Bismillah dan Penilaian: Sebuah Prolog Djarum Black Blog Competition Vol II

Bismillah. Dengan kata inilah saya memulai. Setelah memastikan bahwa blog saya ini, www.insanitis37.com, telah masuk dalam daftar registered blog atau blog yang telah diregistrasi di kontes blog yang diselenggarakan oleh Djarum Black, yakni Djarum Black Blog Competition Vol II, spontan, saya mengucapkan kata itu: bismillah.

Seharusnya kata ini dilafazkan oleh semua umat muslim ketika mereka hendak melakukan suatu aktivitas. Terlepas besar-kecil, ringan-berat, mudah-susah aktivitas tersebut. Tapi entah kenapa, kata ini mengalami degradasi makna. Atau justru sebaliknya: peningkatan makna? Sekarang ini biasanya kita hanya mengucapkan kata ini tatkala dihadapkan pada suatu aktivitas yang besar atau penting saja. Tetapi kata ini kerap hilang dalam aktivitas yang remeh temeh dan sehari-hari. Akhirnya bismillah menjadi tanda pembuka bagi sesuatu yang “besar” atau juga sulit. Karena saya mengucapkan lafaz ini sesaat setelah saya resmi menjadi peserta Djarum Black Blog Competition Vol II maka kontes blog ini merupakan sesuatu yang “besar” dan penting bagi saya. Sekaligus menyenangkan. Sungguh, betapa

menyenangkan dapat ikut serta dalam sesuatu yang sangat kita sukai; saya adalah penikmat sensasi rasa Djarum Black Slimz.

Sudah sejak lama saya merasa bahwa tulisan-tulisan saya di blog ini terlalu “tinggi” dan terkurung dalam menara gading. Ia menjadi sesuatu yang tak bisa disentuh, diintervensi, dan tak membiarkan dirinya dinilai. Tulisan saya semacam alien yang hidup di bumi; bersama tetapi sesungguhnya terasing.

Mungkin seperti itulah tulisan-tulisan saya selama ini. Kolom komentar yang terbatas itu menjadi satu-satunya wilayah yang bisa dimasuki si liyan. Yang bisa dipergunakan mereka dari luar untuk sedikit menjamah dengan berbagai apresiasi dan tanggapan. Tapi lagi-lagi si penulis—saya--tak membiarkan anak karyanya mudah dijamah orang lain. Lalu ia pun berupaya untuk tetap menjaga dan membela sakralitas tulisannya dengan; menuliskan komentar sanggahan, menyangkal bulat-bulat bila ada reaksi dari luar yang tak sesuai dengan kehendak saya terhadap tulisan itu; bahkan sampai dengan cara yang paling halus sekalipun: men-cuek-kan segala intervensi dari luar dan kembali menegaskan kehendak asalnya terhadap dirinya sendiri. Akhirnya, kolom komentar yang cukup ramai dijambangi orang-orang itu pun tak membebaskan tulisan saya dari menara gadingnya. Dan memang itulah kehendak si penulis. Kehendak saya.

Tapi belakangan ini saya mulai berpikir lain. Jika sebelumnya saya selalu bertahan dengan segala pengaruh dari luar terhadapa gagasan dalam tulisan saya, tapi akhir-akhir ini saya mulai berpikir untuk melepaskan dan membiarkan anak karya saya hidup di dunia yang sebenarnya; sebuah dunia yang dihuni banyak “kepala”, banyak “mata”, juga banyak “hati”.

Pada saat yang bersamaan saya pun menyadari bahwa hal ini mempunyai akibat yang mungkin tidak menggenakkan bahkan menyakitkan. Mungkin juga saya sakit hati dan frustasi dengan reaksi dan penilaian dari luar yang sama sekali berbeda dengan ekspektasi saya terhadap “anak-anak” saya ini. Tapi seberat apapun akibat yang akan saya alami, proses alam itu haruslah tetap terpenuhui: bahwa sesuatu hanya akan hidup dan tumbuh dengan baik bila sesuatu tersebut berada di alam dan habitatnya sendiri.

Tulisan adalah aktualisasi perasaan dan pikiran, yang semula abstrak dan tersembunyi menjadi kongkrit dan kasat mata. Setelah perasaan dan pikiran itu bertransformasi menjadi sebuah tulisan, apalagi setelah diterbitkan dalam media publik, tulisan tersebut bukan lagi sesuatu yang hanya dimiliki diri si pemikir atau si perasa. Tapi kepemilikannya terlah berubah menjadi kepemilikan kolektif: si penulis juga si pembaca, yang besar kemungkinan memiliki “kepala”, “mata”, dan “hati” yang sama sekali berbeda. Pada saat itulah seorang penulis harus menyadari benar bahwa “anaknya” tengah hidup dan beranjak dewasa. Ia bukan lagi seorang bayi yang mesti ditimang, disusui, dijaga setiap waktu, hingga dilindungi dari nyamuk-nyamuk yang hinggap ke tubuhnya. Maka dari itu, tempatnya bukan lagi di rumah atau dalam sebuah bok bayi. Tempatnya sekarang adalah dunia yang sebenarnya. Dunia yang memiliki banyak pandangan dan beragamnya sikap. Dan yang paling niscaya: penilaian. Dunia sebenarnya selalu memberi nilai terhadap apapun juga dan—tentu saja—dengan standar apapun juga. Hidup dewasa berarti hidup dengan kesiapan diri atas segala penilaian.

Karena sekarang saya ingin memperlakukan anak karya saya secara dewasa di habitatnya sendiri, maka otomatis saya harus merelakan dan membiasakan mereka mendapatkan penilaian; dengan harapan agar mereka semakin mengerti akan kehidupan. Namun saya juga tak begitu saja menyerahkan mereka ke tangan-tangan tak jelas. Saya ingin dinilai secara objektif oleh orang-orang yang cakap dan profesional. Dan saya memiliki keyakinan bahwa tim juri di Djarum Black Blog Competition Vol. II memiliki semua ekspektasi saya. Maka, seraya mengucapkan bismillah, saya menyerahkan anak-anak karya saya yang ada di blog ini untuk dijamah , diintervensi, hingga akhirnya diniali.

Saya mengikuti kontes blog ini karena saya ingin dinilai. Ingin dikoreksi.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 4 Tanggapan... read them below or add one }

Diar mengatakan...

Selamatr San dengan kontesnya

Dewi mengatakan...

Moga menang ya...kamu kan emang keren, hehehe

Jiox mengatakan...

alhamdulillah hari ini bertandang lagi, hari ini update juga.. mantap... kumaha akang damang?

alkatro mengatakan...

bahasa akang insan mantab banget dah, semangaaaat.
langit yang terhampar dan bumi yang begitu luas.. dimanakah batasnya?
batasnya ada di dalam pikiran...
kaburr

Posting Komentar