Nama

Nama adalah penanda. Ia hadir agar sesuatu bisa dikenali. Keberadaannya menjadi suatu keniscayaan bagi setiap keberadaan karena ia dibentuk sedemikian rupa sehingga akhirnya dianggap dapat memenuhi dan menjadi representasi dari segala unsur suatu keberadaan. Tak perlu kita berbicara panjang lebar--rokok berwarna hitam dengan tubuh yang memiliki lingkaran kecil dan agak panjang; menimbulkan sensasi di mulut yang sulit dikatakan saat rokok itu dihisap; saat ini sedang intens dalam “proyek bareng” dengan beberapa komunitas hobbies sebagi media promosinya. Di bidang otomotif (mobil dan motor) digelar berbagai event, seperti Djarum Black Slimznation, Djarum Black Motodify, Djarum Black Night Slalom, Autoblackthrough, Autoblackthrough goes to campus…--hanya untuk menyebutkan rokok Djarum Black. Bukan hanya ngawur, bahkan komunikasi pun akan tiada bila tak ada nama.

Nama juga memiliki sisi lainnya. Ia tak hanya memiliki fungsi “lahiriah”, namun ia juga mengandung sisi “batin” yang begitu kompleks yang menampung berbagai kesadaran
masyarakat dan sosial.

Dulu, seorang penulis terkenal yang kematiannya tak serta merta menghentikan “keberadannya”: William Shakespeare berkata: ”Apalah arti sebuah nama?”

Kita tahu bahwa bahasa tidak lahir dari langit, terpisah dari manusia dan pengalamannya. Sebaliknya bahasa merupakan refleksi atas suatu kondisi sosial dan kebudayaan. Benarkah bahwa kondisi sosial dan budaya waktu itu—ketika zamannya Shakespeare —tidak menempatkan derajat atau kehormatan seseorang di dalam namanya, di dalam identitas personalnya?

Bila jawabannya: iya, berarti saat ini telah terjadi pergeseran kondisi dan nilai social yang cukup besar. Yang berarti kata-kata Shakespeare itu tak memiliki relevansi lagi di zaman ini. Buktinya? Saat ini banyak sekali orang mempermasalahkan nama. “Nama baik” menjadi kasus ramai di persidangan. Mulai dari selebritis, pemerintah, bahkan rumah sakit sekalipun menuntut pemulihan nama baik. Kini, nama begitu berarti.

Di zaman modern ini nama tidak hanya berfungsi sebagai identitas personal saja, pembeda manusia dari manusia lainnya. “Nama” telah berevolusi menjadi sebuah simbol kehormatan dan reputasi seseorang. Kedua nomina ini dibentuk oleh integritas kepribadian, pencapaian akademik, kepemilikan materi, pengaruh social-politik, dan factor-faktor lain, yang tentu saja diperoleh dengan cara yang tak mudah, panjang, dan terkadang mahal. Maka siapapun pemiliknya tentu akan bereaksi keras ketika ada perbuatan pihak lain yang dianggap dapat “mencemarkan” nama baiknya yang telah dibentuk dengan jerih payah. Pihak lainpun digugat dengan tuduhan: pencemaran nama baik.

Pertanyaan kritis yang muncul terkait fenomena ini adalah: apakah reputasi atau nama baik yang katanya telah tercoreng atau rusak dapat dipulihkan kembali melalui ketukan palu hakim dalam sidang pengadilan? Apakah dengan kemenangan gugatannya dapat serta merta membuat kehormatan dan reputasinya kembali pulih? Apakah hasil dari proses yang formalistik dapat merubah pandangan masyarakat yang melihat dengan mata telanjang dan apa adanya?

Bila kita mau berfikir flash back, mengingat perjalanan para nabi, filsuf, dan para istimewa lainnya yang mengorbankan dirinya demi mengkhotbahkan kebenaran, perjalanan mereka selalu dipenuhi dengan upaya-upaya pencemaran reputasi atau nama baik, yang dulu dengan sederhana dikenal sebagai fitnah. Baik yang dilancarkan oleh penguasa yang terancam kekuasaannya ataupun masyarakat biasa yang tak senang dengan perubahan.

Kita ingat Isa difitnah sebagai anak haram dari perzinahan Ibunda Maria; Yusuf dituduh pemerkosa istri sang raja; Socrates dianggap oleh penguasa waktu itu telah merusak anak muda; Muhammad yang terus menerus dikatakan majnun (gila). Namun ingatkah kita bagaimana sejarah menuliskan sikap mereka ketika mendapati itu semua? Socrates sama sekali tak melakukan pembelaan padahal ia mampu; Nabi Muhammad Saw tetap bergeming menyuapi pengemis buta yang selalu bercerita di sela-sela makannya bahwa Muhammad—sosok yang tak dikenalnya--adalah tukang sihir licik dan pembohong. Mereka sama-sama tak melakukan pembelaan.

Sikap mereka ini bagi saya merupakan bentuk sikap proaktif. Suatu sikap yang didasarkan pada keyakinan yang teguh bahwa kehormatan atau reputasi itu tidak berada di luar, namun di dalam diri. Karena sifatnya yang di dalam, jadi pihak luar tak kuasa untuk menjamah, mencoreng atau berbuat sesuatu yang akan merusak kehormatannya. Jadilah harga harga diri, kehormatan, dan reputasi mereka senantiasa terlindungi.

Apakah mereka hanya diam? Mungkin sikap dan tindakannya yang tak “melawan” dan tidak berusaha mengklarifikasi kabar fitnah dari orang lain itu kita baca sebagai tindakan diam. Namun sebenarnya, mereka berbicara banyak. Mereka menandingi musuh-musuhnya dengan gigih dan kuat. Bukan dengan klarifikasi, retorika, dan pengaduan. Namun dengan konsistensi dalam integritasnya.







Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 14 Tanggapan... read them below or add one }

Newsoul mengatakan...

Ya betapa semua anak manusia berkutat, berjuang mengisi hidup dengan segala keringat dan air mata, demi menegakkan sesuatu yang disebut nama, nama baik, dan kehormatan diri. Tulisan indah sobat.

insanitis37 mengatakan...

@newsoul: makasih y udah pertamax! hehehe (tumben :-))

annie mengatakan...

"kehormatan atau reputasi tidak berada di luar, melainkan ada di dalam diri" Saya sepakat dengan kalimat ini, Kang.
Maka Islam mengajarkan kita untuk memilih nama yang baik, karena didalamnya terdapat doa dan harapan agar kelak sang pemilik nama dapat menjaga kehormatan dan reputasinya sesuai nama yang disandang.
Selaluuu Kang Insan memiliki cara yang cerdas untuk menuangkan ide. Salut

AmruSite mengatakan...

Info yang sangat bermanfaat bagiku mas..
Memang sebagian orang menganggap kalau nama hanyalah nama.
Tp Bagiku nama itu sebuah doa, dan doa itu akan kita terima setiap saat ketika seseorang memanggil 'nama' kita.
Terimakasih infonya mas.. Sukses selalu..

nuansa pena mengatakan...

Nama berkaitan dengan hati, kalau hati kita bersih kebahagiaan yang kita dapat, kalau hati kita kotor kesusahan yang kita dapat.

Hati bersih nama kita jadi baik, hati kotor nama kita jadi jelek ini berkaitan dengan tindakan.

alkatro mengatakan...

duduk manggut-manggut.. kereen postingnya..
nama adalah sebuah doa karena ruh yang berjasad ; agar jasad mampu melindungi ruh dan ruh mampu menuntun jasad.. meskipun sebenarnya huruf adalah sebuah hijab..
(kabuurrrr... )

-Gek- mengatakan...

Tulisannya makin mantap aja Insan..
*thumbs up.

Baju baru nich blognya?
*gek kemana aja?? JITAK!

minomino mengatakan...

'apalah arti sebuah nama'

buat saya,nama itu penting...
untuk menandakan bahwa sesuatu itu benar adanya...
dan membedakan dengan sesuatu yg lainnya...
:)

rumah blogger mengatakan...

malahan ada pribahasa 'apalah artinya sebuah nama', wah kacau deh..

sabirinnet mengatakan...

nama bisa diartikan sebagai gelar atau panggilan. nama sendiri tercatat di luth mahfud. banyak juga orang yg tidak terlalu mementingkan nama, yg penting anaknya ada nama, masalah arti itu tidak penting.
tetapi perlu diketahui, nama sangat berpengaruh dalam kejiwaaan dan penghidupan seseorang..terima kasih share mas, sukses ya

ateh75 mengatakan...

...dan nama adalah doa untuk sang pemilik nama,jangan sampai salah memberi nama untuk anak,sekali lg karena nama adalh doa.

Nice post kang.

diar mengatakan...

"Apalah arti sebuah nama?", Shakespeare...

Akan kujawab. "Buat nomor punggung kostum bola". he heh...

Artikelnya bagus kawan.

endra mengatakan...

menurut ane, soal nama seseorang ya jelas ortulah yg berperan

Kian Coi mengatakan...

Menurut gw nama adalah salah satu alasan sebuah komunikasi bisa terjadi, atas dasar nama pulalah misteri akan terpecahkan...

apapun itu, baik wujud, jenis, dll.. akan selalu punya nama...!!!!

Posting Komentar