?
Memang fenomena yang ada sering kita jumpai sebuah penghakiman terhadap yang bersalah.
banyak kalangan tidak berfikir apa yang ada dibalik fakta...
mencari realita dibalik fakta itu..

SOFYAN mengatakan...

terima kasih atas artikelnya....semoga bermanfaat

lilipoetz mengatakan...

Thanks for sharing.. :)
Keberagaman sejatinya adalah warna, entah kenapa orang2 sok putih itu mencela warna lain yg tidak dia suka..

Selamat siang dan terus berfikir positif :)

CORETAN HIDUP mengatakan...

Kita serahkan hidup dan mati kita semata-mata kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa kebenaran yang hakiki datangnya hanya dari Ilahi Rabbi

SURI MEILANI mengatakan...

salam kenal n follow balik y

Rean mengatakan...

saya tak berani mengungkapkan pendapat saya...
saya takut, saya masih termasuk orang yang suka menghakmi meski tak pernah mendemonstrasikan secara langsung...

salam kenal :)

iam mengatakan...

Yap, bener banget, walau Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa telah pergi, tapi cinta dan juga ajaran2nya selalu ada :)

Kamal Hayat mengatakan...

ceritanya sedih banget, semoga kita bisa mengambil hikmahnya

CORETAN HIDUP mengatakan...

Benar banget. Hanya cinta kasihlah yang akan menghapuskan dendam dihati

Gaphe mengatakan...

ternyata nggak cukup sekali membaca untuk memahami makna dan maksud dari tulisan ini.

menyentuh, sekaligus jadi pelajaran juga.

sahabat mengatakan...

Sobat, aku mau kabarin kalau sekarang aku sudah berpindah blog http://langitsahabat.blogspot.com

Zippy mengatakan...

Saya bacanya meringding....
Saya juga heran, dimanakan kasih itu sebenarnya?
Seakan sudah termakan oleh jaman.
Yang ada sekarang hanyalah perkelahian, bahkan hingga mengatasnamakan agama segala.
Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan kepada umatnya?

attayaya-mading mengatakan...

aku suka kalimat abah anom Suryalaya
jangan merasa pintar, tapi pintar merasa
i like it
lam kenal akang
makasih atas kunjungannya di tempatku

tutorial blogging mengatakan...

inspiratif sekali, oh iya kunjungan perdana salam kenal dari saya :)

yoga mengatakan...

sungguh indah sekali pak

Toko Achong - Hua mengatakan...

BEST SELLER PRODUK
TOKO ACHONG - HUA


- alat bantu sex pria

- alat bantu sex wanita

- cream pembesar payu dara

- kapsul pembesar payu dara

- kapsul peninggi badan

- kecantikan

- kesehatan

- kondom silikon

- minyak pembesar penis

- obat kuat pria

- obat pelangsing

- obat pembesar penis

- obat penggemuk badan

- obat penumbuh rambut

- obat penyubur sperma

- obat perangsang

- penghilang tatto permanen

- vakum pembesar penis

- vakum pembesar payu dara

- SELAMAT BERBELANJA -

Posting Komentar