Ketika Anonim Mencibir

‘’Sotoy udah pinter sekolah sotoy.....Kalo klub poligami dimusuhin klup arisan brondong, Play boy mana ada ajengan kawin dua berarti lacur.....kalau mau lebih konsen ibadahnya jangan kawin sekalian...kalo mau nerkiprah lebih banyak (ibadah) di masyarakat monggo polygami...jangan mengharamkan yang dihalalkan....Allah..SWT (walau syaratnya berat) kalo dikasih kelonggaran karena Allah SWt sayang dengan ummat ini.....’’

 
Saya akan mengajak sobat semua berandai : jika sobat mendapati komentar (paragraf di atas) semacam ini menghiasai kolom komentar salah satu post sobat, kira-kira, reaksi macam apa yang akan sobat keluarkan? Marah kah? Cuek kah? Atau justru malah bigung dengan berbagai kemungkinan reaksi yang mungkin diambil?
Bila sobat masih berandai, maka saya di sini telah bereaksi. Karena pengalaman itu—mendapatkan komentar tak etis—baru saja saya alami. Hari ini, di satu pagi jelang siang; saat semangat blogging kembali memancar setelah sekian lama redup redam dalam kondisi hiatus, justru di momment itulah saya mendapatkan pengalaman yang cukup tak mengenakkan ini. Alih-alih mendapatkan semacam motivasi untuk kembali memulai sesuatu yang telah lama ditinggal, kenyataan malah mengguratkan yang sebaliknya.

Sebagai manusia normal yang—alhamdulillah—masih memiliki nafsu, perasaan marah, gondok, dan aneka luapan negatif lainnya, sempat terlintas bahkan muncul dalam diri. Bagaimana tidak, komentar itu sama sekali tak mencerminkan sisi relationship yang humanis, apalagi kualitas kritik yang konseptual dan orientatif. Sekilas saja, komentar itu dapat kita pastikan sebagai ekspresi luapan kekesalan  semata. Begitu kesalnya, bahkan mungkin sampai buta, sampai lupa melihat sisi kesopanan dalam bertutur dan dialog. Dan ‘’lucunya’’—kemungkinan ironi dalam ketakterkendalian adalah: tampak bodoh dan mudah ditertawakan—kata-katanya yang tak etis itu (‘’sotoy’’, ‘’udah pinter sekolah’’, dan kata-kata cibiran lainnya) sangat tampak kontradiktif dengan pesan yang sebenarnya hendak ia utarakan: menyampaikan ketaksetujuannya pada wacana yang saya bangun dalam artikel Klub Poligami Global Ikhwan: Satu Lagi Teror Dari Malaysia (tentang ketaksesepakatan saya terhadap gerakan-gerakan sosiallisasi poligami) dengan berlandaskan agama dan Tuhan. Inilah lucu yang saya maksud: mengabarkan kehendak Tuhan dengan menggunakan kata-kata tak layak. Sungguh ironi.

Semakin ‘’tak lucu’’ dengan identitas komentator yang anonim. Sekali lagi ini menegaskan pada saya bahwa beliau (komentator)ini sama sekali tak memiliki itikad baik pada wacana, bahkan pada diri saya sebagai owner blog dan penulis artikel. Ketakjelasan ini pula yang memposisikan saya di ‘’posisi bingung’’ (kalau boleh saya menggunakan istilah ini). Saya bingung karena dengan ketiadaan identitas ini menutup jalan bagi saya untuk melakukan proses tabayun : proses cross check informasi/pernyataan demi kelurusan dan kebenaran informasi itu sendiri. Dengan ketiadaan proses tabayun maka kontroversi hanyalah sebuah peristiwa destruktif yang kemungkinan besar berisi saling-fitnah semata.

Tapi untunglah, di saat itu ‘’ruh’’ Covey secepat kilat menghampiri saya, seraya berbisik: manusia proaktif jauh lebih unggul daripada manusia reaktif. Karena mansuia reaktif dirinya dikendalikan oleh sesuatu di luar dirinya. Sedangkan manusia proaktif adalah sebaliknya: dirinya yang mengendalikan sesuatu di luar dirinya. Bismillah, saya memilih dan berusaha untuk menjadi manusia proaktif, dengan memperalat situasi negatif ini menjadi sesuatu yang positif bagi saya: ide tulisan untuk update blog saya yg lama sepi seperti kuburan ini. Salam proaktif !hehehe.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 15 Tanggapan... read them below or add one }

Newsoul mengatakan...

Apa kabar sobat ? Ya, kesal juga pasti mendapati komentar tak sesonoh seperti itu. Tapi, kalaulah boleh saya memberi saran, tak usah perdulikan. Mari kita doakan semoga dia mendapat ketenangan. Mungkin mereka hanya orang yang tidak biasa mengemukakan pendapat dengan baik.

Isti mengatakan...

saya yang tidak setuju dg poligami, tapi ada cara lain untuk mengutarakannya menjadi elegan

feekyu mengatakan...

semua orang punya pendapat sendiri sendiri

Naila mengatakan...

hemmmm...... lam kenal dulu y, :)
q sepakat dengan komentar saudara isti di atas, ada cara yang lebih elegan untuk mengutarakan ketidaksepakatan kita pada poligami,

Jiox mengatakan...

kalimatnya campuran bahasa daerah akang kan? arti ajengan= ulama? 'inti kalimat' na saya kira mantaf :D , kalo poligami ane bukan masalah setuju apa enggak, tergantung 'wanita' yang akan menjalani: apakah 'benar benar iklas' dari hati atau hanya terpaksa karena 'ditakut-takuti' atau 'di iming-imingi'.. halah ane 1 saja belum dapet, kabuuur :D

NURA mengatakan...

salam sobat
setuju mas,dengan memilih menjadi manusia yang proaktif, membuat situasi negatif menjadi positif.
memang mengapa,, blog yg lama sepi kaya kuburan?

munir ardi mengatakan...

terus terang pak memang dari sisi manusiawi poligami memang nggak bisa dibenarkan tapi bagaimana pendapat anda jika seorang janda beranak tiga sedang kesusahan untuk hidup datang berkata tolong saya ikhwan, inilah karena yang membenci poligami selalu mengasosiasikan poligami hanya untuk nafsu , mencari yang lebih muda atau cantik, nggak sobat , saya punya puluhan bahkan ratusan ukhti yang malah memilihkan istri buat suaminya, ada juga yang menolong wanita salihah yang lagi kesulitan dalam perekonomian, tapi tentu saja jika sang laki-laki punya kemampuan dan memang istri-istri mereka memang wanita utama yang tidak memandang hidup ini hanya sekedar untuk mencari kesenangan tapi jalan untuk mencari mardhatillah , ikhlas dan penuh dengan pengabdian hanya Kepada Nya

blogger Bumi lasinrang mengatakan...

Poligami bahasan yang selalu mengundang kontroversi

bisnis n hobby mengatakan...

thanks artikelnya kawan, pa kabar nih?

Yohan Wibisono mengatakan...

Keren sekali artikelnya, semoga bisa bermanfaat untuk semua pembaca.thx salam kenal

kumpulan cerita humor mengatakan...

akang hibernate lagi... assalamu'alaikum akang... moga sehat selalu disana

Download Ebook Gratis mengatakan...

good info, thx bro :)

Dindin MK mengatakan...

Hatur nuhun kunjunganna kang...
:)

salam baktos,

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, ya mestinya lebih sopan aja kalo komentar ya.

Rizky2009 mengatakan...

tuh anonim g gentel tuh beraninya pakai nama anonim

Posting Komentar