Selalu Ada Ruang Bagi Toleransi (Bila Kita Mau): Catatan Idul Adha


Idul Adha yang biasa disebut juga dengan Idul Qurban atau lebaran haji, baru saja kita lewati bersama dengan penuh suka cita. Hampir semua umat Islam terlibat dalam perhelatan ritus yang syarat makna ini. Mereka yang memiliki kemampuan, melakukan penyembelihan hewan kurban. Sementara umat muslim lain yang tidak mampu atau karena hal lain tidak dapat melakukan kurban, mendapatkan pemberian daging kurban. Tak ada yang lebih tinggi dari yang lain, karena si pengkurbanpun membutuhkan orang lain yang tak berkemampuan untuk menerima daging kurbannya, yang berarti menyempurnakan ibadah kurbannya. Semua terlibat, semuanya memiliki andil.

Bila kita perhatikan, dalam ibadah kurban ini tidak hanya berisi ritual ibadah semata yang merupakan eksklusif umat Islam, namun ia juga memiliki aspek cultural yang bersifat inklusif. Apabila takbiran, shalat id, penyemblihan hewan kurban, dan serangkaian ibadah lain yang biasa dilakukan dalam Idul Adha adalah eksklusif umat Islam (karena sifatnya ibadah maghdoh), sementara budaya silaturahim, saling bermaaf-maafan, berbagi makanan, mengucapkan selamat, itu bukan hanya milik umat muslim saja, namun saudara kita yang non Islam sekalipun dapat ikut serta melakukannya, “merayakannya”. Tak ada larangan untuk itu karena aktifitas tersebut masih dalam wilayah sosial yang bersifat profan, bukan dalam lingkup ibadah yang sifatnya sakral dan inklusif.

Saya pikir di semua perayaan hari besar agama manapun selalu memiliki dua sisi ini: ritual dan kultural, atau ibadah dan sosial. Bila sisi ritual bersifat eksklusif, milik umat yang bersangkutan saja, sedangkan sisi cultural bersifat inklusif, terbuka untuk bersama-sama “dimiliki” dan dan diryakan oleh umat agama lain. Sisi inklusif inilah celah bagi kita untuk dapat menunjukkan apresiasi pada pemeluk agama lain demi mewujudkan toleransi dan solidaritas. Berdasarkan pertimbangan ini pula banyak para pakar Islam yang membolehkan umat muslim mengucapkan “selamat” kepada umat agama lain yang sedang merayakan hari besar agamanya. Karena, sekali lagi, keikutsertaannya hanya dalam wilayah kultrual atau sosial saja, bukan dalam wilayah ritual atau ibadah.

Saya mengangkat tema ini karena saya pikir sikap toleran semacam ini sangat kita butuhkan demi terwujudnya sebuah relasi sehat antar umat beragama. Di tengah isu-isu “dikotomis” yang saat ini begitu mendominasi dengan berbagai wujud—dan tentu saja berpotensi konflik antar umat beragama--entah itu dalam: teori akademis seperti “Clash Of Civilization”; teori “perang agama” dalam perang Palestina-sekutu vis a vis Israel-sekutu—walau menurut pendapat saya itu bukan karena agama, namun lebih pada permasalahan geopolitik--; juga dalam dikotomi ideologi thagut (berhala) dan ideologi Tuhan seperti yang sering didengungkan para fundamentalis agama; laku hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan cinta sesama menjadi begitu niscaya. Karena hanya dengan saling menghargai, menghormati dan cinta-mencintai, tatanan hidup yang damai dan jauh dari perang dapat terwujud.

Perwujudan jalinan persaudaraan ini tentu bukan hanya dalam Idul Adha atau perayaan hari besar agama saja. Dalam hal atau segi apapun, pasti akan ada ruang bagi toleransi, celah untuk kita dapat saling menghargai dan berbagi. Catatannya: asal kita mau. Asal kita mau mewujudkan nilai-nilai persaudaraan,pasti terbuka beragam jalan dan bentuk. Saya tidak berniat untuk promosi atau apapun, namun secara pribadi saya mengucap salut pada Djarum Black dengan inovasi-inovasi promosinya, terutama inovasinya dalam membentuk komunitas-komunitas berdasarkan hobi atau minat pribadi. Bagi para penghobi mobil, Djarum Black membentuk Black Car Community. Sementara Black Motor Community dibentuk bagi mereka yang senang berinovasi dengan kendaraan roda duanya. Bagi saya ini sangatlah positif dan patut dicontoh oleh pihak-pihak  lain yang memiliki kepentingan promosi, karena inovasi promosi Djarum Black ini tidak “jualan” belaka yang hanya berorientasi profit, namun di dalamnya mengandung semangat persaudaraan dan kebersamaan yang diawali dalam lingkup kecil, yaitu orang-orang yang memiliki kesamaan minat atau hobi.


Terakhir saya berharap, dengan kita berbagi salam dan saling mengucap selamat kepada mereka yang liyan, dapat merekatkan tali hubungan di antara kita. Bukan hubungan acuh dan dingin, namun hubungan hangat yang intim. Ini juga yang menjadi pesan moral Islam. Saling jaga menjagai, cinta mencintai. Tak ada permusuhan, tiada peperangan.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 23 Tanggapan... read them below or add one }

rumah blogger mengatakan...

jangan hanya hari raya bermaaf-maafan, pertemanan harus kekal abadi

Sabirinnet mengatakan...

wah kena terus SEOnya, semoga menang ya..

nuansa pena mengatakan...

Dibalik rangkaian kata kata ada maunya ya! Sukses dan menang!

-Gek- mengatakan...

Hai Mas, bagus ni postingannya. Pluralisme memang perlu toleransi yang luas.., iklas, dan rasa saling menghormati.
Besok2 ajarin saya ikut blog kompetition ya.. kagak ngerti nih, :)
Sukses terus!

Clara mengatakan...

iya dong, toleransi diperlukan nggak cuma antar semua umat beragama ya, tapi setiap pribadi masing" harusnya sih punya sikap toleransi
seperti yang dibilang, kalo kita mau...
kalo nda, percuma juga sih ada kata toleransi

SeNjA mengatakan...

setuju mas ^_^

dikompleks tempat aku tinggal mayoritas non muslim loh,tp kebersamaan dan rasa saling menghormati terjalin baik.

* Gak kok mas,aku gak makan banyak satenya nih...cuma 3 tusuk saja *_*
hiksss.... bkn krn g kebagian loh mas hehe....

selamat beraktifitas ^_^

Ateh75 mengatakan...

Tulisan ini mengingatkan kepada tetangga kami yg non muslim ,kebetulan rumah kami berhadapan ,tapi kerukunan dan keakraban kami begitu lekat.kami saling menghargai dan menghormati ,sampai2 setiap hari raya beliau menghantarkan kue yg spesial buat kami ,saya yakin mereka tulus dan ikhlas memberikannya tanpa tujuan lain ,kami merasakannya,tapi...bagian hari raya mereka ,kami terkadang bingung dengan cara apa kami membalas kebaikkannya.hanya sekedar mengingat kebaikkannya.Akhirnya kami hanya diam pura2 tidak tahu.tapi mereka pun mengerti dan tdk mempermasalahkan ,mereka lebih memntingkan kebaikkan sesama tetangga.Disinilah kita berhubungan dng siapapun walau antar agama sekalipun harus menjalin dng bailk.Untukmulah agamamu,dan untukkulah agamaku Alkaafiruun > ayat 6.

Newsoul mengatakan...

Ya setuju selalu ada ruang terbuka untuk toleransi, asal kita mau. Itupun salah satu esensi dari sebuah pengorbanan.

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

tenggang rasa ada di pelajaran anak SD, tapi orang dewasa mana mau sudi membuka kembali catatan mereka ketika SD

the international times mengatakan...

heheh nice posting sob...sayang skli jaman sekarang lebih banyak tidak ada ruang bagi toleransi heheheh :)

NURA mengatakan...

salam sobat
siip banget sobat,,
memang toleransi antar umat beragama paling penting,,mengingat di INDONESIA,,banyak agama yang dianut.
semoga selalu tercipta kedamaian dan persatuan.

diar mengatakan...

Indah sekali pesannya, kawan.

Hidup perdamaian!!!

Catatan yang bagus!!!

Halimin mengatakan...

Sebelumnya saya ingin berterimakasih atas komentarnya pada blog saya,terus terang masukannya sangat bagus nih dan akan kupraktekkan.Oh ya blog anda bagus dan postingannya menarik,informatif,penuh makna,dan filosofis.Kayaknya aku mesti banyak belajar dari anda

Aditya's Blogsphere mengatakan...

makna yang baik bisa ane dapetin dari sini......ga nyangka banyak dari temen-temen yang pandai membuat artikel......met sore.....

Aditya's Blogsphere mengatakan...

met mlm,yg ane pasang itu widget google pagerank,sblmny ane udah daftarin blog n verivikasi dgn cara masukin meta tag google verivication ke html page,di tmbh beberapa meta tag optimasi seo on page ny,tp ane g yakin itu pagerank milik ane,cz baru di pasang kok udah ndetek,tnggu aja bbrp mggu lg mgkin dh brbh,bls komen ny di post ane trbaru y,cz
biasany ane chek komen di post teratas

albri mengatakan...

Renungan yang maknyus, tapi saya pagi ini belum sarapan, jadi tambah laper deh lihat sate :D

Rkeyla mengatakan...

Nice post kawand

Munir Ardi mengatakan...

terimakasih sudah berkunjung sahabat kunjungan perdana dan langsung follow

insanitis37 mengatakan...

hampir semua sepakat ttg keniscayaan toleransi di tengah pluralitas multidimensional...
tp kenapa ya masih banyak golongan marginal yg terpinggirkan??

-Gek- mengatakan...

Mampir lagi,
ayo nulis lagi. :)

Saya (kalau di Indonesia) golongan marginal lo, tapi saya tetap bersikap toleransi. Siapa tau, golongan marginal (lebih) diperhatikan. :)

Zahra Lathifa mengatakan...

duhh...kok aku ternyata ketinggalan? maaf nich baru mampir...artikel yg menggugah hati nurani :) toleransi adalah sebuah pesan sosial yg indah yaa...

Dustin Dollin mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dustin Dollin mengatakan...

Nice Post Friend`s

suaveOnline

Posting Komentar