Di Suatu Pagi

Pagi hari. Masih matahari yang itu-itu juga. Terbit di tempat yang itu-itu juga. Sambutan hati atas kelahirannyapun masih yang itu-itu juga. Malas. Bosan. Jenuh. Semua berkelindan dalam diri hingga akhirnya membentuk suatu perasaan yang kerap mereka bilang: bad mood. Pagi bad mood. Matahari bad mood. Hati bad mood. Kehidupan benar-benar diawali dengan bad mood. Bad moodpun menjadi hidup itu sendiri. Perkenalkan, namaku badmod, hatiku berseloroh satire.

 Gontai kuberanjak ke halaman belakang. Kujatuhkan tubuh konyol ini di kursi rotan yang pasti akan tersinggung bila disebut “kursi bagus”. Seperti biasa, ia menerimaku apa adanya. Menyambut semua sisiku tanpa kecuali. Kuambil sebatang Djarum Black Slimz yang tak memiliki satupun saingan di “rumahnya”. Akhirnya… kudengar ia berlirih lega setelah penantiannya selama ini berakhir. Kubakar ia tanpa ampun, tak berbelas. Walau kusadar hatiku menaruh harap berlebih padanya. Berharap dapat mengasapi bad mood hingga akhirnya tak terlihat?


Di hirupan pertama kutemukan satu kemungkinan yang selama ini senantiasa terlupa, tak pernah hadir di setiap pagi: mungkin hari ini gak bakalan bad mood. Asappun kembali
memenuhi mulut dan rongga tenggorokan. Aromanya yang khas menimbulkan sensasi geli di hati. Geli karena mendapati ternyata pikiranku bisa juga liar dan “main-main.” Hirupan Djarum Black Slimz ketiga dan keempat semakin mengasapi kenakalan di pikir hingga akhirnya meneguhkannya, mewujudkannya. Bibirpun tersungging kecil sebagai tanda ada sesuatu mulai terjadi. Dan tentu saja sesuatu itu tidak membikin bad mood.

“Papa. Papa sayang…” Istriku memanggil manja sambil menghambur ke arahku yang tengah dipenuhi asap inspirasi. Dalam keadaan Think Black. “Kok masih belum mandi? Katanya ada janji sama Emka di kantor Gagas? Mau dimandiin ya?” Matanya berkerling Krisdayanti.

Belum juga mulut ini terbuka untuk menjawab, memerankan tokoh Anang, tiba-tiba istriku kembali berkata, menimpali pertanyaannya sendiri. Kali ini intonasi dan rautnya mengatakan bahwa ia sedang dalam kondisi tak main-main alias serius. “Aku sudah mengambil keputusan pasti. Aku telah bulat akan berhenti dari karir ini, menarik diri dari dunia panggung” Matanya menembus dadaku, menebak-nebak ke mana hatiku akan bergerak setelah mendengar pilihannya itu.

“Ya aku sih setuju saja atas apapun sikap dan keputusan Mama. Dan jujur, akupun sebetulnya senang Mama berhenti jadi aktris, yang berarti waktu buatku jadi lebih banyak.” Aku sela perkataanku sendiri sambil memikirkan sebuah jawaban arif biar terkesan lebih kharismatik di depannya. “Tapi apa Mama tidak sayang dengan pengorbanan Mama selamai ini hingga akhirnya bisa menjadi seperti ini? Aku senang atas besarnya kepedulian Mama terhadapku dan keluarga. Tapi aku juga sedih kalau Mama terlalu mengorbankan diri Mama sendiri. Gak fair!”

Tepat di kata terakhir itu, ia meletakkan telunjuk lentiknya yang putih di bibirku seraya berkata: “Sudah sayang, jangan teruskan! Menjadi wanita pilihanmu saja kebahagiaanku sudah sangat tercukupi. Sekarang tolong izinkan saya untuk mengabdikan sisa hidupku padamu.” Hening. Poros bumi terasa beralih ke tubuhku. Namun dapat kurasakan jelas hembusan angin surga menerpa hatiku. Menyibakkan segala sesak dan beban. Angin yang berasal dari kata-katanya. Dari istriku.

Rayunya. Terlebih mata bidadarinya yang menyimpan kesucian membuatku tak kuasa berbuat apa-apa. Mengingat akan ambisinya dulu yang meluap terhadap dunia entertain membuatku agak merasa bersalah. Bagaimana mungkin selebriti top diam di rumah dan hanya mengurusi suami?

Namun sekali lagi ia membuatku berdecak. Paham akan isyarat kebimbangan hati suami, dengan cerdas ia meniupkan angin ketenteraman yang sejuk ke dalam hatiku dengan mengatakan bahwa berhentinya ia menjadi pemain sinetron bukan berarti ia akan henti beraktifitas apalagi hidup stagnan. Ia berencana akan mengurusi semua kerjaanku alias menjadi manajer pribadiku. Dengan candanya yang khas ia berseloroh “Aku tentu harus belajar keras biar sukses memanajeri seorang penulis best seller sekaligus blogger star juga pengusaha sukses.” Dalam celotehnya tersirat rasa bangga. Dan itu yang membuatku melayang.

Kembali kuhisap Djarum Black Slimzku.

Selesai dimandikan dan memandikan istri, Nabila Syakieb, kamipun sarapan bersama. Bukan karena sajian masakan restoran mahal yang membuat kami bahagia namun kami melihat bayangan cinta di meja makan. Ponsel berbunyi. Diar, teman yang kupercaya mengurusi usaha sampinganku menelpon. Ia mengatakan ada beberapa hal yang perlu didiskusikan bersamaku. Aku mengiyakan. Janji dengan si “penanggung harap” para penulis haus publikasi, Moamar Emkapun batal. Istriku sedikit menggerutu menghadapai tugas pertamanya yang begitu tak mengenakkan: membatalkan sepihak janji pertemuan, saat penulis lain bersusah payah meminta jadwal bertemu dengan Emka. Akupun tersenyum kecil dalam hati. Sesekali ngerjai istri ah.

Toyota New Camry Black yang pernah menjuarai kontes yang digelar Black Mobil Community membawaku menyusuri jalanan Cihampelas yang cukup padat. Di sebuah perempatan: pertautan antara Jalan Wastu Kencana dan Cihampelas, aku mengarahkan mobilku ke arah kiri untuk tiba di suatu pusat perbelanjaan terkenal di Kota Bandung: Bandng Indah Plaza (BIP). Inilah tempat usaha sampinganku. Sampingan. Karena aku memiliki pekerjaan utama, yaitu menjadi blogger sekaligus penulis novel.

Alhamdulillah, Puji Tuhan, aku berhasil menorehkan prestasi di kedua bidang ini, yaitu memenangkan penghargaan Best Indonesian Blog 2010 dan berbagai penghargaan blog lainnya di dalam dan luar negeri. Sedangkan di bidang menulis kedua novelku masuk International Best Seller dan dua-duanya telah diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa. Dan novelku yang ke dua berhasil mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award dan aku disebut-sebut sebagai sastrawan muda berbakat karena dianggap telah dapat memperluas khasanah sastra Indonesia.

BIP yang telah aku beli dari perusahaan pemiliknya kini telah berubah hampir 100 persen. Mungkin hanya namanya saja yang tak berubah. Sengaja aku mempertahankan nama tersebut karena aku memliliki kenangan khusus dengan “BIP”. Pemiliknya telah berbaik hati mengizinkan aku menggunakan nama tersebut. Di dalamnya kini hanya terdapat produk lokal, hasil dalam negeri. Mulai dari makanan khas berbagai daerah di Indonesia, butik-butik dengan brand local, aneka kerajinan tangan hasil kreativitas orang Indonesia, dan berbagai produk dalam negeri lainnya. Dengan cukup tak terduga, ternyata antusiasme masyarakat sangatlah baik. BIP tetap ramai pengunjung walau di dalamnya tak ditemui sama sekali produk asing. Tapi sebaliknya, warga asinglah yang kini banyak ditemui.

Aku dan Diar bertemu di salah satu Food Counter yang menyajikan makanan khas Sunda. Tempat tersebut berada di lantai tiga, di salah satu pojok yang tak terlalu ramai. Kami berdiskusi rileks mengenai kemungkinan diskon harga seluruh item bagi para blogger se Indonesia. Ini adalah langkah susulan dalam proyek kampanye “Wajib Ngeblog” setelah sebelumnya secara kontinyu menggelar acara talk show dengan para blogger star Indonesia yang di-presenteri-i oleh beberapa selebritis kelas atas seperti: Dian Sastro, Ariel “Peter Pan” sampai Mulan Jameela dan Dewi Persik. Hal ini dilakukan demi menarik perhatian para pengunjung.

Ketika kami tengah asyik menikmati sajian nasi liwet, tak sengaja kulihat seorang wanita berjalan ke arah tempat kami makan. Dari kejauhan ia terlihat begitu cantik dan seksi. Tubuh kuda Australianya terbalut tank top hitam polos yang membuat lekukan tubuh indahnya mudah dinikmati. Celana jins ketat yang dikenakannya menambah kesan jangkung dan lenjang. Sementara rambut suteranya yang hitam dibiarkannya jatuh terurai dan terlihat bagai riak pantai saat ia berjalan. Sungguh elegan.

Mirip sekali Aura Kasih. Hatiku menebak.

“Aura Kasih!” Aku mendesis, hampir tak percaya dengan apa yang sedang kulihat. Saat itu juga hatiku terasa meledak. Ada perasaan tak bernama yang kini menghujam hatiku. Persasaan yang membuat aku tidak sanggup bertemu dengannya. Saat ini atau kapanpun juga. Ingin sekali aku beralari, menghindar sejauh mungkin dari wanita itu. Dari bayangnya juga bila perlu. Namun kaki terasa kaku. Hati terasa mengambang. Aku hanya bisa duduk pasrah menghadapi apapun yang akan terjadi. Keringat membasahi punggung, membasahi kursi.

“Hai…” Senyumnya merekah bagai bunga menyambut siraman mentari. Kulihat kini matanya jauh lebih berbinar dari saat terakhir aku bertemu dengannya, kira-kira satu tahunan yang lalu. Suaranya kini mengandung lebih banyak energy daripada kali terakhir aku mendengar suaranya di suatu malam, di gagang telpon, saat ia berbicara dengan putus asa: “Please! Aku mohon padamu San. Plihlah aku! Aku takkan mungkin hidup tanpamu!”

“Boleh aku ikut gabung?” Suaranya memecah lamunanku, menyeretku dari sepengal kisah masa lalu.

Dengan gagap dan kaku kupersilakan ia duduk bersama kami. Iapun duduk di kursi yang berseberangan langsung dengan kursi yang kududuki. Kami berhadap-hadapan. Tahu akan sesuatu di antara aku dan dia, temanku Diar cukup tahu diri untuk segera hengkang meninggalkan kami berdua dan sebuah rasa tak bernama. Yang sama-sama kami miliki. Mungkin.

“Apa kabarmu Kasih?” Kucoba menerjang rasa itu dengan sebuah pertanyaan absurd.

Ia tersenyum getir. Yang sekali lagi membuat diri ini semakin merasa bersalah.

“Maafkan aku Kasih. Kamu tahu pasti alasanku.”

“Sudahlah San. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula aku kemari bukan untuk membahas masalah itu. Aku ke sini buat pamit padamu.” Ia menghentikan kata-katanya. Membiarkannya mengambang seperti bunga teratai di atas kolam. Sementara seorang lelaki yang duduk terpekur tepat di hadapannya hanya mendengar, menunggu sabar, seperti sang nabi yang mendengarkan firman Ilahi.

“Seminggu lagi aku akan berangkat ke Prancis.” Ia diam sejenak. Menarik nafas sedalam yang ia bisa dan menghembuskannya panjang.

“Di sini aku tak bisa melupakanmu. Kamu terlihat di mana-mana.” Tak kudengar itu sebagai sindirian.

Sejenak bayanganku melayang ke suatu malam, sekitar sepuluh bulanan yang lalu. Tepatnya satu malam sebelum perhelatan akad nikahku dengan Nabila. Seperti biasa aku selalu melewatkan sisa-sisa malamku dengan menerawangi langit malam dan temaram gemintang. Djarum Black Slimz selalu setia menemani kontemplasi malamku. Malam itu terasa begitu istimewa karena ia adalah malam terakhir aku berstatus lajang tak berpasang.

Saat diri menikmati satu bintang tercerah di malam itu, posnelku berbunyi menandakan ada SMS masuk. Satu pesan dari Aura Kasih: “Silakan kamu lanjutkan pernikahanmu. Di sini aku bersumpah tidak akan menikah sampai mati.” Aku hanya mematung. Mataku terlem di layar ponsel, menatap teks SMS yang terlihat semakin buram memudar. Ketika diri mulai terasa luluh dalam kuasa ancamannya, dalam iba hatiku pada ia yang selalu memelas cinta dariku, ada bisikan ghaib yang terdengar sayup terhantar oleh sepoi angin malam yang dingin. Cinta adalah kebebasan hati. Tak ada paksaan atas nama cinta. Cinta tak pernah berkuasa pada apapun selain cinta.

“Cinta adalah kebebasan hati,” aku mengulangi ilham angin yang baru saja kudengar. Rasa kuat mulai tumbuh dalam hatiku. Akupun mencoba berdamai dengan hati dengan menegaskan bahwa hati hanya bisa dimasuki satu nama. Layaknya jasad yang hanya memiliki satu ruh. Tak mungkin ada Kasih di samping Nabila. Kalaupun benar ia menunaikan janjinya, menyiksa diri dengan kelajangan, itu adalah murni konsekuensi atas cinta yang ditanggungnya. Tak ada hubungannya denganku.

“Maafkan aku San.” Suaranya terdengar lirih memelas.

“Maafkan aku juga Kasih” Dengan tergesa aku menimpali kata-katanya seolah tak ingin membuat luka hatinya menganga lebih lama.

“Doakan juga biar di sana aku dapat pacar” Setengah berbisik, dia tersenyum menggoda. Godaan yang membuatku merasa lepas terbebas dari hantu yang selama ini menghantui diri dan istriku.

“Tapi pasti tak akan ada yang lebih baik dariku.” Aku menggodanya balik. Ia tersenyum renyah dengan sorotan mata yang sama ketika ia mengungkapkan perasaannya di sela break acara talk show: Satu Jam Lebih Dekat Dengan Insanitis 37, dan ia yang jadi penyanyi pengisi acara.

“Aku juga sudah bicara baik-baik dengan Nabila.”

“Kamu bicara dengan istriku? Kapan?” Aku begitu kaget mendengar ucapannya.

“Sudah. Kamu tenang saja. Tadi aku sempat ke rumahmu dan bicara baik-baik dengan Nabila. Ia sangat mengerti sekali bagaimana perasaanku. Malah ia sendiri yang menyarankanku untuk menemuimu di sini.”

Suasana hening. Tak ada lagi penjelasan atau permohonan maaf. Saat itu segalanya terasa jelas dan tuntas.

Bunyi tanda pesan masuk mengusik kesyahduan yang dari tadi menguasai atmosfir meja makan tempat kami duduk. Di layar ponsel tertera tulisan: “Satu Pesan Masuk. My Boo.” Hatiku gelisah, takut istriku menyangkaku “macam-macam”. Tapi aku pasrah atas kemungkinan apapun yang akan terjadi. Apa yang musti kutakuti? Hati berusaha meneguhkan hati.

Kubuka SMS itu dan tertera teks agak panjang di layar: “Tadi Emka telpon katanya ia kebingungan. Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Arswendo dan Dewi Lestari pada rebutan ingin nulis testimoni di novel terbaru Papa. Jadi gimana?? Oh ya, tadi aku cek di Paypal udah ada saldo 10.000 dollar. Kalo sempat cepet cairin Pa.” Aku lega ternyata ketakutanku tak terwujud.

Kuhisap kembali Djarum Black Slimzku. Entah hisapan yang keberapa. Namun di hisapan kali ini tak ada lagi asap. Hanya panas yang dirasakan bibir. Ternyata bara telah membakar filter rokok. Djarum Black Slimzpun habis. Tiba-tiba suatu perubahan ekstrim terjadi pada diriku. Udara yang asalnya terlihat berwarna kini kembali ke asal, tak berkesan. Dan bad mood seperti pulang kembali ke rumah, mengisi hati dan perasaanku. Kenapa kau datang lagi sialan??? Protesku keras dalam hati. Bahkan perubahan telah terjadi di pantantku. Pantatku terasa agak sakit seperti menduduki sesuatu yang keras. Setelah diteliti, ternyata aku duduk di sebuah kursi butut. Baru saja aku akan berteriak pada salah satu karyawan, tiba-tiba ponselku kembali memberi tanda pesan masuk. Dengan cepat kusambar ponsel. Pasti Emka lebih menyetujui GM. Tebakku pasti dalam hati. Hampir saja aku pingsan ketika membaca pesan di layar ponsel: “Office-Admin Head: Lo gak masuk lagi san? Lo bosen ato gmna sih? Udah deh mending kamu resign aja! Kaya ngantor di neneklo aja… “

“Duh Gusti, ternyata semua ini hanya mimpi. Aku masih karyawan perusahaan finance yang tak bermasa depan dengan etos kerja romusha” Aku menjerit histeris bagai penduduk neraka. 


Tapi sesal itu tak berlangsung lama. Saat itu juga aku mendapatkan inspirasi “think black”. Kuputuskan untuk menjadikan khayalan dan imajinasi akibat Djarum Black Slimz itu bukan hanya khayalan belaka, namun cita-cita dan obsesi yang musti teralami. Akupun langsung mengambil satu keputusan paling berani dan revlousioner: keluar dari pekerjaan di kantor finance itu dan fokus ngeblog dengan skala prioritas menang di Djarum Black Blog Competition. Semoga.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 17 Tanggapan... read them below or add one }

ateh75 mengatakan...

Jarum black benar2 membuat orang jadi aneh ya hehehe...kirain beneran Aura kasih mantannya kang Insan..tadinya mau minta disalamin gitu ...hehe.

Artikel panjang lebar yg tak membosankan ...

Indahnya Berbagi mengatakan...

klu backgroundx hitam polos mmg nyaman dimata apalagi dipadu putih harmonis. anaa jg udh punya rancangan template gelap.

sayang tema yg diangkat diikutkn kontes rokok? berapa sih hadiahnya? atau sekedar meramaikn kontes u/belajar optimasi seo? khn masih bnyk kontes lain?

rokok kerusakan yg diakibatknx sgt banyak, tdk diragukan, toh disampul pembungkus rokok jg tertulis gede peringatannya?

karena itulah yang Pengasih mengharamkannya krn Ia tahu yg trbk dan yg mmberi mudhorat bg hambaNya.

insanitis37 mengatakan...

@Ummi; Maksih banyak Ummi. tar saya salamin deh, hehehe
@Indahnya berbagi: Trims banyak Ukhti atas nasihatnya. Bukan optimasi SEO, karena bukan kompetisi SEO. Saya tidak akan memberi justifikasi apapun ttg kebiaan merokok saya.

munir ardi mengatakan...

saya juga tahu atuh kejelekan rokok tapi entah bagaimana tidak bisa berhenti dari kebiasaan buruk yang satu itu ide rasanya tidak keluar bila tidak merokok

alkatro mengatakan...

sepertinya Nusantara adalah surga bagi rokok..
kebetulan ane ga ngerokok; tapi diakui atau tidak rokok penyumbang besar bagi devisa negara.
kalo Aura Kasih dah jadi pasangan Akang.. ane siapa donk .. timur ke barat selatan ke utara.. halah nyanyi lagi he he

Dhana/戴安娜 mengatakan...

salam sahabat
sebuah postingan yang memberikan inspirasi mendalam thnxs n good luck ya

minomino mengatakan...

astaga! hampir saya tertipu...

banguuuun banguuuun :D

masterGOmaster mengatakan...

setelah membaca postingan ini mulutku kok asam ya..apa aku harus merokok dulu ? oke sob makasih ceritanya. salam blogger !

Newsoul mengatakan...

Review mantap sobat. Begitulah kekuatan membangkitkan mood sang black super ya. Mungkin sama kuatnya dengan secangkir kopi saya yang selalu hangat, hehe.

diar mengatakan...

He heh... Edanlah...

Wayoh! tong mawa-mawa ngaran aing dina impenan anjen. Tetapi, bae ketang mun dina impenan eta nasib abdi jeneng. Diuber-uber ku artis. he heh...

SeNjA mengatakan...

salut dengan semangat ngeblognya,...

ternyata beneran nih,nama diar disebut...hehe,ternyata ketuker nama waktu kasih koemntr di blogku karena belum log out itu beneran y ? hihihi...

Wisata Pekanbaru Riau mengatakan...

aku datang sobt...
met berakhir pekan... :d

Rkeyla mengatakan...

wkwkwkwk ternyata hanya khayalan to kirain beneran
Ternyata asap rokok bisa menimbulkan berbagai inspirasi dan khayalan yach.....
Tapi perlu diingat kawand klo menghayal jgn tinggi2 nti klo jatuh bisa sakit semua tu badan, untung aja qm yang sakit cm pantat doank hehehe

Rosi aja mengatakan...

itulah alasannya sy stay away dari asap rokok supaya ngga ngayal yg jaoh2 hehe. anyway nice posting 4 competission right?

yanuar catur rastafara mengatakan...

eperiting is black parade..hehee
si aura juga ikut nih..
hahaha

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met siang aja deh.

Astaga.com Lifestyle on the net mengatakan...

mantap juga nih ceritanya sukses yah Astaga.com lifestyle on the net

nowgoogle.com Multiple Search Engine

Aku Cuma Seorang Blogger Yang Cinta Seo

Aku Cuma Seorang Blogger Yang Cinta Seo

Posting Komentar