Kolak

“Kolak.”

“Kolak.”

Parau sisa suaranya terkurung dalam kepalaku; menggema.

Dia tak seharusnya menjaja. Seharusnya dia meng-eja.

Kutudingkan itu pada udara pagi yang perkasa, namun senantiasa bersahaja.

“Kau tak tahu, dia itu lah si penawar angkara sesungguhnya.”

Angin pagi pun kembali berlalu, dan suara itu masih tetap menggema. Bukan hanya dalam kepala, namun telah merasuk ke dalam jiwa. Dan sungguh aku tak mau kehilangannya. Karena sisa gema itu terdengar bagai suara lantun kecapi yang selalu didentingkan ibu tatkala aku hidup dalam rumah rahimnya.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 8 Tanggapan... read them below or add one }

slams mengatakan...

eh ini puisi bukan?
atau doa sebelum berbuka puasa?

yanuar catur rastafara mengatakan...

ini kolak buat buka puasa ato bukan yah??

Latifah Hizboel mengatakan...

Kolak dari sipenjaja, yang selalu dinanti pembeli yang sedang berpuasa, tanpa mereka kita cukup kerepotan membuatnya, tapi saya sih tiap hari bikin kolaknya tidak pernah beli hehe

Kumaha damang?

7 taman langit mengatakan...

hebat..hebat
hal yang sedrhana bisa dijadikan puisi yang menarik

minomino mengatakan...

saya sukanya candil (terus kenapa?) :p
semoga ramadhan ini kita semua selalu diberi kelancaran :)

-Gek- mengatakan...

menahan hawa nafsu.. :)
Tidak seharusnya dia menjaja, tapi, dia mementingkan kepentingan umat yang akan berbuka.
*I got it, dude. :)

Fanda mengatakan...

Dari penjaja kolak lahir sebuah untaian kata yang indah. Salut!

achong hua mengatakan...

KLIK

- JUAL BERBAGAI PRODUK : "Obat Pembesar mr.P, "Alat Terapy Pemanjang mr.P, "Obat Vitalitas Sex Kuat dan Tahan Lama, "Obat Herbal Cosmetik Kecantikan, "Aneka Obat Peningkat Libido Sexsual Wanita, "Alat Bantu SexToys P/W

Posting Komentar