Pemuda: Sebuah Otak-Atik Kata

Pe-muda. Pemu-da. P-e-m-u-d-a. Saya otak-atik kata “pemuda” ini menjadi beberapa variasi,mulai dari pemisahan imbuhan dari kata dasar, sampai menilik setiap huruf per huruf pembentuk kata ini—layaknya otak-atik Jawa—namun tetap saja saya tidak menemukan “sesuatu” di kata yang hari ini kita peringati bersama.

Sampai akhirnya sesuatu itu saya temukan (atau justru sesuatu itu yang menemukan saya) setelah saya mesandingkan kata “pemuda” ini dengan kata lain yang umum di masyarakat sehingga menjadi sebuah frasa. Seingat saya cukup banyak kata yang digabungkan dengan kata ini. Seperti, Pemuda
Indonesia; Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Persis, Pemuda Bulan Bintang, Pemuda Suryalaya. Atau dalam varian yang lain: Golkar Muda, ICMI muda, dan masih banyak lagi.

Dari frasa-frasa ini saya menemukan (atau saya ditemukan) ada sesuatu yang bagi saya janggal. Perhatikan saja frasa Pemuda Indonesia. Atau Pemuda Suryalaya. Dari dua frasa ini saja dapat kita lihat bahwa kata pemuda selalu menjadi sub, bagian, tak pernah menjadi induk atau inti. Sebagai ilustrasi, coba perhatikan frasa “Pemuda Suryalaya”. Melihat frasa ini asosiasi kita langsung terbentuk bahwa dalam diri Suryalaya itu ada sub, yaitu pemuda. Pemuda hanyalah bagian, bukan atau belum menjadi Suryalaya itu sendiri. Karena bagi yang telah tua tidak di embel-embeli dengan ‘tua Suryalaya’. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda dianggap masih menjadi potensi, belum aktual. Dalam konteks kasus ini, pemuda Suryalaya barulah menjadi potensi bagi Suryalaya, belum aktual atau benar-benar menjadi seorang Suryalaya.

Tentang “pemuda” yang dalam kesadaran bahasa kita memiliki karakter sub, asumsi saya semakin kuat ketika ingat bahwa, entah bagaimana awalnya, “pemuda” selalu dihubungkan dengan suatu pengharapan. Seperti dalam kalimat yang lazim di masyarakat: “pemuda harapan bangsa”, yang suka dipelesetkan menjadi “pemuda harapan pemudi”. Lagi-lagi dalam kalimat ini “pemuda” dianggap masih menjadi sesuatu yang potensial, benih, belum menjadi sesuatu yang telah actual. Ia hanyalah sebuah harapan, belum menjadi yang diandalkan. Terlebih, dalam kalimat ini saya melihat bahwa pengharapan terhadap pemuda masih terkesan basa-basi. Apabila pengharapannya serius maka kalimatnya bukan pemuda Harapan bangsa lagi, tetapi “bangsa mengharapkan pemuda”. “Harapan” dalam konteks kalimat “pemuda harapan bangsa”masih menjadi sesuatu yang absurd dan alternatif, tidak menjadi suatu pengharapan konkrit yang peranannya sangat menentukan.

Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa merupakan ekspresi kesadaran kolektif suatu masyarakat, suatu bangsa. Dari bahasa, kita dapat melihat dan mengukur tentang pandangan atau sikap suatu masyarakat terhadap sesuatu hal.

Apabila dalam tataran bahasa peran pemuda masih dianggap sebagai potensi-calon-bakal atau harapan alternatif, maka saya yakin memang itulah pandangan masyarakat terhadap pemuda karena bahasa merupakan cermin suatu masyarakat.

Sebagi pemuda tentu saja kita tak ingin selamanya dianggap sesuatu yang masih bakal, belum mewujud sempurna. Senantiasa diposisikan sebagai alternatif, bukan orientasi. Maka dari itu buktikanlah bahwa kita memang layak dijadikan yang utama, sejajar dalam kesempatan dan peran dengan mereka yang tua. Tentang cara, saya yakin anda semua pasti memilikinya. 

Dan kalau boleh berbagi,untuk saya pribadi, saya berusaha memberi kontribusi dalam bentuk kepenulisan, khususnya dengan mengggunakan media internet, yakni blog. Karena--seperti yang kita tahu--bahwa pengguna internet kian hari semakin meningkat secara signfikan. Tentu saja ini memiliki korelasi dengan minat baca masyarakat via internet. Dan ini juga yang menjadi salah satu motivasi saya mengikuti kontes blog yang diselenggarakan oleh Djarum Black. Selain merangsang saya untuk dapat menulis secara lebih kreatif--karena adanya kata wajib--secara pribadi saya sangat support sekali upaya-upaya yang dilakukan pihak Djarum Black dalam merangsang kreativitas para generasi muda; seperi dalam event Blackinnovationawards, dan Blackinnovationawards goes to campus 

Gambar diambil dari www.bloggaul.com 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar