Bangun Subuh: Sebuah Komitmen Berdarah- Darah :)

SeKomitmen pada diri adalah semacam kontrak mengikat yang kita ikrarkan pada diri sendiri, perihal suatu hal. Biasanya sih sesuatu yang sederhana, namun anehnya, sesuatu yang sederhana sekali pun jika itu masuk dalam draft komitmen maka akan terasa berdarah-darah dalam memenuhinya. Dalam kasus saya misal: bangun subuh (Terus terang, saya ragu ketika mau mengambil contoh pribadi ini—bangun subuh. Karena ini akan menjadi semacam pengakuan dosa yang memalukan).

Bangun subuh itu sebenarnya sederhana sekali: bukalah mata dan angkat tubuh dari tempat tidur pada jam tertentu. Sedehana sekali bukan?


Namun bagi pribadi yang tak teguh dalam memegang sebuah komitmen, layaknya saya, perisiwa bangun subuh pun niscaya akan berubah menjadi sesuatu yang “jauh” dan mungkin mengerikan J Dan pada akhirnya koitmen tinggalah komitmen sementara bangun tetap jam tujuh. Dan pada akhirnya saya awali hari dengan sebuah ratapan yang itu-itu juga: Tuhan, saya tak mampu bangun subuh!


Mungkin sebagian kamu bertanya-tanya (walau pasti hanya dalam hati), “Jika tak mampu, kenapa kamu katakan bahwa bangun subuh itu sederhana sekali?” Saya mengatakan sederhana karena walau memang tak sering namun saya terkadang bangun subuh juga. Dan itu peristiwa yang sederhana sekali! Cukup buka mata dan bangun.


Saya akan tulis beberapa rekam jejak saya dalam bangun subuh, bahkan dini hari: Pertama, ketika atasan saya pulang berhaji dan saya selaku bawahnnya wajib ikut menjemput, itu terjadi jam tiga dini hari. Kedua, di hari pernikahan saya. Karena saya harus didandani dan memperisapkan banyak hal maka saya pun bangun jam setengah lima subuh. Ketiga, tatkala ibu mertuaku ingin diantar ke pasar pagi-pagi sekali, saya pun telah sigap di jam lima pagi. Keempat, saat saya tengah dalam perjalanan pulang dari Jawa Tengah, saya bangun jam empat pagi karena memang bus telah sampai di kota saya. Masih ada beberapa pengalaman saya bangun subuh tapi sengaja tak saya utarakan seluruhnya takut kalian mempersepsi saya orang sombong J Catatan: itu semua dilakukan secara very simple!


Kamu pun mungkin kembali bertanya, “Jika begitu, lalu kenapa tak kamu lakukan setiap hari agar koitmenmu tunai sehingga harimu tak lagi diawali dengan ratapan-ratapan gak penting?” Pertanyaanmu ini tak bisa langsung saya jawab karena jawabannya memang tak sesederhana seperti bangun subuh.


Saya pernah membaca sebuah buku yang telah lupa judul dan pengarangnya. Di buku itu ada satu kalimat yang daya tarik untuk diperhatikannya bahkan melebihi judul nya sendiri: “Saat kita mengatakan ’aku tidak mampu’ maka sebenarnya saat itu alam bawah sadar kita tengah berkata ‘aku tidak mau’”


Ketika ingat akan kutipan kalimat tersebut saya kerap bertanya pada diri sendiri: Apa saya benar-benar tak mau bangun pagi? Tapi bukankah saya telah berkomitmen dan berkeinginan keras untuk mewujudkan komitmen itu?


Hingga akhirnya saya pun sadar dan mau menerima bahwa mungkin, jauh di dalam diri, memang sebenarnya saya tak mau bangun subuh, sampai saya pun benar-benar tidak mampu untuk bangun subuh. Kesadaran ini mulai muncul dalam diri saya saat mencoba untuk mengevaluasi pola hidup saya terutama yang bertautan dengan bangun subuh. Ternyata selama ini saya kerap melakukan hal-hal yang sangat mungkin membuat peristiwa bangun subuh tidak mungkin dapat terjadi. Dengan berbagai alasan saya tidur sangat larut, saya tak memasang alarm di dekat tempat tidur, bahkan jika istri membangunkanku pun saya akan kembali tarik simbut dan bobo terlelap dengan sebuah alibi dispensasi dalam hati: hari ini dilepas saja, bangun subuh lebih baik dimulai besok.


Dari sini saya pun mulai mengerti bahwa komitmen hanyalah niat yang tempatnya masih dalam angan atau idealisme. Sementara tuntutan dari komitmen adalah laku yang realistis. Maka niat yang tempatnya masih dalam angan pun akan tak berpengaruh apa-apa pada laku yang kasat jika niat ini tak disambut dengan upaya dan tindakan nyata. Seperti orang yang karena lapar dan berniat untuk makan namun jika ia tetap tak memasukan makanan ke dalam perutnya maka niscaya laparnya tak akan berubah menjadi kenyang.


Komitmen hanyalah komitmen jika tak disertai dengan laku yang nyata. Bangun subuh tetaplah hanya akan menjadi “idealisme” jika tak dibarengi dengan waktu tidur normal, pasang alarm, buka mata, dan bangun.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 4 Tanggapan... read them below or add one }

Kamal Hayat mengatakan...

Shoalt shubuh itu disaksikan langsung para malaikat

Andi Lala mengatakan...

Trimksh bnyak sob ini yg sedng trjadi pda diriku

Anonim mengatakan...

artikel yg sangat bagus menyentak kesadaran saya memberi motivasi untuk berubah dan saya suka dengan gaya tulisannya yang padat dengan analisa disertai solusi yg tidak bersifat menggurui.

achong hua mengatakan...

KLIK

- JUAL BERBAGAI PRODUK : "Obat Pembesar mr.P, "Alat Terapy Pemanjang mr.P, "Obat Vitalitas Sex Kuat dan Tahan Lama, "Obat Herbal Cosmetik Kecantikan, "Aneka Obat Peningkat Libido Sexsual Wanita, "Alat Bantu SexToys P/W

Posting Komentar