Sebuah Award, Belalang, dan Tanpa Filosofi

Jum'at. Inilah wedal atau wetonku. Konon hari ini pula yang menjadi hari baik buatku di antara enam hari lainnya. Karena tak mau dilabeli musyrik oleh sebagaian kawan islamis, akupun menyatakan diri tak mempercayainya. Walau jauh di alam bawah sadar, tersimpan kepercayaan kecil padanya. Ia terselip di antara akal sehat dan rasa spiritual. Mungkin ini warisan dari para leluhurku yang notabene USA (urang Sunda asli). Karena "ilmu" yang telah “mendarah daging” akan terrekam dalam gen manusia dan dapat terwariskan secara biologis. Mungkin dengan proses alamiah inilah “ilmu” menjaga diri dari kepunahannya.

Bukan bermaksud untuk "menyambung-nyambungkan". Juga tidak memaksakan korelasi tak tepat antar peristiwa demi menyokong suatu pendapat absurd agar terlihat konkrit. Namun
di hari inilah, Jum'at, wedalku, aku mendapat satu anugerah. Anugerah itu berupa penghargaan atau award dari salah satu sahabat blogger. Sahabat ini selalu menyajikan tulisan ringan nan sehari-hari namun dimaknai sedemikian rupa
sehingga bisa tampil dan ditilik dari sisinya yang lain. Mengubah peristiwa remeh temeh menjadi sesuatu yang layak diperhitungkan. Ia wanita (menghindari penggunaan kata per-empu-an),menamai dirinya "new soul". (Mba) Elly Suryani nama aslinya. Melihat title blognya saja: "Life With Your Own Vision" akan memaksa kita untuk menilai bahwa Mba Elly ini seorang yang teguh, tak terambing dengan visi-visi asing di luar dirinya, walau semapan dan sepopular apapun visi yang liyan itu. "Sendiri melawan dunia Mba?" Heheh.

Inilah wujud apresiasinya padaku.Terlepas dari mana asal award ini bermulai.



Belalang. Kenapa meski belalang? Apakah ada filosofi di sana? Saya yakin pasti ada. Bukankah selama ini kita percaya bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki nilai filosofis? Iseng-iseng, saya coba bertanya pada ibuku. Siapa tahu kearifan yang tersimpan dalam usia jelang senjanya dapat menawar rasa penasaran yang bermain nakal di hati. Seperti mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya mencipta (tentu saja yang belum ada) ibuku hanya menjawab, "Ah jelek!"
Oh, belalang juga berkonotasi jelek ya? Tapi kenapa tak dipakai Polri ya, malah lebih memilih buaya yang tak setia itu? Selorohku dalam hati.

Karena masih dahaga tentang sesuatu di balik belalang, akupun mencoba googling dengan keyword: Filosofi Belalang, karena terinspirasi dari judul buku Dewi 'dee' Lestari: Filosofi Kopi. Namun link yang ditampilkan di halaman pertama tak ada satupun yang relevan dengan "filosofi belalang". Sayapun teringat bahwa google saat ini telah menjadi arena adventure menantang yang dihuni para master SEO. Tak ada tempat bagi para filsuf! Mana mau filsuf optimasi search engine, hehe. Pencarian via dukun sakti Googlepun nihil. Akhirnya akupun tak tahu apa filosofi yang dapat diambil dari seekor serangga yang identik dengan Ksatria Baja Hitam itu.

Di saat itulah muncul perasaan ganjil dalam hati. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Perasaan absurd itupun mulai bergerak dan mencari bentuk, hingga sempurnalah dalam sebaris kalimat reflektif: “Apakah segala sesuatu harus selalu mengandung nilai filosofis?” Pertanyaan ini mengantarkan pada sebuah pertanyaan selanjutnya: Apakah sesuatu tidak bisa menjadi netral dan biasa-biasa saja, sehingga dapat dilewatkan begitu saja?

Filosofi tentu saja merupakan produk manusia. Karena ialah yang kuasa untuk mempersepsi, melakukan interpretasi, dan berakhir dalam pemaknaan atau pemberian nilai atas suatu fenomena. Kopi tidak memberi nilai bagi dirinya sendiri, sampai Ben, tokoh utama dari cerita Filosfi Kopi karya Dewi ‘dee’ Lestari,memberi makna bagi dirnya (kopi) sehingga muncullah “filosofi kopi”. Padi berbuah ya padi berbuah saja. Sampai akhinya ada orang yang merasa tergugah melihat pohon padi yang semakin berbuah namun tubuhnya semakin menunduk. Maka lahirlah istilah “ilmu padi” yang berarti--kurang lebih—tetap rendah hati dengan ilmu dan pencapaian yang dimiliki.

Itu semua mengantarkan saya pada sebuah pemahaman subjektif bahwa segala sesuatu di luar manusia adalah tak berwana.Tak berjenis. Netral. Kitalah sebagai penafsir yang melakukan pewarnaan dan pelabelan terhadap mereka. Sebagai manusia, dengan akal budi, kita memberi sesuatu pada dunia di luar kita sehingga akhirnya merekapun memiliki makna, nilai dan filosofi. Namun secara tak sadar sebenarnya kita tengah terjebak dalam sikap congkak dan berlaku totaliter. Sewenang-wenang dalam menafsir dan menilai sesuatu yang belum tentu sesuatu itu sesuai dengan tafsiran kita. Manusialah sebenarnya yang mencipta ini menjadi begini dan itu menjadi begitu, tanpa memberi kesempatan pada mereka untuk menjadi dirinya sendiri, apa adanya. Tanpa nilai dan tanpa filosofi.

Sikap seperti ini saya rasa relevan dilakoni saat dunia tengah dipenuhi banyak persepsi dan dijejali berjuta interpretasi. Yang mana sebagian atau keseluruhan interpretasi itu bisa jadi menyesatkan.Karena sejelas dan segamblang apapun kita mempersepsi, namun tetap saja sang pengamat berjarak dari yang diamati.

Sebagai ilustrasi, coba lihat barisan interpretasi atas fenomena bencana alam yang akhir-akhir ini sering melanda Negeri kita: gejala alam biasa, ujian, sampai laknat Tuhan. Yang mana yang paling benar? Jawabannya adalah tidak tahu. Karena seperti yang telah saya sampaikan di atas, kitalah yang menterjemahkan, yang memberi nilai.Sedangkan tentang sejatinya fenomena itu sendiri, hannyalahTuhan dan dirinya sendiri yang tahu. Bukankah akan lebih bijak bila memandang bencana itu hanya sebatas bencana saja. Tanpa dibarengi dengan tudingan yang belum tentu benar.

Akhirnya akupun menghentikan pencarian atas filosofi belalang. Biarlah belalang menjadi belalang, tanpa harus direduksi dengan sebuah penilian yang berbatas dan identik dengan kepentingan manusia. Saat ini aku lebih memilih hanya menjadi penikmat dan pengagum belalang saja. Hanya itu. Tak ada interpretasi. Tanpa Filosofi.

[Tambahan: Bagi sobat yang penasaran dengan filosofi belalang, silakan berkunjung ke rumahnya Mba Elly. Di sana ada dua post menarik tentang belalang: Pak Belalang dan Bu Daun; dan Belalang Yang Smart Enough]

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 10 Tanggapan... read them below or add one }

Donny mengatakan...

Ulasan dengan makna yang begitu dalam untuk seekor belalang ........

subagya mengatakan...

selamat ya dengan award barunya

alkatro mengatakan...

great post.. wedal kalau orang jawa menyebutnya sebagai weton.. saya kebetulan juga menghargai kepercayaan leluhur karena mereka menciptakan hal-hal tersebut juga dari ilmu dan keluhuran budi..
masalah musyrik.. mungkin saya juga masih musyrik mas; soalnya kalau saya sholat(kelihatannya sih khusuk) padahal kadang-kadang pikiran saya keluyuran ke pasar; jemuran yang belum kering sampai kucing yang belum saya kasih makan he he

Agung Aritanto mengatakan...

selamat dengan awardnya

akhatam mengatakan...

Sukses selalu... salam knal...

oema mengatakan...

Ehm..bahan renungan.. mnusia selalu memberikan citra (entah itu benar atau tidak)pada makhluk lain. seolah kita adalah cermin yang mngatakan bagus tidaknya sebuah pantulan..

-Gek- mengatakan...

Oke deh, nanti saya mampir, bagus lo dan keren awardnya, selamat ya!

diar mengatakan...

Pertama-tama saya ucapkan selamat mendapatkan award. Ditunggu pidatonya mengenai hal ini. He heh... (kalau bisa ditampilkan juga, naskah pidatonya. He heh...).

Mengenai tulisan: Yah namanya juga manusia, kepinginnya sesuatu itu ada artinya atau bermakna. Ijinkan aku menuliskan menurut pandanganku mengenai belalang. Belalang adalah salah satu bagian dari keindahan seorang wanita, yakni wanita berkaki belalang. He heh...

Newsoul mengatakan...

Hehehe, saya sangat terpesona dengan usaha yang sangat keras memaknai sebuah award yang saya turahkan ulang ini sobat. Ya, award tentu saja perekat persahabatan di jagad blogosphere ini. Sebagaimana saya diberikan sahabat saya Fanda, maka award itu saya anugrahkan kembali kepada sahabat saya yang lain. Apakah sebuah award harus memiliki filosopi, tentu saja tidak. Kebetulan gambar award dari Fanda tersebut adalah gambar belalang yang hinggap di dahan dengan latar sang rembulan. Belalang, mahluk yang bagi saya tidak jelek, kebetulan di Sumatera kami mengenal kisah Hikayat pak Belalang. Saya menanggapi belalng biasa saja, sama seperti saya menanggapi burung, seekor ulat, sekuntum bunga, sebuah tanaman Cungdiro dsb, mahluk pengisi alam semesta yang juga haru kita hargai keberadaannya. Tentang judul blog saya, hehe, Life with your own vision, saya memaksudkan "your"nya sebagai anda semua, kita semua, seyogyanya memiliki visi indah tentang tentang hidup ini, sesuatu yang tidak harus kita paksakan sama dengan orang lain. Begitu mas Ihsan. Terimakasih sudah memajang award ini. Selamat beraktivitas.

Fanda mengatakan...

Salam kenal! Aku kaget menemukan salah satu award 'belalang'ku ternyata nyangkut di sini juga. Entah kenapa aku jatuh cinta dgn gambar itu ketika googling. Sebenarnya lebih pada sisi artistiknya, bukan karena filosofi tertentu. Tapi, seperti yg Insan bilang, filosofi itu kan diciptakan manusia. Saat ini, ayo nikmati aja ketengangan si belalang yg lagi berayun-ayun di dahan itu ketika sang surya mulai tenggelam (eh, menurut kamu itu gambar sunset ato bulan ya? Klo ga salah aku googlingnya pake kata 'sunset')

Posting Komentar