Kawah Blogsphere: Toleransi dan Pluralisme di Internet

Tapi ya memang inilah dunia blogsphere sesungguhnya. Satu dunia yang begitu beragam dan serba relatif. Bahkan nyaris chaotic. Di sana tak ada tafsir tunggal atas “kebenaran” ataupun standar moral yang benar-benar diamini bersama. Semuanya menduduki tahap antara; tiada yang tuntas. Kemapanan dan absolutisme hanya ada dalam dunia ide si blogger atau netizen.

Sebagian kita pun khawatir dengan kenyataan ini. Dan itu bagi saya lumrah. Sungguh berat menerima “dunia yang tak terkendali” di saat kita senantiasa mendambakan dunia “jinak” yang kuasa kita control dan kita “manfaatkan” sesuai dengan persepsi dan kepentingan pribadi.

Melihat seperti ini saya pun beranggapan bahwa dunia blogsphere ini semacam Kawah Candra Dimuka, satu medan latihan keras untuk menempa sikap toleransi dan menajamkan “rasa” pluralisme kita. Di sini, di kawah blogsphere, kita dituntut untuk tak gentar dengan perbedaan sekaligus tak jumawa dengan kebenaran pribadi yang dimiliki.

Sepertinya cetek? Tapi sebentar, mari kita amati bersama.

Adalah situs faithfreedom.org. Situs yang didirikan oleh yayasan bernama Faith Freedom Internasional yang dipelopori oleh Ali Sina, seorang ex muslim yang berasal dari Iran dan sekarang tinggal di Amerika. Situs ini berisi tulisan-tulisan yang mengkritisi dan membantah pandangan mapan dalam Islam. Bahkan lebih jauh, situs ini juga berisikan ajakan untuk meninggalkan agama Islam. Walau tak berhasil—situs ini hingga sekarang masih eksis—situs Faith Freedom pernah diserang oleh saudara-saudara netizen yang tak satu haluan dengan misi situs ini. Bukan hanya menyerang situs, mereka pun menyebarkan gelombang penolakan ini dengan dengan hujatan-hujatan keras pada personal si pelopor. Sikap reaktif ini gamblang: mereka tak siap dengan perbedaan, apalagi perbedaan yang dikhotbahkan secara sistemik. Mungkin mereka berpikir bahwa ilmu dan pemikiran bisa meruntuhkan iman.

Lalu serangan terhadap akun blog atau jejaring sosial tokoh-tokoh yang giat menyuarakan sesuatu yang di luar mainstream.

Juga fenomena adanya para “satgas internet” yang selalu bersigap untuk menanggapi konten yang menurutnya negative dengan komentar-komentar yang tidak proporsional dan tak jarang out of context. Tanggapan mereka di laman-laman yang mereka serang sangat jauh dari yang disebut komentar konstruktif. Itu hanyalah pelampiasan kekesalan mereka, sebuah ekspresi dari kecemasan sekaligus ketakberdayaan menghadapi sesuatu yang liyan.

Yang saya paparkan ini sebetulnya hanya contoh kecil. Ketidaksiapan kebanyakan kita dalam bertoleransi dan berpluralisme di internet semacam teori gunung es yang tampak minimalis di permukaan padahal sebenarnya jauh di dalam sana lebay. Saya menduga bahwa di dalam sana banyak sekali netizer yang frusasi karena perbedaan.

Jika kita hanya berfokus pada perbedaan melulu, lalu kapan tugas besar kita akan tunai? Padahal tugas kita sebenarnya di mayantara ini adalah membanjiri internet dengan konten-konten positif--dan lebih jauh: ikut berpasrtisipasi aktif dalam membangun peradaban. Dan bagi saya upaya ini lebih masuk akal daripada sekadar menyerang situs berkonten negative atau berkomentar ba-bi-bu tentang seseorang.

Maka: sanggupkah kita? 
Sumber gambar: http://hadisome.wordpress.com/

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 1 Tanggapan... read them below or add one }

achong hua mengatakan...

KLIK

- JUAL BERBAGAI PRODUK : "Obat Pembesar mr.P, "Alat Terapy Pemanjang mr.P, "Obat Vitalitas Sex Kuat dan Tahan Lama, "Obat Herbal Cosmetik Kecantikan, "Aneka Obat Peningkat Libido Sexsual Wanita, "Alat Bantu SexToys P/W

Posting Komentar