Karnaval Hantu


Penyingkapan hal-hal tersembunyi. Pelaziman sesuatu yang tabu. Sebetulnya sudah agak lama saya ingin menulis mengenai hal tersebut. Namun setiap kali akan memulai, ada suatu perasaan mengganjal dalam hati yang mengatakan bahwa ada suatu hal yang belum tuntas. Sesuatu itu bernama paradoks. 

Pelaziman dan penyingkapan hal yang tabu, tersembunyi, selalu meninggalkan paradoks: upaya simpatik mengangkat sesuatu yang “bayang-bayang” dalam kehidupan dan kesadaran masyarkat menjadi benar-benar realistis, namun sekaligus penelanjangan yang bukan pada tempatnya dan berakhir menjadi eksploitasi yang menyakitkan.

Kita masih ingat, beberapa tahun silam--walau sampai sekarang pun masih berlangsung dengan porsi yang agak menurun--saat fenomena gaib yang misterius disingkapakan dan disajikan begitu vulgar di media-media visual sehingga menjadi bagian dalam kehidupan
masyarakat yang sehari-hari. Pengalaman “gelap” manusia berubah menjadi sesuatu yang biasa-biasa dan permukaan.

Mungkin saja hal ini berawal dari sebagian orang dalam lingkungan industri media elektronik yang ingin membuktikan bahwa fenomena ghaib itu bukan isapan jempol belaka, seperti pandangan orang-orang modern yang skeptis terhadap hal-hal berbau takhayul. Namun setelah hal tersebut telah menjadi komoditi dan bersentuhan dengan pasar, niat semula menjadi kebablasan dan yang terjadi hanyalah ekspolitasi yang berorientasi uang semata.

Akhirnya fenomena “karnaval hantu” ini telah mendegradasikan nilai ghaib yang asalnya merupakan bagian dari paket keberimanan yang bernilai tinggi, sacral, dan personal, kini menjadi sesuatu yang nampak, terbatas dan dialami bersama. Fenomena ghaib tidak lagi bersifat misteri yang berkahir di wallohu ‘alam bi ashowab namun menjadi sesuatu yang realistis dan berakhir pada: “Ih, ngeri ya…” Walau sebenarnya kita tidak layak mengatakan penampakan-penampakan yang terjadi dalam acara-acara seperti itu sebagai hal ghaib, karena kalau jelas terlihat, itu telah keluar dari konsep ghaib.

Fenomena itu telah sampai pada tarap yang sangat membabi buta. Lihat saja, bagaimana mungkin para diva, divo, artis, actor, selebritis, berebut rating dengan segerombloan hantu: kuntil anak, genderuwo, pocong, tuyul, dan kawanan seram lainnya. Acara-acara ghaib yang disajaikan secara tak wajar telah membatasi konsep ghaib yang teramat luas dan mendalam menjadi hanya sebatas hantu yang terlihat kasat mata, dan tentu saja menakutkan. Kini orang tak perlu lagi memiliki kemampuan supranatural tertentu untuk dapat mengakses dunia “sebelah”. Hanya dengan duduk manis di depan TV sambil memegang remote, dunia ghaib telah dapat tersingkap.

Saya pun tak habis pikir dengan beberapa kalangan yang terkesan acuh, cuek, dalam merespon fenomena ini yang jelas-jelas tak memiliki nilai edukasi sama sekali (setidaknya menurut pandangan subjektif saya). Kondisi ini menurut saya tak adil. Kenapa respon masyarakat begitu ketat tatkala berhadapan dengan promosi rokok misalnya. Padahal kita tahu bahwa dalam materi promosi rokok, khususnya promosi dalam media audio visual, tak melulu mengajak orang untuk merokok. Banyak sekali bentuk pengiklanan rokok yang kreatif dan memiliki estetika tinggi. Contohnya Djarum Black. Slogan "think black" dalam iklannya begitu menginspirasi. Tidak hanya inspiratif, bahkan banyak bentuk promo Djarum Black yang berisi edukasi dan memberi stimulus kepada masyarakat untuk berinovasi. Dalam konteks ini kita dapat menyebut satu event Djarum Black: Blackinnovationawards.

Hal Ini juga bisa menjadi sangat menyakitkan di sisi yang lain. Dapat kita bayangkan bagaimana kecewanya masyarakat Jawa terutama warga sekitar pesisir Pantai Selatan yang menghormati sosok ghaib Nyai Rara Kidul yang misterius dan menempati ruang tertentu dalam kesadaran kolektif masyarakat (Spiritualitas Jawa percaya bahwa Nyai Rara Kidul adalah seorang petapa sakti, putri dari raja Pajajaran yang karena kesakitannya ia kuasa berganti rupa dan akhirnya menjadi pimpinan semua makhluk halus di seluruh Jawa) dan kini tiba-tiba mewujud sebagai sosok hantu wanita cantik yang—parahnya--terkesan erotis. Serta banyak lagi kisah-kisah ghaib dan dongeng rakyat yang telah lama hidup dalam kesadaran masyarakat mengalami pengkerdilan akibat visualisasi vulgar.

Akhirnya, saya berasumsi bahwa penyingkapan hal-hal ghaib dan tabu secara tak proporsional hanya akan membawa pada eksploitasi yang merugikan. Dulu, saat hal-hal ghaib masih menempati "rumahnya" yang disebut misteri, kita bisa memberi dan mengambil makna dari sana. Bukan saja sebagai khasanah yang kaya, namun itu semacam peneguhan bagi kita sebagai manusia bahwa ada kekuatan lain di luar sana yang ikut hidup, bahkan dapat mengendalikan “dunia” kita. Kita pun menjadi sadar akan lemahnya dan keterbatsan manusia.

Namun kini, saat fenomena ghaib dan dongeng rakyat muncul di kotak aneh bernama TV dan disajikan sebagai tontonan ringan, sebagian orang semakin yakin bahwa tak ada yang tak mungkin bagi manusia. Tak ada satu pun luput dari kekuasaan manusia. Bahkan hantu yang absurd sekalipun, benar-benar dapat di-kongkrit-kan dan dikendalikan.

Lihatlah rembulan saat ia muncul terburu, sebelum malam tiba. Ia terlihat tak ubahnya seperti awan putih yang berbentuk bulat. Hilanglah keanggunan dan daya misitsnya. Ia yang agung, menjadi sederajat dengan kumpulan asap putih yang biasa disebut awan. Itu semua karena waktu dan tempat yang salah. Namun lihatlah kala rembulan bercahaya penuh di gelap malam. Auranya akan menyihir siapa saja yang berani menengadah ke wajahnya. Ia terlihat menjadi sang ratu yang menguasai dunia dengan titah kebajikan dan kasih. Itu karena ia berada pada saat dan tempat yang tepat.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 4 Tanggapan... read them below or add one }

annie mengatakan...

sesungguhnya Allah swt hanya memberikan ilmu yang berkaitan dengan hal-hal yang ghaib, sedikit saja. Dan ketika manusia mencoba menggalinya lebih dalam hanya akan menghilangkan nilai kemuliaan manusia itu sendiri.

Tulisan bagus, sobat ...

dewi nurhayati mengatakan...

Hantu???iiihhh....
Jangan ngomong2 hantu ah, aq takut nit, hehe

lagi usil mengatakan...

jadi apakah maksudnya biarlah yang gaib tetap menjadi gaib? tapi mungkin memang lebih baik begitu.... btw, sesuatu itu menjadi gaib karena kita belum tahu apa persisnya itu.

Anonim mengatakan...

Komentarku nyaris percis perkataan Annie, pula perkataan lagi usil. Untuk teh Dewi, janganlah kau takut sama hantu lantaran kita pun bakalan menjadi hantu. Hi hi hi... (Meureun). He heh...

Posting Komentar