Selepas Tes CPNS

Hari ini aku tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Bukan CPNM (Calon Pegawai Negeri Militer). Kenapa? Jangan tanya, karena aku hanya akan menjawab "tak suka aja" dan kalian pun akan bersekongkol menudingku sedang bicara tak jujur. 

Kuikuti tes tanpa belajar tanpa persiapan. Bahkan pensil dan serutanpun mendadak beli di jalan. Penghapus, ah aku lupa si putih mungil itu. Lebih tepatnya malas beli! Karena aku yakin di sana akan ada orang baik yang baru saja kenalan namun telah langsung percaya. Dan benar saja, orang itu berkata, "Kalau mau silakan aja mas penghapusnya dibelah dua" Apa aku bilang kan? Hapus anggapan kalian bahwa tabiat dasar manusia itu adalah jahat nan aniyaya.

Memang tak ada persiapan.  Bangun kesiangan karena malamnya begadang guna otak-atik  template demi kepentingan kompetisi, plus wara-wiri ke blog-blog sobat, terutama ke blognya teman-teman di Black Community yang ikutan Djarum Black Blog Competition Vol II. Dan ternyata hasilnya  cukup memuaskan--sejauh penilaianku sendiri. Kini red-black mendominasi sekaligus menjadi karakter blogku ini. Tak terasa nongkrongin komputer sampai sekitar jam dua pagi. Lebih tak terasa karena sewaktu online "lembur" itu ditemani Djarum Black Slimz yang dipadu dengan bergelas-gelas capucinno. Mmh, mantap....!

Melihat soal-soalnya sih aku pede sekali. Walau jawabannya gak tau juga ya. Pede lulus dong? Tanyakan pada ibu atau teman-teman dekatku. Tiga tahunan terakhir, setiap aku selesai testing CPNS dan mendapat serbuan pertanyaan itu, hanya satu jawaban konsisten yang selalu keluar dari mulut tak bertulang ini: "Pede lulus!" Dan selama itu pula lidah memang benar-benar tak bertulang.Sebagai orang yang telah malang melintang di dunia pertestingan CPNS, aku tahu betul apa saja yang dikompetisikan dalam perebutan kursi anget-anget kuku PNS ini. Semuanya dirangkum dalam rumus 3 K: (Aku tak bermaksud mengingatkan sobat semua pada tokoh agama AA Gym)
  1. Kompetensi.
  2. (Katanya) kedekatan. Di dalamnya termasuk segala unsur.
  3. (Konon) keberuntungan atau milik.
Untuk point pertama, ini berkaitan erat dengan kemampuan akademik. Oh ya, ditambahkan sedkit: posisi duduk. Bukankah posisi menentukan prestasi? Saya sih agak ragu juga terkait opsi ini. Lho, kenapa? Saya kasih gambaran saja: IPK cukup gede, namun berjalan lurus dengan SP (Semester Pendek/Semester Penyelamat) yang banyak, itu namanya apa? Silakan menafsir. Sedikit tambahan, proses kuliahpun memerlukan waktu injury time satu tahun. 

Posisi duduk? Posisiku paling belakang. Bangku depan kosong, kanan juga tak hadir. Untuk yang kiri akunya telah terlanjur malu. Udah penjiem penghapus, masa mau dicontek juga?

Opsi ke dua, jelas aku tak punya. Relasi merupakan konsekuensi logis dari lingkungan atau pergaulan. Nah ini, kerja cuma nongkrongin komputer butut doang, kapan kenalan sama "mereka"nya? Ya keculai kalau "mereka" blogger juga. Tapi kayanya gak mungkin deh. Mereka kan kerjanya dengerin ide, bukan nuangin ide! Kalau fesbuker sih mungkin. Gak ada yang ngespos, ya udah ngespos diri.

Masa aku mau ngandelin kedekatanku dengan para Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dampinganku? Inget ya, kedekatan di sini artinya deket sama mereka yang sekolah, sekaligus berwenang. Sedangkan mereka, putus sekolah dan tak berkuasa. Masa iya testimoninya mau ada yang denger?

Untuk yang terakhir: milik, keberuntungan, kehendak alam, atau dalam bahasa agama: takdir. Ini cukup kompleks. Karena keberadaannya juga--meminjam judul lagu Utphia--antara Ada dan Tiada. Ada karena ia cukup sering kita temui. Ia dapat kita temukan dari seorang yang setia kawan yang nganter sahabatnya casting film. Eh taunya iya sendiri yang dapat peran. Jadi artis beken pula. 

Atau, berawal dari niat nyolong mangga pak haji, malah berjodoh sama anaknya yang ca'em nan sholehah itu. Sobatpun dapat menambah daftar persitiwa "milik" ini.

Sekaligus ia juga tiada. Karena kehadirannya tak dapat dipastikan sama sekali. Tak mungkin ada orang yang berpikir: Tiduran di rel kereta ah, kalau miliknya selamat mah, kereta juga gak bakalan ngelindes.  Atau, sudahlah besok hari kita dan anak-anak jangan makan dulu. Toh kalau miliknya harus kenyang, ya pasti kenyang!


Itulah milik. Ghaib dalam keberadaannya dan Ada dalam kegahaibannya. BIla kompetensi dan dan kedekatan itu masuk wilayah lahiriah yang dapat dipahami oleh alam pikiran, sedangkan milik atau keberuntungan berada dalam wilayah bathin. Ia tak bisa dipahami oleh akal, karena tempatnya bukan di sana. Namuni ia terletak di dalam ruang spiritual yang berada di diri. Ia tak dapat diperdebatkan, namun terbuka untuk dihayati. Itulah milik.

Ada juga sebagian orang yang mereduksi kehendak alam ini ke dalam nominal yang pasti. Matematis. Mereka selalu bilang, "Sebesar apapun upaya manusia dalam menggapai kehendak, itu hanya 99%. Belum seluruhnya, karena sisanya, 1% adalah kehendak Tuhan alias takdir"  

Walaupun cuma berkuantitas kecil (1%) namun ia banyak dijadikan tumpuan harapan kebanyakan orang. Mungkin karena ia penentu, penggenap. Lebih baik satu menggenapkan daripada 99 melenyapkan.

Dan pertanyaan kritis atas pandangan yang hampir mapan ini adalah: apa jaminannya kita telah mempersembahkan 99%, dan hanya menunggu sisanya saja? 

Adakah kita yang kegeeran? Atukah kita malas bergelut di 99% yang notebene ada dalam kendali kita, dan lebih senang memperhatikan 1% yang sebenarnya di luar kekuasaan dan kendali kita? Kalau jawabannya iya, bersiaplah mendapat julukan baru dari Covey: Si Manusia Reaktif. Adapun aku, telah duluan mendapatkannya  


 







 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar