Markus

“Makelar” kini tengah ramai dibincang. Iapun disandingkan dengan sebuah kata yang tak biasa. Bila tanah, mobil, rumah, telah akrab di telinga dan pengalaman kita, namun ketika “makelar” berdampingan dengan “kasus” ia terdengar janggal dan mengandung kecurigaan. Terlebih makelar yang ini muncul setelah cerita fabel yang paling melodramatik di negeri ini digelar. Sebuah dongeng berjudul Cicak Lawan Buaya. Makelar kasuspun muncul menjadi isu publik.

Kabareskrim Polri yang baru, Ito Sumardi, menyatakan pembersihan makelar kasus akan menjadi target prioritas kerjanya. Instansi penegak hukum lainnyapun seperti pengadilan dan kejaksaan senada dengan langkah Polri. Mereka menyatakan sikap akan melawan dan mensterilkan kantor-kantornya dari para makelar kasus yang telah memiliki nama popular: markus. Di lihat dari body language-nya, mereka terlihat serius. Mereka seperti tak main-main dengan para markus.

Kita tidak dapat melihat dan menyikapi fenomena markus ini secara soliter, terpisah dari fenomena lainnya. Ia tidak hadir di luar “situasi”, namun merupakan datang dari sebuah kondisi atau keadaan tertentu, sama dengan fenomena sosial lainnya. Sebagai ilustrasi, hadirnya berbagai komuitas dan kompetisi kreatif yang diprakarsai oleh Djarum Black, seperti: Black Car Community, Blackinnovationawards goes to campus, Black Blog Competition, dan yang lainnya, itu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa sebab, seperti lahirnya Isa dari Ibu Maryam yang suci (walau sebenarnya itu juga akbat dari sebuah sebab: Mukjizat Tuhan). Itu merupakan respon atau reaksi atas sebuah situasi ketika kreatifitas dan inovasi para kawula muda khususnya benar-benar tumbuh bahkan berkecambah. Maka datanglah Djarum Black dengan segala fasilitasnya memberi ruang bagi para kawula muda dalam mengekspresikan dirinya dengan lebih maksimal dan tentu saja lebih dapat diapresiasi khalayak luas.

Kembali ke markus. Kehadirannya begitu kompleks karena ia tidak lahir hanya dari satu, melainkan berbagai kondisi. Setidak-tidaknya ada dua kondisi atau situasi (Anda boleh menambahkannya lagi) yang melatarbelakangi munculnya para markus.

Yang pertama adalah rumitnya jalur birokrasi-administrasi di negeri ini. Berbelitnya pengurusan suatu kepentingan hukum membuat masyarakat enggan atau malas melakukan pengurusan dalam jalur resmi. Proes yang panjang, banyaknya “pintu” yang harus dilewati, belum lagi para petugas yang menambah-nambah keruwetan ini demi kepentingan pribadi, dibaca oleh beberapa kalangan—baik individu non institusi maupun individu dalam institusi hukum—sebagai peluang usaha dalam bentuk pemberian jasa akses “jalan pinggir” kepada masyarakat yang tak mau buang-buang energi mengurusi proses legal yang jelimet. Yang tentu saja jasa dari markus dapat lebih singkat, mudah, dan terkadang efisien. Terlebih, para markus ini mampu memberi garansi “berhasil” pada para kliennya. Markuspun lahir dan dianggap sebagai solusi oleh kedua belah pihak: masyarakat yang ingin mudah dan menang, juga aparat yang menginginkan “lebih”. Hubungan mutualistis inilah yang membuat para markus bergeming.

Yang ke dua adalah sikap mental masyarakat itu sendiri. Kita tak dapat menutup mata bahwa “pengadilan jalanan” terkait pelanggaran lalu lintas, kerapkali datang dari tawaran masyarakat yang ditilang. Pun sama halnya dengan kasus hukum yang lain. Sikap malas “berperkara” sesuai prosedur yang sah banyak diidap masyarakat. Terlebih kondisi ini semakin "dikondusifkan" dengan rumitnya birokrasi-administrasi mengakibatkan “jalan pintas”pun menjadi lazim bahkan mentradisi. Sikap kita yang ingin selalu mudah, ringan, dan terlebih rakus: menang walau secara sadar salah, tanpa kita sadari telah memelihara para markus itu sehingga mereka tetap hidup dan mengotori kantor-kantor para penegak hukum di Indonesia. Dalam hal ini, keberadaan para markus itu adalah produk yang muncul dari sebuah kebutuhan masyarakat yang terus-menerus. Kebutuhan akan kemudahan, terlebih kemenangan perkara.

Menyadari akan kompleksitas fenomena markus ini: kemacetan struktrual sekaligus kekeliruan kultural, membuat kita tak akan mudah mengatakan “mudah” pada upaya pembersihan markus di lingkungan institusi penegak hukum di Indonesia. Namun juga bukanlah sesuatu yang utophia. Karena tak ada kata tak mungkin di dalam masyarakat. Sejarah telah mempertontonkan pada kita bahwa masyarakat mampu mewujudkan hal yang musykil sekalipun.

Semua kembali pada kita. Bukan kami di sini ataupun mereka di sana. Hanya dengan kita praktik makelar kasus ini dapat terselesaikan.

Bila di sana para penegak hukum tengah berupaya membersihkan para markus melalui kapasitas dan otoritasnya yang dimiliki, kitapun di sini memiliki otoritas yang tak kalah penting dan harus kita pertanggungjawabkan, yaitu otoritas pada diri sendiri. Atau yang biasa disebut dengan kendali diri.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 13 Tanggapan... read them below or add one }

ateh75 mengatakan...

Saya komentar tentang kedali diri saja,yg lainya bingung he he...

Dengan mengendalikan diri dari emosi kita akan lebih tentram menjalani hidup,tak akan ada demdam dan benci.Mengendalikan diri dngan dzikir itu lebih baik.

Lagi ikut kompetisi ya kang ?

Munir Ardi mengatakan...

Markus memang punya otoritas ya wah kasihan sekali negeri ini

Munir Ardi mengatakan...

Mudah-mudahan menang ya sahabat

SeNjA mengatakan...

kalo udh bicara soal politik di negri ini suka bingung mas,tp kalo gak membuat bingung bkn politik kali y mas ?

semoga menang aja mas dlm kompetisi djarum blacknya.
selamat pagi,....semoga hari ini indah buat smua ^_^

annie mengatakan...

Ada pr besar yang harus diemban oleh setiap orang di negeri ini, sesuai kapasitas dan concern-nya. Dan sebagai seorang ibu saya tengah, sedang dan akan terus berusaha agar anak-anak saya dibekali akhlak Islami, sebagai peran serta (yang sangat penting) dalam mempersiapkan mereka agar kelak generasi Indonesia tak lagi kenal segala macam istilah lumpur macam markus dkk. Bila semua ibu di Indonesia bergerak menyiapkan mereka dalam kebaikan lahir batin, Insya Allah, beberapa tahun mendatang tak ada lagi pejabat korup dll, sebab mereka (para pejabat itu) lahir dari rumah-rumah kecil kita.


Nice post, kang

insanitis37 mengatakan...

@Umi Ateh:Muhun Umi, piduana nya...lumayan pisan laptop, hehe
@Munir: Amiin akang, hatur nuhun
@Senja: doain ya mba biar menang bllog "gak jelas" ini, hehe
@teh Anie: smoga perjuangan teteh berhasil ya, anaknya2 soleh2!amiin

-Gek- mengatakan...

Fuh..
Berat amat Insan...

Thumbs up.
Sukses selalu! ;)

masterGOmaster mengatakan...

postingan yang menarik...tetap semangat.biar aku serahkan saja semuanya yang khusus menangani makerlar..aku tinggal ngelihat..mendengar..merasakan

diar mengatakan...

Bagus kawan. Politik nih. Jadi dapat informasi yang penting seputar isu markus.

Masyarakatnya sendiri seperti tidak dewasa dalam masalah. Atau barangkali buta hukum. He heh...

Didinya ieu-nya kang insan, lulusan hukum. Analisanya bagus.

He heh...

Halimin mengatakan...

Tema tulisan yang tepat mas,karena markus ini sudah dinyatakan sebagai musuh negara oleh presiden walaupun agak telat sih karena sudah banyak makan korban.oh ya makasih atas komentarnya mas

NURA mengatakan...

salam sobat
ikutan kontes ya,,
semoga menang ya,dan sukses,,
MARKUS,,semoga bersih di negara kita .

Jiox mengatakan...

jika sekarang aparat tidak main-main berarti yang kemarin,... maju terus akang.. semangaat

Newsoul mengatakan...

Markus, hm...jadi teringat Hendarman Supandji yang keberatan dengan istilah ini. Nice post. Semoga menang kompetisi ya sobat.

Posting Komentar