Pasar Blogsphere


 
Tentu tak berlebihan bila ada yang mengatakan bila blogsphere saat ini menyerupai pasar. Tempat berkumpul dan bertemunya manusia dalam skala ruah;  dengan berbagai kepentingan dan motivasi; berangkat dari hampir semua klaster social, strata pendidikan, etnis, agama; dan juga yang tak kalah penting: gender dan orientasi seksual. Maka pasar menyimpan pluralitas yang tinggi.

Sebagai ruang publik, pasar membiarkan dirinya ditempati oleh para penjaja. Disinggahi para penawar, bahkan dijadikan tempat berteduh bagi mereka yang jeli mengambil manfaat dari situasi: mulai dari tukang panggul yang tahu akan derita pembeli dengan barang belanjaanya, pencopet yang begitu paham akan keteledoran para pengunjung, sampai pemuda-pemudi yang mengadu peruntungan jodohnya. Semuanya campur baur, tumpah ruah menyemarakkan pasar.
Sebagaimana halnya ruang publik, pasar pun meniscayakan adanya proses interaksi. Dan kita tahu bahwa interaksi tidak saja membawa pada keselarasan yang bermanfaat, namun juga bisa menimbulkan persinggungan yang membahayakan. Apalagi fakta pluralitas pasar yang tinggi, semakin menegaskan bahwa pasar menyimpan potensi konflik yang besar.
Bila blogsphere menyerupai pasar, maka blogsphere pun sama seperti ilustrasi itu: didiami banyak orang dengan beragam kepentingan, mengandung pluralitas yang begitu tinggi, dan di dalamnya
terjadi proses interaksi yang intens. Akhirnya pun tak jauh beda: seperti pasar, blogsphere pun menyimpan potensi konflik yang besar.  Diam-diam, kita pun bingung membedakan dan mengambil batas antara dunia virtual dan alam “realita”.
Adu wacana adalah lumrah dalam dunia blogsphere. Kerap kali kita menyaksikan ”perang posting” antar blogger, bahkan dalam bentuk tanggapan frontal di kolom komentar atau guest book. Wacana yang diperdebatkannya pun begitu beragam; mulai dari sikap dalam blogging; opini sosial, budaya, dan politik; bahkan sampai agama atau keyakinan.
Kita dengan bangga mengatakan bahwa kemerdekaan menyatakan pendapat dan pikiran telah menemukan ruangnya di alam blogshpare yang maya ini. Kita pun patut bersyukur bahwa blog telah berhasil bukan hanya sebagai wahana aktualisasi diri yang cukup mewah, namun ia juga telah menjadi alat demokrasi yang sukses. Namun pada kenyataannya belum semua siap dan mau merayakan keragaman dan perbedaan ini dengan menerima mereka yang liyan secara terbuka dan ikhlas hati. Masih saja ada blogger yang tak tahan dengan perbedaan.  Mereka selalu ingin memaksakan “kebenarannya” pada mereka yang lain, sembari mengklaim bahwa tidak ada pendapat yang benar di luar pendapatnya. Lamat laun, konflik antar blogger pun tercipta. Dan kita pun bersedih karena keragaman tidak berwujud menjadi rahmat, namun petaka yang nyata.
Dalam perbedaan yang menjadi petaka, nasihat tidak lagi sebagai sedekah pendapat yang menggugah hati dan mengandung kemungkinan untuk ditangguhkan. Namun nasihat hanyalah topeng dari pemaksaan kehendak, yang sempit dan kering, juga tidak toleran. Dengan angkuh mereka mengatakan: “meluruskan”. Padahal sejatinya mereka hanya menginginkan pendapatnya dianut oleh si liyan, dianut bersama-sama. Mereka lupa bahwa orang lain pun memiliki pendapat dan versi kebenarannya masing-masing. Mereka lupa karena mereka terobsesi oleh pendapatnya sendiri, oleh dirinya sendiri. Karena mereka mendaku: Aku yang paling benar.
Obsesi inilah yang tak ramah akan perbedaan dan keragaman. Obsesi ini yang membuat kita selalu ingin membuat orang lain sama dengan kita, sepakat dengan pendapat kita. Obsesi yang diam-diam dianut oleh beberapa blogger—bisa jadi kita sendiri.
Dalam tulisan ini saya menyarankan marilah kita mengedepankan akhlak dan kebersamaan, daripada mempertajam perbedaan. Sadarilah bahwa keragaman dan perbedaan ini adalah sesuatu yang dikehendaki Tuhan. Biarlah pendapat, pikiran, dan iman menempati ruangnya yang paling aman: hati. Karena bila itu kita tempatkan di luar, khawair akan rusak dan ternodai.
Namun saya juga tidak bermaksud mengatakan semua serba relatif. Saya percaya akan adanya sesuatu yang prinsip, yang ideal. Namun keyakinan subjektif ini tidak lantas kita paksakan pada yang lain, karena yang lain pun memiliki pandangannya tersendiri. Sebagai ilustrasi: saya senang sekali merokok Djarum Black Slimz. Kesukaan saya pada rokok tersebut tidak lantas  membuat saya harus memaksa teman-teman saya merokok itu. Saya harus legowo ketika teman saya lebih menggrandungi rokok di luar Djarum Black, misalnya. Adapun perdebatan karena saling “membela” rokok masing-masing itu adalah hal wajar asal jangan sampai terjadi konflik dan terobsesi untuk membuat orang lain satu selera dengan kita.
Keharmonisan bukanlah persamaan, namun berani menanggung beda dan menerima perbedaan dengan luas hati. Hal ini dapat terwujud dalam diri kita andai kita menghayati mantra popular ini: perlaukukanlah orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan.
Kita ingin diterima, kita ingin dihargai, kita ingin beraktualisasi, kita ingin didengar dan dipahami, dan keinginan-keinginan mendasar lainnya. Maka yakinlah, orang lain pun mengingkan itu.
Dan langkah yang paling kongkrit untuk memelihara keharmonisan dan menjaga hubungan agar tetap konstruktif dalam dunia blogsphere adalah dengan menahan diri dari keinginan untuk membuat orang lain sama dengan diri kita, pikiran orang lain harus sama dengan pikiran kita. Biarlah langit dengan birunya dan awan pun tetap putih. Karena bila kedua-duanya sama biru atau sama putih, tentu keindahannya tak seperti saat ini.
Gambar diambil dari sini


Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 20 Tanggapan... read them below or add one }

yans'dalamjeda' mengatakan...

Jagat maya telah memberikan banyak ruang dengan segenap kepentingan dan kemudahan di dalamnya. Pada akhirnya, banyak orang hanya sekedar menguatkan budaya konsumerisme tanpa mengambil dan memanfaatkan dengan lebih baik.

minomino mengatakan...

hmmm...jadi inget...
baru2 ini ada blog yg isinya...mmm...yaaa...caci maki terhadap satu kaum...
sedih bacanya...
krn saya masuk ke dalam kaum itu...

biarlah,mereka bertanggung jawab atas apa yg ditulis (seharusnya sih gitu)

minomino mengatakan...

ehhhhhhh, ganti baju...
kaget,dsangkain nyasar...

Rizky2009 mengatakan...

itulah sebabnya kenapa aq suka blog ketimbang ikut jejaring sosial, dg ngeblog ilmu nambah sahabat dapat, karenya tiap blogger punya ciri khas dan karakteristik sendiri2

ateh75 mengatakan...

Luar biasa ya,blogsphere saat ini ibarat pasar serba ada,tinggal kita memilih dan mencarinya ,apa yang kita inginkan pasti ada.Kayak blogku seperti toko klontong hehehe...

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Moga aja pasarnya nggak ditutup....
kita jadi nggak bakalan hilir mudik lagi.

Tampilan baru tambah keren.

annie mengatakan...

wah, ganti kostum nih, kang?

annie mengatakan...

Ulasan yang menarik dan cerdas dalam memaknai dunia blog yang serbaneka ini. Semoga saya selalu dapat menjaga keharmonisan. Nuhun, kang ...

masterGOmaster mengatakan...

<script type="text/javascript">
function pipeCallback(obj) {
document.write('<ol style="text-transform: capitalize;">');
var i;
for (i = 0; i < obj.count ; i++)
{
var href = "'" + obj.value.items[i].link + "'";
var item = "<li>" + "<a href=" + href + ">" + obj.value.items[i].title + "</a> </li>";
document.write(item);
}
document.write('</ol>');
}
</script>
<script src="http://pipes.yahoo.com/pipes/pipe.run?_render=json&_callback=pipeCallback&_id=1db0519c1a1484330328c8c455a513c7&url=http%3A%2F%2Fmastergomaster.blogspot.com&num=10" type="text/javascript"></script>

Ganti tulisan mastergomaster.blogspot.com dengan alamat blog anda. Angka 10 adalah jumlah top posts yang ditampilkan. Jika anda rasa terlalu banyak, silahkan dikurangi dan diatur seperlunya.
Kemudian klik tombol Simpan
Selesai


Jika tidak ingin menampilkan nomor urut posting, hapus kode:
document.write('<ol style="text-transform: capitalize;">');
dan kode
document.write("</ol>");

NURA mengatakan...

salam sobat
wah keren banget templatenya,,
semua bercampur baur dan tumpah ruah di pasar blogsphere ini ya..
siip banget,,,

Local Download mengatakan...

wiw template baru yah sob^^
keren,, sukses terus yh mas Insanitis..

salam blogger:)

Newsoul mengatakan...

Bila blogosphere adalah pasar, maka semoga pasar yang tertib. Bukankah pasar itu bermanfaat. Postingan mantap sobat.

-Gek- mengatakan...

Tulisanmu makin menggila dan tambah keren aja.. :)

Aditya's Blogsphere mengatakan...

Ganti template lagi mas?ga ribet masukin meta tag baru? klo emang pake optimasi seh......btw kok pasar blogsphere?aq ga mau ah di lego di sana...(hehe aq kn aditya BLOGSPHERE)btw artikel seru mas....ayo semangat waktu hampir habs aq dah punya 17 artikel loh....hehehe

rahmatea mengatakan...

kalau blogosphere ibarat pasar...semoga saya bukan orang yang pertama memasukinya, dan bukan orang terakhir yang meninggalkannya....

tapi saya setuju dengan artikel di atas...pembahasannya dalam dan bagus dengan pemilihan kata kata yang pas, tapi sayang......ada iklan yang masuk di sana...he..he..salam blogger kang.

diar mengatakan...

He heh...

Setujulah dengan sarannya.

Eta dapat inpirasinya ketika engkau berwisata ke pasar di sumedangnya???

Wayoh!!! ngaku. He heh...
Artikelnya bagus, kawan. Heh...

AD1N mengatakan...

namanya pasar... berpulang lagi ke orang2 yang ada dipasar tersebut untuk menjaga tetap oke dan tambah rame... jangan sampe di gusur kamtib...

tks 4 sharenya.

munir ardi mengatakan...

marilah hidup dengan serasi, selaras berdampingan dengan rukun tanpa saling ,mengganggu eh apaan nih koment saya btw templatenya keren sahabat

Surakarta Entrepreneur mengatakan...

Semoga selalu tercipta kedamaian antar sesama blogger. Pendapat kita belum tentu benar pendapat orang lain pun belum tentu salah, Salam Sukses

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

yup, memang masih banyak blogger yg memaksakan pendapatnya dg memberi komentar yg enggak banget. padahal setiap orang punya hak utk berpendapat. kalo toh gak setuju, ya ndak usah terlalu frontal gitu komentarnya ya..

nice article.

Posting Komentar