Tentang Penusukan Jemaat HKBP Itu

Telah dimuat di Sumedangonline.
Apapun alasannya, penusukan dan tindak kekerasan itu tetap tak boleh terjadi, terlebih kepada pemeluk agama yang hendak mengibadahi Tuhannya. Apapun agamanya, betapapun salahnya keyakinan mereka menurut pandangan dan pemikiran kita, namun tetap penghalangan apalagi laku kerkerasan itu haram—sekaligus pidana–hukumnya. Karena setiap manusia memiliki hak asasi untuk beribadah dan mengekspresikan keyakinannya masing-masing.

Walau yang saya utarakan ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah dipahami bersama dan menjadi nilai universal, namun ternyata pemahaman ini tetap tak menyurutkan niat kekeresan pada pemeluk agama lain. Hingga akhirnya, pendeta dan beberapa jamaat gerja HKBP di Ciketing Bekasi yang waktu itu hendak melaksanakan ibadah, mereka dicegat masasampai akhirnya terjadilah tradegi memilukan itu: Sintua Hasian Sihombing mendapat tusukan pisau di perutnya.

Pagi

Pagi senantiasa menyimpan harapan-harapan. Walau pagi terkadang ragu dan was-was, namun harap itu selalu ada, selamanya terpelihara.

Bersama celoteh burung di ranting pohon, bersama kelopak bunga merekah, bersama derap langkah kaki kecil yang setengah tergesa menyusuri jalan untuk sampai di sekolah di kampung sebelah, pagi pun tak pernah hentikan langkah kaki.

Namun salah bila Anda menduga bahwa ia berlari; tergesa. Tidak! Ia berjalan pelan saja. Lambat, laun.

Sebetulnya Anda bisa melempar satu, dua patah tanya pada pagi. Saya yakin pagi akan senang melayani setiap pertanyaan Anda karena saya pernah mengalami.

Di satu hari, ketika pagi terasa begitu lengang, kudapati pagi tengah bertekun mengamati kakinya sendiri yang melangkah perlahan penuh syahdu. Aku hening sejenak untuk menyapa pagi yang tak pernah bisa berdamai dengan rusuh.