"Writing"

 "Jika membaca adalah upaya mencari "kebenaran", maka menulis adalah cara untuk menemukan 
"kebenaran" dalam diri. 

Kita tahu bahwa hal yang paling mendasar sekaligus niscaya dalam aktivitas blogging ialah menulis. Dan tentu saja kemampuan menulis menjadi skill wajib bagi siapa-siapa yang ingin eksis dalam dunia blogsphere. Kalaupun ada yang berniat menempuh jalan hitam blogging: plagiaris atau blogger "copas", setidaknya kemampuan itu harus tetap ada. Kecuali bila sama sekali tak berniat menulis profil atau “about me”. Atau untuk profil juga mau copas dari blog orang lain?

Di sini saya tak berbicara mengenai tingkat kemampuan menulis, atau kelas-kelas, atau hal apapun juga yang sering dirujuk orang mengenai jenjang kemampuan menulis. Kemampuan

Perkembangan Anak: Maianan Anak Sebagai Alternatif Penting

Saya selalu kagum dengan beberapa sobat blogger yang sangat concern dengan urgensi keluarga dalam kehidupan sosial sekaligus pribadi. Mereka menulis dengan tema penguatan keluarga, dan tentu saja, salah satu anggota yang paling penting: anak.

Mereka membincangkan semua hal yang menyangkut keluarga; mulai dari peran orang tua, kesehatan rumah dan keluarga, manajemen keuangan keluarga, dan lainnya. Namun yang paling sering mereka kemukakan seraya memberikan penekanan khusus adalah  mengenai perkembangan anak. Dan saya pun sepenuhnya sepakat!

Memang, pemuda adalah harapan bangsa—tentu saja pemuda yang memiliki kapasitas dan kompetensi. Namun pemuda hanyalah proses lanjutan. Ia semacam tahapan lanjut setelah tahap awal dilalui dan berhasil baik. Anaklah yang menjadi tahap awal tersebut. Baik tidaknya seseorang, sangat ditentukan pertumbuhan semasa kecilnya.

Memberi?


Kita semua tentu tahu apa arti memberi, makna berbagi. Walau kita tak dapat mengurai itu dalam sebuah lantunan kata atau sederet aksara, tapi sesuatu yang ada dalam diri kita mampu merasa dan memaknai itu sebagai suatu rasa puas, kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang terbit bukan dari kepuasan nafsu karena memperoleh, tapi dalam kerelaan hati melepas sebagian yang kita genggam demi sesuatu yang bukan kita.

Kerap kita tak sadar atau lupa bahwa ketika kita memberi, kebanyakan kita selalu merasa tengah berbuat untuk yang lain, diri ini melakukan sesuatu hal kepada diri yang lain. Karena sikap inilah muncul sebuah kata, yang apabila kita tak terlalu cerdas mengolah hati, kata ini dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang keangkuhan khas Iblis. Ialah jasa. Perasaan berjasa lah yang membuat kita merasa pantas mendapat sesuatu yang lebih, yang istimewa,  dari sesuatu yang telah kita beri.

"Kecelakaan"

Tiga panggilan masuk di HP ku terabaikan. Nomor unkown alias tidak dikenal. Baru saja akan memeriksa mengenai kemungkinan siapa yang baru saja menelpon, HP kembali berdering. Ternyata ada satu pesan masuk: “San, gua tunggu di rumah si Andri. Gua lagi ada di Sumedang nih, sama bini dan anak gua. Doel” Girang. Terkejut. Hampir tak percaya. Kini berbaur dalam perasaanku. Karena Doel adalah Setyo. Sementara Setyo adalah teman SMU ku. Dan Setyo tinggal di Depok. Aku dan Setyo tidak pernah lagi bertemu selama beberapa tahun. Kini ia datang. Bawa istri dan anak. Kok bisa ya? Heran.

Ku tunggangi si kuda besi dengan membawa setumpuk rasa penasaran di punggung. Jalanan mulai agak gelap karena sebentar lagi sang muadzin akan mengaktifkan pengeras suara demi meneriaki umat muslimin akan kewajibannya: shalat maghrib. Hingga sampilah di rumah

Demi

"Serang...!" Demi Tuhan.
"Bakar...!" Demi Bangsa.
Tangkap...! Demi Pancasila
"Dor...Dor...Dor" Demi Tuhan. Bangsa, dan Pancasila.


Oh ya, sekalian mau menyapa sobat bloggers yang beragama Hindu...
Selamat Merayakan Hari Siwa Ratri.
Semoga kesuican itu bisa kalian peroleh kembali, seperti halnya Lubdhaka.
Selamat begadang :-)





Pasar Blogsphere


 
Tentu tak berlebihan bila ada yang mengatakan bila blogsphere saat ini menyerupai pasar. Tempat berkumpul dan bertemunya manusia dalam skala ruah;  dengan berbagai kepentingan dan motivasi; berangkat dari hampir semua klaster social, strata pendidikan, etnis, agama; dan juga yang tak kalah penting: gender dan orientasi seksual. Maka pasar menyimpan pluralitas yang tinggi.

Sebagai ruang publik, pasar membiarkan dirinya ditempati oleh para penjaja. Disinggahi para penawar, bahkan dijadikan tempat berteduh bagi mereka yang jeli mengambil manfaat dari situasi: mulai dari tukang panggul yang tahu akan derita pembeli dengan barang belanjaanya, pencopet yang begitu paham akan keteledoran para pengunjung, sampai pemuda-pemudi yang mengadu peruntungan jodohnya. Semuanya campur baur, tumpah ruah menyemarakkan pasar.
Sebagaimana halnya ruang publik, pasar pun meniscayakan adanya proses interaksi. Dan kita tahu bahwa interaksi tidak saja membawa pada keselarasan yang bermanfaat, namun juga bisa menimbulkan persinggungan yang membahayakan. Apalagi fakta pluralitas pasar yang tinggi, semakin menegaskan bahwa pasar menyimpan potensi konflik yang besar.
Bila blogsphere menyerupai pasar, maka blogsphere pun sama seperti ilustrasi itu: didiami banyak orang dengan beragam kepentingan, mengandung pluralitas yang begitu tinggi, dan di dalamnya

Rasa

Si Faqir pun langsung meloncat ke dalam sumur api itu seperti hendak mengejar Balzeeboul Sang Raja Jin. Sejenak Ali dan Rami saling bertatapan. Setelah itu tanpa bereaksi apa-apa lagi, mereka langsung meloncat ke dalam sumur api yang merupakan gerbang neraka, menyusul si Faqir. Ishaq—si tokoh utama-- bingung melihat pengalaman ini. Sampai akhirnya ia mengerti bahwa perbuatan Ali dan Rami yang di luar nalar itu adalah karena titah Sang Guru.

Itu merupakan salah satu penggalan cerita dalam novel Master Of The Jinn karangan Irving Karchmar yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Sang Raja Jin. 

Saya tercengang ketika membacanya. Bukan karena gerbang neraka yang kasat mata, namun kepatuhan tanpa nalar murid—Ali dan Rami—terhadap guru spiritualnya, yang dikenal dengan istilah syekh mursyid. Walau di sana diceritakan bahwa api neraka itu kehilangan energi panasnya sehingga tak bisa membakar tubuh Ali dan Rami, namun itu menjadi tak

Syiar Yang Mengancam


Alena hanya mampu memeluk sang bunda, tak kuasa menghadapi kemurkaan ayahnya yang begitu ia sayangi dan hormati. Sebuah perasaan sesal bergejolak dalam jantung hatinya, menjejak hingga meninggalkan tapak yang menyesak. Ingin sekali ia menelan kembali ludah yang telah keluar, merevisi kata-katanya sesuai dengan kehendak sang bapak. Namun jiwanya telah berpihak pada tekad yang telah berbenih dan tersiram, tinggal menunggu buah dan waktu panen.

Alena masih sempat mencuri mata ayahnya yang terlihat merah menyala. Namun merah itu tak kuasa menghijabi aura cinta yang tertanam di hati seorang bapak. Ia yakin bahwa angkara itu sama sekali tak mengurangi kadar cinta di hati ayahnya pada anak semata wayangnya, yaitu dirinya.

Sebuah pemahaman lah sehingga Alena masih dapat menangkap cahaya cinta di mata ayahnya yang tengah angkara itu. Pemahaman itu bernama kewajaran. Alena memahami

Pahlawan

Sore tadi, di suatu acara talk show dengan tema “Pahlawan Nasional” yang disiarkan oleh salah satu TV swasta, saya mendengar pemaparan yang menarik tentang kepahlawanan dari salah seorang pembicara. “Seorang pahlawan adalah orang yang sanggup melampaui dirinya sendiri.” Demikian sejarawan Anhar Gonggong berujar. Ia melanjutkan pemaparannya dengan ilustrasi: “Soekarno adalah seorang insinyur muda pada zamannya. Ia memperoleh gelar akademiK tersebut waktu usia dua puluh lima tahun. Hatta adalah sarjana ekonomi pertama di Indonesia. Bila mereka mau, mereka bisa saja bekerja kepada Belanda dengan imbalan yang tak mungkin sedikit. Namun mereka tidak melakukannya. Mereka lebih memilih berjuang demi kepentingan masyarakat, bangsa. Soekarno dan Hatta telah berhasil melampaui dirinya sendiri. Mereka adalah pahlawan.”

Kata “melampaui” digunakan untuk menunjukkan kepada situasi yang lebih tinggi dari sekadar “sampai”. Bila “sampai” hanya berhenti pada sesuatu yang dituju, sedangkan “melampaui” berarti telah melewati garis tujuan. Maka melampaui diri berarti telah berhasil sampai pada situasi yang lebih tinggi dari sekadar tujuan pribadi atau kepentingan dirinya sendiri. Dengan kata lain, orang seperti itu telah terbebas dari egonya yang sempit

Dosa Dalam Cermin


Kulihat temanku membawa dosa.
Dia membagi saya satu sedangkan dia sendiri dua.
Kami pun makan dosa bersama.
Lebih berdosa dia tentunya. Karena dia dua.

Esoknya kulihat dosa dijual seharga Rp.75.000. Plus kamar.
Kubeli ia tanpa pikir panjang.
Aku pun tidur bersama dosa.
Berdua bersama menerawangi nirwana.

Kini tak ku lihat dosa seperti biasanya.
Kucari ia di bawah bantal, di rumah sebelah, di pelataran parkir, sampai di dalam TV.
Tetap saja dosa tak menampakkan diri.
Aku lelah. Sedih. Kecewa. Menangis.
"Apa salahku, oh dosa?" Meratap.

Tahun Baru Tanpa "Baru" (Sebuah Catatan Kritis Tahun Baru)


Ada satu fenomena sama yang khas dalam masyarakat di setiap jelang pergantian tahun: euphoria pembaruan. Hampir semua orang menyatakan, mengajak, paling tidak menegaskan pada dirinya sendiri bahwa esok, di tahun yang baru, semua harus serba baru; semangat baru, ilmu baru, pencapaian baru. Bahkan bukan hanya sampai di taraf yang abstrak saja, pembaruan pun harus menyentuh ke titik yang paling kongkrit; rumah baru, kendaraan baru, hand phone baru, laptop baru, bahkan ada yang ber-resolusi pacar baru. Tanpa sadar, “baru” telah menjadi angan ideal di alam bawah sadar kebanyakan manusia.

Bosan atau putus asa dengan kondisi yang tengah dialami. Karena dasar manusia yang suka akan “misteri” sehingga tanpa sadar kita menikmati dag dig dug ketika membayangkan kejutan yang mungkin akan disuguhkan oleh sesuatu yang baru, yang belum teralami. Mungkin hal-hal itulah yang membuat manusia selalu mendambakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Yang dalam taraf tertentu, hingga menistakan anugerah saat ini atau mengenyahkan romantisme masa lalu.

Menara

Tanpa derai air mata
Tanpa ucap pilu atau rasa malu
Kau tetap berbicara penuh retorika
Kau terus berargumentasi melengkapi apologi

Tak ada sesal yang mengganjal
Tak ada maaf yang terucap
Kau tetap berdiri penuh percaya diri
Kau tetap bergeming memamerkan taring

Tak ada peduli di hati
Tanpa rasa salah di langkah
Kau sebut pengkhianat mereka yang menghujat
Kau bilang pemitnah mereka yang mempersoalkan perintah