Sisi Laa Ilaaha Illalah Yang Terlupakan

Tak ada orang tersandung dengan batu besar. Pepatah ini begitu relevan bagi kita yang seringkali mengagungkan hal-hal yang kita anggap besar, istimewa, spektakuler, hingga akhirnya melupakan hal-hal yang kecil, remeh temeh. Maka tak aneh kalau banyak orang yang tersandung justru karena batu yang kecil. Bukan batu besar.

Lihatlah kita. Saat kita mendapat nikmat yang menurut kita besar, maka perhelatan hajat besar pun digelar. Sembelih ini sembelih itu, undang sana undang sini. Sampai di sini tak ada masalah. Namun ketika fokus kita hanya tertuju pada hal-hal yang besar, mengeliminir hal kecil; takjub pada sesuatu yang luar biasa dan menafikan hal yang sehari-hari, hati-hatilah kita. Jebakan kufur nikmat selalu siap menyandungi jalan kaki kita. Tanpa kita sadari.

Dari sekian banyak macamnya, satu hal yang kali ini akan saya angkat.

Di sini, saat ini, ketika Islam menjadi agama yang besar, saat pemeluknya bukan lagi para budak dan kaum dhuafa, bahkan menjadi mayoritas, kita dapat mengamalkan dzikir Laa Ilaaha Illalah—yang telah ditalkinkan oleh Syekh Mursyid—bahkan tanpa hambatan dan rintangan. Kita bisa mengamalkannya saat kita mau. Di manapun dan kapanpun. Asal kita mau, kita bisa. Dzikir pun telah menjadi sesuatu yang biasa, sehari-hari. Namun sadarkah kita, karena kelaziman inilah kita terjebak untuk melupakan sesuatu.

Dahulu, beberapa abad silam, saat Nabi saw menjalankan misi risalahnya, Beliau saw dan para pengikut setianya harus menukar kalimat agung ini bukan hanya dengan harta, namun air mata, darah dan harga diri. Saat para penganut Islam masih para jelata, budak belian, dan minoritas, mereka kesulitan mendawamklan dzikir ini karena itu sama saja dengan menantang dan menentang para penguasa. Nabi saw dan para sahabatnya diklaim melakukan subversif. Saat itu, kalimah Laa Ilaaha Illalah merupakan sesuatu yang berharga bahkan melebihi nyawa mereka sendiri.

Perjuangan Nabi Yang Mulia adalah perjuangan menegakkan Kalimah Laa Ilaaha Illalah. Kalimat inilah yang tidak disukai para penguasa jahiliyah karena bisa mengancam kekuasaannya. Sebenarnya para pimpinan jahilliyah itu mengerti bahkan mau berdamai dengan konsep Islam yang ditawarkan Sang Nabi, karena nilai-nilai yang dibawa Nabi saw itu bukanlah hal yang baru. Bukan nilai-nilai import yang tak memliki akar dalam budaya mereka. Jangan membunuh anak wanita, menyantuni para fakir, melindungi anak yatim, itu semua adalah kearifan lokal yang telah hidup dalam budaya mereka. Walaupun, dalam fase jahiliyah, nilai-nilai itu telah banyak dikhianati dan ditinggalkan, terutama oleh suku-suku besar yang berkuasa. (Baca Sang Nabi, Karen Amstrong). Namun, satu yang membuat mereka tetap keberatan dengan risalah Sang Nabi: Laa Ilaaha Illallah.

Konon, pada satu momen ketika para penguasa jahiliyah itu telah cukup kewalahan dengan aksi Panutan Alam, mereka bersedia dialog, tawar menawar dengan Rasululloh. Yang intinya mereka mau menerima Islam—yang artinya kembali pada nilai-nilai asal mereka sendiri—namun tetap tanpa Laa Ilaaha Illalah. Tentu saja, seperti yang kita ketahui, kompromi itu ditolak tegas oleh Kanjeng Nabi saw.

Ada sebuah kisah yang begitu popular mengenai salah satu sahabat setia nabi. Ia budak. Ia jauh dari rupawan. Tapi keteguhan tauhidnya tak perlu dipertanyakan, bahkan satu hadits mengatakan bahwa Ia, Bilal ra memasuksi surga terlebih dahulu dari para sahabat nabi yang lain. Ia relakan tubuhnya dibebani sebongkah batu besar di tengah panasnya gurun demi menyatakan “Allah itu Maha Satu.”

Itulah potret dari masa lampau saat segalanya membutuhkan pengorbanan. Saat kalimah Agung Laa Ilaaha Illalah menjadi sesuatu yang begitu bernilai tiada tara. Dan kini, kita, di sini, dapat dengan leluasa mengucapkan kalimah itu tanpa kompensasi apapun.

Tak perlu takut ada yang menduduh subversive. Tak perlu risau ada yang mengintip dengan pedang terhunus. Tak juga harus mengorbankan diri ditindih batu di tengah gurun. Apakah kita masih belum juga menyadari nikmat ini?











Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 5 Tanggapan... read them below or add one }

abubakar mengatakan...

bismillah..
Laa ilaa hailallahu bermakna tidak ada tuhan(iLLah) yg berhak diibadahi dengan benar Kecuali Allahu ta'ala.

eNeS mengatakan...

Tiada tuhan selain Tuhan Yang Menciptakan alam semesta ini. Itulah Allah swt.
Maha Suci, Maha Agung, Maha Kreatif, Maha Genius, tak ada satupun yang sanggup menandingi-Nya.

ateh75 mengatakan...

Dzikir laailaahaillallah dengan merutinkannya dimalam hari ,senatiasa hati kita akan bersih dari nafsu ,itulah keutamaan dari Laailaahaillallah.

Nabi Saw bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka membakar orang yang mengatakan 'LA ILAHA ILLA ALLAH' dan mengharapkan wajah Allah dengan ucapan itu." (HR. Bukhari-Muslim dari Hadits Utban)

Peluang Bisnis | Ricky mengatakan...

Allah menciptakan segala alam semesta dengan sangat sempurna, sudah sewajarnya kita harus bersyukur telah masuk didalam kesempurnaan tersebut.

Newsoul mengatakan...

Postingan mantap. Saya mampir juga kawan.

Posting Komentar