Darah Suci Itu Tumpah Di Padang Duka Karbala


Lihat dan perhatikanlah warga muslim kini, khususnya muslim Indonesia. Kemerdekaan dalam genggaman. Kebebasan bukan lagi mimpi indah nun jauh di langit, namun tengah teralami di bumi. Jangankan hanya untuk menyampaikan pendapat dan berafiliasi, bahkan para pejabat tinggipun ditunjuk dan didakwa. Ini terlihat mudah, terkesan hanya mengandalkan "kepintaran" dan sedikit keberanian. 

Namun tahukah wahai saudara. Dulu, beberapa abad yang lampau. Tepatnya ketika penguasa lalim dari Bani Ummayyah-Yazid bin Muawiyyah-berkuasa, memegang tampuk kekuasan. Kebebasan dan kemerdekaan benar-benar telah dinistakan, direnggut dari manusia dan kehidupan. Dan puncaknya adalah tanggal 10 Muharram. Di Padang Karbala. Al Husain, cucu
tercinta Baginda Rasul Saw, putera dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib Kw, tertumpah darahnya dan terpenggal kepalanya yang suci. Inilah drama paling menyakitkan. Bukan hanya bagi kita yang muslim, namun bagi rasa kemanusiaan.

Kita. Di sini. Saat ini. Tentu harus bersyukur atas udara kemerdekaan yang dengan lega dapat kita hirup. Namun kita juga harus selalu ingat, seperti mengingat hari Asyuro, bahwa ancaman dari penguasa lalim akan selalu ada. Selamanya potensial  merongrong kemerdekaan dan kebebasan kita. 


Membincang "penguasa" tentu saja tidak terbatas pada pemerintah legal-formal. Ada juga para penguasa "kultural" yang tidak memiliki jabatan pemerintahan namun ia memiliki kekuasaan tertentu terhadap suatu golongan atau komunitas. Tidak  dikuatkan oleh undang-undang, tapi dengan: masa, uang, otot, dan politik. Dan agama merupakan salah satu objek yang cukup rentan untuk dipolitisasi.


Lihatlah fatwa-fatwa sepihak yang diterbitkan oleh orang atau lembaga yang memiliki kekuasan kultural dalam komunitas muslim. Bukan hanya fatwa terhadap suatu aliran atau ajaran, bahkan individupun mereka fatwai (ingat ketika tokoh muda NU, Ulil Abshar Abdalla difatwa mati oleh salah satu ulama dari Bandung). Bagi saya itupun merupakan bentuk "tangan besi" penguasa yang mengancam kemerdekaan dan rasa keadilan. Fatwa-fatwa tersebut lebih sebagai alat pemberangusan mereka yang beda. Bukan sebagai sarana pemberian kepastian dan problem soulving.


Belum lagi beberapa ormas "keras" yang memiliki kekuatan multi dimensi: masa, uang, dan politik. Dengan "kekuasaannya" mereka melakukan teror. Bukan hanya dalam tataran ide namun telah mengancam keselamatan fisik dan materi. Mereka hantam siapa saja yang menurut pemahaman pribadinya salah dan menyimpang. Ruang bagi kebenaran-kebenaran yang lain mereka tutup rapat. Mereka sama sekali tak mengindahkan hukum dan aturan. Tanpa dalil dan hujah apapun, kita dengan mudah dapat mengatakan bahwa teror-teror semacam itu adalah bentuk kelalian karena ia merenggut hak-hak kita sebagai warga negara.

Lalu hikmah apa yang dapat kita ambil dari tragedi kemanusiaan Karbala ini?  Menurut saya, hikmah yang paling terang dari peristiwa tersebut adalah: perlawanan. Perlawanan terhadap para penguasa atau siapapun yang hendak merenggut hak-hak dan kebebasan kita.  Melawan siapapaun yang menegakkan pemerintahan korup dan sistem yang zalim. Namun perlawanan juga tidak dapat berdiri sendiri. Ia lebih kepada akibat. Yaitu akibat dari sebuah keberanian. Keberanian untuk melawan dengan berbagai kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi. Keberanian untuk mengorbankan diri dan segalanya.


Al-Husain, cucu Sang Nabi merupakan prototipe manusia pengorban yang sempurna. Kehormatannya, keluarganya, bahkan kepalanya Beliau relakan demi tegaknya kebenaran dan keadilan. Demi runtuhnya otoritas yang zalim.

Assalâmu ‘alal Husayn wa ‘alâ Aliyibnil Husayn wa ‘alâ awlâdil Husayn wa ‘alâ ashhâbil Husayn. Salam pada Al-Husein, salam pada Ali bin Husein, salam pada semua putera Al-Husein, dan salam pada semua sahabat Al-Husein. 

Gambar diambil dari sini














Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 19 Tanggapan... read them below or add one }

annie mengatakan...

Assalamu'alaikum ...
Subhanallah, Kang, bertambah lagi warna-warni pemahaman saya disini. Ini melengkapi sisi hikmah yang masih kosong di bilik hati. Terimakasih telah berbagi

lee mengatakan...

Menarik sekali tulisannya,kang.Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua tentang pengorbanan,kekuasaan,nafsu dan kemerdekaan.

Munir Ardi mengatakan...

SubhanaAllahu semakin miris hati saya membacanya kang setelah membaca di blog Setiawan

setiakasih mengatakan...

Salam...
Postingnya menarik. Info yang menyedarkan minda yang selalu jarang berfikir hal-hal sebegini.
Karbala membawa banyak hikmah.. namun, melukakan diri itu bukankah menzalimi diri sendiri?
Ya mungkin juga aku bukan pro-syiah.
cumanya, aku sedih melihat mereka begitu...
-melukakan diri.

AmruSite mengatakan...

Subhanallah..
terimakasih infonya mas, sangat bermanfaat dan sebagau bahan introspeksi diri..
Teriamaksih,

Aditya's Blogsphere mengatakan...

pemandangan yang teramat menyeramkan namun membuat q merindukan sesuatu.......hebat bang.....

insanitis37 mengatakan...

@All: terima kasih atas apresiasinya...Setiap Waktu ADdalah Asuro. Setiap Tempat adalah Karbala...

Newsoul mengatakan...

Tragedi Padang Karballa memberi pelajaran berharga pada kita semua, meski mahal harganya. Postingan mantap msobat.

NURA mengatakan...

salam sobat
sungguh ngeri ya ,,tragedi padang karbala..
bisa diambil hikmahnya,,dan buat pelajaran .

Kang Sugeng mengatakan...

Komen saya selalu sama, saya merasa merinding setiap baca artikel tntng hal ini.
di tmpt Bang Setiawan, di tmpt Mbak Anie dan skrg disini.


Btw, makasieh kunjungannya.

Mobile Blogging Tutorial

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Kemarin sempat saya posting tentang tragedi Padang karbela ini.... tapi nampaknya postingan ini lebih menambah wawasan saya.
terima kasih...

munir ardi mengatakan...

masih tetap menharubirukan hati kang meski sudah dua kali membacanya

vestorra mengatakan...

hiks-hiks

AmruSite mengatakan...

Numpang nyari backlink mas... hihii
Bolehkan??

irmasenja mengatakan...

hari ini aku membaca kisah ini di dua blog yg berbeda,berbeda juga tulisannya tapi satu tema,dgn ciri khas masing2...dan subhanallah,mengisi kekosongn pengetahuan saya tentang kisah luar biasa ini.

ternyata masih sangat dangkal sekali ilmu pengetahuan saya tentang islam *_*

nuansa pena mengatakan...

Subhanallah, tambah miris disini! sudah 4 tempat kubaca!

Rkeyla mengatakan...

Nice post kawand
penuh dengan makna
tapi picnya ngeri bgt hehehe

~*Bintang-Narondang*~ mengatakan...

Jalan-jalan dimalam hari mengunjungi sahabat yang telah mampir, sambil menghangatkan badan, met liburan yaa....
Komenku cuma , ngerii yaa...

diar mengatakan...

Terima kasih Kang Isan telah memberi pengetahuan yang bermanfaat bagi kami, khususnya aku. he heh...

Posting Komentar