Syiar Yang Mengancam


Alena hanya mampu memeluk sang bunda, tak kuasa menghadapi kemurkaan ayahnya yang begitu ia sayangi dan hormati. Sebuah perasaan sesal bergejolak dalam jantung hatinya, menjejak hingga meninggalkan tapak yang menyesak. Ingin sekali ia menelan kembali ludah yang telah keluar, merevisi kata-katanya sesuai dengan kehendak sang bapak. Namun jiwanya telah berpihak pada tekad yang telah berbenih dan tersiram, tinggal menunggu buah dan waktu panen.

Alena masih sempat mencuri mata ayahnya yang terlihat merah menyala. Namun merah itu tak kuasa menghijabi aura cinta yang tertanam di hati seorang bapak. Ia yakin bahwa angkara itu sama sekali tak mengurangi kadar cinta di hati ayahnya pada anak semata wayangnya, yaitu dirinya.

Sebuah pemahaman lah sehingga Alena masih dapat menangkap cahaya cinta di mata ayahnya yang tengah angkara itu. Pemahaman itu bernama kewajaran. Alena memahami

betul arti kewajaran itu. Bahkan andaikata ayahnya memutus hubungan sekalipun, kewajaran itu masih relevan. Marah sang bapak karena anak tercinta berniat pindah agama, yang berarti beda kultur pisah ritual, itu adalah wajar. Terlebih kenyataan bahwa ayahnya itu adalah seorang pengkhotbah, pemuka agama kaum nasrani yang dihormati.

Bulan setengah bulat terlihat mengintip, tak ingin wujudnya mengganggu sedu sedan sang anak manusia yang kini tengah dirundung derita. Semburat cahayanya berpedar menerangi gulita malam yang selalu menyisakan suatu pertanyaan tentang rahasia zaman. Sementara angin malam berhembus tenang menyinggahi setiap relung-relung dedaunan yang terpekur dalam dzikir pada Yang Maha Kuasa.

Di tengah drama malam itu, terdapatlah sesosok manusia yang telah dua puluh empat tahun lamanya dipanggil bapak. Kini ia tengah mengenang, melambungkan angan, menerawangi relung-relung kisah dengan sang kekasih. Menapaki kembali jalan penuh cinta yang pernah ditempuh berdua bersama ia yang tercinta. Ia yang selalu memanggil dirinya manja dengan sebutan ayah. Walau di lain waktu ia kerap dipanggil abah. Abah sayang tepatnya.

Butir-butir cinta yang memenuhi rongga jiwa mengantarkanya pada sebuah kepasrahan, ketumutan pada cinta terhadap buah hatinya. “Inikah kehendak-Mu Tuhan?” Ia menengadahkan wajahnya, menerawangi langit malam. Hatinya berkata lirih, Bagaimanapun ia adalah anakku. Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Ia bertanya pada dirinya sendiri demi meneguhkan hatinya, mencari kekuatan dari pertanyaannya sendiri. Sepoi angin malam menyibak wajahnya, menambah kepiluan dalam hati sekaligus meneguhkan kepasrahan.

***

Di sisi malam yang lain, tepatnya di sebuah surau kampung nan sederhana, terjadilah sebuah perdebatan sengit. Tawar menawar yang seharusnya ringan kini berubah menjadi perang urat saraf. Suara terbanyak menyatakan bahwa Rizieq tak diperkenankan adzan di surau itu. Mereka pun mengklaim bahwa pendapatnya berdasarkan aspirasi warga sekitar. Banyak warga yang komplain atas suara Rizieq.

Namun sang pesakitan tetap bergeming. Rizieq teguh berdiri di salah satu nilai islam: egalitarianisme. Ia gigit suatu hadits yang menyatakan bahwa kepala seorang muadzin akan dikelilingi malaikat. Dan ia mendambakan itu. Walau pak ustadz telah meluruskan bahwa suaranya itu ditakutkan akan merusak citra syiar, namun ia teguh dalam keukeuh. Karena malaikat telah menjadi obsesi mati.

Ucapan hamdallah yang terdengar bagai palu hakim lalim bagi Rizieq menegaskan bahwa sidang DKM ditutup. Namun di tengah riuh shalawat dan salam-salaman, diam-diam, di hatinya, Rizieq bersumpah. Bersumpah akan ingkar atas putusan majelis.

Matahari masih bersiap dan berkemas di rumah malam. Ayam pun masih terlelap, mengumpulkan kekuatan untuk dapat berkokok kencang meneriaki setiap manusia yang lalai. Sementara Rizieq, si pendamba malaikat terlihat berjingkat keluar dari rumah, lalu berjalan agak tergesa membelah pekat malam dan menentang angin dingin yang menusuk tulang. Ia terus berjalan, mengenyahkan semua pikiran buruk mengenai berbagai kemungkinan yang akan ia hadapi di depan.

Rizieq berjalan semakin kencang seolah sedang bertanding dengan sang surya yang bersiap akan menampakkan diri. Dadanya berdegup keras. Keringat mulai membasahi tubuhnya yang dingin. Berjuta rasa kini bergumul dalam hatinya. Setiap kaki melangkah, setiap kali itu pula ia merasa lebih dekat dan dekat lagi dengan impiannya selama ini: keindahan surgawi . Kini ruang dalam pikir dan asa Rizieq hanyalah malaikat. Malaikat pemberi berkah bagi seorang muadzin.

Hingga sampai lah ia di langgar, di tempat yang kemarin malam telah memposisikan dirinya sebagai pesakitan. Rizieq tersenyum puas karena di langgar tidak ada seorang pun selain dia, mimbar, dan sebuah pengeras suara. Sebuah pengeras suara yang akan mengantarkannya ke tempat para malaikat pemberi berkah. Sebuah pengeras suara yang ia yakini sebagai satu-satunya jalan menuju pahala Tuhan.

Gelisah. Ia tunggu waktu itu. Tubuhnya terlihat bergerak tak karuan, seperti perahu yang tak bermahkoda. Ia terus bediri, berjalan mendekati pintu atau jendela, hingga akhirnya duduk kembali. Begitulah ia mengulang-ulang. Lima belas menit terlalu lama baginya untuk menjemput berkah.

Ketakutan pun mulai muncul dan menghantui perasaan Rizieq. Rasa was-was kini tengah menggenapi jiwa. Ia pun tak kuasa untuk berdamai dengan hati, melawan rasa dirinya sendiri. Harus sekarang! Ia seolah meminta. Tapi waktu shubuh masih sepuluh menit lagi! Rizieq keberatan. Tapi bagaimana kalau pak Ustadz keburu datang ke sini? Relakah kau kehilangan berkah dan pahala? Ia merajuk. Rizieq bingung. Putus asa. Rasa kalut kini telah menutupi akal sehat. Tak rela harus kehilangan malaikat yang begitu didambakannya dari dulu, akhirnya ia memutuskan untuk segera mengaktifkan pengeras suara. Lupa bismillah, adzan pun ia kumandangkan dengan segenap nafsu…

Ayam tiba-tiba berkokok. Riuh. Burung-burung bergerak linghas tak karuan. Binatang melata kembali ke sarangnya masing-masing, menyelemamatkan diri. Sementara manusia hanya bisa mengumpat.  Mencaci.

***

Alena sontak terbangun. Bibirnya terlihat menggigil seolah menahan dingin membekukan. Mimpi buruknya yang menakutkan terasa begitu nyata. Jantungnya berdegup kencang. Sementara keringatnya bercucuran membasahi dasternya. Dengan kedua telapak tangannya ia usap peluh di mukanya, sambil berharap dapat mengusir bayang ketakutan yang baru saja dialaminya.

Tapi aneh. Kengerian itu tak kunjung hilang, bahkan dalam kesadarannya yang perlahan kembali utuh. Ia duduk. Terpekur. Berusaha sekuat mungkin menyadari akan apa yang tengah terjadi.

Seolah tak percaya, dan memang berharap apa yang kini mulai ia percaya adalah khayal, hanya sisa dari alam mimpi belaka, ia meninggikan kedua daun telinganya, bahkan tak membiarkan satu nafas cecak pun luput dari pengamatannya. Alena hampir menjerit setelah akhirnya menyadari kenyataan yang kini benar-benar terang. Rasa pedih terasa menusuk hatinya. Sakit hati merasa telah dikelabui dan dikhianati. Tak kuasa, ia pun menghambur ke kamar orang tuanya dan merangkul erat tubuh ayahnya. Dalam senggukan nafas dan dinginnya lelehan air mata, Alena merintih: “Abah, aku urung!”

*** Dan di sisi shubuh yang lain, Rizieq menikmati setiap teriakan dan sumpah serapah yang diarahkan pada dirinya. Mantap, hatinya berkata: Ini semua kecil dibandingkan surganya Tuhan. Tersenyum 

Inspirasi: Rumi
Dedikasi: Ormas "keras"
Gambar karya Gusti Putu Arya. Diambil dari www.reservo-art.com

Penulis: Insan, Sumedang

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 29 Tanggapan... read them below or add one }

Aditya's Blogsphere mengatakan...

numpang pertamax,lum bisa nyimak krn dari hp,gara2 post terjadwal akhrnya blog q gbs d buka bro,aq gbkl tau kl gda yg komplen hehe

Newsoul mengatakan...

Syiar yang mengancam, tapi hati nurani tak bisa diancam. Semoga Alena dan Rizieq menemukan ketenangan dalam perlindunganNya.

Local Download mengatakan...

wah keren sekali..
"Ini semua kecil dibandingkan surganya Tuhan"

salam blogger:)

Clara mengatakan...

aku suka kisahnya.
penjabarannya puitis sekali.

nuansa pena mengatakan...

kata demi kata terangkai indah, nuansanya dapat sekali, pencerahan yang tersamar! Kasih sayang seorang ayah biasanya tersembunyi, lain dengan kasih sayang seorang ibu yang langsung terlihat!

yanuar catur rastafara mengatakan...

ehmm,,keren kang...
puitis...
lanjutkannn

SeNjA mengatakan...

kisah yg menginspirasi dan pemaparan yg khas dari seorang insan ^_^

keren mas,..

lina@home sweet home mengatakan...

Ngga banyak komentar deh, indah kata2nya...

ateh75 mengatakan...

Syiar yg mengancam,tapi keteguhan Ririeq tak tergoyahkan ,dia malah menikmati setiap teriakan dan sumpah serapah yang diarahkan pada dirinya. Mantap, hatinya berkata: Ini semua kecil dibandingkan surganya Tuhan. Tersenyum.Luar biasa.Subhanallah....

Bahrul Ulum mengatakan...

Kunjungan balik sob...
Waw..cerpennya bagus banget nih...

lee mengatakan...

Jujur saja syiar yang mengancam sebuah cerita yang sarat makna hidup,tentang keyakinan dan keteguhan...moga-moga jadi acuan buat kita semua...luarbiasa ssobat...

heru mengatakan...

mantap dan keren tulisannya boss, salam sukses selalu

fanny mengatakan...

cantiknya nih cerpen.

Kian Coi mengatakan...

gw cm bisa bilang mantab..!!! makasih juga sob da commenk...!!! :)

gambutku mengatakan...

mantap nih cerpen.:D

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

woah, keuren sob..
puitisasi dalam prosa, mengagumkan.. :)

Ipin's cool mengatakan...

berkunjung perdana kang salam kenal..

Annie mengatakan...

Saya suka makna dalam yang tersimpan dalam cerpen itu. Kata2nya cerdas, tetang keyakinan, keteguhan, keputusan keren!

NURA mengatakan...

salam sobat
menarik sekali artikelnya dan banyak memberikan petuah,,
semoga syiar yang mengancam ini ,,menambah pelajaran bagi kita semua.

alkatro mengatakan...

so sweet... boro-boro ane mendamba malaikat..
malaikat kan ga makan; kerjaannya cuma dzikir.. ane laper diqit aja dah nyari piring, lewat deket kuburan tua malam2 jg masih pikir2... hi sereem kabuurr

gaelby mengatakan...

Cerpen yang inspiratif dan menggugah. Thanks u/pencerahannya. Ttap berkarya n good luck !

Willyo Alsyah P. Isman mengatakan...

sangat menggugah... dan tidak menutup kemugkinan masih banyak terjadi di lingkugan sekitar kita

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met hari minggu.

oema mengatakan...

waduh,,emang ada ya yg adzan smpe bikin orang ketakutan gitu?hehe.. idenya kreatif bgt, kang..^^ aku angkat topi...!!

minomino mengatakan...

iya tuh mas adit, saya yang komplen blognya g bisa dimasukin...hehe...
*ga nyambung minoooo, maap maap

"Ini semua kecil dibandingkan surganya Tuhan"
like that much! :)
jadiin buku gih,ntar kalo sukses bagi2... *ngarep
:D

minomino mengatakan...

eeeh,rupanya posisi saya sudah tergeser dari tulisan yg bisa jalan2 itu *katro banget si sayah
hahaha

posisi emang bnr2 nentuin prestasi ya,ckckckck :D

cinta mengatakan...

salam kenal? ikutan ahhh.......

RifkyMedia™ mengatakan...

menyimak dan mendalami artikel diatas....hmm...dalam banget..

diar mengatakan...

Aluslah!!!

Keren-keren...

He heh... membuatku tertawa. He heh...

Aya aya wae Kang Rizieq. Kasihan tuh c Alena hidayah Allah menjadi terbang seiring dengan lantunan adzanmu. he heh...

Posting Komentar