Wedal

Para readers dan teman-teman Black Community semua, pada posting dalam Djarum Black Competition Vol. II ini, saya akan mengangkat tema budaya. Mungkin sebagian kita ada yang merasa aneh karena tema budaya ini sepintas tidak relevan dengan tema Djarum Black yang lebih ke life style-kontemporer, seperti event Djarum Black Night Slalom, dan berbagai even lainnya yang cenderung "pop". Tapi bagi saya tema budaya juga sangat layak untuk kita ketahui karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Dan tentu saja kita semua tidak mau menjadi generasi yang terputus dari akar budayanya; generasi yang teralinesasi dari "kehidupannya" sendiri. Anggap saja posting budaya kali ini sebagai "Black In News" alternatif dari saya. Semoga tidak menjadi bete :-)
  ****
Wedal, atau dalam istilah Jawa disebut weton yang berarti hari kelahiran seseorang, mempunyai makna khusus bagi orang Sunda—tentu juga suku-suku yang lain. Ia tidak dilewatkan begitu saja sebagaimana mata modern memandang. Orang-orang dulu selalu memberi makna, menempatkan arti dalam setiap hal, termasuk dalam hal sekecil dan se-profan “hari lahir.” Mungkin karena hal itulah mereka merasa kaya ditengah keterbatasan materi. Tak seperti kini yang memunggunginya.

Adapun tentang hari Jum’at—karena ini hari lahir saya-- menurut kepercayaan Sunda bersimbol air. Mereka percaya sifat-sifat air termanifestasikan dalam karakter orang berwedal Jum’at. Orang yang lahir di hari ini digambarkan sebagai orang yang agak labil. Layaknya air yang mengalir berliuk-liuk mengikuti badan sungai, jalannya tidak lurus. Maka wedal Jum’at terkenal moody. Semua tergantung mood. Kalau lagi senang terhadap sesuatu, ia akan keukeuh terus di sana, tak peduli dengan apapun. Namun setelah ia mendapatkan hal lain yang baginya lebih menarik, ia akan meninggalkannya begitu saja tanpa kenang, karena fokusnya akan habis pada sesuatu yang baru itu.

Karena sifat individualistik (bukan dalam arti negative-tak peduli pada yang lain) inilah maka wiraswasta, menjadi blogger, dan jenis-jenis pekerjaan lain yang mandiri (tanpa atasan) sangat cocok baginya. Mereka tak mau dikendalikan oleh pihak luar. Orang-orang
berwedal ini ingin apapun sesuai dengan keinginan pribadinya. Inilah paradoks dari wedal Jum’at: ia labil dalam sikap (berubah-ubah), namun sekaligus teguh terhadap yang ia yakini.

Karena faktor luak liuk air ini jugalah yang menyebabkan orang-orang berwedal Jum’at cukup fleksibel dalam sosialisasi. Mereka tidak kaku. Ia selalu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi apapun. Tak ada ruang bagi fanatisme dalam diri orang-orang berwedal Jumat. Mungkin.

Hari Jum’at layaknya air. Bila ia dalam porsi yang cukup maka akan membawa manfaat yang banyak bagi kehidupan. Kehadirannya dibutuhkan banyak orang. Namun sekalinya ia overload, meledak, lihatlah tragedy banjir yang saggup memporakporandakan banyak bangsa. Orang berwedal Jum’at bila ia dewasa, memiliki keelingan diri yang tinggi, ia akan membawa kemaslahatan dan banyak dibutuhkan oleh sekitarnya. Namun sekali saja fluktuasi emosinya meningkat, apalagi sampai kalap, out of control, daya destruktifnya akan terlihat mustahil keluar dari seseorang yang memiliki perbawa santai.

Itulah simbol air.

Selain bersimbol air, hari Jum’at juga memiliki “itungan” tertentu, yaitu enam. Dalam istilah Sunda disebut “biji”. Bijinya enam. Kalau akan melakukan tirakat, orang-orang berwedal Jum’at menggunakan bilangan enam dalam patok lakunya. Misalkan puasa, orang berwedal ini diharuskan enam hari melakoni tirakat puasanya.

Terkait simbol bilangan enam ini, katanya, orang yang medal di hari Jum’at sangat bagus berjodoh dengan orang berwedal Rabu. Sedangkan Rabu sendiri berbiji tujuh. Bila mereka berjodoh, maka angka akumulasinya adalah tiga belas (6+7). “Itung-itungan”, tiga belas itu jatuh di angka empat. Dan konon, angka empat (4) ini merupakan angka yang sempurna, istimewa. Dalam bahasa Sunda ada istilah “masagi” (dalam bahasa Indonesia persegi) yang berarti paripurna, perfect. Dan kita tahu, persegi memiliki empat sudut, empat titik.

Dari sisi simbol pun Jum’at dan Rabu memiliki korelasi spiritual. Bila Jum’at mengandung air, maka Rabu mengandung Api. Jadi apabila mereka bersatu, unsur Yin dan Yang dalam mahligai rumah tangga terjalin sempurna. (Kalau ini analisis iseng diriku, hehe).

Konon katanya (lagi), orang yang lahir di hari Jum’at memiliki watek (watak) suci. Mereka tak bisa menjalani laku “hitam” seperti “muja” atau ngiprit. Bahkan orang-orang ini tak akan terkena pelet. Orang berwedal Jum’at cocok menjadi spiritualis atau pengaji ilmu-ilmu agama.

Masih relevankah kita membincang hal ini? Saya balik tanya: Tidak patutkah kita mengenal dan mengenang warisan leluhur, penyebab kita ada sekarang?
“Relevansi” dalam konteks modern selalu menyiratkan guna, fungsi. Yang mana sesuatu itu bisa menjadi berguna dan berfungsi bila sebelumnya orang meyakininya terlebih dahulu. Inilah letak kesalahan umum orang-orang modern. Selalu mengacaukan antara: “mengetahui” dengan “meyakini.” Padahal beda terang antara ke dua kata ini.

Marilah kita kenali jejak-jejak eksistensi para tetua kita. Dengan itulah kita tidak menjadi ahistoris dan teralienasi dari budaya sendiri. Karena mengetahui tak berarti harus meyakini!

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 1 Tanggapan... read them below or add one }

Anonim mengatakan...

duh api itu simbol weton kelahiran selasa. Kalau rabu sih simbolnya daun,,wuuuhh...

Posting Komentar