Pelesir Spiritual

Ada yang tak biasa pada Idul Adha 1430 Hijriah yang baru saja kita rayakan bersama. Idul Adha begitu istimewa karena ternyata bertepatan dengan ritual Manakiban di Pondok Pesantren Suryalaya. Rencananya saya dan seorang teman SMA akan bersama-sama berangkat ke sana. Tapi apa daya, takdir tak selalu sama dengan yang kita suka. Teman membatalkan ikut serta, yang akhirnya saya berangkat seorang diri kesana, tanpa teman sma. Tapi tak apa, karena niat diri telah meraja.


Sore hari, selepas bakar sate dan makan goreng ati, sayapun pergi seorang diri. Sebatang Djarum Blackpun dikonsumsi biar mood lebih mendominasi diri. Saya berangkat dengan niat menyucikan diri, sama sekali tak terkontaminiasi dengan para santriwati yang katanya begitu gampang mengikat hati. Itulah yang dirasakan diri. Walau hanya Gusti yang mengetahui pasti kebenaran hati. Dengan si kuda besi, kususuri jalan seorang diri. Sementara mentari perlahan bergerak meninggalkan bumi, demi sang malam yang mulai meminta posisi.






Sesampainya di Suryalaya, tak lama adzan maghribpun bergema. Suaranya menyadarkan saya akan Kebesaran Dia Yang Maha Kuasa. Saya terpekur beberapa masa, sadar bahwa sebagian besar waktu dilenakan dunia. Air wudlu terasa menyejukkan rasa. Sesak perlahan merayap memenuhi dada yang terluka akibat dosa. Seraya diri merendah di hadapan Yang Maha Kuasa, hati yang duka lara lirih berkata: gufroonaka, gufroonaka. Dan suara kicau burung menambah syahdu suasana.



Masjid telah penuh dijejali manusia yang akan menghadap Ilahi. Saat ini mendapati posisi di dalam masjid hanyalah mimpi. Tapi semua itu tak mengurungkan niat diri. Taman sebelah kiri cukup nyaman menjadi tempat kaki berdiri, mengibadahi Sang Ilahi yang Maha Mengampuni. Sahalat Maghrib terlalui dengan pasrah diri. Dzikirpun melantun menepuki rindu akan Ia yang Hakiki. Isya mengingatkan akan hina diri. Ketika dzikir ba’da isya tengah diresapi, hujan turun membasahi bumi. Semua itu kumaklumi, karena sang airpun ingin melibatkan diri dalam dzikir mengingat Ilahi. Ingin hati menyelamatkan dari hujan yang sebentar lagi akan membasahi baju, mengkuyupi diri. Tapi lari diri tak terjadi karena malu mendapati yang lain tetap teguh dalam posisi, tak ada yang angkat kaki. Akupun pasrah terhadap Gusti. Sampai akhirnya hujanpun pergi mengucap permisi. Tangisnya terdengar begitu menyayat hati. Jerit nuraninya menggentarkan diri. Akupun berdoa pada Ilahi, semoga hujan diberkati, senantiasa diridhoi. Dzikir isyapun terlalui. Semoga Tuhan memaklumi semua kurang diri.



Ketika ratusan jamaah mengantri makan malam yang disuguhkan tanpa biaya oleh Pangersa, saya bergegas mendekati para penjaja belanjaan untuk belanja. Nah itulah kebiasaan buruk saya. Apapun keadaannya, belanja tetap yang utama. Uangpun melayang sia-sia. Andai ia diberikan pada mereka yang papa, betapa bahagianya hati mereka. Dan itulah amal yang paling utama: memasukkan rasa bahagia pada hati sesama.


Setelah nafsu belanja terpenuhi, saya berangkat menuju masjid kampus Latifah Mubarokiyah demi meresapi lantunan ayat suci yang dikumandangkan qori. Demi mendengar kajian ilmu dari para ahli dan kiyai. Dan demi memuaskan satu nafsu lagi: memotreti para kiyai yang kadang datang dari berbagai negeri. Untuk koleksi. Kudapati posisi ideal untuk melancarkan aksi. Namun di luar strategi saya disuruh pindah posisi, tepat dihadapan KH.Abdul Gaos Saefulloh Al Maslul, sang kiyai. Hati gelisah karena risih dipandangi kiyai. Auranya yang kuat begitu mendominasi, menggentarkan keberanian diri. Sumpah saya sampai ciut nyali. Saltingpun tak sadar menjadi ekspresi. Belum lagi berpikir, bagaimana caranya menjalani aksi? Gelisah melanda hati, materi ngajipun tak terikuti karena diri terus berpikir, bagaimana caranya memotreti? Saat ini. Di sini. Saya selalu tersenyum bila mengingat kejadian ini. Betapa bodoh diri ini.


Singkat kata sang kiyai mendapatkan bagian menyampaikan materi. Dengan bersusah payah saya membangun konsestrasi. Namun niat memotreti tetap tak mau pergi, tetap masih berdiri dalam hati. Kamera dipegangi tangan kiri. Ingin sekali langsung jepret sana sini, mengabadikan kiyai dari berbagai sisi. Saat hati tengah begitu tak terkendali, tiba-tiba kiyai bericara lepas dari konteks materi. Dengan pasti kiyai mensomasi: “Jangan suka mencuri. Kaya tukang foto tuh!”. Mendengar kata-kata kiyai aku seperti kena smash Susi Susanti. Spontan aku kaget setengah mati. Malu, risih, takut, dan sesal bercampur berkelindan menyusuri nadi hingga berakhir di jantung hati. Malu karena terbaca rahasia hati. Diri merasa benar-benar ditelanjangi... Namun dasar tak tahu diri. Saat beliau membelakangi, masih sempat aku potreti.



Ampuni aku Kiyai. Tak ada niat hati untuk melanggar titah kiyai. Tapi diri ingin sekali memiliki potret kiyai. Mudah-mudahan terberkahi.



Tengah malam tiba. Pengajianpun telah ditutup pembawa acara. Para jamaah mulai beristirahat dengan berbagai aneka. Ada yang tidur dalam asrama, banyak pula yang langsung melentangkan tubuh di masjid mengistirahatkan mata.


Jam dua dini hari, diri mulai tersadar dari mimpi, terbangunkan oleh riuh suara dzikir yang saling menimpali. Lamat-lamat suara dzikir mulai merasuki nurani. Hati sejuk tak terperi mendengar lantunan asma Sang Ilahi. Ada perasaan syahdu mendengar koor dzikir ini. Rindu hati pada Yang Hakiki saat ini benar-benar menampakkan diri. Hingga terdoronglah diri ini untuk melakukan mandi taubat sebagai awal dari prosesi ritual di malam hari. Tapi apa yang terjadi? Nafsu tetap saja menghijabi, setan sepertinya tak rido dengan niat suci ini. Setanpun kembali meniupi diri dengan aji lelap yang tak kuasa kutandingi. Aji itu jelas kudengar berbunyi: “San, sebentar lagi. Satu jam-an lagi. Lagipula cuaca dingin. Nanti malah masuk angin” Terperdayalah diri ini. Akupun kembali merajut mimpi. Niat sucipun akhirnya tak terealisasi. Duh Gusti, meruginya diri ini.


Selepas shubuh saya beranjak dari masjid kampus di atas dan bergegas ke bawah menuju masjid utama Suryalaya. Kulihat beribu jemaah tengah berjejal di depan madasah untuk

Sebagian orang modern menghakimi pengalaman seperti ini sebagai bentuk kultus individu. Namun kami sama sekali tak takut bahkan ragu. Bukan karena kami terbelakang! Kami hanya tahu beda antara SEMBAH dan HORMAT 



meminta secercah berkah dari Pangersa, seuntai doa dari dia yang telah diberi kuasa, demi kehidupan yang lebih bahagia dan bermakna. Sedangkan saya langsung bergerak menuju lantai dua masjid utama, tempat ternyaman yang kurasa. Tak terasa shalawat bani hasyim telah sampai di ulangan ketiga. Itu tanda bahwa selesainya acara. Semoga para Guru mulia senantiasa ditambah-tambah berkah-karomahnya.


Waktu baru menunjukkan jam sepuluh pagi. Matahari belumlah tinggi. Kini saatnya menyambungkan diri pada para arwah suci, menziarahi Guru yang telah mengajarkan cinta hakiki. Kaki melangkah meniti anak tangga yang cukup tinggi, hingga sampailah di puncak Suryalaya tertinggi. Di sinilah bersemayam Syekh Abdullah Mubarok, sang wali.

Tawasul dimulai, diimami kuncen yang perangainya selalu menyenangkan hati. Tawasulpun usai, dan kini dzikir menggema meneriaki setiap hati. Sensasi ekstase perlahan mengambil alih kesadaran diri. Tak terasa air mata yang menjadi darah hati mulai berderai membasahi pipi. Usai ziarah diri terasa lunglai. Sejenak kudiamkan diri, mengembalikan ingatan diri tentang bumi. Terlintas di hati tentang teman-teman baik dari Black Motor Community. Senang rasanya bila mereka berada di sini. Bersama mengaji dan menziarahi para wali. Sayapun bertekad untuk mengajak mereka biar bahagia ini dapat juga mereka resapi. Mudah-mudahan Tuhan mengizini. Hingga tibalah pada saat utama, saat yang teristimewa. Dengan tergesa saya menuju ke madrasah yang menjadi kediaman Pangersa. Kulihat antrian di depan madrasah masih panjang dan pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk berunjuk, mengalap berkah dari Pangersa. Tapi niat telah membakar dada, antrian panjangpun kuanggap hanya sebuah rintangan kecil yang berpahala. Bismillah, sayapun masuk barisan berusaha menghinakan diri di hadapan sang penawar angkara. Kini, jarak diri dengan sang wali hanya beberapa langkah kaki. Tak kuasa hati ini melihat wajahnya yang suci. Auranya masuk menusuk hingga membelah hati. Hati pedih tak terperi. Nurani terkoyak serasa ditusuki. Teringat akan jasanya yang tanpa henti, namun senantiasa kukhianati. Teringat akan pertolongannya yang melimpahi diri, tapi selalu kutanggapi dengan kotor hati. Diri semakin dekat dengan sang wali. Dosapun semakin jelas menampakkan diri. Bayang kelam imaji membuat malu hati ini, apakah diri ini layak menjadi murid Sykeh Mursyid, terselamatkan oleh sang pewaris nabi? Kusentuh tangannya yang mulia dengan tangan berlumur ini. Hati bergoncang menggempakan setiap sisi. Kuciumi ia dengan segala kerendahan diri. Kuhinakan diri di hadapan pintu Ilahi. Sejuk serasa melimpahi diri. Sakinah terasa mengisi hati. Walau hanya tak lebih dari dua detik, namun sensasinya terasa menggenapi diri. Melambungkan angan sampai ke langit tertinggi. 
Ia lah Pengibur hati yang lara, penawar angkara murka Penyelamat mereka yang tersiksa, obat dari segala derita Lentera kala gulita, penerawang bagi yang buta Pembebas mereka yang terpenjara, penebus segala dosa Ia lah sang wali pewaris nabi, Pangersa Sykeh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin Qsa Al Faatihah

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 26 Tanggapan... read them below or add one }

setiakasih mengatakan...

Salam...
yang beramaian masuk ke masjid dalam foto 5 dan 6 itu untuk bersembahyang atau mau melihat tok guru?
bener2 ingin tahu .

SeNjA mengatakan...

selamat pagi mas ^_^

perjalanan spiritual yang membangkitkan kesadaran diri,sungguh bukanlah perjalanan yang sia-sia.

begitu banyak orang yg berbondong-bondong ke sana ya mas *_*

selamat beraktifitas mas insan...

insanitis37 mengatakan...

@Setiakasih: Bukan ke masjid tapi ke kediaman Guru. Lebih dari sekedar lihat tok, tapi sebagai bentuk ibadah.
@Senja:Insya Allah. Moga Dia menerimanya.

Zahra Lathifa mengatakan...

subhanallah...it's really meaningful :)

-Gek- mengatakan...

Dari tadi pagi -- subuh2 buta, aku coba komen, ga bisa..
huaaa huaaa huaaa..
ga papa lah, kavlingan ke 5, juga nomer cantik, hehehe..

Sukses terus bro, artikelnya..
Masak sebelum mo ke rumah Tuhan, bawa Djarum Black dulu? hayoooooo!
Btw, galak juga beliau, tidak mau difoto...

Aditya's Blogsphere mengatakan...

walah...terlambat beberapa menit untuk posting saya yang baru...btw makasi udah mampir ya kang....lanjot terusssss.......

lina@happy family mengatakan...

Perjalanan spiritual yang berkesan ya Mas...
Saya belum pernah ngalamin seperti ini, paling hanya berkunjung ke mesjid2 peninggalan Wali yang terlewati dalam perjalanan ke suatu tempat.

Willyo Alsyah P. Isman mengatakan...

hemmm....perjalanan spiritual yang penuh perjuangan, kesabaran dan ketabahan...

annie mengatakan...

Perjalanan spiritual, bagaimanapun bentuknya, selalu menyisakan sedih di satu sisi (mengingat kerdilnya pribadi) serta bahagia di sisi lain (ternyata Allah tetap berkenan memberi lapang berupa Rahman Rahim yang tak berkesudahan)
Insya Allah berkah, Kang ...

annie mengatakan...

Tentang kesan Kang Insan pada tulisan2 saya : "ngaracak" maksadnya "ngarakacak" sanes?
Itu pujian atau bukan sih? hehe ... saya gak tahu.
Tapi hatur nuhun, saya jadi tahu kesan yang dirasakan oleh pembaca tulisan saya. Nuhun pisan ...

alkatro mengatakan...

wuiih kereeen... kirain mau nginep seminggu lagi untuk berkhalwat.. Alm Syech Abdullah Mubarok kalo ga salah kakek dari Abah Anom ya kang.. alkatro sok tauu he he

rumah blogger mengatakan...

Saya jawab disini aja ya :
Kemarin punya saya juga demikian, tetapi akhirnya kembali normal, saya yakin kemungkinan hanya penyesuaian saja setelah berganti domain.

kalo dalam satu bulan masih error terus, konfirmasi saja sama mas jamal minta di cekkan lagi, kemudian kasih aja user dan paswaordnya untuk login di sigmas. siapa tahu pada saat seting pindah domain ada yg salah pencet juga bisa.

warungbebas.com mengatakan...

tangga di makam Syekh Abdullah Mubarok hampir sama dengan di sunan giri ya?

Warung Bebas

Munir Ardi mengatakan...

kapan saya bisa berbuat seperti ini mengadakan perjalanan spiritual

Newsoul mengatakan...

Rasanya kemaren saya sudah meninggalkan jejak di Plesir Spiritual ini. Tapi yang namanya plesir tentu tak mengapa sering-sering didatangi, biar tambah meresap keindahan maknanya. Selamat Tahun Baru Hijriah ya sobat.

Munir Ardi mengatakan...

Semoga mendapat hikmah Sahabat

Indahnya Berbagi mengatakan...

Taqabbalallahu munna wa minkum

'Afwan sabar ya entar anaa jawab satu persatu pertanyaannya dengan postingan.

minomino mengatakan...

wah,nampaknya suasana berubah sejuk ya kalo qta berserah diri padaNya :)
benar2 obat hati paling ampuh :)

Natha Lia mengatakan...

bagus lah...jadi anak alim yaa....

ur Link alredy i ADD to my blog...Pls Add my Link.....tq

Klik Here

insanitis37 mengatakan...

@Semua sobat: Terima kasih banyak atas support dan atensinya...
Selamat memaknai hijriah. Moga kita menjadi cerah

didiet mengatakan...

bener--bener perjalanan spritual ...perjalanan yg menyenangkan ya mas kayaknya...kereen

Indahnya Berbagi mengatakan...

'afwan anaa dah coba memang u/recent post scriptx dah kadarluarsa krn t4 hostingx dah ditutup klu mau boleh coba yg ini klik disini

untuk recent comment anaa menggunakanx diblog skrg mungkin antum blm mengedit url blognya? coba cek kembali klik disini

u/menambah elemen diatas footer klik disini

u/tab slide ada yg terbaru dan lbh bagus dan praktis anaa sementara buat postingannya, sabar ya!

Aditya's Blogsphere mengatakan...

Ziarah ya?klop moment nya klo pas muharam gini...mungkin agenda ngeblog q akan sedikit terkuras klo udah muharam.....kan waktu ijabah buat tirakat? hehe

diar mengatakan...

Ini gaya penulisannya serasa membaca surat Ali Imran barangkali. He heh... peraduan di mana akhirnya i dan a. Sementara untuk yang waktu itu kawan, yang Elegi Puteri serasa membaca surat Al-Baqaeah. he heh...

Indahlah!!!

Azis mengatakan...

Ass. Berurai air mata, isak tangis tak dapat ditahan, dikala mata membaca tulisan diatas, namun robitoh hati kepada guru mengantarkan sebuah kesadaran, diri yang bodoh ini semoga dapat terbawa oleh Pangersa Abah untuk menggai Keridhoan Alloh SWT.

raj black mengatakan...

kangen...pengin kembali lagi le suryalaya...

Posting Komentar