Sesaat Sebelum Mati

Nafas anak kecil itu terhenti; sepelan mungkin ia berjinjit mendekat ke sisi tembok, mengangkat senapannya tinggi-tinggi dan mata kanannya memincing.

Sesaat…

Moncong senapan itu memuntah. Peluru karet gelang merahnya menghantamku hingga tubuh cicak tua ini terjerambap menindih lantai.

Sekarat…

“Hore…” Aku dengar teriakan cerianya bergema, berbaur dengan jeritan bayi-bayiku yang baru kemarin pagi menetas.

(Sumedang, 29 Maret 2010)


Dan ini respon dari Pak Sapardi (Sapardi Djokok Damono)--penyair romantis itu: 
Anda melihat kematian dari sisi lain, menarik...
sapardi

Respon dari Beliau ini saya baca di inbox facebook, setelah saya mengirimkan puisi ini kepada Beliau via message. Walhasil, semalaman saya hampir tak bisa tidur, terus menerus, berulang-ulang, membaca pesan Beliau ini seraya mesam mesem tak karuan. Bukan karena isi pesannya, namun karena si pengirimnya. Serupa Majnun yang mengelus-mengelus dinding kediaman Laila. Tentu Majnun tak "majnun" pada sebuah dingin, namun ia menggilai siapa yang dibaliknya.
Terima kasih Pak Sapardi. Andai kau tahu betapa berartinya sepatah kalimat ini bagiku.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 22 Tanggapan... read them below or add one }

Fanda mengatakan...

Hehe...jadi kita semua ini pasti pernah melakukan pembunuhan ya? Mungkin buka hanya pembunuhan yang mengambil raga saja, bahkan juga pembunuhan karakter..

cHugy - gOgOg mengatakan...

Sungguh syair yang sangat luar biasa,
Permainan dan untaian kata yang sangat bagus.

Happy blogging. Mas

nuansa pena mengatakan...

Satu sisi gembira, disatu sisi akan ada kematian lagi!

CESTER Band mengatakan...

kunjungan malam.... maaf bru bisa berkunjung...

om rame mengatakan...

pembunuhan yang tragis terhadap taLenta seseorang, yakni pembunuhan karakter.

nahdhi mengatakan...

Banyak hal yang dapat kita ambil dari kematian mas. tergantung bagaimana kita mengambil sudut pandang, cara pandang, dan jarak pandang kita terhadap kejadian kematian itu.

Achmad Edi Goenawan mengatakan...

Marhaban Ya Ramadhan, Mohon maaf lahir & batin!

chuz blog mengatakan...

masya ALLAh sob

Jiox mengatakan...

wah akang insan bakal jadi pujangga kelas top nih.. mangstab..kalo tokek diganti ayam? he he.. kesedihan dan kebahagiaan hanyalah prasangka pikiran.. karena kematian adalah keniscayaan dalam layar mayapada.. -kabuur- :D

Noor's blog (inside of me ) mengatakan...

Kalau saya membayangkan betapa tragisnya itu, disaat anak butuh kasih sayang, perhatian dan perlindungan tetapi kita meninggalkan mereka karena sebuah kematian tak wajar. Sungguh menyedihkan....

Salam hangat & sukses selalu...

minomino mengatakan...

waw :) direspon oleh sang idola ya

munir ardi mengatakan...

etul-betul kreatif bisa melihat dari sisi lain

AmruSite mengatakan...

Wah2, dah pantas jd pujangga kayaknya mas.. hehe
Lanjutkan! salam blogger,,

yanuar catur rastafara mengatakan...

aduh, aku pernah membunuh juga nggak ya??

Seiri Hanako mengatakan...

dramatis....


keren

-Gek- mengatakan...

kapan pernah bisa merangkai kata seperti itu yak?? :)

Hatta Sy mengatakan...

kesederhanaan yang indah
menyindir kita untuk lebih menghargai apa saja yang bernyawa ..
*nyambung silaturahmi : mode on

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

oot : cerpennya kalo ttg anak kecil sakit lalu jadi cacar boleh aja. tapi kalo gak menyinggung dunia anak cacat ya gak bisa.

om rame mengatakan...

daLam menyikapinya "sejauh mata memandang" aja deh.

2012 mengatakan...

Impressive story mas.....
HE...he..
Akhirnya... ganti template juga mas... :)

Yohan Wibisono mengatakan...

Salam Kenal dariku, artikel menarik :D Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin :D

achong hua mengatakan...

KLIK

- JUAL BERBAGAI PRODUK : "Obat Pembesar mr.P, "Alat Terapy Pemanjang mr.P, "Obat Vitalitas Sex Kuat dan Tahan Lama, "Obat Herbal Cosmetik Kecantikan, "Aneka Obat Peningkat Libido Sexsual Wanita, "Alat Bantu SexToys P/W

Posting Komentar