Cerita Menjelang Kekalahan Timnas Indonesia

Cerita ini diceritakan oleh @hedi di akun twitternya. Seorang yang telah bertahun-tahun mengamati sepak terjang PSSI.
------------------

Kawah Blogsphere: Toleransi dan Pluralisme di Internet

Tapi ya memang inilah dunia blogsphere sesungguhnya. Satu dunia yang begitu beragam dan serba relatif. Bahkan nyaris chaotic. Di sana tak ada tafsir tunggal atas “kebenaran”

Kultwit Lisra Sukur: Legislasi

Di edisi kultwit (kuliah Twitter) kali ini saya akan mengetengahkan kultwit dari saudara Lisra Sukur dengan tema: Legislasi. Sebuah tema yang memang akhir-akhir ini kerap dibincang  oleh banyak orang di berbagai forum.

Dari Panggung Ke Jalan


Merenungi Kota

 

Gambar diambil di sekitar Masjid Agung Sumedang, Jawa Barat.

Karena Nikah kah?

Pak Stephen Covey yang proaktif, izinkan kali ini saya untuk tidak mematuhi petuahmu--berfokus pada diri: saya akan menyalahkan sesuatu di luar saya sendiri atas kesalahan yang dialami.

Memang, sepertinya pekerjaan menumpuk menjadi objek pertama yang akan empuk bila dijadikan si kambing hitam. Tapi andai tahu penyebab pekerjaan hingga menumpuk, pastilah bersepakat bahwa Si Butuh Duit Banyak, itu bianglalanya. Yakin di sanakah asal sebabnya? 

Di depan komputer sejenak saya menunduk; tarik nafas sedalam mungkin; keluarkan perlahan, dan sadari betul proses itu. Begitulah sampai lima hitungan. Hingga...Aha! Lahir

Tentang Penusukan Jemaat HKBP Itu

Telah dimuat di Sumedangonline.
Apapun alasannya, penusukan dan tindak kekerasan itu tetap tak boleh terjadi, terlebih kepada pemeluk agama yang hendak mengibadahi Tuhannya. Apapun agamanya, betapapun salahnya keyakinan mereka menurut pandangan dan pemikiran kita, namun tetap penghalangan apalagi laku kerkerasan itu haram—sekaligus pidana–hukumnya. Karena setiap manusia memiliki hak asasi untuk beribadah dan mengekspresikan keyakinannya masing-masing.

Walau yang saya utarakan ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah dipahami bersama dan menjadi nilai universal, namun ternyata pemahaman ini tetap tak menyurutkan niat kekeresan pada pemeluk agama lain. Hingga akhirnya, pendeta dan beberapa jamaat gerja HKBP di Ciketing Bekasi yang waktu itu hendak melaksanakan ibadah, mereka dicegat masasampai akhirnya terjadilah tradegi memilukan itu: Sintua Hasian Sihombing mendapat tusukan pisau di perutnya.

Pagi

Pagi senantiasa menyimpan harapan-harapan. Walau pagi terkadang ragu dan was-was, namun harap itu selalu ada, selamanya terpelihara.

Bersama celoteh burung di ranting pohon, bersama kelopak bunga merekah, bersama derap langkah kaki kecil yang setengah tergesa menyusuri jalan untuk sampai di sekolah di kampung sebelah, pagi pun tak pernah hentikan langkah kaki.

Namun salah bila Anda menduga bahwa ia berlari; tergesa. Tidak! Ia berjalan pelan saja. Lambat, laun.

Sebetulnya Anda bisa melempar satu, dua patah tanya pada pagi. Saya yakin pagi akan senang melayani setiap pertanyaan Anda karena saya pernah mengalami.

Di satu hari, ketika pagi terasa begitu lengang, kudapati pagi tengah bertekun mengamati kakinya sendiri yang melangkah perlahan penuh syahdu. Aku hening sejenak untuk menyapa pagi yang tak pernah bisa berdamai dengan rusuh.

Tak Ada Lagi Curhat?

Rasanya saya sudah lama sekali tidak menulis posting curhat di blog ini. Tulisan kompetisi, tulisan "pesanan"(berbayar atau bahkan yang sama sekali suka rela), sosialisasi akan sesuatu hal, sampai tanggapan pribadi akan isu publik tertentu, menjadi benar-benar menyita energi dan tentu saja waktu. Ketika giliran ingin benar-benar "curhat", energi telah kadung terkuras  habis dan waktu terasa bagai gang buntu di seberang jalan rumah saya yang lebih sreg bila dikatakan "menyisipi" daripada "meleweti": sempit, pendek, dan--ya itu tadi--mentok alias buntu. Curhat online pun akhirnya hanya menjadi angan belaka.
Akibatnya blog ini pun menjadi agak sedikit asing bagi saya sendiri; pemiliknya. Bagaimana saya menjelaskan pada diri saya sendiri tatkala membaca posting tentang mainan anak dan semacamnya yang benar-benar tak relevan dan jauh dari keseharian saya? Juga posting-posting kompetisi yang bertaburan begitu banyak key word yang bukan hanya tak relevan dengan judul tulisan, bahkan dengan sub tema pun--kalau itu ada--tidak sama sekali. 
Di blog ini hampir tak lagi ditemukan sisi pribadi saya sebagai pemilik dan pengisi

Memungut Solidaritas Dari Para "Blogger Tutorial"

Tentang sikap solidaritas yang saat ini banyak diragukan masih dimiliki oleh manusia-manusia modern yang kebiasaannya menimbang apapun dengan ukuran "untung-rugi", saya melihatnya berbeda: sebaliknya saya yakin bahwa solidaritas itu masih ada dan menjadi sikap hidup yang masih terpelihara baik di antara kita.

Solidaritas atau kesetiakawanan yang merupakan buah dari rasa peduli yang akhirnya mencentuskan keinginan untuk saling berbagi akan selalu ada selama manusia menjalani hidupnya tak sendiri; selama masih ada yang lain, yang hidup, yang tumbuh dan bergerak bersama. Walau kerap proses tumbuh dan gerak bersama itu menimbulkan persaingan yang tak jarang bermuara di konflik, namun selama masih ada sesuatu di luar diri inidividu yang memiliki kesamaan pengalaman dan pengalaman bersama, saya optimis rasa peduli itu akan selalu hadir.

Kita bisa berasumsi bahwa motivasi para “blogger tutorial” yang tak hanya menulis artikel tentang trik blogging tapi juga melakukan beragam eksprimen yang tentunya menyita banyak

Kolak

“Kolak.”

“Kolak.”

Parau sisa suaranya terkurung dalam kepalaku; menggema.

Dia tak seharusnya menjaja. Seharusnya dia meng-eja.

Kutudingkan itu pada udara pagi yang perkasa, namun senantiasa bersahaja.

“Kau tak tahu, dia itu lah si penawar angkara sesungguhnya.”

Angin pagi pun kembali berlalu, dan suara itu masih tetap menggema. Bukan hanya dalam kepala, namun telah merasuk ke dalam jiwa. Dan sungguh aku tak mau kehilangannya. Karena sisa gema itu terdengar bagai suara lantun kecapi yang selalu didentingkan ibu tatkala aku hidup dalam rumah rahimnya.

Sesaat Sebelum Mati

Nafas anak kecil itu terhenti; sepelan mungkin ia berjinjit mendekat ke sisi tembok, mengangkat senapannya tinggi-tinggi dan mata kanannya memincing.

Sesaat…

Moncong senapan itu memuntah. Peluru karet gelang merahnya menghantamku hingga tubuh cicak tua ini terjerambap menindih lantai.

Sekarat…

“Hore…” Aku dengar teriakan cerianya bergema, berbaur dengan jeritan bayi-bayiku yang baru kemarin pagi menetas.

(Sumedang, 29 Maret 2010)


Dan ini respon dari Pak Sapardi (Sapardi Djokok Damono)--penyair romantis itu: 
Anda melihat kematian dari sisi lain, menarik...
sapardi

Respon dari Beliau ini saya baca di inbox facebook, setelah saya mengirimkan puisi ini kepada Beliau via message. Walhasil, semalaman saya hampir tak bisa tidur, terus menerus, berulang-ulang, membaca pesan Beliau ini seraya mesam mesem tak karuan. Bukan karena isi pesannya, namun karena si pengirimnya. Serupa Majnun yang mengelus-mengelus dinding kediaman Laila. Tentu Majnun tak "majnun" pada sebuah dingin, namun ia menggilai siapa yang dibaliknya.
Terima kasih Pak Sapardi. Andai kau tahu betapa berartinya sepatah kalimat ini bagiku.

Agnostik

 1
Kau tahu,
kita tak pernah tahu;
sesemu jiwa yang memburu
ataukah diburu. 


2
Jemari singkapkan awan 
Terbelenggu madu di dalam dada 
Karenamu aku tiada
Mentari terkam sang bulan 

3
Dalam diam
Diujung sekam
Gumam malam 

Tak kunjung padam

Berlatih Karinding



Ini adalah video saat saya berlatih karinding di Sekar ("Sekolah" Karinding) Komunitas Absurd. Video "kasar" yang nyaris tanpa editan ini saya upload ke YouTube, hinga akhirnya bermuara di posting blog Durang Duraring ini, semata karena memenuhi permintaan salah seorang sahabat blogger--Ibu Gek--yang katanya: "masih tetep gak kebayang", karena memang di post saya sebelumnya--Karinding: Sekilas Tentang Sejarah dan Fenomena Saat Ini--saya tak mencantumkan foto atau gambar karinding
Saya maklum sekali dengan keluhan sahabat blogger yang satu ini karena memang susah untuk mengimajinasikan suatu pengalaman atau objek yang berlum pernah kita alami. Tapi jikalau saya sebut alat musik ini dengan sebutan "genggong", apakah Ibu Gek yang manis masih tetap "tak terbayang"??? Bila di sana, di Bali, Ibu Gek masih tetap menggeleng-gelengkan kepala seraya pasang muka  "ngeblank" (hehehe) berarti ibu harus kembali meng-upgrade wawasan budaya lokalnya. Kok gitu? Ya, karena di Bali, karinding ini memilih nama: genggong. Atau sitilah kontemporernya: harva mulut. 
Namun karena saya tipikal orang yang senantiasa "memberi lebih" (heheh) maka saya kasih spesial buat Gek tak hanya gambar saja, melainkan dalam bentuk audio visual, karena ketakutan saya kalau hanya memasang gambarnya saja adalah Gek kembali ngoceh di kotak komentar dengan kata-kata: "duh, masih gak kebayang deh bunyinya..."
Baiklah Gek, kamu minta gubuk, saya kasih istana, wkwkwkwkw....
Tapi maaf sekali pada semua sahabat blogger bila performance saya jelek. Ya, namanya juga pemula.
Selamat menonton; tak perlu applause (heheh)....
 

Karinding: Sekilas Tentang Sejarah dan Fenomena Saat Ini

Tiba-tiba sebilah kecil bambu itu menyerang berbagai daerah di Jawa Barat; hampir seperti simsalabim mewujud jadi tema popular obrolan di kalangan anak-anak muda, masuk ke dalam diskusi-diskusi seni dan budaya, ikut hadir dalam perhelatan musik modern, bahkan kerap tertulis dalam status para facebookers dan posting banyak blogger. Kedatangannya cukup mencengangkan, dan tentu saja: tak terduga. Tak terduga, karena sebilah bambu itu sama sekali bukan produk temuan kontemporer, melainkan tercipta dari suatu waktu yang konon terbentang 6 abad dari masa ini, bahkan telah dinyatakan punah. Sebilah bambu yang memproduksi bunyi dari vibra salah satu komponennya itu bernama: karinding. Jika benar karinding telah punah atau mati, maka dapat dipastikan kini hantunya bergentayangan liar di hampir tiap sudut tempat.

Sejarah Karinding

Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini.

Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum adanya kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka karinding diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata karinding pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau priangan saja, melainkan dimiliki berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di bangsa lain pun memiliki alat musik ini--hanya berbeda namanya saja. Di Bali bernama genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp ( harpanya dewa Zues). Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda dimainkan dengan cara di tap atau dipukul.

Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat), ada dua jenis: pelepah kawung dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau. Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.[1]

Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran ini tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan pembuatnya—karena ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi yang diproduksi.

Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karindingdiketuk dengan jari. Dan ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan.

Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara konvensional—menurut penuturan Abah Olot--nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.

Karinding Hari Ini

Satu hal yang menarik dan patut kita cermati dalam melihat fenomena kembalinya karinding secara masif di tengah masyarakat ini adalah bahwa ternyata “kelahiran” kembali karinding ini tidak bermula di daerah-daerah pedesaan yang masih bercorak tradiosional—yang biasanya masih memelihara tradisi dan karuhun secara agak ketat. Namun karinding justru kembali hidup dan popular di perkotaan, di kalangan masyarakat urban--juga generasi muda--yang kultur sosialnya telah sangat modern, dalam arti telah melepaskan sebagian besar tradisi karuhun dari kehidupan pribadi dan sosialnya.

Sebagian ada yang menilai, seraya berbangga hati melihat fenomena ini. Bagi mereka ini menunjukkan suatu kebangkitan budaya lokal. Karinding yang merupakan seni buhun sanggup eksis dan bersaing dengan alat musik modern yang cenderung berbau barat.

Kita tahu bahwa modernitas kerap mengeliminir unsur lokalitas hingga membuat manusia terjebak dalam alienasi atau keterasingan dari akar sejarahnya sendiri hingga membawa manusia—juga secara kolektif: masyarakat--pada masa-masa frustasi (frustasi sosial). Dalam waktu lama frustasi yang berjalin serasi dengan rasa inferioritas di hadapan hegemoni modern yang digjaya dan seperti tak mungkin dikalahkan ini menumbuhkan perasaan “heroik” (atau ketakutan yang akut?) untuk kembali merebut jati diri yang merasa telah dirampas oleh modernitas. Heroisme (atau ketakutan?) inilah yang menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk kembali masuk dan menghubungkan diri secara lebih mendalam dengan akar budayanya sendiri (fundamentalisme). Kemuculan kembali karinding sebagai alat musik buhun yang telah ada enam ratusan tahunan yang lalu merupakan bentuk dari keinginan sebagian masyarakat urban (sebagai korban utama dari modernitas) untuk kembali terhubung dengan sejarahnya sendiri dan dengan itu kembali meneguhkan identitasnya seraya melawan dari gempuran modernitas yang begitu hegemonik. Maka dengan karinding mereka lawan hegemoni itu.

Namun ada juga yang “biasa saja” bahkan cenderung pesimis dengan kebangkitan karinding ini. Mereka sama sekali tidak melihat fenomena ini sebagai kebangkitan seni dan budaya lokal dalam kehidupan kontemporer. Masyarakat urban dan generasi muda sebagai tempat awal kelahirannya kembali telah cukup bukti untuk menarik kesimpulan bahwa fenomena karinding ini masih termasuk dalam fenomena modernitas. Yang baru, yang berbeda, yang tidak nge-pop kerap menjadi prasyarat untuk seseorang atau komunitas mendapat predikat modern. Maka, memainkan karinding saat ini adalah bentuk modernitas; sekali lagi karena ia dianggap baru dan berbeda.

Dan juga fakta bahwa banyak dari kalangan generasi muda yang memainkannya dengan irama atau beat-beat kontemporer, lepas dari pakem karuhun, juga mengkolaborasikannya dengan alat-alat musik modern lainnya.

Karena karinding hanyalah fenomena modernitas dan karena itu bersifat temporer, maka karinding pun akan cepat dilupakan jika keberadaannya di tengah masyarakat telah mengalami bentuk kemapanan tertentu, atau telah tergeser oleh sesuatu yang lain, yang lebih baru. Maka akhirnya semua kembali pada kita. Apakah kita akan memperlakukan karinding ini sebagai warisan karuhun yang sakral dan wajib dimumule, ataukah akan memperlakukannya hanya secara profan dan sekadar alat musik biasa? Jika kita menyikapinya dengan sikap yang pertama berarti kita harus menjaga orisinalitas dan tetekon-tetekon atau pakem yang terdapat di dalamnya. Menjaganya untuk tetap lestari menjadi beban moril mendalam bagi diri kita. Namun bila kita memilih sikap yang kedua maka berinovasilah sebebas mungkin, bila perlu berkresasilah yang benar-benar baru, seperti para karuhun dahulu menciptakan karinding. Itu semua pilihan.
[1] http://yoyoyogasmana.multiply.com/journal/item/1 
* Tulisan ini diajukan dalam pembukaan Sekar Abdurd: Sekolah Karinding, yang diselenggarakan oleh Komunitas Absurd

Ketika Anonim Mencibir

‘’Sotoy udah pinter sekolah sotoy.....Kalo klub poligami dimusuhin klup arisan brondong, Play boy mana ada ajengan kawin dua berarti lacur.....kalau mau lebih konsen ibadahnya jangan kawin sekalian...kalo mau nerkiprah lebih banyak (ibadah) di masyarakat monggo polygami...jangan mengharamkan yang dihalalkan....Allah..SWT (walau syaratnya berat) kalo dikasih kelonggaran karena Allah SWt sayang dengan ummat ini.....’’

 
Saya akan mengajak sobat semua berandai : jika sobat mendapati komentar (paragraf di atas) semacam ini menghiasai kolom komentar salah satu post sobat, kira-kira, reaksi macam apa yang akan sobat keluarkan? Marah kah? Cuek kah? Atau justru malah bigung dengan berbagai kemungkinan reaksi yang mungkin diambil?

Blog Baru Seorang Wakil Bupati (Taufiq Gunawansyah)

Ini bukanlah review; apalagi review berbayar. Posting ini hanyalah bentuk kecil dari apresiasi saya terhadap seorang Kang Opik (Taufiq Gunawansyah) yang merupakan orang nomor dua di Kabupaten Sumedang; alias wakil bupati. Namun beliau tak kikuk untuk masuk (bukan tercebur) ke jagat blog

Alhamdulillah: Sebuah Epilog Dalam Djarum Black Blog Competition Vol II

Betapa waktu berjalan terlalu cepat, bahkan tanpa kita sadari. Kita pun senantiasa dipunggungi waktu dan tak pernah sebaliknya. Sebetulnya “kejar-kejaran” ini tidaklah seimbang; waktu berlari dengan begitu kencang, sementara—di belakangnya—kita berjalan tertatih, terseok-seok, bahkan hanya kuasa beringsut. Jadi, bukan kita yang dikejar waktu tetapi kitalah yang mengejar waktu.


Tanggal 25 November 2009 terasa baru kemarin sore; pengisian form registrasi di Djarum Black Blog Competition Vol II, persetujuan dari pihak panitia, sampai akhirnya kegirangan hati saya karena blog yang baru seumur jagung ini disetujui pihak panitia, bagai sebuah bayang-bayang dalam mimpi. Dan ketika saya terbangun, saya dihadapkan pada tanggal 28 Februari 2010, yakni tanggal terakhir pendaftaran artikel yang diikutsertakan dalam kontes blog yang diselenggarakan Djarum Black ini.

"Writing"

 "Jika membaca adalah upaya mencari "kebenaran", maka menulis adalah cara untuk menemukan 
"kebenaran" dalam diri. 

Kita tahu bahwa hal yang paling mendasar sekaligus niscaya dalam aktivitas blogging ialah menulis. Dan tentu saja kemampuan menulis menjadi skill wajib bagi siapa-siapa yang ingin eksis dalam dunia blogsphere. Kalaupun ada yang berniat menempuh jalan hitam blogging: plagiaris atau blogger "copas", setidaknya kemampuan itu harus tetap ada. Kecuali bila sama sekali tak berniat menulis profil atau “about me”. Atau untuk profil juga mau copas dari blog orang lain?

Di sini saya tak berbicara mengenai tingkat kemampuan menulis, atau kelas-kelas, atau hal apapun juga yang sering dirujuk orang mengenai jenjang kemampuan menulis. Kemampuan

Perkembangan Anak: Maianan Anak Sebagai Alternatif Penting

Saya selalu kagum dengan beberapa sobat blogger yang sangat concern dengan urgensi keluarga dalam kehidupan sosial sekaligus pribadi. Mereka menulis dengan tema penguatan keluarga, dan tentu saja, salah satu anggota yang paling penting: anak.

Mereka membincangkan semua hal yang menyangkut keluarga; mulai dari peran orang tua, kesehatan rumah dan keluarga, manajemen keuangan keluarga, dan lainnya. Namun yang paling sering mereka kemukakan seraya memberikan penekanan khusus adalah  mengenai perkembangan anak. Dan saya pun sepenuhnya sepakat!

Memang, pemuda adalah harapan bangsa—tentu saja pemuda yang memiliki kapasitas dan kompetensi. Namun pemuda hanyalah proses lanjutan. Ia semacam tahapan lanjut setelah tahap awal dilalui dan berhasil baik. Anaklah yang menjadi tahap awal tersebut. Baik tidaknya seseorang, sangat ditentukan pertumbuhan semasa kecilnya.

Memberi?


Kita semua tentu tahu apa arti memberi, makna berbagi. Walau kita tak dapat mengurai itu dalam sebuah lantunan kata atau sederet aksara, tapi sesuatu yang ada dalam diri kita mampu merasa dan memaknai itu sebagai suatu rasa puas, kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang terbit bukan dari kepuasan nafsu karena memperoleh, tapi dalam kerelaan hati melepas sebagian yang kita genggam demi sesuatu yang bukan kita.

Kerap kita tak sadar atau lupa bahwa ketika kita memberi, kebanyakan kita selalu merasa tengah berbuat untuk yang lain, diri ini melakukan sesuatu hal kepada diri yang lain. Karena sikap inilah muncul sebuah kata, yang apabila kita tak terlalu cerdas mengolah hati, kata ini dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang keangkuhan khas Iblis. Ialah jasa. Perasaan berjasa lah yang membuat kita merasa pantas mendapat sesuatu yang lebih, yang istimewa,  dari sesuatu yang telah kita beri.

"Kecelakaan"

Tiga panggilan masuk di HP ku terabaikan. Nomor unkown alias tidak dikenal. Baru saja akan memeriksa mengenai kemungkinan siapa yang baru saja menelpon, HP kembali berdering. Ternyata ada satu pesan masuk: “San, gua tunggu di rumah si Andri. Gua lagi ada di Sumedang nih, sama bini dan anak gua. Doel” Girang. Terkejut. Hampir tak percaya. Kini berbaur dalam perasaanku. Karena Doel adalah Setyo. Sementara Setyo adalah teman SMU ku. Dan Setyo tinggal di Depok. Aku dan Setyo tidak pernah lagi bertemu selama beberapa tahun. Kini ia datang. Bawa istri dan anak. Kok bisa ya? Heran.

Ku tunggangi si kuda besi dengan membawa setumpuk rasa penasaran di punggung. Jalanan mulai agak gelap karena sebentar lagi sang muadzin akan mengaktifkan pengeras suara demi meneriaki umat muslimin akan kewajibannya: shalat maghrib. Hingga sampilah di rumah

Demi

"Serang...!" Demi Tuhan.
"Bakar...!" Demi Bangsa.
Tangkap...! Demi Pancasila
"Dor...Dor...Dor" Demi Tuhan. Bangsa, dan Pancasila.


Oh ya, sekalian mau menyapa sobat bloggers yang beragama Hindu...
Selamat Merayakan Hari Siwa Ratri.
Semoga kesuican itu bisa kalian peroleh kembali, seperti halnya Lubdhaka.
Selamat begadang :-)





Pasar Blogsphere


 
Tentu tak berlebihan bila ada yang mengatakan bila blogsphere saat ini menyerupai pasar. Tempat berkumpul dan bertemunya manusia dalam skala ruah;  dengan berbagai kepentingan dan motivasi; berangkat dari hampir semua klaster social, strata pendidikan, etnis, agama; dan juga yang tak kalah penting: gender dan orientasi seksual. Maka pasar menyimpan pluralitas yang tinggi.

Sebagai ruang publik, pasar membiarkan dirinya ditempati oleh para penjaja. Disinggahi para penawar, bahkan dijadikan tempat berteduh bagi mereka yang jeli mengambil manfaat dari situasi: mulai dari tukang panggul yang tahu akan derita pembeli dengan barang belanjaanya, pencopet yang begitu paham akan keteledoran para pengunjung, sampai pemuda-pemudi yang mengadu peruntungan jodohnya. Semuanya campur baur, tumpah ruah menyemarakkan pasar.
Sebagaimana halnya ruang publik, pasar pun meniscayakan adanya proses interaksi. Dan kita tahu bahwa interaksi tidak saja membawa pada keselarasan yang bermanfaat, namun juga bisa menimbulkan persinggungan yang membahayakan. Apalagi fakta pluralitas pasar yang tinggi, semakin menegaskan bahwa pasar menyimpan potensi konflik yang besar.
Bila blogsphere menyerupai pasar, maka blogsphere pun sama seperti ilustrasi itu: didiami banyak orang dengan beragam kepentingan, mengandung pluralitas yang begitu tinggi, dan di dalamnya

Rasa

Si Faqir pun langsung meloncat ke dalam sumur api itu seperti hendak mengejar Balzeeboul Sang Raja Jin. Sejenak Ali dan Rami saling bertatapan. Setelah itu tanpa bereaksi apa-apa lagi, mereka langsung meloncat ke dalam sumur api yang merupakan gerbang neraka, menyusul si Faqir. Ishaq—si tokoh utama-- bingung melihat pengalaman ini. Sampai akhirnya ia mengerti bahwa perbuatan Ali dan Rami yang di luar nalar itu adalah karena titah Sang Guru.

Itu merupakan salah satu penggalan cerita dalam novel Master Of The Jinn karangan Irving Karchmar yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Sang Raja Jin. 

Saya tercengang ketika membacanya. Bukan karena gerbang neraka yang kasat mata, namun kepatuhan tanpa nalar murid—Ali dan Rami—terhadap guru spiritualnya, yang dikenal dengan istilah syekh mursyid. Walau di sana diceritakan bahwa api neraka itu kehilangan energi panasnya sehingga tak bisa membakar tubuh Ali dan Rami, namun itu menjadi tak

Syiar Yang Mengancam


Alena hanya mampu memeluk sang bunda, tak kuasa menghadapi kemurkaan ayahnya yang begitu ia sayangi dan hormati. Sebuah perasaan sesal bergejolak dalam jantung hatinya, menjejak hingga meninggalkan tapak yang menyesak. Ingin sekali ia menelan kembali ludah yang telah keluar, merevisi kata-katanya sesuai dengan kehendak sang bapak. Namun jiwanya telah berpihak pada tekad yang telah berbenih dan tersiram, tinggal menunggu buah dan waktu panen.

Alena masih sempat mencuri mata ayahnya yang terlihat merah menyala. Namun merah itu tak kuasa menghijabi aura cinta yang tertanam di hati seorang bapak. Ia yakin bahwa angkara itu sama sekali tak mengurangi kadar cinta di hati ayahnya pada anak semata wayangnya, yaitu dirinya.

Sebuah pemahaman lah sehingga Alena masih dapat menangkap cahaya cinta di mata ayahnya yang tengah angkara itu. Pemahaman itu bernama kewajaran. Alena memahami

Pahlawan

Sore tadi, di suatu acara talk show dengan tema “Pahlawan Nasional” yang disiarkan oleh salah satu TV swasta, saya mendengar pemaparan yang menarik tentang kepahlawanan dari salah seorang pembicara. “Seorang pahlawan adalah orang yang sanggup melampaui dirinya sendiri.” Demikian sejarawan Anhar Gonggong berujar. Ia melanjutkan pemaparannya dengan ilustrasi: “Soekarno adalah seorang insinyur muda pada zamannya. Ia memperoleh gelar akademiK tersebut waktu usia dua puluh lima tahun. Hatta adalah sarjana ekonomi pertama di Indonesia. Bila mereka mau, mereka bisa saja bekerja kepada Belanda dengan imbalan yang tak mungkin sedikit. Namun mereka tidak melakukannya. Mereka lebih memilih berjuang demi kepentingan masyarakat, bangsa. Soekarno dan Hatta telah berhasil melampaui dirinya sendiri. Mereka adalah pahlawan.”

Kata “melampaui” digunakan untuk menunjukkan kepada situasi yang lebih tinggi dari sekadar “sampai”. Bila “sampai” hanya berhenti pada sesuatu yang dituju, sedangkan “melampaui” berarti telah melewati garis tujuan. Maka melampaui diri berarti telah berhasil sampai pada situasi yang lebih tinggi dari sekadar tujuan pribadi atau kepentingan dirinya sendiri. Dengan kata lain, orang seperti itu telah terbebas dari egonya yang sempit

Dosa Dalam Cermin


Kulihat temanku membawa dosa.
Dia membagi saya satu sedangkan dia sendiri dua.
Kami pun makan dosa bersama.
Lebih berdosa dia tentunya. Karena dia dua.

Esoknya kulihat dosa dijual seharga Rp.75.000. Plus kamar.
Kubeli ia tanpa pikir panjang.
Aku pun tidur bersama dosa.
Berdua bersama menerawangi nirwana.

Kini tak ku lihat dosa seperti biasanya.
Kucari ia di bawah bantal, di rumah sebelah, di pelataran parkir, sampai di dalam TV.
Tetap saja dosa tak menampakkan diri.
Aku lelah. Sedih. Kecewa. Menangis.
"Apa salahku, oh dosa?" Meratap.

Tahun Baru Tanpa "Baru" (Sebuah Catatan Kritis Tahun Baru)


Ada satu fenomena sama yang khas dalam masyarakat di setiap jelang pergantian tahun: euphoria pembaruan. Hampir semua orang menyatakan, mengajak, paling tidak menegaskan pada dirinya sendiri bahwa esok, di tahun yang baru, semua harus serba baru; semangat baru, ilmu baru, pencapaian baru. Bahkan bukan hanya sampai di taraf yang abstrak saja, pembaruan pun harus menyentuh ke titik yang paling kongkrit; rumah baru, kendaraan baru, hand phone baru, laptop baru, bahkan ada yang ber-resolusi pacar baru. Tanpa sadar, “baru” telah menjadi angan ideal di alam bawah sadar kebanyakan manusia.

Bosan atau putus asa dengan kondisi yang tengah dialami. Karena dasar manusia yang suka akan “misteri” sehingga tanpa sadar kita menikmati dag dig dug ketika membayangkan kejutan yang mungkin akan disuguhkan oleh sesuatu yang baru, yang belum teralami. Mungkin hal-hal itulah yang membuat manusia selalu mendambakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Yang dalam taraf tertentu, hingga menistakan anugerah saat ini atau mengenyahkan romantisme masa lalu.

Menara

Tanpa derai air mata
Tanpa ucap pilu atau rasa malu
Kau tetap berbicara penuh retorika
Kau terus berargumentasi melengkapi apologi

Tak ada sesal yang mengganjal
Tak ada maaf yang terucap
Kau tetap berdiri penuh percaya diri
Kau tetap bergeming memamerkan taring

Tak ada peduli di hati
Tanpa rasa salah di langkah
Kau sebut pengkhianat mereka yang menghujat
Kau bilang pemitnah mereka yang mempersoalkan perintah