Tahun Baru Tanpa "Baru" (Sebuah Catatan Kritis Tahun Baru)


Ada satu fenomena sama yang khas dalam masyarakat di setiap jelang pergantian tahun: euphoria pembaruan. Hampir semua orang menyatakan, mengajak, paling tidak menegaskan pada dirinya sendiri bahwa esok, di tahun yang baru, semua harus serba baru; semangat baru, ilmu baru, pencapaian baru. Bahkan bukan hanya sampai di taraf yang abstrak saja, pembaruan pun harus menyentuh ke titik yang paling kongkrit; rumah baru, kendaraan baru, hand phone baru, laptop baru, bahkan ada yang ber-resolusi pacar baru. Tanpa sadar, “baru” telah menjadi angan ideal di alam bawah sadar kebanyakan manusia.

Bosan atau putus asa dengan kondisi yang tengah dialami. Karena dasar manusia yang suka akan “misteri” sehingga tanpa sadar kita menikmati dag dig dug ketika membayangkan kejutan yang mungkin akan disuguhkan oleh sesuatu yang baru, yang belum teralami. Mungkin hal-hal itulah yang membuat manusia selalu mendambakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Yang dalam taraf tertentu, hingga menistakan anugerah saat ini atau mengenyahkan romantisme masa lalu.


Namun benarkah sesuatu yang baru itu senantiasa baik dan selalu membawa manfaat?

Dulu, ketika masyarkat kita masih tergolong primitif, mereka memiliki pandangan dan cara hidup yang ramah terhadap alam. Mereka menghormati dan memelihara alam karena mereka posiskan alam itu sebagai subjek yang memberi manfaat. Maka diadakanlah ruwatan, sesaji, dan bentuk-bentuk penghormatan lainnya. Pamali dan mitos pun menjaga diri mereka dari dorongan nafsu untuk mengekspoitasi alam secara berlebih. Namun setelah manusia mulai menjadi “baru” atau modern, mereka memandang dunia dari sudut kepentingan ekonomi belaka. Dari sisi kepentingan dirinya sendiri. Inilah alasan yang sangat khas datang bersama modernitas dan konconya, kapitalisme. Mereka tak menghormati lagi alam. Mereka posisikan alam bukan sebagai subjek, namun sebagai objek. Karena sifatnya yang objek, maka bebaslah manusia untuk mengekspoitasi alam, bahkan secara serakah dengan jampi :“demi hajat hidup orang banyak.” Dengan rasionalitasnya—yang merupakan ciri identik modernitas-- mereka hapuskan mitos dan dongeng-dongeng. Akhirnya alam pun menjadi kehilangan “penunggu” dan manusia tak takut lagi pada alam. Bila dulu, orang mau masuk hutan saja pakai “permisi”, kini manusia modern mengacak-acak hutan dengan tenangnya. Teranglah, dalam konteks ini sesuatu yang baru justru membawa bencana.

Dulu, ketika masyarakat masih banyak yang belum pintar, belum mengenal sekolah dan madrasah, peran guru (terutama guru agama) begitu signifikan. Mereka memiliki tempat khusus dalam komunitas masyarakat. Wilayahnya bukan hanya berada dalam konteks pendidikan atau agama saja, bahkan sampai ke praktik hidup tek tek bengek sekalipun, guru memiliki peran. Karena rasa hormat dan patuh yang tinggi inilah yang menyebabkan transfer ilmu dari guru ke murid begitu efektif. Waktu itu tak ada istilah “arogansi murid.” Murid menyadari posisinya sebagai “murid” yang menerima ilmu dari guru yang “berilmu”.

Namun kini seiring dengan kemajuan zaman dan membeludaknya kitab, buku, dan sumber ilmu yang lain, peran guru atau ulama pun perlahan bergeser. Mereka tak lagi dianggap sebagai “sumber” ilmu, namun lebih kepada “agen” yang kelebihannya hanya mengetahui ilmu lebih dulu daripada murid. Bahkan dengan semena-mena, penghormatan kepada guru atau ulama pun mereka labeli dengan istilah “kultus individu”. Mereka tak mengerti beda antara “sembah” dan “hormat”. Dan konsekuensinya adalah proses transfer ilmu tak seefektif dahulu. Inilah yang disebut dengan arogansi murid di hadapan guru. Maka tak heran bila kulaitas pendidikan semakin merosot. Sarjana zaman Soekarno mungkin lebih pintar daripada S3 zaman ini. Kiai saat ini mungkin tak lebih pintar daripada santri tapi di pesantren zaman dulu. Walau ini terlihat hanya asumsi belaka, namun saya yakin sobat pun pasti meng-iya-kan konidisi ini.

Walaupun begitu, sesuatu yang baru memang tak selamanya mengandung cacat. Inovasi juga dibutuhkan untuk membuat hidup kita lebih berkualitas dan variaif. Pertimbangan inilah yang mungkin mendasari Djarum Black menyelenggarakan even Blackinnovationawards. 

Di sini saya hanya mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam “obsesi lebih” pada sesuatu yang baru, sesuatu yang sama sekali belum kita alami. Pesan moralnya sederhana saja: tak selamanya yang baru itu selalu baik buat kita. Libatkanlah juga sesuatu yang usang dalam pertimbangan hidup kita karena bisa saja sesuatu yang usang justru lebih bermanfaat daripada hal yang baru. Cara tradiosional mungkin lebih berguna daripada metode yang ditawarkan modernitas.

Di tahun 2010 ini rasanya saya belum memerlukan hal-hal baru. Pekerjaan, rutinitas hidup, lingkungan tetangga, hobi, dan bebagai “kehidupan” lain yang saat ini dianugerahkan Tuhan pada saya terasa begitu menyenangkan. Saya pun masih menikmati sensasi yang ditimbulkan dari setiap hisapan Djarum Black Slimz, belum mau beralih ke rokok “baru”. Dan untuk rekan kongkow satu hobi, saya masih asyik dengan rekan dari Black Motor Community, belum tertarik dengan komunitas baru. Namun bila Tuhan memberikan hal baru dalam kehidupan saya di tahun ini, saya berdoa semoga sesuatu itu mendatangkan berkah dalam kehidupan saya saat ini dan “kelak”.

Gambar diambil dari sini

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 17 Tanggapan... read them below or add one }

willuyo Alsyah mengatakan...

semoga sukses sob ...... aku mendukung mu...

henny mengatakan...

Tahun baru memang tidak harus selamanya baru, sama dengan saat lebaran tidak mengharuskan seluruh jemaah islam memakai pakaian baru.

masterGOmaster mengatakan...

nice posting...maju terus !!

Latifah Hizboel mengatakan...

Mungkin dengan hati yang baru menyambut awal tahun baru ini.

Sukses terus ya untu kontesnya.

*Btw,teu difb teu diblog masih bobo wae keneh kitu eta fotona hayuu atuh geura gugah * keukeuh jumakeuh ,saur kang insan teh hehehe.

123456789 mengatakan...

Tahun baru nuansa baru....
Thanks infonya sobat....

Nuansa Pena mengatakan...

Sukses dengan kontesnya!

Newsoul mengatakan...

Nice post. Bagi saya pribadi, "baru" tak selalu betul-betul bermakna baru. Boleh jadi sesuatu yang lama dengan sudut pandang baru, dengan semangat baru. Inovasi, itulah yang membuat sesuatu menjadi "baru", dan beda. Semoga sukses dengan kontesnya sobat.

Fanny mengatakan...

wah, yg pacar baru, gak setuju. hehehe....

Nura mengatakan...

salam sobat
ya semoga saja segalanya lebih baik,,
walaupun dalam kondisi kritis dan sesuatu yg baru yang belum tentu baik tersebut.

Blogger Budrex's mengatakan...

kalau saya ngrayaiinya tahun baru d rumah aja, lagian mau kluar juga kemana , tahun baru atw g sama sj buat saya

7 taman langit mengatakan...

salam sejahtera
saya setuju banget
saya ikut aza dech pendapat mbak Nura

widi mengatakan...

okelah kalau begitu... ;) btw, tuker link 'n follow ya..

Agus Sarwono, Tile mengatakan...

Pertamaaaaxxxx.......AKUR :)

eNeS mengatakan...

Hayang jikan baru kumaha nya? Hehe...

Diar mengatakan...

He heh...
Setuju!!!
Untuk saat ini aku juga demikian, sama halnya seperti akanglah. he heh... masih betah dengan situasi yang lama. he heh... Bedanya rokoknya berbeda, kalau aku ini nih: ada ada obsesi ada jalan. He heh... Tapi rokok itu juga apa pernah merasakannya kok. He heh... Hiduplah!!! mau rokoknya apa saja yang penting minuman coy, itu lho:.... He heh...

munir ardi mengatakan...

semoga yang baru ini membawa rahmat dan kebaikan dan juga membuat kita menjadi insan baru yaitu insan yang betul-betul takut hanya kepada Nya

ina mengatakan...

wah ikutan jg ea kag...
saingan ina dunk xixiixxixi...

Posting Komentar