DARI TA’ARUF SAMPAI SELAMAT NATAL



 SELAMAT HARI NATAL 
DAN TAHUN BARU
SEMOGA DAMAI SENANTIASA TERWUJUD 
DI BUMI DAN DI HATI

Sebenarnya ini adalah tulisan saya sekira empat tahunan yang lalu. Namun saya pikir tulisan ini masih relevan sampai sekarang karena keabsahan umat muslim mengucap selamat hari raya pada pemeluk agama lain masih banyak diragukan dan dituduh sebagai bentuk pelemahan akidah. Tulisan ini merupakan hasil ittiba saya kepada beberapa ahli yang cukup otoritatif terhadap kajian Islam. Dengan tulisan ini saya hanya mengekspresikan pedapat pribadi saja, tanpa mengandung tendensi apapun. Apalagi mengajak orang lain untuk mengikuti pandangan dan pemahaman saya.   
DARI TA’ARUF SAMPAI SELAMAT NATAL   
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu berbagsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha Mengenal.

Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa ternyata keragaman adalah suatu keniscayaan atau kehendak Illahi. Allah menghendaki keragaman dan menolak ketunggalan (monolitik). Secara eksplisit, Allah mengatakan misi dari keadaan ini (keragaman) adalah agar setiap orang, setiap umat, setiap suku, dan setiap bangsa agar saling mengenal satu sama lain sehingga tali persaudaraan dan ikatan sosial lebih dapat terjalin dengan erat.

Dalam ayat di atas, Quran mempergunakan kata "ta'arafu" yang kemudian melahirkan istilah lain dalam bahasa Arab, ta'aruf. Ta'aruf, jika kita lihat dari sudut pandang kebahasaan, berasal dari kata kerja "ta'arafa" yang mengikuti pola "tafa'ala". Pola ini biasanya mengandung makna "resiprokalitas". Kata kerja "ta'arafa" bukan sekedar bermakna "mengetahui" atau "mengenal" yang dilakukan oleh satu pihak, tetapi dua belah pihak. Sehingga arti yang tepat untuk kata itu adalah "saling ingin mengetahui dan mengenal". Dalam kata "ta'aruf" ada suatu tindakan resiprokal dari dua belah pihak yang saling hendak mengetahui yang lain. Ta'aruf bukan indifferentisme. Ta'aruf adalah inisiatif aktif dari beberapa pihak untuk saling mengenal, dan tidak membiarkan, cuek, tak mau tahu tentang yang lain.[1]

Dalam kaitannya dengan sesama umat Muslim, maksud dari ber ta’aruf atau saling mengenal ini tentu saja dapat dengan mudah direalisasikan tanpa adanya suatu hambatan. Tetapi tatakala konsep Quran mengenai “perkenalan” ini akan direalisasikan dalam skala yang lebih jauh lagi-- lintas iman, misalkan—terjadi suatu kendala yang dirasakan esensial bagi orang-orang tertentu. Kendala itu adalah masih adanya ketakutan mengkotori aqidah seorang Muslim atau dapat mengantarkan pada pengkaburan akidah.

Benarkah apabila seorang Muslim mengenal orang-orang Kristiani dapat mengkaburkan atau bahkan dapat mengkotori akidahnya? Walaupun itu hanya dalam konteks mu’amallah? Pertanyaan lebih spesifiknya lagi adalah : haramkah seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristiani, demi menjaga kerukunan?

Natal adalah perayaan bagi lahirnya Isa a.s (Yesus dalam versi Kristen), salah satu dari 25 nabi yang wajib di ketahui oleh umat Islam, selain Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Kedua-duanya merupakan manusia spesial, utusan Allah yang membawa berkah di muka bumi. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (Natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir'aun dengan berpuasa 'Asyura, seraya bersabda, "Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.. Juga, bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya?"[2]

Moment hari kelahiran Isa a.s ini Allah abadikan dalam Quran surah Maryam ayat 34, dan salam terhadap nabi Isa terekam dalam ayat 33 nya,
 


Artinya: Dan kesejahteraan semoga dianugerahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pda hari aku dibangkitkan lagi.

Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s.[3]

Perayaan hari raya, seperti halnya hari raya umat Islam, tidak saja hanya berisi aspek ritual saja, namun terdapat juga aspek sosial. Contohnya adalah shalat Ied tatkala hari raya Idul Fitri, ini adalah salah satu aspek ritual. Sedangkan perayaan-perayaan lebaran yang dilakukan berbeda-beda setiap tempat—seperti sungkeman, bersalam-salaman, mudik, dan saling menukar ucapan selamat Lebaran—merupakan salah satu contoh aspek sosial dalam Idul Fitri.

Dalam aspek yang pertama (ritual), orang non Muslim tentu saja tidak berhak untuk mengikutinya karena hal itu adalah aktivitas eksklusif bagi penganut Islam saja. Sedangkan dalam aspek sosial yang atmosfir keceriannya terasa bukan saja oleh umat Muslim saja, umat non Muslimpun tidak menjadi masalah kalau mereka ikut ambil bagian dalam keceriaan ini, seperti mengucapkan selamat Lebaran, ikut saling maaf–memaafkan atau sekedar makan ketupat bersama-sama. Karena aspek sosial ini bukan ekslusif untuk umat Muslim saja, tetapi aspek sosial ini lebih berkarakter mu’amallah. Dan dalam hal mu’amallah atau interaksi ini, Islam sangatlah insklusif, seperti tercermin dalam Surah Al-Maidah ayat 5.

Maka, ucapan selamat Natal itu masuk ke dalam aspek yang mana? Aspek sosial ataukah aspek ritual? Kalau menurut Penuls, jawabannya adalah aspek sosial, sama halnya dengan ucapan lebaran atau saling bersalam-salaman pada saat Hari Raya Idul Fitri,. Konsekwensinya adalah umat Muslim yang mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen itu adalah tidak terlarang. Kalau ikut dalam aspek ritualnya, baru itu yang terlarang.

Bagaimana dengan ketakutan-ketakutan adanya pengkaburan aqidah karena Isa Almasih itu dipahami dan dipandang sangat berbeda oleh umat Kristen? Jadi, seakan-akan kalau kita mengucapkan selamat Natal berarti kita telah menyetujui pandangan orang-orang Kristen terhadap Isa Al-Masih yang nyata-nyata berbeda dengan persepsi Islam.

Penulis jawab, ketakutan itu tidak beralasan. Karena dengan kita mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen, tidak berarti kita menyetujui pandangan mereka terhadap Isa Al-Masih. Kita berbicara selamat Natal, hanya merupakan bentuk interaksi sosial saja. Seperti Nabi Muhammad yang berdiri memberikan penghormatan tatkala ada rombongan yang menghantarkan jenazah seorang kafir. Apakah dengan nabi berdiri ikut memberikan penghormatan, berarti beliau ikut serta mengiyakan kekafiran orang tersebut? Kita pahami sikap Nabi itu sebagai bentuk interaksi sosial saja.

Namaun, kalau saja masih ada ketakutan, di Sini Penulis cantumkan argumen dari Prof. Dr. Quraish Shihab,

“Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non-Muslim memahami ucapan "Selamat Natal" sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka interaksi sosial.”

Selain itu, problem lain dalam hal ini adalah anggapan bahwa hal itu termasuk kategori "man tasyabbaha bi qaumin fa huwa minhum" (barangsiapa meniru suatu kelompok, maka ia sama dengan mereka). Menurut hemat Penulis, pandangan ini jangan terlalu mudah untuk digeneralisasikan terhadap semua masalah, karena kita bukanlah alien, yang terasing dari “dunia luar”. Kadang kita perlu—bahkan wajib—meniru ilmu dari bangsa lain, seperti yang dilakukan oleh para sarjana Islam masa lampau yang menimba ilmu sampai ke negeri Yunani, Persia, dan bangsa-bangsa lain. Apa kita salah meniru bangsa lain yang pencapaian-pencapaian teknologinya sudah lebih canggih daripada bangsa kita? Oleh agama, kita dilarang meniru atau mengikuti itu dalam hal-hal yang negatif, seperti Allah melarang membunuh anak-anak perempuan yang dulu sering dipraktekan oleh kaum jahiliyah.

Terakhir, momoent hari raya ini dapat kita jadikan sebagai ajang ta’aruf, saling mengenal dalam artian perkenalan yang harmonis, pro-eksistensi, bukan "ta'ayusy" dan "takhashum". Ta'ayusy pada dasarnya adalah sejenis indifferentisme atau hidup berdampingan tanpa memperdulikan yang lain. Takhashum adalah hidup berdampingan dengan cara bermusuhan. Kedua sikap itu tidak sesuai dengan etika Qur'ani.[4] Dengan saling ber ta’aruf antar sesama umat, sesama manusia, mudah-mudahan kita lebih dapat memperlihatkan Islam yang damai, Islam yang santun, Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

(Dari berbagai sumber. Dapat di lihat di antaranya di: islamlib.com dan Serambi Online).





Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 23 Tanggapan... read them below or add one }

ateh75 mengatakan...

Jawaban yang selama ini kita cari ,tentang ucapan selamat kepada agama lain.Mungkin semua tergantung niat.Seperti sekarang kita niatkan dari aspek sosial saja .Yang terpenting ta'aruf antar agama terjaga.

Nice share kang Insan..haturnuhun.

achmad edi goenawan mengatakan...

Ada dua pendapat.. dan kita wajib menghormatinya!

insanitis37 mengatakan...

@Ummi Ateh: sami-sami Ummi..oga bermanfaat
@Mas Achmad: sepakat mas! saling menghormati dan mengapresiasi, tentu saja.

ohim mengatakan...

salig menghormati antar umat beragama hal yang perlu di jaga, namun masalah mengucapkan selamat natal tergantung pribadi...

AmruSite mengatakan...

Menghargai dan menghormati antar umat beragama adalah anjuran/harus bagi setiap muslim..
Mudah2an dengan hal seperti itu kita bisa membedakan batas2nya sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadits..
Terimakasih infonya mas, sangat bermanfaat..

NURA mengatakan...

salam sobat
iya benar kita saling menghormati dan menghargai sesama umat beragama.
trims informasinya.

7 taman langiit mengatakan...

salam sejahtera
benar tuch
kita harus saling menghormati antar umat beragama
salam sejahtera

helmi taman langit mengatakan...

salam sejahtera
salam kenal aza dech

minomino mengatakan...

saya cukup setuju ketika menyangkut aspek sosial. ketika kita hidup di tengah-tengah perbedaan, mungkin pilihannya hanya 3.tidak peduli, menganggapnya suatu ancaman, atau menganggapnya sebagai kekayaan. saya memilih yg ke-3, krn Tuhan toh tidak menciptakan manusia untuk saling memusuhi....
untuk ucapan, tergantung niat pribadi :)
nice post

annie mengatakan...

perbedaan adalah rahmat, begitu kan?
Maka yang terbaik adalah saling menghormati ... Tulisan mantap, Kang.

alkatro mengatakan...

lakum diinukum waliadiin...
addiin= ane tafsirin 'keyakinan' bukan hanya agama; karena satu agama kadang keyakinan menafsiri ayat beda-beda juga kan akang..

ayam saja ane hormatin krn bangunnya selalu lebih pg dari ane..
apalagi sesama manusia yang notabene adalah keturunan nabi (Nabi Adam maksudnya) he he

Admin mengatakan...

wah sekali lagi anda menempatkan dalil bukan pada tempatnya? 'afwan baiknya antum buka tafsir dl sblm mengutip ayat dan merangkainya dgn moment2 tertentu!

menjaga kerukunan tdk harus mengorbankan aqidah.

apa al-qur'an membenarkan nabi Isa alaihissalam lahir bulan desember saat musim dingin atau salju? apa al-qur'an membenarkn nabi mulia kita mati ditiang salib?

bedakan antara ihsan dan wala dengan org kafir!

insanitis37 mengatakan...

@Admin: Afwan, saya hanya ittiba pada beberapa ulama yg cukup otoritatif. Saya pikir jumhur ulama di Indonesia mengakui kapasitas dan integritas dari Prof. DR. Quraish Shihab. Bila Antum bertanya kembali: bila tak tahu tapi kenapa berani2nya mempublikasikan satu produk itjihad? Saya tegaskan, maksud tulisan ini hanya sebagai bentuk ekspresi cara keberagamaan saya. Sama sekali tidak bermaksud khutbah.
Saya juga ada koreksi untuk Antum. Bagaimana bila dipertimbangkan kembali kata "mengorbankan akidah"? Karena melihat dari konteks kalimat Antum, itu bukan sebagai bentuk amar makruf, namun lebih pada teror kata-kata. Menakut-nakuti pendapat yang liyan dengan stigma-stigma agama. Diskusi yang rasional tentu saja akan jauh lebih konstruktif daripada perbincangan emosional. Maaf ya sobat. Beda pendapat kan biasa, hehehe
Rileks aja ya, hehe

Admin mengatakan...

'afwan anaa hanya berbagi ilmu yg sedikit yg udah anaa pelajari.

setahu anaa MUI jg mengharamkan ucapan selamat natal (Sejak masa Ulama Indonesia Buya Hamka Rahimahullah) entah klu skrg dah berubah? kami kenal Prof. DR. Quraish Shihab.

'afwan kalau anaa kurang pandai merangkai kata sehingga dipahami keliru olh antum (bukan amar ma'ruf dan teror kata2 apalagi emosi?)!!!

Allahlah yg menilai niat anaa!
Semoga kita senantiasa diberi hidayah oleh Allah, merelalisasikan seluruh dalil sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan RasulNya dengan jejak salaful ummah.

wassalamun'alaik

insanitis37 mengatakan...

Oh ini Ukhti ya...
Afwan, Ana juga tidak apa2 ko. Trims malah ukhti sudah berbagi ilmu dgn ana dan teman2 yg walking ke sini. Ana juga yakin sekali bila seluruh sanggahan ukhti ini bukan sesuatu yg asal. Namun berlandaskan ilmu yang bersumber dari teks2 agama.
Walau begitu, bukan berarti pendapat ana juga tidak memiliki justifikasi agama. insya Allah saya yakin pendapat Ana memiliki rujukan yg jelas. Bukan hanya landasan teks, namun tradisi Islam dan pertimbangan sosial saat ini.
Saya tidak tahu mana di antara pendapat kita yang paling dikehendaki Allah...karena itu lebih baik kita kembalikan pada Allah dan RasulNya (bukan pada Quran dan Hadits) karena jelas beda antara Allah dan Quran. Jelas beda antara Rasul yang suci dgn mushaf yang hadir setelah 200 tahun wafatnya Beliau.
Artinya adalah: kelak. Nanti. Dan kita di sini,saat ini, harus berani dan sabar menangguhkannya.
AFwan bila kepanjangan. Terima kasih banyak ya ukhti telah sudi meluangakn waktu berdiskusi dgn ana yg bodoh ini...jazakumullohu
Sering2 mampir ya, hehehe:-)

Admin mengatakan...

susah klu ternyata antum meragukan al-qur'an yg Allah telah jamin penjagaanNya? kembali pd al-qur'an berarti kmbali pd Allah.

klu menurut antum kembali pada Allah seperti apa?

dan aneh antum masih jg memakai bbrpa dari ayat al-qur'an wlu...?

dan anaa mengerti rupax antum mengangkat sbgn pemahaman liberal.

smg Allah mmberikn hidayah pada kita. Amiin

@cicin mengatakan...

Wah saya ga ikutan soal gini mah, takut salah. Maklum manusia bodoh sayah mah....
Tapi artikelnya bagus banget. Terima kasih bung Insan!

insanitis37 mengatakan...

@ADmin: ini bukan saya yg bilang ya (hehe) tp Ust. Achmad Chodjim: "Kita tahu mana Tuhan dan yang bukan Tuhan. Menyamakan Tuhan dengan al-Quran adalah bentuk kemusyrikan. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Segalanya dapat disamakan dengan teks al-Quran."
Kembali kepada Allah adalah kembali kepada Kebenaran. karena kita terbatas oleh kemakhlukan kita maka kita tak mampu mengakses kebenaran Hakiki. Keberanar hakiki hanya diketahui oleh Dia Yang Maha Kuasa. kita hanya membaca dan memahami tanda-tandaNya. Adapaun tafsir kebenaran yang kita dapatkan itu adalah relatif!! walaupun bersumber dari kitab suci. Karena kitab suci tetap dibaca, diterjemahkan, dan akhirnya di pahami. Oleh siapa??yan tentu saja oleh kita, manusia. Makhluk yg dhoif yang haram mendaku kebenaran dan menyalahkan yang liyan. Biarlah kelak Allah yg memutsukan sengketa di antara hambanya...

Admin mengatakan...

yang nyamakan qur'an dgn Allah siapa?

kembali kepada Allah berarti kembali pada kebenaran? memang betul terus tolak ukur kebenaran antum apa dong?

bukan al-qur'an, sunnah tdk jg ulama yg betul memahami agama? mk jelas kita tdk akn menemukn titik temu.

kita tdk beriman sampai hawa nafsu kita tunduk pada apa yang dibawa oleh rasulullah.

diar mengatakan...

Artikel yang bagus kawan. Menyejukkan.

Hidup semangat kedamaian antar umat beragama. he heh...

SeNjA mengatakan...

ternyata,mas insan ini bertetangga dengan diar sang pujangga y ?? ^_^

Newsoul mengatakan...

Hm, mantap neh diskusinya mas Insan. Bagi saya pribadi Allah SWT itu Maha Bijaksana dan Maha Luas. Dia menginginkan umatNya untuk mengenjawantahkan kasih sayangNya secara bijaksana. Ucapan atas perayaan kelahiran Nabi Isa AS, kenapa tidak.

Nurul Hikmah mengatakan...

Seru banget diskusinya. ternyata islam itu bisa di liat dari berbagai sudut, ada yang liberal ada yang fundamental, ada yang moderat, dll. kalau saya mah begini-begini saja.

Posting Komentar