Pahlawan

Sore tadi, di suatu acara talk show dengan tema “Pahlawan Nasional” yang disiarkan oleh salah satu TV swasta, saya mendengar pemaparan yang menarik tentang kepahlawanan dari salah seorang pembicara. “Seorang pahlawan adalah orang yang sanggup melampaui dirinya sendiri.” Demikian sejarawan Anhar Gonggong berujar. Ia melanjutkan pemaparannya dengan ilustrasi: “Soekarno adalah seorang insinyur muda pada zamannya. Ia memperoleh gelar akademiK tersebut waktu usia dua puluh lima tahun. Hatta adalah sarjana ekonomi pertama di Indonesia. Bila mereka mau, mereka bisa saja bekerja kepada Belanda dengan imbalan yang tak mungkin sedikit. Namun mereka tidak melakukannya. Mereka lebih memilih berjuang demi kepentingan masyarakat, bangsa. Soekarno dan Hatta telah berhasil melampaui dirinya sendiri. Mereka adalah pahlawan.”

Kata “melampaui” digunakan untuk menunjukkan kepada situasi yang lebih tinggi dari sekadar “sampai”. Bila “sampai” hanya berhenti pada sesuatu yang dituju, sedangkan “melampaui” berarti telah melewati garis tujuan. Maka melampaui diri berarti telah berhasil sampai pada situasi yang lebih tinggi dari sekadar tujuan pribadi atau kepentingan dirinya sendiri. Dengan kata lain, orang seperti itu telah terbebas dari egonya yang sempit
dan mendambakan sesuatu yang lebih luas dan tinggi. Dan dalam konteks Soekarno-Hatta--yang telah mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan bangsa—sesuatu yang lebih luas dan tinggi itu adalah: kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

Bila “melampaui diri” berarti menyiratkan sebuah laku pengorbanan atau tumbal, maka lawannya adalah “berkutat pada diri” yang berarti memposisikan “diri” sebagai sentral gerak. Semua niat, sikap, perbuatan, tujuan, semuanya mengacu pada acuan tunggal: diri. Diri lah yang menjadi ukuran sesuatu itu boleh atau tidak; haram ataukah halal; benar dan salah.  “Diri” di sini tentu bukan saja hanya mengacu pada satu sosok manusia atau yang biasa disebut dengan inidividu. Diri bisa juga berarti kelompok, keluarga, suku, atau apapun yang dapat dijadikan atau dianggap sebagai identitas. Konsekuensinya, semua yang berada di luar diri akan dienyahkan, bahkan luput dari pandangan. Kekuatan ego membutakan mata dari melihat kepada yang lain

Berkutat pada diri tak memerlukan proses berpikir panjang dan berlapis karena semuanya terlihat begitu jelas dan gamblang: kepentingan diri. Ia juga tak perlu berkorban dan tak memiliki resiko. Malah sebaliknya, ia mengorbankan dan menanggungkan resiko pada yang lain. Bila kepentingan dan keinginan diri telah terpenuhi, berarti perjalanan pun berakhir dengan sendirinya. Tak ada pengharapan yang lain.

Berbeda dengan “melampaui diri” yang digerakkan oleh kebaikan budi atau moralitas, maka yang menggerakkan “berkutat pada diri” adalah syahwat yang rendah. Sikap mengorbankan diri demi kepentingan yang lain merupakan bentuk akan pemenuhan akan panggilan moral dalam diri. Kant mengatakan bahwa dalam diri manusia ada yang menyebabkan dirinya—dengan otonomi penuh, dengan kemauan bebas—menghormati dan mematuhi panggilan ”hukum moral” (Goenawan Mohamad dalam Usinara). Kekuatan untuk melampaui diri persis tergambar dalam seorang pengemis lapar yang hanya memiliki sekerat roti untuk mengganjal perutnya, namun akhirnya ia relakan jatah makannya itu pada anjing lapar yang melintas di depannya. Ia berani menangguhkan perutnya demi perut si liyan. Sedangkan pimpinan yang mengeluarkan kebijakan yang hanya ramah bagi kelompoknya sendiri dan memperkosa pihak lain, merupakan prototipe orang yang berkutatat pada diri. Yang terakhir kita labeli dengan pimpinan zalim, dan orang pertama kita anugerahi pahlawan. Terlepas dari status sosialnya.


Bila orang yang berkutat pada diri memandang bahwa keakuannya adalah segala-galanya, tetapi bagi orang yang telah berhasil melampaui dirinya sendiri, memandang bahwa diri hanyalah taruhan, seperti pengemis lapar yang menjudikan nyawanya sendiri demi nyawa orang lain.

Kita tercengang melihat
orang-orang yang kuasa untuk melampaui dirinya sendiri karena kita tahu itu bukanlah hal mudah, tentu saja. Magnet syahwat terlalu berdaya untuk kita lawan dan tentang. Maka tak berlebihan bila Anhar Gonggong menyematkan gelar pahlawan bagi mereka.

***

Sampai menulis artikel ini pun sebenarnya saya belum terlalu memahami filosofi “melampaui diri” ini secara konkrit. Sampai akhirnya saya merokok Djarum Black Slimz. Di momen itulah saya mengalami pengalaman “aha.” Saya melihat sebatang Djarum Black Slimz itu telah berhasil melampaui dirinya sendiri. Ia relakan dirinya dibakar, dihisap hingga akhirnya menjadi abu. Ia korbankan dirinya sendiri demi saya. Ia anggap dirinya sendiri hanyalah taruhan demi kepentingan saya: bila saya urung merokok berarti ia pun selamat, tapi bila saya jadi maka “mati lah” konsekuensinya. Di sini, Djarum Black Slimz lah pahlawanku, pahlawan inspirasiku. Terima kasih Djarum Black

Penulis: Insan, Sumedang 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 34 Tanggapan... read them below or add one }

irmasenja mengatakan...

pertamaxxxxxx

SeNjA mengatakan...

yesssss,.........senangnyaaa...... ^_^

SeNjA mengatakan...

hemmm,...yang saya suka dari tulisan2 mas insan adalah... cerdas ! kalimat2nya selalu cerdas gak seperti tulisanku yg gak jelas hiksss...

selamat pagi menjelang siang,met beraktifitas ya

nuansa pena mengatakan...

Bagian akhirnya membuat saya tersenyum simpul pul pul pul! Mungkin kalau saya ikut begini...bila ada yang merokok aku merokok, karena kalau tidak merokok aku kena pul pul pul mu! daripada pasif berbahaya lebih baik bersama Djarum Black Slimz!
Sukses untuk kontesnya! Ulasan melampau dirinya aku copy untuk pribadi! Trim's!

Henny Y.Wijaya mengatakan...

hm.."melampaui diri" itu bahasa sederhana untuk mengartikan sesuatu yang bernilai tinggi. ^^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

berarti saya belum bisa jadi pahlawan nih. he he he..masih suka mementingkan diri sendiri soalnya.

Local Download mengatakan...

pakah orang itu di beri gelar pahlawan ato tidak yang penting kita di mata Tuhan sama^^

salam blogger:)

Rizky2009 mengatakan...

mantab sob nambah pelajaran tentang melalampaui diri, ok aq plajari dulu, nyari info yg lebih detil gt

munir ardi mengatakan...

hebat ya Djarum nya rela terbakar demi kepuasan yang menghisapa

ateh75 mengatakan...

Luar biasa Djarum Black Slimz ,membuat kang insan melampaui batas eh..salah ya...maksudnya membawa inspirasi hehe.

Untuk kontesnya sukses selalu ya...

7 taman langit mengatakan...

salam sejahtera
kunjungan balik
terima kasih sudah berkunjung ke rumahku
nice post

Fortuna mengatakan...

Nice post...

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

kenapa disensor,,? hehhe

SeNjA mengatakan...

mampir lagi saya ternyata....^_*

Clara mengatakan...

manstapppp~
aku suka tulisan ini
sampe ga bisa berkomentar...XD

gambutku mengatakan...

mantap tulisannya. ayo kita juga harus melampaui diri kita.:D

Willyo Alsyah P. Isman mengatakan...

kunjungan malam...bergerilya lagi di blog sobat...hemmm...sekses sob...terus berjuang semoga berhasil...

-Gek- mengatakan...

ho oh ni.. jadi gemana gitu bacanya.. jadi minder.. hahahhaha! Semangat semangat.
:)

insanitis37 mengatakan...

@All: terima kasih banyak atas support dan atensinya...nanti tolong vote aku ya di Djarum Black Blog Competition 2, hehe

Fanda mengatakan...

Berkorban untuk kepentingan di luar diri kita sendiri... Hal yg sulit dilakukan, dan salut pd org2 yang mau dan telah dapat melakukannya. Semoga sukses di Djarum Black Blog competitionnya ya...

AD1N mengatakan...

Betul banget postnya sob.... sudah jarang orang yang mau melampaui diri sendiri untuk membantu orang lain dan tanpa pamrih....

didi mengatakan...

comen perdana...
selamat tahun baru... moga di tahun yang baru ini pengunjung blog anda bertambah banyak...

NURA mengatakan...

salam sobat
melampaui diri sendiri,hanya untuk orang lain,,itu pahlawan sejati.
siip banget kompetisi jarum black blog.

diar mengatakan...

He heh...

Kerenlah. apalagi yang diending. He heh...

Aku belum bisa dikatakan pahlawan. Lantaran diriku belum bisa melampaui diri. Apalagi itu, mandiri juga belum?

Ah! He heh...

Indahnya Berbagi mengatakan...

berkunjung, kmrn mau koment tp liat kolom komentarnya keren tp bikin repot jd g' smpat tinggalin jejak.

terimakasih apresiasix slama ini!

knowledge Sharing mengatakan...

sebuah tulisan bijak yang penuh kedewasaan menyikapi hal-hal kecil tapi menjadi bermakna besar..
salam kenal dan saling kunjung

Newsoul mengatakan...

Idenya sangat mantap. Melampau diri. Bagian akhirnya, hehe, agak maksa. Tapi namanya juga lagi ikut kompetisi ya mas Insan. Semoga sukses dengan kompeteisi Jarum black ini.

mGm mengatakan...

seorang penulis memang selalu banyak inspirasi seperti artikel ini dari paparan pahlawan sampai kompetisi. salut

endar mengatakan...

ternyata pahlawan kita berbeda. pahlawanku a-volution slim juga lho

Aditya's Blogsphere mengatakan...

Tapi yang menang kan tetep gus dur kan bro?daripada pak harto...hehehe....mau tanya bro....apa km kesulitan masuk blog q?

Ida Donald mengatakan...

pahlawan..... sekarang ini banyak sekali yang mengaku dan ingin disebut sebagai pahlawan.... jadi pahlawan itu tidak mudah...
betul n saya setuju dengan pernyataan "melampaui" belum bisa dikatakan seorang pahlawan jika masih mementingkan kepentingan sendiri...
Nice post sobat.... heheh

alkatro mengatakan...

Mantaap..
Ada satu lagi akang.. Patih Gadjahmada; dalam legenda Jawa; Beliau disebut sebagai Ksatria yang bisa melompati bayangannya (entah makna denotasi atau konotasi kurang tahu saya) ; yang pasti beliau tidak berhasrat rebutan tahta menjadi Raja sekalipun jasanya yang sangat besar terhadap kemakmuran rakyat Majapahit
(enggak kayak pejabat zaman sekarang.. xi xi xi xi)

Kian Coi mengatakan...

promosi niee....!!!!

eNeS mengatakan...

Aidit adalah pahlawan bagi PKI
Sukarno adalah pahlawan bagi PNI
Natsir adalah pahlawan bagi Masyumi
Hamka adalah pahlawan bagi Muhammadiyah
Gus Dur adalah pahlawan bagi NU
Bagiku hanya satu pahlawan: Moh. Amin, itulah bapakku!!!

Posting Komentar