"Kecelakaan"

Tiga panggilan masuk di HP ku terabaikan. Nomor unkown alias tidak dikenal. Baru saja akan memeriksa mengenai kemungkinan siapa yang baru saja menelpon, HP kembali berdering. Ternyata ada satu pesan masuk: “San, gua tunggu di rumah si Andri. Gua lagi ada di Sumedang nih, sama bini dan anak gua. Doel” Girang. Terkejut. Hampir tak percaya. Kini berbaur dalam perasaanku. Karena Doel adalah Setyo. Sementara Setyo adalah teman SMU ku. Dan Setyo tinggal di Depok. Aku dan Setyo tidak pernah lagi bertemu selama beberapa tahun. Kini ia datang. Bawa istri dan anak. Kok bisa ya? Heran.

Ku tunggangi si kuda besi dengan membawa setumpuk rasa penasaran di punggung. Jalanan mulai agak gelap karena sebentar lagi sang muadzin akan mengaktifkan pengeras suara demi meneriaki umat muslimin akan kewajibannya: shalat maghrib. Hingga sampilah di rumah
temanku, Andri. Dan benar saja, kulihat si Setyo sedang menggendong seorang bocah kecil berumur satu tahunan. Pasti itu anaknya. Hatiku membatin. Jujur, pemandangan waktu itu begitu kontras dengan ingatan terakhirku terhadapnya; delapan tahun yang lalu. Ketika ia duduk di trotoar, dengan jins ketat dan jaket kulit penuh manik-manik. Ia menoleh ke arahku sambil berujar:”Lo bangga gak San jadi anak punk?"

Ternyata tidak hanya Rano. Si Wandi pun—masih teman SMU—ada di sana. “Reunian nih” selorohku pada mereka. Akhirnya kami berkumpul, bernostalgia bersama. Reuni dadakan itu semakin berasa dengan keterlibatan rokok Djarum Black, dalam berbagai varian. Sementara aku masih setia dengan sensasi “gila” Djarum Black Slimz.

Diam-diam kuamati keberadaan kami. Ternyata tak jauh beda dengan waktu SMU dulu. Karakter kami pun masih sama, belum ada yang membuat pangling. Sampai akhirnya aku sadari, mereka semua telah beristri dan beranak. Di antara kami berempat hanyalah aku yang masih melajang. Hanya satu perbedaan itulah yang membuat mereka agak berbeda. Namun satu hal lagi yang membuatku cukup tercengang: semuanya “kecelakaan”. Nafasku semakin tertahan setelah mulai menyadari bahwa hampir semua teman-temanku yang telah menikah, disebabkan hal serupa: “kecelakaan”. Sedangkan sebagian kecil lagi—yang menikah karena bukan “kecelakaan”—mereka bukannya tidak melakukan “hubungan” pra nikah, tetapi lebih karena bersikap save sex. Kini aku benar-benar tercengang.

Saya yakin sekali bahwa fenomena seperti ini terjadi tidak hanya di komunitas teman-teman saya saja. Tapi ini telah menjadi fenomena sosial yang menerpa semua kalangan, melewati batas-batas budaya dan geografis. Fenomena seks pra nikah juga bukanlah fenomena modern. Dulu, sebelum masyarakat mengenal aturan-aturan dan lembaga sosial-juga aturan agama-apakah ada prosesi perkawinan? Apakah ada satu prosesi baku yang diyakini bersama sebagai legalitas atau pengesahan aktifitas hubungan badan? 

Dapat dikatakan bahwa adanya peristiwa “hubungan” pra nikah itu terjadi setelah manusia benar-benar telah berbudaya, setelah masyarakat mengenal pranata dan lembaga sosial yang disebut: perkawinan. Sebelumnya, aktivitas seksual tak perlu diresmikan. Ia hanya tergantung pada naluri dan kesepakatan antar individu. Satu libido, dua kemauan dan penerimaan. Maka hubungan badan pun terjadi. Tak perlu lima seperti sekarang: calon mempelai, mahar, saksi, wali, dan ijab kabul.

Saya tidak akan menghakimi mereka dengan berbagai stigma negatif karena saya bukanlah si saleh fundamental yang hanya tahu dua hal: taat dan durhaka, surga dan neraka. Walau begitu saya pun tak akan begitu saja berdamai dengan fenomena ini karena saya juga bukanlah seorang kafir liberal. Sengaja saya menggunakan label-label ekstrim tersebut sebagai satire bagi orang-orang yang agak serampangan mengkotakkan orang dengan pemikirannya yang luas dan berlapis-lapis ke dalam dua sisi ekstrim yang teramat sempit: fundamental dan liberal.

Fenomena “hubungan” di luar nikah pun tak dapat kita pandang secara simplikatif. Tak melulu orang yang melakukan aktivitas seksual di luar nikah itu sebagai orang “lemah iman” atau tak bermormal. Bagimana kita menilai para hedonis yang menyandarkan laku hidupnya itu pada sebuah pemikiran filsafat? Atau para penganut Syiah yang melakukan mut’ah?—walau para penganut Syiah yakin bahwa mut’ah itu adalah sah. Mereka melakukan itu bukan karena dorongan berahi belaka, tapi dengan kesadaran penuh dan sebuah “pertanggungjawaban” etis.

Tapi kita pun kembali bertanya: berapa persenkah dari para pelaku “hubungan” di luar nikah itu yang memiliki landasan moral dan “pertanggungjawaban”? Bukankah mayoritas dari mereka melakukan itu karena “kecelakaan” belaka—sebuah situasi ketika manusia kehilangan kewaspadaan dirinya dari kuasa berahi.

Di titik inilah kita kembali diam, merenung, persis seperti ketika menghadapi fenomena-fenomena sosial lainnya. Kita diam karena kesadaran kita akan begitu kompleksnya makhluk yang bernama manusia itu. Ia digerakkan bukan hanya oleh iman atau motivasi ekonomi semata. Juga bukan karena pendidikan dan faktor keluarga belaka. Tapi ia digerakkan oleh banyak hal, yang tentu saja rumit dan berlapis. Maka, tak bijak rasanya bila kita menuduh permasalahan ini hanya pada satu sumber: keyakinan agama misalnya. Penilaian kita yang terlampau sederhana justru hanya akan mendistorsi substansi dari permasalahan yang sebenarnya.

Terlepas dari semua kemungkinan penyebab perilaku seks di luar nikah itu, saya melihat satu yang pasti dari fenomena ini: degradasi atau penurunan fungsi dan wibawa pranata dan lembaga sosial. Bila saat ini hanya lembaga perkawinan saja yang turun wibawa, lalu ke depan, satu atau sepuluh tahun lagi, lembaga sosial mana lagi yang akan kehilangan fungsionalitasnya. Mungkinkah lembaga keluarga? 
Notes:  
  • Semua nama yang tercantum dalam artikel ini bukanlah nama sebenarnya.
  • Gambar diambil dari sini

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 38 Tanggapan... read them below or add one }

oema mengatakan...

hmm.. karena kita tidak patut menghakimi, ya kang Insan..sebab penghakiman tak membuat sadar. peran kita bukan sebagai penghukum..^^

eNeS mengatakan...

1. Dasar keur miluan kontes, Jarum Black aya terus di tiap postingan.

2. Kecelakaan seperti itu namanya kenikmatan sob, hehehe...

3. Ning bisa muncul kotak komentarna, kumaha carana tah. Nu Sastra Culun baheula dikotak-katik ge teu muncul-muncul unk...

Aditya's Blogsphere mengatakan...

kecelakaan semacam ini memang di dampa semua pria dan di benci semua wanita......alhamdulillah saya terhindar dari itu semua amin.....

SeNjA mengatakan...

fenomena apa ini ya kang ??
memulai sebuah ikatan suci dgn sebuah " kecelakaan ".....

wilujeng wengi kang ^_^

lina@women's perspectives mengatakan...

Sangat disayangkan ya...
Supaya tidak terjadi MBA, iman memang harus lebih diperkuat...

kelirirenk mengatakan...

Dari berbagai pelanggaran moral dan agama, salah satu yang setiap saat bisa dilakukan adalah seperti hal di atas, karena "sang obyek" selalu menempel pada diri kita.
Selain tentunya pelanggaran yang bisa dilakukan oleh kelima indra kita.
Dan kesemuanya itu dikendalikan oleh nafsu.

nuansa pena mengatakan...

Bagaimana pun agama tetap pegang peranan penting yang utama karena habluminallah dan habluminannas ada aturan yang jelas dengan alasan apapun perbuatan zina adalah terlarang!

Newsoul mengatakan...

Kecelakaan tidak bisa dihindari dengan pake helm supaya aman. Yang terpenting adalah, hati-hati mengendari kendaraan, ikuti rambu-rambu jalan. Gitu deh, kalau menurut saya lho seandainya pacaran (hubungan sebelum menikah) adalah sebuah perjalanan menggunakan kendaraan.

Clara mengatakan...

mungkinkah pengaruh budaya luar yang free sex membuat budaya timur ini tersingkir?
atau mungkin justru kembali ke seberapa dekat hubungan individu dengan Yang Kuasa.

Local Download mengatakan...

"kecelakaan" yang ini adalah nikmat mebawa petaka, hahaha^^
bentengi iman kalian jika tak mau celaka^^

sukses mas insanitis buat kontesnya ya..

salam blogger:)

diar mengatakan...

Wah! Wah! Ambruk! ambruk! gelo tah gelo he heh...

Tapim aku tidak menyalahkan juga pelakon itu. yang aku salahkan kok mereka tidak mengkopi adegannya di vcd sehingga kan bisa di download. he heh... (judulnya: cara cepat menuju gerbang pernikahan). he heh...

....Mungkinkah lembaga keluarga?
Naga-naganya mungkin. he heh... itu juga kalau tidak terjadi kiamat sebagaiman diramalkan he heh (di dalam silet)

SeNjA mengatakan...

pengen buat blog satu lg, intinya belajar di wordpress mas,tapi cintanya masih untuk blogspot dan gak akan ditinggal kok ^_^

hatur nuhun komentarnya ^_^

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Perlu kita sadari juga transformasi nilai dari masyarakat tradisional ke modern sekarang ini membawa dampak yang sangat memprihatinkan. Transformasi nilai ini mempengaruhi pola dan fungsi jalinan keluarga masyarakat kita

Ikatan keluarga jadi semakin longgar, mobilitas anggota keluarga lebih tinggi dengan sikap yang lebih permisif terhadap norma-norma serta perilaku yang dulu dianggap tabu. Derasnya arus informasi yang bersifat global serta mengendornya mekanisme kontrol kemasyarakatan, semua itu seolah menjadi katalisator terjadinya degradasi moral di kalangan remaja.

DuoElly mengatakan...

Wah kecelakaan mas, ngeri ah......

Diar mengatakan...

Wah.wahhh ancur, ancur3...hehehe
zaman kiwari nya..kalakukan teh, ckckck

Seiri Hanako mengatakan...

asal jangan jadi kisah berdarah aja...

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

kalau tidak keberatan,... sudilah kiranya menempatkan link saya di blogroll, linknya sudah saya tancep. makasih.

Ghani vestorra mengatakan...

wah... wah... wah nggak nyangka ya...

Ghani vestorra mengatakan...

IT dan Segala Tip& Triknya

Buat duit di internet, belajar internet, sejarah, IT support, it news
IT dan Segala Tip& Triknya

alkatro mengatakan...

hanya Alhakim seadil-adilnya mahkamah....
semoga "kecelakaan" tersebut tidak terjadi kepada keluarga dan anak cucu kita kelak.. Amin

van mengatakan...

weee..mantep nih postingannya...

minomino mengatakan...

hmm?kenapa hanya butuh 1 libido?saya rasa harus ada 2, kalo ternyata penerimaannya pun ada 2 :)
saya bukan penganut seks pranikah, krn pernikahan itu berdampak positif untuk kesehatan...
yahh,tapi latar belakang orang yg melakukan seks pranikah memang macam2, perlu ada tinjauan lateral...


*celingukan nyari2 link, 'di mana ya?' :D :D :D

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

yg pasti setiap orang akan bertanggung jawab atas 'kecelakaan' yg telah ia buat ya.

Rizky2009 mengatakan...

setiap perbuatan pasti ada tanggung jawabnya, jangan samapi hanaya berani menjawab g berani menanggung

-Gek- mengatakan...

makin mantabs nich postingannya, entah mo komen apa.. Bahasamu itu lo Bang.. ga nahan..
Semangat terus ye..

Surakarta Entrepreneur mengatakan...

Kecelakaan seperti itu kadang kala ada yang memang di sengaja, karena faktor orang tua yang tidak setuju padahal keduanya saling mencintai dan ingin menikah,.. Akan tetapi bagaimanapun itu alasannya, kalau bisa Jangan... Zina merupakan salah satu dosa besar yang harus di hindari.. Salam Blogger n Salam Sukses..

Fanda mengatakan...

Sepertinya memang kesucian lembaga perkawinan sdh mulai dilupakan orang, dan degradasi moral mulai menjangkit juga. Tanpa ada iman yang kuat, gampang saja orang terjerumus, atau bisa dibilang terjerumus tanpa terasa

annie mengatakan...

karena itulah pola didik berbasis agama adalah mutlak. Damang, Kang? Enggal atuh geura lamar si teteh tea, biar cepet punya momongan.

rahma mengatakan...

Salam kenal, Om Insan

lee mengatakan...

Lagi-lagi posting yang mengena tepat waktu ,tepat pula temanya...kang
salut untukmu

masterGOmaster mengatakan...

kecelakaan membuahkan anak manusia dan menjadikan kita untuk bertanggung jawab

masterGOmaster mengatakan...

kecelakaan membuahkan anak manusia dan menjadikan kita untuk bertanggung jawab

Indahnya Berbagi mengatakan...

betapa seringnya mentergesai kenikmatan... membuat detik-detik didepan mata terasa hambar.
yang tersisa noda dan dosa.

rumah blogger mengatakan...

kalau saya sih berpendapat itu bukan kecelakaan, tetapi sudah dikehendaki, cuma lalai saja tidak pake pengaman, hehehee

sabirinnet mengatakan...

akibat dari tidak bisa menahan nafsu, akibatnya ya seperti cerita diatas, tapi yg penting laki2nya mau bertanggung jawab, itu sudah syukur..

endar mengatakan...

hmmm benar juga ya. kejadian tersebut banyak menimpa teman teman kita

chandra mengatakan...

semoga saja kita yang masih memiliki iman bisa terhindar dari hal-hal maksiat seperti free sex dll,
jika udah siap lahir dan batin, maka menikahlah, bener ga bro?
salam kenal ya bro,
boleh tukar link?terima kasih

Kian Coi mengatakan...

ya...namanya juga hidup heterogen, pazti banyak yg berbeda dan tentunya membuat kita tercengang pada akhirnya...namun perbedaan adalah keindahan..!!!

Posting Komentar