Rasa

Si Faqir pun langsung meloncat ke dalam sumur api itu seperti hendak mengejar Balzeeboul Sang Raja Jin. Sejenak Ali dan Rami saling bertatapan. Setelah itu tanpa bereaksi apa-apa lagi, mereka langsung meloncat ke dalam sumur api yang merupakan gerbang neraka, menyusul si Faqir. Ishaq—si tokoh utama-- bingung melihat pengalaman ini. Sampai akhirnya ia mengerti bahwa perbuatan Ali dan Rami yang di luar nalar itu adalah karena titah Sang Guru.

Itu merupakan salah satu penggalan cerita dalam novel Master Of The Jinn karangan Irving Karchmar yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Sang Raja Jin. 

Saya tercengang ketika membacanya. Bukan karena gerbang neraka yang kasat mata, namun kepatuhan tanpa nalar murid—Ali dan Rami—terhadap guru spiritualnya, yang dikenal dengan istilah syekh mursyid. Walau di sana diceritakan bahwa api neraka itu kehilangan energi panasnya sehingga tak bisa membakar tubuh Ali dan Rami, namun itu menjadi tak
penting lagi. Yang terpenting dari kisah ini adalah apa gerangan yang menggerakkan kedua murid tarekat itu sehingga patuh total-- tanpa proses berpikir dan menafsir—kepada gurunya, bahkan ketika dihadapkan pada titah yang benar-benar tak masuk logika dan mengancam nyawanya sendiri?
Benar-benar tak masuk logika karena perintah itu tidak lahir dari komando tentara yang bersenjata lengkap, raja nurjana nan kejam, atau otoritas lain yang memiliki kekuasaan intimidasi. Titah itu hanya datang dari seorang guru yang bahkan—seperti yang dikisahklan dalam novel tersebut—berhati lembut dan berperangai santun. Karena bukan berasal dari paksaan, lalu apa motivasi Ali dan Rami melakukan perbuatan di luar rasionalitas itu?

Novel Sang Raja Jin memberi jawabannya: rasa percaya. Ali, Rami, dan akhirnya Ishaq menyimpan kepercayaan mutlak di hati-hatinya terhadap gurunya itu. Percaya bahwa sang guru adalah pelindung yang mustahil memberi celaka kepada murid-muridnya. Ketika Ali dan Rami meloncat masuk ke dalam gerbang neraka, mereka tidak menghayati perbuatannya itu sebagai bentuk taruhan dari kesetiaan ataupun pengorbanan. Mereka melakukan itu sebagai perbuataan taat “biasa” tanpa tersirat akan adanya sesuatu yang dapat mencelakakan dirinya. “Walaupun secara lahiriah itu adalah neraka yang maha celaka?” Bagi mereka itu tak soal karena mereka percaya bahwa gurunya adalah Malaika Zaman (sang penguasa zaman) yang memiliki kekuasaan di alam lahir dan batih. Di sini kita menyaksikan bahwa rasa bisa mengatasi logika.

Bagi saya ini sederhana atau setidaknya tidak terlalu kompleks. Rasa percaya Ali, Rami, Ishaq, dan murid-murid tarekat lain terhadap gurunya memiliki landasan yang kuat—seperti yang dikisahkan dalam novel itu-- yaitu penyaksian dan pengalaman akan karomah atau keramat guru (Dalam tradisi mistis Islam ada kepercayaan bahwa para wali atau kekasih Tuhan diberkati Tuhan dengan keistimewaan dan wewenang tertentu yang menyerupai mukjizat). Walaupun itu berada dalam dimensi ruhani, namun setidaknya kita dapat mengurai dari mana rasa percaya itu tumbuh.

Lalu bagaimana kita menjelaskan Romeo yang menenggak racun ketika menduga sang kekasih, Juliet telah mati? Atau ketika seorang laki-laki meloncat bebas dari atas gedung yang tinggi hanya untuk meneguhkan statementnya kepada wanita yang telah menolak cintanya: “Aku akan bunuh diri bila kamu tak menerima cintaku!” Atau ketika dalam sebuah kecelakaan kapal laut, seorang ibu memberikan pelampung miliknya terhadap anaknya dan membiarkan dirinya sendiri mati tenggelam. Mereka sama sekali tak memiliki garansi mujizat seperti Ali dan Rami. Bisakah kita menjelaskan ini semua? Bukankah itu juga bentuk dari superioritas rasa terhadap akal? Rasa mengatasi rasio?

Mungkin kita pernah bertanya, mengapa banyak perusahaan kerap kali mengidentikkan produknya dengan warna tertentu, seperti Djarum Black yang identik dengan warna hitam? Untuk menegaskan, semua event yang digelarnya selalu mengandung "black", seperti Djarum Black Slimznation, dan lainnya. Itu karena manusia mempunyai pengalaman subjektif tertentu dengan warna yang tak dapat dijelaskan dengan rasionalitas karena itu berada dalam wilayah rasa. Kebanyakan kita melihat merah mengandung rasa berani, sementara rasa suci kita dapatkan dalam warna putih. Bisa kita jelaskan kenapa ketika melihat warna pink atau ungu rasa kita selalu memaknainya dengan kewanitaan atau girly? Ini berarti produk tersebut ingin mengidentikkan dirinya dengan rasa yang terkandung dalam warna tertentu.Walaupun pengalaman tersebut bersifat subjektif, namun intinya manusia memiliki pengalaman "batin" tertentu dengan warna. Entah bagaimana itu bisa terjadi, kita tak tak tahu. Tapi kita bisa merasa.

Sayangnya modernitas yang terlalu mengagungkan rasionalitas membuat kita lupa mengenai satu bagian dari diri ini yang ternyata begitu penting: rasa. Modernitas terus menerus menganjurkan manusia untuk mempertajam, melatih, dan mengoptimalkan intelejensia, dengan mengesampingkan bagian diri yang lain.

Karena pertumbuhan yang tak seimbang ini akhirnya terciptalah tipe-tipe manusia robotic yang begitu mekanik. Hingga ketika seseorang itu mendapatkan pengalaman yang sangat emosional, mereka tak dapat mensikapinya dengan proporsional. Maka vandalisme pun menjadi sebuah konsekuensi. Tingkat kematian yang tinggi di beberapa Negara maju seperti di Jepang, merupakan bukti tak terbantahkan dari rapuhnya manajemen emosional atau olah rasa individu-individunya.

Kalaupun modernitas memberikan perhatian kepada selain rasio, itu hanya terjadi pada tubuh atau raga manusia. Hal ini disebabkan karena modernitas selalu bermuara hanya pada fungsi dan guna. Kasat mata, tentu jauh lebih berguna mengoptimalkan tubuh daripada melatih rasa.

Juga kenyataan bahwa konco modernitas yang paling solid, yaitu kapitalis mempunyai banyak kepentingan di sini. Olah raga yang sejatinya adalah sarana untuk menyehatkan tubuh, disulap sedemikian rupa hingga menjadi industri yang menambang uang berlimpah. Belum lagi industri penghias dan pemercantik tubuh: fashion, menjadi komoditas besar yang penuh akan keberlimpahan. Keindahan raga diperhatikan sementara rasa diterlantarkan.

Kesadaran manusia akan adanya sesuatu yang batin dalam dirinya, dan berusaha untuk mengolahnya sehingga terjaga dan terpelihara, adalah upaya yang penting demi menjaga "keutuhan" diri. Mari kita berolah rasa di samping berolah raga.

Gambar diambil dari sini

Penulis: Insan, Sumedang

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 28 Tanggapan... read them below or add one }

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

krn warna adalah lambang kepribadian seseorang juga.

masterGOmaster mengatakan...

semoga semua yang telah membaca cerita ini bisa mengambil kesimpulan bahwa kedholiman dan haus akan kekuasaan itu tidaklah baik.terima kasih

masterGOmaster mengatakan...

semoga semua yang telah membaca cerita ini bisa mengambil kesimpulan bahwa kedholiman dan haus akan kekuasaan itu tidaklah baik.terima kasih

Local Download mengatakan...

banayk Harta di dunia akan di pertanggungjawabkan di akhirat,, hehe^^

salam blogger:)

-Gek- mengatakan...

Bagus amat postingannya...........
Semangat, semangat!

nuansa pena mengatakan...

Jangan biarkan hati menjadi mati rasa!

annie mengatakan...

Bismillah ...
mudah2an yang ini masuk, sebab memang form-nya ada. Kamari mah teu muncul kolom koment teh.

annie mengatakan...

Saya turut tercengang membacanya, Kang. Yang menggerakkan mereka adalah percaya utuh penuh, tanpa syarat, pada sang guru. Saat "percaya tanpa syarat" diberikan kepada makhluk (bukan Allah), saat itu pula lahir perasaan aneh bermakna ketidakberesan yang dirasakan, justru oleh orang lain.
Andai keyakinan semacam itu hanya diperuntukkan bagi Sang Pencipta ...

pelajaranmamat mengatakan...

Blognya bagus.. Ada sejarh islamnya jg lagi..!

lee mengatakan...

Manusia sekarang sudah menjadi botol kosong yang tinggal diisi..apa saja bila kita mampu membuka tutup botolnya...Jangan heran sobat jaman sekarang masih banyak orang terjebak oleh hal2 yang menyesatkan

eNeS mengatakan...

Udah main bicara jin. Iiiiih.... tatuuuut...

minomino mengatakan...

hmmm...pepatah itu benar ya...'to much love will kill u' :) rupanya dialami oleh pria penerjun bebas yg tadi katanya bunuh diri...

apa bunuh diri menyelesaikan yg belum selesai?
nampaknya kematian mereka itu pelajaran untuk kita...
krn untuk mereka (yg bunuh diri)sendiri sudah terlambat,
tidak mungkin ada kata menyesal,
terlambat...
*pelajaran berharga untuk tidak menjadi manusia robot

Newsoul mengatakan...

Review mantap. Sellau ada hikmah dari tiap-tiap sesuatu.

maiank mengatakan...

"modernitas yang terlalu mengagungkan rasionalitas membuat kita lupa mengenai satu bagian dari diri ini yang ternyata begitu penting: rasa"

bener banget...

nice post...pengen baca bukunya...

Aditya's Blogsphere mengatakan...

Rasa....taste...hmmmm......semangat konetsnya mau usai nih hehehehe

denie mengatakan...

haloooo?

Munir ardi mengatakan...

Sebuah artikel yang luar biasa sahabat

SeNjA mengatakan...

kerennn bgt postingannya dalemm,dengan penutup yg mengundang senyum..." mari berolah rasa disamping berolah raga"

jaman memang sudah sedemikian panas mas,tapi 'rasa' yg menjadi salah satu inti seorang manusia seharusnya tetap terjaga.

ateh75 mengatakan...

Mengolah rasa dengan ilmu hakikat,dengan ilmu ketuhanan.

*kisah diatas seperti kisah nabi Musa As kepada syeikh mursyidnya Khaidir,tapi sebaliknya dari kisah ali dan Rami , justru nabi musa menentang apa yg dilakukan mursyidnya itu,karena tidakan mursyidnya yg tdk masuk akal melihat khaidir membunuh anak kecil dihadapan nabi musa, akhirnya musa gagal menjadi muridnya. Wallahualm....

Rkeyla mengatakan...

Wach...makin mantap sob postingannya
sukses selalu

AmruSite mengatakan...

TErimakasih artikelnya mas insan. Sangat bermanfaat...
Mudah2an kita bisa menjaga hati dg baik...

7 taman langit mengatakan...

salam sejahtera
kunjungan balik
kisah diatas cukup menarik
tentang si Faqir,Ali dan raja jin
saya tunggu tulisan berikutnya

alkatro mengatakan...

mantap euy..
saat ruh mencapai singgasana bahrul qalbi... mungkin rasa sejati bukanlah hanya mimpi..
alangkah indahnya menikmati hidup setelah kematian; uenak tenaaan xixixi.. kabuuur

Kian Coi mengatakan...

semua adalah kebalikan akan sebuah nikmat..dan kebalikan atas derita..

tidak ada hal yang akan manusia sadari ketika kenikmataan mereka raih, namun penyesalan baru terjadi saat derita menghampiri...

mawas diri dan bertawakal...adalah jalan yg lebih baik...amiiiinn...

gile puitis juga yak...!!!

Astaga.com Lifestyle on the net mengatakan...

thanks yah, dah dilink sukses Astaga.com lifestyle on the net

nowgoogle.com Multiple Search Engine

yanuar catur rastafara mengatakan...

ehm,,aku selalu mempercayai apa yang dilakukan pemimpinku
dan aku wajib memberi pengarahan jika sedikit menyimpang
hehehehe

Rizky2009 mengatakan...

kalau romeo nenggak racun itu namanya kurang kerjaan.

blck adalah warna natural, d campur aduk dengan warna apaun cocok, makanya blog q juga black meskipun aq g ikut Djarum back blog competition

diar mengatakan...

Itulah cinta tak butuh logika hanya rasa semata. he heh... (yang terjadi pada ali dan Rami, kali yeee...). Heh...

Berolah rasa???
Siap!!! bagaimana caranya???

Heh...

Posting Komentar