Gus Dur


Bismillah...
Kepergian Gus Dur begitu menyakitkan kita semua. Bukan hanya dirasakan oleh warga nahdliyyin atau umat muslim Indonesia tetapi semua masyarakat di nusantara bersedih pilu atas mangkatnya pejuang kemanusiaan ini. Bahkan kemarin, pukul 18.45 WIB, saya sempat mendengar angin menjerit keras seperti menahan sakit yang teramat dalam. Air histeris meratap, sementara langit berteriak kencang. Sampai tadi pagi, kudengar kokok ayam tak seperti biasanya. Sayatan hati yang pedih tergambar jelas dalam suara paraunya. Semua berduka. Semua meratap.

Ingin sekali saya menulis tentang Beliau. Tentang jasa-jasanya... Ah tidak. Aku urung. Terlalu sempit halaman posting ini untuk menceritakan jasa beliau pada bangsa dan manusia, terlebih jasanya pada kaum minoritas dan terpinggir. Tentang pemikirannya, mungkin?...Aku kembali emoh. Mustahil rasanya pikiran dan pemahaman manusia biasa seperti saya menganalisa "peta" pemeikiran Beliau yang teramat kompleks dan maha canggih. Pasti tentang ciri khasnya, jokes

Nama

Nama adalah penanda. Ia hadir agar sesuatu bisa dikenali. Keberadaannya menjadi suatu keniscayaan bagi setiap keberadaan karena ia dibentuk sedemikian rupa sehingga akhirnya dianggap dapat memenuhi dan menjadi representasi dari segala unsur suatu keberadaan. Tak perlu kita berbicara panjang lebar--rokok berwarna hitam dengan tubuh yang memiliki lingkaran kecil dan agak panjang; menimbulkan sensasi di mulut yang sulit dikatakan saat rokok itu dihisap; saat ini sedang intens dalam “proyek bareng” dengan beberapa komunitas hobbies sebagi media promosinya. Di bidang otomotif (mobil dan motor) digelar berbagai event, seperti Djarum Black Slimznation, Djarum Black Motodify, Djarum Black Night Slalom, Autoblackthrough, Autoblackthrough goes to campus…--hanya untuk menyebutkan rokok Djarum Black. Bukan hanya ngawur, bahkan komunikasi pun akan tiada bila tak ada nama.

Nama juga memiliki sisi lainnya. Ia tak hanya memiliki fungsi “lahiriah”, namun ia juga mengandung sisi “batin” yang begitu kompleks yang menampung berbagai kesadaran

Manakiban dan Penjelasan Sederhana Atasnya


Setiap tanggal 11 berdasarkan penanggalan kalender hijriah ada sesuatu yang teramat istimewa bagi seluruh pengamal thoriqoh (takrekat) Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya. Di tanggal itulah ritual pembacaan manaqobah-yang biasa disebut dengan acara Manakiban-Sulthon Auliya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, digelar. Bukan hanya jamaah atau ikhwan dari Indonesia saja yang menghadiri acara agung tersebut. Bahkan, dari luar negeri pun berduyun datang demi mengalap berkah dari pemiliki manaqib.


Manaqib itu sendiri adalah bentuk jamak dari mufrod manqobah, yang di antara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang. Dan dalam konteks amaliyah Manakiban thoriqoh (takrekat) Qoodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya adalah manakib atau kisah bajiknya Sulthon Auliya Syekh Abdul Qoodir Al-Jailani.


Alhamdulillah, pada bulan yang lalu saya ditakdirkan oleh Allah, melalui berkah-karomah

Darah Suci Itu Tumpah Di Padang Duka Karbala


Lihat dan perhatikanlah warga muslim kini, khususnya muslim Indonesia. Kemerdekaan dalam genggaman. Kebebasan bukan lagi mimpi indah nun jauh di langit, namun tengah teralami di bumi. Jangankan hanya untuk menyampaikan pendapat dan berafiliasi, bahkan para pejabat tinggipun ditunjuk dan didakwa. Ini terlihat mudah, terkesan hanya mengandalkan "kepintaran" dan sedikit keberanian. 

Namun tahukah wahai saudara. Dulu, beberapa abad yang lampau. Tepatnya ketika penguasa lalim dari Bani Ummayyah-Yazid bin Muawiyyah-berkuasa, memegang tampuk kekuasan. Kebebasan dan kemerdekaan benar-benar telah dinistakan, direnggut dari manusia dan kehidupan. Dan puncaknya adalah tanggal 10 Muharram. Di Padang Karbala. Al Husain, cucu

Di Suatu Pagi

Pagi hari. Masih matahari yang itu-itu juga. Terbit di tempat yang itu-itu juga. Sambutan hati atas kelahirannyapun masih yang itu-itu juga. Malas. Bosan. Jenuh. Semua berkelindan dalam diri hingga akhirnya membentuk suatu perasaan yang kerap mereka bilang: bad mood. Pagi bad mood. Matahari bad mood. Hati bad mood. Kehidupan benar-benar diawali dengan bad mood. Bad moodpun menjadi hidup itu sendiri. Perkenalkan, namaku badmod, hatiku berseloroh satire.

 Gontai kuberanjak ke halaman belakang. Kujatuhkan tubuh konyol ini di kursi rotan yang pasti akan tersinggung bila disebut “kursi bagus”. Seperti biasa, ia menerimaku apa adanya. Menyambut semua sisiku tanpa kecuali. Kuambil sebatang Djarum Black Slimz yang tak memiliki satupun saingan di “rumahnya”. Akhirnya… kudengar ia berlirih lega setelah penantiannya selama ini berakhir. Kubakar ia tanpa ampun, tak berbelas. Walau kusadar hatiku menaruh harap berlebih padanya. Berharap dapat mengasapi bad mood hingga akhirnya tak terlihat?


Di hirupan pertama kutemukan satu kemungkinan yang selama ini senantiasa terlupa, tak pernah hadir di setiap pagi: mungkin hari ini gak bakalan bad mood. Asappun kembali

DARI TA’ARUF SAMPAI SELAMAT NATAL



 SELAMAT HARI NATAL 
DAN TAHUN BARU
SEMOGA DAMAI SENANTIASA TERWUJUD 
DI BUMI DAN DI HATI

Sebenarnya ini adalah tulisan saya sekira empat tahunan yang lalu. Namun saya pikir tulisan ini masih relevan sampai sekarang karena keabsahan umat muslim mengucap selamat hari raya pada pemeluk agama lain masih banyak diragukan dan dituduh sebagai bentuk pelemahan akidah. Tulisan ini merupakan hasil ittiba saya kepada beberapa ahli yang cukup otoritatif terhadap kajian Islam. Dengan tulisan ini saya hanya mengekspresikan pedapat pribadi saja, tanpa mengandung tendensi apapun. Apalagi mengajak orang lain untuk mengikuti pandangan dan pemahaman saya.   
DARI TA’ARUF SAMPAI SELAMAT NATAL   
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu berbagsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha Mengenal.

Ini Budi

Ini Budi.
Ini bapak Budi.
Ini ibu Budi.
Budipun beranjak dewasa. Ia kuliah fakultas hukum dan lulus IPK cumlaude.
Dan kini Budi sukses. Menjadi hakim. Namun ia tetap tak meninggalkan kebiasaannya sewaktu kecil: meng-eja.
Ini Budi = Ini hakim
Ini bapak Budi = Keluar Bui
Ini bukan bapak Budi
Ini bukan ibu Budi

Makna Kebebasan Dalam Islam

Selamat tahun baru hijriah. Selamat berhijrah, semoga kita bertambah cerah.
Islam (sebagai agama), dalam perjalanannya banyak sekali menampakkan wajah. Ia tak hadir hanya dalam satu rupa, namun dalam beragam wujud. Atau mungkin para penafsirnyalah yang memiliki banyak kaca mata dalam melihat dan memperlakukan "Islam"? Satu waktu ia dapat menjadi pendorong revolusi bagi warga kelas dua dalam mendapatkan keadilannya kembali. Namun kita juga tahu--bahkan mungkin mengalami--Islam pernah dijadikan legitimasi oleh pihak-pihak tertentu dalam memberangus kebebasan manusia. Islam pernah dijadikan belenggu bagi kebebasan berkespresi. Islam pernah dijadikan plester demi membungkan mereka yang menyampaikan pendapat. Islam pernah dijadikan peluru dalam membunuhi kreatifitas para pelaku seni. Fenomena-fenomena "perenggutan" semacam ini selalu mengantar kita pada sebuah pertanyaan: Bagaimana Islam Memandang Kebebasan?

Motivasi saya mengangkat tema kebebasan dalam tulisan kali ini karena masih banyak sekali orang yang menganggap atau memahami kebebasan itu secara dangkal. Banyak orang yang

Pelesir Spiritual

Ada yang tak biasa pada Idul Adha 1430 Hijriah yang baru saja kita rayakan bersama. Idul Adha begitu istimewa karena ternyata bertepatan dengan ritual Manakiban di Pondok Pesantren Suryalaya. Rencananya saya dan seorang teman SMA akan bersama-sama berangkat ke sana. Tapi apa daya, takdir tak selalu sama dengan yang kita suka. Teman membatalkan ikut serta, yang akhirnya saya berangkat seorang diri kesana, tanpa teman sma. Tapi tak apa, karena niat diri telah meraja.


Sore hari, selepas bakar sate dan makan goreng ati, sayapun pergi seorang diri. Sebatang Djarum Blackpun dikonsumsi biar mood lebih mendominasi diri. Saya berangkat dengan niat menyucikan diri, sama sekali tak terkontaminiasi dengan para santriwati yang katanya begitu gampang mengikat hati. Itulah yang dirasakan diri. Walau hanya Gusti yang mengetahui pasti kebenaran hati. Dengan si kuda besi, kususuri jalan seorang diri. Sementara mentari perlahan bergerak meninggalkan bumi, demi sang malam yang mulai meminta posisi.


Maaf. Saya Kerja!

Anggap saja posting ini sebagai permohonan maaf saya kepada semua sahabat di alam virtual (Terutama sobat-sobat Black Community yang sama-sama mengkikuti kontes blog Djarum Black, Djarum Black Competiton Vol II. Sekarang jangan nagih-nagih lagi update ya! Nih saya kasih, hehehe ). Alam virtual...Sebuah alam yang bagi saya menarik. Menarik karena ia berada antara konsep ada dan ketiadaan. Ada unsur ketiadaan karena ia tak bisa dijamah secara kasar, diperlakukan sebagaimana materi yang benar-benar ada. Namun justru di sana pulalah berjuta manusia mampu eksis. Sebuah dunia yang tak menampakkan wujud, hanya berisi ide-ide. Maka relevanlah sebuah pertanyaan mistis: "Mana yang lebih utama: akal atau tubuh?; raga dibanding ruh?"

Baiklah para sobat maya :-)...Bukan tanpa alasan saya lama tak kunjung dan bersua dengan para sahabat. Jauhkan pula syak wasangka di hati para sahabat semua yang kurindu. Bukan sombong, bukan pula dada bolong. Tapi kemarin-kemarin ini saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya. Oh ya, selain menjadi blogger, saya pun memiliki profesi lain yang bagi saya tak kalah menarik dan menantang! Yaitu menjadi pendamping Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di Program Keluarga Harapan (PKH) Departemen Sosial. Dan pada tanggal 9-10 Desember, Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan (UPPKH) Kabupaten Sumedang

Markus

“Makelar” kini tengah ramai dibincang. Iapun disandingkan dengan sebuah kata yang tak biasa. Bila tanah, mobil, rumah, telah akrab di telinga dan pengalaman kita, namun ketika “makelar” berdampingan dengan “kasus” ia terdengar janggal dan mengandung kecurigaan. Terlebih makelar yang ini muncul setelah cerita fabel yang paling melodramatik di negeri ini digelar. Sebuah dongeng berjudul Cicak Lawan Buaya. Makelar kasuspun muncul menjadi isu publik.

Kabareskrim Polri yang baru, Ito Sumardi, menyatakan pembersihan makelar kasus akan menjadi target prioritas kerjanya. Instansi penegak hukum lainnyapun seperti pengadilan dan kejaksaan senada dengan langkah Polri. Mereka menyatakan sikap akan melawan dan mensterilkan kantor-kantornya dari para makelar kasus yang telah memiliki nama popular: markus. Di lihat dari body language-nya, mereka terlihat serius. Mereka seperti tak main-main dengan para markus.

Kita tidak dapat melihat dan menyikapi fenomena markus ini secara soliter, terpisah dari fenomena lainnya. Ia tidak hadir di luar “situasi”, namun merupakan datang dari sebuah kondisi atau keadaan tertentu, sama dengan fenomena sosial lainnya. Sebagai ilustrasi, hadirnya berbagai komuitas dan kompetisi kreatif yang diprakarsai oleh Djarum Black, seperti: Black Car Community, Blackinnovationawards goes to campus, Black Blog Competition, dan yang lainnya, itu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa sebab, seperti lahirnya Isa dari Ibu Maryam yang suci (walau sebenarnya itu juga akbat dari sebuah sebab: Mukjizat Tuhan). Itu merupakan respon atau reaksi atas sebuah situasi ketika kreatifitas dan inovasi para kawula muda khususnya benar-benar tumbuh bahkan berkecambah. Maka datanglah Djarum Black dengan segala fasilitasnya memberi ruang bagi para kawula muda dalam mengekspresikan dirinya dengan lebih maksimal dan tentu saja lebih dapat diapresiasi khalayak luas.

Kembali ke markus. Kehadirannya begitu kompleks karena ia tidak lahir hanya dari satu, melainkan berbagai kondisi. Setidak-tidaknya ada dua kondisi atau situasi (Anda boleh menambahkannya lagi) yang melatarbelakangi munculnya para markus.

Yang pertama adalah rumitnya jalur birokrasi-administrasi di negeri ini. Berbelitnya pengurusan suatu kepentingan hukum membuat masyarakat enggan atau malas melakukan pengurusan dalam jalur resmi. Proes yang panjang, banyaknya “pintu” yang harus dilewati, belum lagi para petugas yang menambah-nambah keruwetan ini demi kepentingan pribadi, dibaca oleh beberapa kalangan—baik individu non institusi maupun individu dalam institusi hukum—sebagai peluang usaha dalam bentuk pemberian jasa akses “jalan pinggir” kepada masyarakat yang tak mau buang-buang energi mengurusi proses legal yang jelimet. Yang tentu saja jasa dari markus dapat lebih singkat, mudah, dan terkadang efisien. Terlebih, para markus ini mampu memberi garansi “berhasil” pada para kliennya. Markuspun lahir dan dianggap sebagai solusi oleh kedua belah pihak: masyarakat yang ingin mudah dan menang, juga aparat yang menginginkan “lebih”. Hubungan mutualistis inilah yang membuat para markus bergeming.

Yang ke dua adalah sikap mental masyarakat itu sendiri. Kita tak dapat menutup mata bahwa “pengadilan jalanan” terkait pelanggaran lalu lintas, kerapkali datang dari tawaran masyarakat yang ditilang. Pun sama halnya dengan kasus hukum yang lain. Sikap malas “berperkara” sesuai prosedur yang sah banyak diidap masyarakat. Terlebih kondisi ini semakin "dikondusifkan" dengan rumitnya birokrasi-administrasi mengakibatkan “jalan pintas”pun menjadi lazim bahkan mentradisi. Sikap kita yang ingin selalu mudah, ringan, dan terlebih rakus: menang walau secara sadar salah, tanpa kita sadari telah memelihara para markus itu sehingga mereka tetap hidup dan mengotori kantor-kantor para penegak hukum di Indonesia. Dalam hal ini, keberadaan para markus itu adalah produk yang muncul dari sebuah kebutuhan masyarakat yang terus-menerus. Kebutuhan akan kemudahan, terlebih kemenangan perkara.

Menyadari akan kompleksitas fenomena markus ini: kemacetan struktrual sekaligus kekeliruan kultural, membuat kita tak akan mudah mengatakan “mudah” pada upaya pembersihan markus di lingkungan institusi penegak hukum di Indonesia. Namun juga bukanlah sesuatu yang utophia. Karena tak ada kata tak mungkin di dalam masyarakat. Sejarah telah mempertontonkan pada kita bahwa masyarakat mampu mewujudkan hal yang musykil sekalipun.

Semua kembali pada kita. Bukan kami di sini ataupun mereka di sana. Hanya dengan kita praktik makelar kasus ini dapat terselesaikan.

Bila di sana para penegak hukum tengah berupaya membersihkan para markus melalui kapasitas dan otoritasnya yang dimiliki, kitapun di sini memiliki otoritas yang tak kalah penting dan harus kita pertanggungjawabkan, yaitu otoritas pada diri sendiri. Atau yang biasa disebut dengan kendali diri.

Elegi Putri


Malam yang dingin menggigit tulang sampai ke nadi. Kurebahkan diri, berkontemplasi, mencoba berdamai dengan hati. Namun apa daya, konsestrasi tetap tak mau mengunjungi. Terhijabi oleh pesona Putri yang selalu menawan hati. Selalu pula kuingkari.
Pagi datang menghapus mimpi tentang Putri. Sang mentari menerjang bulan yang dari semalam menguasai bumi. Kudengar bunyi ponsel memecah sunyi, membangkitkan rasa dalam diri. Tulisan Putri yang terukir di ponsel semakin mengiris nurani. Ponsel tetap berbunyi tak kunjung henti. Namun diri tak kuasa untuk menyambut Putri. Ponsel kembali berbunyi, kembali menarik gejolak dalam diri. Tapi tetap kuhijabi dengan wajah mami. Ponsel kembali berbunyi, berbunyi, dan terus berbunyi. Namun diri tetap bergeming, karena menjaga diri menjaga Putri.  Hati terasa dikebiri, jiwa perih tak terperi. Air mata menepuki elegi yang bermelodikan duri.
Kudengar Putri berusaha bunuh diri. Sontak ada rasa nyeri menusuk ke ulu hati. Ingin sekali membelai Putri, mendongeng tentang kisah negeri yang penuh dengan para peri sebagai pengobat lara hati Putri. Namun bayang wajah papi menghalangi niat diri. Kembali kaki batal melangkah pergi, demi menjaga diri menjaga Putri. Walau frustasi semakin menjadi.
Ketika frustasi semakin mendominasi diri, papi mami semakin tak terkendali. “Sadarilah anak tak tahu diri, mami, papi ini manusia terhormat bergelar haji. Belum lagi papi yang pernah jadi kandidiat menteri. Sedangkan Putri? Hanya seorang anak pedagang kelas teri yang bahkan tak berpeci. Bangunlah anak tak tahu diri! Lihatlah dirimu di cermin ini. Berapa minggu kau tak pergi mengaji? Berapa minggu kau mengurung diri? Berapa minggu kau tak mandi?” Mata mami melirik papi, mencari pembenaran asumsi pribadi, “Mungkinkah ia diguna-gunai si pedagang kelas teri?” Papi hanya berdiam diri, walau ku tahu anggukannya mengamini.
Kuterpekur di depan cermin kamar mandi, menatap nanar pada cermin yang tak berbayang diri. Perih hati berubah menjadi benci, benci pada mami, papi, sekaligus si pedagang kelas teri.  Sekilas ingin kutapaki langkah Putri, mencoba mengakhiri diri, melepaskan tali yang mencengkeram hati. Baru saja kuteguhkan diri, papi mendobrak pintu kamar mandi. Niatpun akhirnya tak terjadi. Namun ku bersumpah akan berbuat yang lebih lali, biar terpateri di hati-hati orang tua ini.
Kuhisap sebatang Djarum Black di tengah jemari, mencoba mencari inspirasi atau sekadar relaksasi diri. Namun kali ini Djarum Blackpun tak mengilhami, karena frustasi benar-benar tak tertandingi. Nafsu semakin tak terkendali, nurani seolah mati, karena sakit hati terpisah dari Putri si pujaan hati.
Kuputuskan pergi menemui teman yang bernama Andri. Papi, mami tersenyum menyangkaku telah kembali seperti sehari-hari. Mereka tak mengerti, bisikku dalam hati, mencibir dua orang ini.
“Tumben kau kemari, mana teman-temanmu yang dari Black Motor Community?” Andri menyapa sekaligus mentertawai. “Saat ini aku ingin pindah komuniti, mencoba yang benar-benar lali dan mengancam diri” Aku balik menggertak,  tak mau kalah dengan si Andri. “Black Motor Community mana mungkin neken ekstasi apalagi main belati. Makanya aku mencarimu Ndri” Andri manggut penuh ekspresi, tahu benar apa yang kuingini. Aku dan Andri terus berbincang tak henti,  sementara wajah Putri tetap menghantui, semakin menyiksa diri.
Perjodohan dengan geng Andri membawaku pada dunia tanpa arti. Shabu dan ekstasi menjadi sesuatu yang sehari-hari. Sementara whisky menjadi teman akrab sepanjang hari.  Bukan hanya ngutil sana sini, bahkan mencuri motor, mobilpun pernah kualami. Belum lagi pelampiasan birahi yang menyerupai anjing. Namun untuk yang satu ini, aku tak pernah melakoni. Setiap kali ingin itu mendatangi diri, setiap kali itu pula wajah Putri menghantui, menahan birahi.
Lima bulan hidup di jalanan telah kulalui. Beribu duri telah kuakrabi, berjuta dosa telah kualami, kunikmati. Papi, mami seperti belum menyadari. Atau mereka lebih menyenangi aku seperti ini daripada menggila-gilai Putri? Aku benar-benar tak peduli. 
Terkadang nurani seolah mengajak kukembali. Namun tetap kutolak dan kukhianati. Ada rasa iri setiap kali melihat teman di Black Motor Community, mereka penuh vitalitas dan benar-benar tahu diri.  Namun tetap kutamengi diri, bergeming di dunia yang tak memberikan arti, menghanyutkan rasa dalam bergelas-gelas whisky dan butiran ekstasi.
Sampai kudengar di telinga ini Putri diperiststri juragan tanah dari Betawi, sesuai dengan titah si pedagang kelas teri. Pedih tak terperi kembali menjalari setiap denyut nadi. Duri-duri menusuki hati hingga menginggalkan luka yang tak terobati. Ingin kuberlari dari kenyataan yang tak ramah pada diri. Atau kuinterupsi sang ilahi yang seperti tak memihak pada cintaku dan Putri. Namun apa daya, kenyataan hanyalah bayang dalam mimpi, sementara tuhan tak kunjung menamapakkan diri. Tinggallah dunia gelap yang menjadi kompensasi. Dengan wajah Putri tetap menemani.
Seperti malam-malam yang lain, Andri mengajakku pergi. Tentu saja pergi ke tempat yang tak bermaknawi. Akupun bersemangat mengamini, demi menistakan diri yang perlahan mulai kubenci.  Andri bercerita bangga karena baru saja berhasil merampok mobil dari salah satu anggota Black Car Community. Pestapun digelar dengan mengumbar birahi. Berpasang-pasang sejoli yang baru saja saling tahu nama pribadi terlihat masyuk dalam suasana surgawi layaknya pasutri. Sampai akhirnya sirine polisi berbunyi, tanda mereka datang menghampiri. Kamipun dibui. Dibui.
Berselang satu hari, papi, mami menjenggukku ke bui. Tak ada lagi aura bengis di wajah papi. Begitupun mami. Ke mana wajah-wajah buram orang tua ini? Adakah mereka kini menyadari? Aku bertepuk tangan di hati, merayakan kemenangan yang kini mulai beralih posisi. Akupun bersumpah akan melakoni yang lebih lali, biar puas hati ini melihat mereka sakit hati seperti hati ini yang mereka pisahkan dari Putri, sang belahan hati.
Papi menghubungi polisi, akupun keluar bui. Manis kini menjadi topeng mami, papi. Aku tak peduli, bahkan semakin tak tahu diri. Karena bukan manis yang kuingini, tapi kembalinya Putri pada genggaman jemari. 
Kudengar Putri hamil empat puluh hari. Si nafsu semakin tak terkendali. Kembali aku masuk bui. Papi mengeluarkanku lagi dari bui. Di bui lagi, papi menghubungi polisi. Dibui, polisi. Dibui, polisi. Dibui, mami sakit bertubi-tubi.  Polisi. Dibui. Tak ada polisi. Tetap dibui. Mami merengeki papi. Polisi. Keluar dari bui. Sementara Putri tetap menguntit diri.
Suatu hari kulihat Putri. Ia berjalan sendiri tanpa suami, tanpa si pedagang kelas teri. Otak yang tengah terkontaminasi whisky menguatkan diri untuk mendekati Putri lama kutertegun memandangi Putri. Kutemukan beribu sayatan sembilu dalam lubuk hati, menyempurnakan rasa sakit Putri. Tak tersadar kini Putri tumpah dalam pelukan diri. Air mata campur darah melinangi tubuh, tembus sampai ke jantung hati.
Hasrat diri seolah membutakan nurani. Nafsu kini merongrongi kami yang saling berusaha memahami diri. Birahi kami bersua di tempat terjauh dalam diri. Sempat terlintas ingin meyudahi ini, tapi apa daya, kami terlanjur saling menyetubuhi. Saling berbagi beban nurani.
Kulihat Polisi menemui papi. Padahal tak ada ekstasi apalagi belati. Bahakan si andri telah enam hari mati dibunuh para napi. Kenapa masih ada polisi?
Papi terbujur di atas kursi, tanpa basa basi aku dipegangi polisi, sambil menginterogasi tentang Putri, juga menyebut juragan tanah dari Betawi, dan sesekali si pedagang kelas teri.
Kulihat Putri bersaksi di sidang pengadilan negeri, berbicara telah disetubuhi tak manusiawi oleh diri ini. Perih hati bukan karena jaksa menginterogasi, namun tahu nasib Putri yang diancam mati sang suami. Ingin hati memutilasi si juragan tanah dari Betawi atau sekadar menyayat ia punya nadi. Namun apa daya aku kini dalam bui, tanpa papi dan bincang dengan polisi.
Di bui aku tak sendiri. Berkamar dengan para penjahat tak berhati yang telah lama tak bersua dengan para istri. Mendengar kasus asusila yang menjebloskanku ke bui, sontak memancing syahwatnya yang lama tak beraktualisasi. Mereka pandangi diri ini dengan segenap nafsu birahi. Tanpa perlawanan atau kesempatan membela diri, orang-orang itu menyetubuhiku tak henti. Jerit hati tak kuasa membuat mereka berhenti. Mereka tetap menyetubuhi tanpa peduli, tanpa basa basi.  Begitulah setiap hari, disetubuhi para lelaki. Samakah nyeri ini dengan rasa nyeri Putri? Tanyaku dalam hati.

Tak kuasa dengan hina dan derita ini, kuniatkan untuk mengakhiri diri. Kuizin pada Putri walau dalam imaji, sebagai peneguh niat dalam diri. Kupinjam belati pada “RT” yang mati hati. Memotong kuku lancar menjadi alibi. Kuberanjak pergi menuju kamar mandi, meluluskan niat yang lama bercokol dalam hati. Putri, maafkan aku yang selalu tak bisa memberi. Tapi ketahuilah Putri, cinta ini akan senantiasa abadi. Papi, aku sadar tak ada bakti. Bahkan budi sama sekali tak kumiliki. Tapi mohon ridoilah diri. Mami, kini aku sadar cinta selalu mendasari Mami, walau dalam rupa yang seringkali tak kumengerti. Kini sungguh aku tak kuasa hidup di atas bumi. Semoga Mami mengampuni.
Belati bergerak menyayat nadi. Perih menembus hingga ke jantung hati. Imaji Papi, Mami, Putri semakin buram memudar, akupun mati…
Belai lembut membangunkan diri yang lama bermimpi. Wangi mami terasa memenuhi nurani. Aku berusaha untuk menyadari apa yang tengah terjadi. Apakah aku tak jadi mati? Siluet wajah mami membuatku yakin bahwa aku belumlah mati. Rasa sesal bercampur lega berkelindan menelusuri rongga jiwa, memenuhi relung-relung hati. Saat itulah baru aku merasa pasrah pada apa yang kan menimpa diri.
Kulihat papi duduk di sebelah kiri. Kuterperanjat setengah mati. Kulihat kursi roda menyertai papi. Meledak sesal tak terperi dalam hati mendengar penjelasan mami yang katanya stroke menyerang papi. Oh Gusti, apa yang telah kuperbuat pada papi? Tanpa sadar ku memohon pada Sang Ilahi yang dulu begitu kubenci.
Belum juga kusadarkan diri, mami memberi potret yang bergambar Putri, memberi pedih yang bertubi. “Putri mati bersama sang bayi” gumam lirih mami. Bumi terasa menindih diri, pedih mengoyak jiwa dan hati. Beribu kali lebih pedih dari sayatan belati pada nadi, sakit lebih menyiksa melebihi sodomi para napi yang haus istri. Ya robbi… jeritku dalam hati menyerupai iblis yang terusir dari istana surgawi.       
Kini Putri telah benar-benar menjadi imaji, cintapun hanya sebuah elegi. Saat merasa diri benar-benar sepi, mami menggenggam lembut jemari. “Dari hati, maafkan mami, papi.” Sunyi menyelimuti hati, air mata berderai membasahi pipi, membasahi hati.
Kulihat wajah papi, berakhir di mami. Kusadari sesuatu yang telah lama pergi kini mulai merasuki diri. Ia tidak mati, tapi hanya terhijabi oleh benci. Ia yang senantiasa memenuhi nurani. Ia yang bernama cinta papi, cinta mami. Walau dengan ciut nyali karena tahu diri namun energi hati mendorong diri, menguatkan bibir tuk berujar lirih pada mami: “Terimakasih mami telah memberi kehidupan. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali.”

Persembahan Dari Sahabat

Puisi Dari Sahabat Sabda Cahaya

Fitnah

matamu yang surut,
menyoroti ruang gelap temaram
matamu yang dangkal
menatapku liar, mencair dalam cahaya
ada kisah renik-hidupku yang kau celah
yang kau sembur dengan serapah
ini kisah lajangku-jalangku,
yang telah kau cabikcabik dan kau kunyah
adakah kau tahu?
katakatamu sejengkal lagi menjerat leherku
tapi pernahkah kau ketahui,
bisikku lebih keji dari sembur ludahku kemukamu
sedang tentang jejak,
biarlah angin malam yang menyapu suci
biarkan ia pulas dalam tekak dan teriak.
* sebuah puisi untuk insan http://www.insanitis37.blogspot.com/

Komentar Insanitis37
Kucari mata malaikat itu...
Kutilik di setiap masa atau sepenggal kisah...
Lama aku tertegun...
Angin berhembus menyibak nurani, dingin menggigil hingga ke jantung...
Antara hati dan jantung, ada sebuah lorong menganga. semburat cahaya menyembur menerangi semesta...
Antara hati dan jantung, kulihat bayang suram wajahmu.
Bukan dirimu yang gelap, namun hatikulah yang kusam balas bergulat dengan peluh dosa.
Maafkan hati yang menafsir.

NB: terima kasih dari hati atas persembahan lautan rasa untukku. thanks jg udah ngasih link di posting, hehehe
Semoga semua dirimu berbahagia

Puisi dari Sahabat Nirma Yawisa

Senyappun Jera Padaku

Mungkin saja aku tak ingat,
Ada gemerisik rindu di patahan ranting hatiku
Cerita tanpa kata yang kubuat
Untuk sayap yang mengangkasa pergi
Yang jelas,
Aku menatap senyap
Tak merasa, tak meraba,
Hanya tertawa, dedaunan tua yang lama mengering
Bantaran hati yang lama t'lah landai
Hanya bersenandung kecil,
Membisukan nada-nada hampa
Yang meti tercekik dalam sebuah kesepian
Hanya menikmati semua
Mengaliri kembali mataku yang tak lagi basah


Mungkin,
Sudah cukup bagiku semua gelap
Hingga kelam pun jera tuk bersama.
……..
………


Epilog ini,
Buktikah akan muakku?
Rasanya senyap pun lamat-lamat akan lari dariku..

Komentar dari Insanitis37
"Epilog ini,
Buktikah akan muakku?"
mudah2an ini bukan ditujukan tuk diriku, hehe

ketika kata terdengar menggugah,
saat tulisan terlihat menyalak
yakinilah bahwa itu tak hanya kata, bukan sekadar tulisan.
Namun emosi jiwa yang niscaya dimiliki para pecinta...

Sekali lagi makasih banyak y teh, tar aku posting y puisinya...

Puisi dari Sahabat Setia Kasih

keterasingan

membawa seribu macam rasa
alam pancawarna
ghaib tiba-tiba
tanpa aku tahu kenapa?

sunyi
meyelinap masuk
ruang hati yang paling halus
saat demi saat
ia mula mengisi
kekosongan yang cuba dinafikan
kewujudan
membawa rekah
yang pedihnya
tidak terungkap dengan kata-kata.

bagaimana mungkin boleh tercantum semula
luka gurisan
yang kau tinggalkan
sebagai hadiah hitam
paling bersejarah
kamus kehidupanku.

ah.. keterasingan
dalam keramaian
itu menjadi aku!

suara suara sepi
bergema di corong telinga
melodi tiada henti
menghantuiku
saban malam
menduduki segala mimpi ngeriku
dan tika itu
aku sangat perlu hadirmu
menenangkan gusarku
rengkuh jasadku
dekap hatiku

oh... aku perlu kamu!

memangnya kenapa
keterasingan ini makin jelas
melukai jiwaku?

Mau lari?
aku tertanya pada diri
tapi ke mana kaki ini mau membawaku pergi?
jauh
jauh
jauh
dari rasa sunyi maha sepi
yang memetakan perjalananku ini.

duhai Kamu yang memelihara hati
aku mohon
pimpinlah dan terangi jalanku
lepasi daerah serba asing lagi menakutkan ini...



setiakasih
p.s: buat insanitis37