Tentang Jum’at (Tahu Tanpa Harus Yakin)

Wedal, atau dalam istilah Jawa disebut weton yang berarti hari kelahiran seseorang, mempunyai makna khusus bagi orang Sunda—tentu juga suku-suku yang lain. Ia tidak dilewatkan begitu saja sebagaimana mata modern memandang. Orang-orang dulu selalu memberi makna, menempatkan arti dalam setiap hal, termasuk dalam hal sekecil dan se-profan “hari lahir.” Mungkin karena hal itulah mereka merasa kaya ditengah keterbatasan materi. Tak seperti kini yang memunggunginya.

Adapun tentang hari Jum’at—karena ini hari lahir saya-- menurut kepercayaan Sunda bersimbol air. Mereka percaya sifat-sifat air termanifestasikan dalam karakter orang berwedal Jum’at. Orang yang lahir di hari ini digambarkan sebagai orang yang agak labil. Layaknya air yang mengalir berliuk-liuk mengikuti badan sungai, jalannya tidak lurus. Maka wedal Jum’at terkenal moody. Semua tergantung mood. Kalau lagi senang terhadap sesuatu, ia akan keukeuh terus di sana, tak peduli dengan apapun. Namun setelah ia mendapatkan hal lain yang baginya lebih menarik, ia akan meninggalkannya begitu saja tanpa kenang, karena fokusnya akan habis pada sesuatu yang baru itu.

Karena sifat individualistik (bukan dalam arti negative-tak peduli pada yang lain) inilah maka wiraswasta, menjadi blogger, dan jenis-jenis pekerjaan lain yang mandiri (tanpa atasan) sangat cocok baginya. Mereka tak mau dikendalikan oleh pihak luar. Orang-orang

berwedal ini ingin apapun sesuai dengan keinginan pribadinya. Inilah paradoks dari wedal Jum’at: ia labil dalam sikap (berubah-ubah), namun sekaligus teguh terhadap yang ia yakini.

Karena faktor luak liuk air ini jugalah yang menyebabkan orang-orang berwedal Jum’at cukup fleksibel dalam sosialisasi. Mereka tidak kaku. Ia selalu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi apapun. Tak ada ruang bagi fanatisme dalam diri orang-orang berwedal Jumat. Mungkin.

Hari Jum’at layaknya air. Bila ia dalam porsi yang cukup maka akan membawa manfaat yang banyak bagi kehidupan. Kehadirannya dibutuhkan banyak orang. Namun sekalinya ia overload, meledak, lihatlah tragedy banjir yang saggup memporakporandakan banyak bangsa. Orang berwedal Jum’at bila ia dewasa, memiliki keelingan diri yang tinggi, ia akan membawa kemaslahatan dan banyak dibutuhkan oleh sekitarnya. Namun sekali saja fluktuasi emosinya meningkat, apalagi sampai kalap, out of control, daya destruktifnya akan terlihat mustahil keluar dari seseorang yang memiliki perbawa santai.

Itulah simbol air.

Selain bersimbol air, hari Jum’at juga memiliki “itungan” tertentu, yaitu enam. Dalam istilah Sunda disebut “biji”. Bijinya enam. Kalau akan melakukan tirakat, orang-orang berwedal Jum’at menggunakan bilangan enam dalam patok lakunya. Misalkan puasa, orang berwedal ini diharuskan enam hari melakoni tirakat puasanya.

Terkait simbol bilangan enam ini, katanya, orang yang medal di hari Jum’at sangat bagus berjodoh dengan orang berwedal Rabu. Sedangkan Rabu sendiri berbiji tujuh. Bila mereka berjodoh, maka angka akumulasinya adalah tiga belas (6+7). “Itung-itungan”, tiga belas itu jatuh di angka empat. Dan konon, angka empat (4) ini merupakan angka yang sempurna, istimewa. Dalam bahasa Sunda ada istilah “masagi” (dalam bahasa Indonesia persegi) yang berarti paripurna, perfect. Dan kita tahu, persegi memiliki empat sudut, empat titik.

Dari sisi simbol pun Jum’at dan Rabu memiliki korelasi spiritual. Bila Jum’at mengandung air, maka Rabu mengandung Api. Jadi apabila mereka bersatu, unsur Yin dan Yang dalam mahligai rumah tangga terjalin sempurna. (Kalau ini analisis iseng diriku, hehe).

Konon katanya (lagi), orang yang lahir di hari Jum’at memiliki watek (watak) suci. Mereka tak bisa menjalani laku “hitam” seperti “muja” atau ngiprit. Bahkan orang-orang ini tak akan terkena pelet. Orang berwedal Jum’at cocok menjadi spiritualis atau pengaji ilmu-ilmu agama.

Masih relevankah kita membincang hal ini? Saya balik tanya: Tidak patutkah kita mengenal dan mengenang warisan leluhur, penyebab kita ada sekarang?

“Relevansi” dalam konteks modern selalu menyiratkan guna, fungsi. Yang mana sesuatu itu bisa menjadi berguna dan berfungsi bila sebelumnya orang meyakininya terlebih dahulu. Inilah letak kesalahan umum orang-orang modern. Selalu mengacaukan antara: “mengetahui” dengan “meyakini.” Padahal beda terang antara ke dua kata ini.

Marilah kita kenali jejak-jejak eksistensi para tetua kita. Dengan itulah kita tidak menjadi ahistoris dan teralienasi dari budaya sendiri. Karena mengetahui tak berarti harus meyakini!

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 15 Tanggapan... read them below or add one }

endar mengatakan...

saya salut karena sampeyan masih melestarikan budaya warisan nenek moyang kita.
dulu saya ingat pada wejangan-2 nenek yang kadang tidak masuk akal tapi setelah ditelaah ternyata memiliki makna yang dalam.
saya lahir hari rabu artinya apa ya?

online business mengatakan...

Tks ya

eNeS mengatakan...

Lur, ari gadgetna dina Tata Letak aya teu? Bisi kahapus.
Mun mbung pusing, ganti pemplate we atuh

eNeS mengatakan...

Mun ganti template. Kopiken heula kabeh script widget kana Notepad (Ngopina hiji-hiji), soalna lamun teu dibackup sok laleungit

lina@happy family mengatakan...

Baru tahu yang seperti ini, menarik juga, sumbernya dari mana nih?

Hatake additc mengatakan...

link sbat dh saya add diblog saya,,
maksh dh di pasng,,

Insan Setia Nugraha mengatakan...

@All: Terimakasih banyak atas atensi sobat semua.
Semoga sukses selalu :-)

Insan Setia Nugraha mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
sibaho way mengatakan...

kalau itungan cina, 4 itu katanya angka mati. makanya mereka menghindari angka 4, 13 (1+3), 14, 24, 34 dst.

rumah di daerah Kota, Jakarta urutan ruah itu 11,12,12A,12B,15,....

percaya gak percaya sih, paling tidak kan menambah khazanah pengetahuan :)

lagi usil mengatakan...

wah, sy juga lahir jumat nih. pantesan sy lebih suka kerjaan freelance n ga suka punya atasan maupun bawahan. lg nyoba make money online heheh...

andi8lumut mengatakan...

Klo saya masih percaya dengan hal yang begini.


oia komentar anda sudah saya jawab. terima kasih telah berkunjung

BUKU TAMU

Arfi mengatakan...

kalu aku sih antara percaya dan gak percaya... tapi leluhur kita patut kita hormati dong... salut dah sama sampeyan... :-D

Komunitas Sufi Perkotaan 212 mengatakan...

Tentang melestarikan budaya kami sangat setuju, kita tak perlu menghapus budaya nenek moyang.......tapi mungkin ada resiko disini; Bagi yang telah teranugrahi ma'rifat mereka tak akan goyah dalam tauhidnya, bagaimana dengan yang masih mencari? apakah mereka nantinya bisa membedakan mengetahui tanpa meyakini dan bukannya "meyakini tanpa mengetahui". Salam buat saudara sufi diseluruh daerah.......

Siti Nurjanah mengatakan...

bagus, saya juga wedalna hari jum'at

eneng nurafifah mengatakan...

Akur kabeh gan.. ane jumat.. ih pas pisaan artikelna good

Poskan Komentar