Elegi Putri


Malam yang dingin menggigit tulang sampai ke nadi. Kurebahkan diri, berkontemplasi, mencoba berdamai dengan hati. Namun apa daya, konsestrasi tetap tak mau mengunjungi. Terhijabi oleh pesona Putri yang selalu menawan hati. Selalu pula kuingkari.
Pagi datang menghapus mimpi tentang Putri. Sang mentari menerjang bulan yang dari semalam menguasai bumi. Kudengar bunyi ponsel memecah sunyi, membangkitkan rasa dalam diri. Tulisan Putri yang terukir di ponsel semakin mengiris nurani. Ponsel tetap berbunyi tak kunjung henti. Namun diri tak kuasa untuk menyambut Putri. Ponsel kembali berbunyi, kembali menarik gejolak dalam diri. Tapi tetap kuhijabi dengan wajah mami. Ponsel kembali berbunyi, berbunyi, dan terus berbunyi. Namun diri tetap bergeming, karena menjaga diri menjaga Putri.  Hati terasa dikebiri, jiwa perih tak terperi. Air mata menepuki elegi yang bermelodikan duri.
Kudengar Putri berusaha bunuh diri. Sontak ada rasa nyeri menusuk ke ulu hati. Ingin sekali membelai Putri, mendongeng tentang kisah negeri yang penuh dengan para peri sebagai pengobat lara hati Putri. Namun bayang wajah papi menghalangi niat diri. Kembali kaki batal melangkah pergi, demi menjaga diri menjaga Putri. Walau frustasi semakin menjadi.
Ketika frustasi semakin mendominasi diri, papi mami semakin tak terkendali. “Sadarilah anak tak tahu diri, mami, papi ini manusia terhormat bergelar haji. Belum lagi papi yang pernah jadi kandidiat menteri. Sedangkan Putri? Hanya seorang anak pedagang kelas teri yang bahkan tak berpeci. Bangunlah anak tak tahu diri! Lihatlah dirimu di cermin ini. Berapa minggu kau tak pergi mengaji? Berapa minggu kau mengurung diri? Berapa minggu kau tak mandi?” Mata mami melirik papi, mencari pembenaran asumsi pribadi, “Mungkinkah ia diguna-gunai si pedagang kelas teri?” Papi hanya berdiam diri, walau ku tahu anggukannya mengamini.
Kuterpekur di depan cermin kamar mandi, menatap nanar pada cermin yang tak berbayang diri. Perih hati berubah menjadi benci, benci pada mami, papi, sekaligus si pedagang kelas teri.  Sekilas ingin kutapaki langkah Putri, mencoba mengakhiri diri, melepaskan tali yang mencengkeram hati. Baru saja kuteguhkan diri, papi mendobrak pintu kamar mandi. Niatpun akhirnya tak terjadi. Namun ku bersumpah akan berbuat yang lebih lali, biar terpateri di hati-hati orang tua ini.
Kuhisap sebatang Djarum Black di tengah jemari, mencoba mencari inspirasi atau sekadar relaksasi diri. Namun kali ini Djarum Blackpun tak mengilhami, karena frustasi benar-benar tak tertandingi. Nafsu semakin tak terkendali, nurani seolah mati, karena sakit hati terpisah dari Putri si pujaan hati.
Kuputuskan pergi menemui teman yang bernama Andri. Papi, mami tersenyum menyangkaku telah kembali seperti sehari-hari. Mereka tak mengerti, bisikku dalam hati, mencibir dua orang ini.
“Tumben kau kemari, mana teman-temanmu yang dari Black Motor Community?” Andri menyapa sekaligus mentertawai. “Saat ini aku ingin pindah komuniti, mencoba yang benar-benar lali dan mengancam diri” Aku balik menggertak,  tak mau kalah dengan si Andri. “Black Motor Community mana mungkin neken ekstasi apalagi main belati. Makanya aku mencarimu Ndri” Andri manggut penuh ekspresi, tahu benar apa yang kuingini. Aku dan Andri terus berbincang tak henti,  sementara wajah Putri tetap menghantui, semakin menyiksa diri.
Perjodohan dengan geng Andri membawaku pada dunia tanpa arti. Shabu dan ekstasi menjadi sesuatu yang sehari-hari. Sementara whisky menjadi teman akrab sepanjang hari.  Bukan hanya ngutil sana sini, bahkan mencuri motor, mobilpun pernah kualami. Belum lagi pelampiasan birahi yang menyerupai anjing. Namun untuk yang satu ini, aku tak pernah melakoni. Setiap kali ingin itu mendatangi diri, setiap kali itu pula wajah Putri menghantui, menahan birahi.
Lima bulan hidup di jalanan telah kulalui. Beribu duri telah kuakrabi, berjuta dosa telah kualami, kunikmati. Papi, mami seperti belum menyadari. Atau mereka lebih menyenangi aku seperti ini daripada menggila-gilai Putri? Aku benar-benar tak peduli. 
Terkadang nurani seolah mengajak kukembali. Namun tetap kutolak dan kukhianati. Ada rasa iri setiap kali melihat teman di Black Motor Community, mereka penuh vitalitas dan benar-benar tahu diri.  Namun tetap kutamengi diri, bergeming di dunia yang tak memberikan arti, menghanyutkan rasa dalam bergelas-gelas whisky dan butiran ekstasi.
Sampai kudengar di telinga ini Putri diperiststri juragan tanah dari Betawi, sesuai dengan titah si pedagang kelas teri. Pedih tak terperi kembali menjalari setiap denyut nadi. Duri-duri menusuki hati hingga menginggalkan luka yang tak terobati. Ingin kuberlari dari kenyataan yang tak ramah pada diri. Atau kuinterupsi sang ilahi yang seperti tak memihak pada cintaku dan Putri. Namun apa daya, kenyataan hanyalah bayang dalam mimpi, sementara tuhan tak kunjung menamapakkan diri. Tinggallah dunia gelap yang menjadi kompensasi. Dengan wajah Putri tetap menemani.
Seperti malam-malam yang lain, Andri mengajakku pergi. Tentu saja pergi ke tempat yang tak bermaknawi. Akupun bersemangat mengamini, demi menistakan diri yang perlahan mulai kubenci.  Andri bercerita bangga karena baru saja berhasil merampok mobil dari salah satu anggota Black Car Community. Pestapun digelar dengan mengumbar birahi. Berpasang-pasang sejoli yang baru saja saling tahu nama pribadi terlihat masyuk dalam suasana surgawi layaknya pasutri. Sampai akhirnya sirine polisi berbunyi, tanda mereka datang menghampiri. Kamipun dibui. Dibui.
Berselang satu hari, papi, mami menjenggukku ke bui. Tak ada lagi aura bengis di wajah papi. Begitupun mami. Ke mana wajah-wajah buram orang tua ini? Adakah mereka kini menyadari? Aku bertepuk tangan di hati, merayakan kemenangan yang kini mulai beralih posisi. Akupun bersumpah akan melakoni yang lebih lali, biar puas hati ini melihat mereka sakit hati seperti hati ini yang mereka pisahkan dari Putri, sang belahan hati.
Papi menghubungi polisi, akupun keluar bui. Manis kini menjadi topeng mami, papi. Aku tak peduli, bahkan semakin tak tahu diri. Karena bukan manis yang kuingini, tapi kembalinya Putri pada genggaman jemari. 
Kudengar Putri hamil empat puluh hari. Si nafsu semakin tak terkendali. Kembali aku masuk bui. Papi mengeluarkanku lagi dari bui. Di bui lagi, papi menghubungi polisi. Dibui, polisi. Dibui, polisi. Dibui, mami sakit bertubi-tubi.  Polisi. Dibui. Tak ada polisi. Tetap dibui. Mami merengeki papi. Polisi. Keluar dari bui. Sementara Putri tetap menguntit diri.
Suatu hari kulihat Putri. Ia berjalan sendiri tanpa suami, tanpa si pedagang kelas teri. Otak yang tengah terkontaminasi whisky menguatkan diri untuk mendekati Putri lama kutertegun memandangi Putri. Kutemukan beribu sayatan sembilu dalam lubuk hati, menyempurnakan rasa sakit Putri. Tak tersadar kini Putri tumpah dalam pelukan diri. Air mata campur darah melinangi tubuh, tembus sampai ke jantung hati.
Hasrat diri seolah membutakan nurani. Nafsu kini merongrongi kami yang saling berusaha memahami diri. Birahi kami bersua di tempat terjauh dalam diri. Sempat terlintas ingin meyudahi ini, tapi apa daya, kami terlanjur saling menyetubuhi. Saling berbagi beban nurani.
Kulihat Polisi menemui papi. Padahal tak ada ekstasi apalagi belati. Bahakan si andri telah enam hari mati dibunuh para napi. Kenapa masih ada polisi?
Papi terbujur di atas kursi, tanpa basa basi aku dipegangi polisi, sambil menginterogasi tentang Putri, juga menyebut juragan tanah dari Betawi, dan sesekali si pedagang kelas teri.
Kulihat Putri bersaksi di sidang pengadilan negeri, berbicara telah disetubuhi tak manusiawi oleh diri ini. Perih hati bukan karena jaksa menginterogasi, namun tahu nasib Putri yang diancam mati sang suami. Ingin hati memutilasi si juragan tanah dari Betawi atau sekadar menyayat ia punya nadi. Namun apa daya aku kini dalam bui, tanpa papi dan bincang dengan polisi.
Di bui aku tak sendiri. Berkamar dengan para penjahat tak berhati yang telah lama tak bersua dengan para istri. Mendengar kasus asusila yang menjebloskanku ke bui, sontak memancing syahwatnya yang lama tak beraktualisasi. Mereka pandangi diri ini dengan segenap nafsu birahi. Tanpa perlawanan atau kesempatan membela diri, orang-orang itu menyetubuhiku tak henti. Jerit hati tak kuasa membuat mereka berhenti. Mereka tetap menyetubuhi tanpa peduli, tanpa basa basi.  Begitulah setiap hari, disetubuhi para lelaki. Samakah nyeri ini dengan rasa nyeri Putri? Tanyaku dalam hati.

Tak kuasa dengan hina dan derita ini, kuniatkan untuk mengakhiri diri. Kuizin pada Putri walau dalam imaji, sebagai peneguh niat dalam diri. Kupinjam belati pada “RT” yang mati hati. Memotong kuku lancar menjadi alibi. Kuberanjak pergi menuju kamar mandi, meluluskan niat yang lama bercokol dalam hati. Putri, maafkan aku yang selalu tak bisa memberi. Tapi ketahuilah Putri, cinta ini akan senantiasa abadi. Papi, aku sadar tak ada bakti. Bahkan budi sama sekali tak kumiliki. Tapi mohon ridoilah diri. Mami, kini aku sadar cinta selalu mendasari Mami, walau dalam rupa yang seringkali tak kumengerti. Kini sungguh aku tak kuasa hidup di atas bumi. Semoga Mami mengampuni.
Belati bergerak menyayat nadi. Perih menembus hingga ke jantung hati. Imaji Papi, Mami, Putri semakin buram memudar, akupun mati…
Belai lembut membangunkan diri yang lama bermimpi. Wangi mami terasa memenuhi nurani. Aku berusaha untuk menyadari apa yang tengah terjadi. Apakah aku tak jadi mati? Siluet wajah mami membuatku yakin bahwa aku belumlah mati. Rasa sesal bercampur lega berkelindan menelusuri rongga jiwa, memenuhi relung-relung hati. Saat itulah baru aku merasa pasrah pada apa yang kan menimpa diri.
Kulihat papi duduk di sebelah kiri. Kuterperanjat setengah mati. Kulihat kursi roda menyertai papi. Meledak sesal tak terperi dalam hati mendengar penjelasan mami yang katanya stroke menyerang papi. Oh Gusti, apa yang telah kuperbuat pada papi? Tanpa sadar ku memohon pada Sang Ilahi yang dulu begitu kubenci.
Belum juga kusadarkan diri, mami memberi potret yang bergambar Putri, memberi pedih yang bertubi. “Putri mati bersama sang bayi” gumam lirih mami. Bumi terasa menindih diri, pedih mengoyak jiwa dan hati. Beribu kali lebih pedih dari sayatan belati pada nadi, sakit lebih menyiksa melebihi sodomi para napi yang haus istri. Ya robbi… jeritku dalam hati menyerupai iblis yang terusir dari istana surgawi.       
Kini Putri telah benar-benar menjadi imaji, cintapun hanya sebuah elegi. Saat merasa diri benar-benar sepi, mami menggenggam lembut jemari. “Dari hati, maafkan mami, papi.” Sunyi menyelimuti hati, air mata berderai membasahi pipi, membasahi hati.
Kulihat wajah papi, berakhir di mami. Kusadari sesuatu yang telah lama pergi kini mulai merasuki diri. Ia tidak mati, tapi hanya terhijabi oleh benci. Ia yang senantiasa memenuhi nurani. Ia yang bernama cinta papi, cinta mami. Walau dengan ciut nyali karena tahu diri namun energi hati mendorong diri, menguatkan bibir tuk berujar lirih pada mami: “Terimakasih mami telah memberi kehidupan. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali.”

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 23 Tanggapan... read them below or add one }

sabda cahaya mengatakan...

like it...emmm kyaknya ikutan DJARUM BLACK BLOG COMP..
sy doakan semoga mas menang ya...Amin...

-Gek- mengatakan...

Ini cerita bunuh diri yak?
Kreatif sekaliiii...!!!!!!!!!!!
Salut!

Makasih dah dijemput bolanya!
Itu Mas Sabda juga dapet operan bola lo, segera meluncur ke blog gek yaa..

minomino mengatakan...

weww...elegi yg keren :)
semangat untuk semua yg ikut kompetisi :) :) :)

SeNjA mengatakan...

selamat pagi,...

disabtu yg sedikit mendung,membaca tulisanmu membawaku ke sebuah imajinasi dan barisan cerita yg panjang tapi tak membosankan.
seru,menggelitik,mengharu biru....

elegi putri membawa sebuah inspirasi mas di pagi ini,trima ksh....

*_*

bagus bgt,aku sukaaaa.....

ateh75 mengatakan...

Sebuah syair dalam cerita panjang yg mengagumkan.

Cerita elegi putri yg menyayat hati seakan diri terbawa imajinasi .

Subhanallah sebuah karya yg luar biasa kang ...hebat.

NURA mengatakan...

salam sobat
sepertinya ini kisah yang nyata ya,,
elegi putri ini,,sangat haru dan terenyuh nich bacanya.

Vicky Laurentina mengatakan...

Upaya jitu buat ngejar keyword. Saya ketawa bacanya. Semoga menang ya..

a-chen mengatakan...

woooowwwww, satu kata keren tulisannya......

Clara mengatakan...

miris yak ceritanya...

Munir Ardi mengatakan...

TOP BGT DEH Pokoknya hanyut dalam seribu perasaan membaca tulisan ini

annie mengatakan...

Tulisan dan pilihan kata yang sungguh apik. Hebat, kang ...!!
Ikut kontes ya? Semoga mendapat apa yang diharapkan. Amiiin

nuansa pena mengatakan...

Kupikir saya saja yang merasakan baca puisi, ternyata yang lain juga, seandainya diatur kayak puisi .... jadi berapa lembar.....kuacungkan jempol buat anda ....tidak membosankan walaupun panjang .... jadi penasaran ... tahu tahu tuntas bacanya. Isinya menyedihkan banget!
Menang kalah dalam lomba hal biasa! Selamat berlomba! Sukses!

insanitis37 mengatakan...

@All: terima kasih atas apresiasi dan dukungannya...
Doain menang ya, buat tambah2 modal nikah, hehehe

Christine Mariska mengatakan...

tak kuasa menahan diri..
untuk memuji dalam hati..
salut tiada terperi.. :)

setiakasih mengatakan...

Cukup menyentuh hati...

argh... Kengapa Putri dan anaknya mati?

Newsoul mengatakan...

Elegi yang menggigit. Semoga sukses contesnya, menang sobat.

nen's; mengatakan...

Subhanallah... cinta..oh cinta...

^_~

dede mengatakan...

waktu dapat melenyapkan cinta, namun cinta juga mampu taklukkan waktu.
tapi cinta ini gilaaaaaaaaaaaaaaaaa.......!!!

Munir Ardi mengatakan...

datang dengan semangat baru membaca kisah yang begitu indah

lina@happy family mengatakan...

Kisah tragis yang dilukiskan dengan indah...

Aditya's Blogsphere mengatakan...

oh akhirnya aq banyak bertemu teman yang ikutan Djarum Black Blog Competition Vol 2 ya.....aq juga pengen nih....udah daftar tapi l;um buat artikelnya....

diar mengatakan...

Indah bukan main, kawan.

hendra thiemailattu mengatakan...

sampai merinding bacanya kawan. hebat. tragis dan dramatis.

Posting Komentar