Tak Ada Lagi Curhat?

Rasanya saya sudah lama sekali tidak menulis posting curhat di blog ini. Tulisan kompetisi, tulisan "pesanan"(berbayar atau bahkan yang sama sekali suka rela), sosialisasi akan sesuatu hal, sampai tanggapan pribadi akan isu publik tertentu, menjadi benar-benar menyita energi dan tentu saja waktu. Ketika giliran ingin benar-benar "curhat", energi telah kadung terkuras  habis dan waktu terasa bagai gang buntu di seberang jalan rumah saya yang lebih sreg bila dikatakan "menyisipi" daripada "meleweti": sempit, pendek, dan--ya itu tadi--mentok alias buntu. Curhat online pun akhirnya hanya menjadi angan belaka.
Akibatnya blog ini pun menjadi agak sedikit asing bagi saya sendiri; pemiliknya. Bagaimana saya menjelaskan pada diri saya sendiri tatkala membaca posting tentang mainan anak dan semacamnya yang benar-benar tak relevan dan jauh dari keseharian saya? Juga posting-posting kompetisi yang bertaburan begitu banyak key word yang bukan hanya tak relevan dengan judul tulisan, bahkan dengan sub tema pun--kalau itu ada--tidak sama sekali. 
Di blog ini hampir tak lagi ditemukan sisi pribadi saya sebagai pemilik dan pengisi

Memungut Solidaritas Dari Para "Blogger Tutorial"

Tentang sikap solidaritas yang saat ini banyak diragukan masih dimiliki oleh manusia-manusia modern yang kebiasaannya menimbang apapun dengan ukuran "untung-rugi", saya melihatnya berbeda: sebaliknya saya yakin bahwa solidaritas itu masih ada dan menjadi sikap hidup yang masih terpelihara baik di antara kita.

Solidaritas atau kesetiakawanan yang merupakan buah dari rasa peduli yang akhirnya mencentuskan keinginan untuk saling berbagi akan selalu ada selama manusia menjalani hidupnya tak sendiri; selama masih ada yang lain, yang hidup, yang tumbuh dan bergerak bersama. Walau kerap proses tumbuh dan gerak bersama itu menimbulkan persaingan yang tak jarang bermuara di konflik, namun selama masih ada sesuatu di luar diri inidividu yang memiliki kesamaan pengalaman dan pengalaman bersama, saya optimis rasa peduli itu akan selalu hadir.

Kita bisa berasumsi bahwa motivasi para “blogger tutorial” yang tak hanya menulis artikel tentang trik blogging tapi juga melakukan beragam eksprimen yang tentunya menyita banyak

Kolak

“Kolak.”

“Kolak.”

Parau sisa suaranya terkurung dalam kepalaku; menggema.

Dia tak seharusnya menjaja. Seharusnya dia meng-eja.

Kutudingkan itu pada udara pagi yang perkasa, namun senantiasa bersahaja.

“Kau tak tahu, dia itu lah si penawar angkara sesungguhnya.”

Angin pagi pun kembali berlalu, dan suara itu masih tetap menggema. Bukan hanya dalam kepala, namun telah merasuk ke dalam jiwa. Dan sungguh aku tak mau kehilangannya. Karena sisa gema itu terdengar bagai suara lantun kecapi yang selalu didentingkan ibu tatkala aku hidup dalam rumah rahimnya.

Sesaat Sebelum Mati

Nafas anak kecil itu terhenti; sepelan mungkin ia berjinjit mendekat ke sisi tembok, mengangkat senapannya tinggi-tinggi dan mata kanannya memincing.

Sesaat…

Moncong senapan itu memuntah. Peluru karet gelang merahnya menghantamku hingga tubuh cicak tua ini terjerambap menindih lantai.

Sekarat…

“Hore…” Aku dengar teriakan cerianya bergema, berbaur dengan jeritan bayi-bayiku yang baru kemarin pagi menetas.

(Sumedang, 29 Maret 2010)


Dan ini respon dari Pak Sapardi (Sapardi Djokok Damono)--penyair romantis itu: 
Anda melihat kematian dari sisi lain, menarik...
sapardi

Respon dari Beliau ini saya baca di inbox facebook, setelah saya mengirimkan puisi ini kepada Beliau via message. Walhasil, semalaman saya hampir tak bisa tidur, terus menerus, berulang-ulang, membaca pesan Beliau ini seraya mesam mesem tak karuan. Bukan karena isi pesannya, namun karena si pengirimnya. Serupa Majnun yang mengelus-mengelus dinding kediaman Laila. Tentu Majnun tak "majnun" pada sebuah dingin, namun ia menggilai siapa yang dibaliknya.
Terima kasih Pak Sapardi. Andai kau tahu betapa berartinya sepatah kalimat ini bagiku.

Agnostik

 1
Kau tahu,
kita tak pernah tahu;
sesemu jiwa yang memburu
ataukah diburu. 


2
Jemari singkapkan awan 
Terbelenggu madu di dalam dada 
Karenamu aku tiada
Mentari terkam sang bulan 

3
Dalam diam
Diujung sekam
Gumam malam 

Tak kunjung padam