Festival Meja Makan

Siang itu aku duduk termenung di depan meja makan yang telah tersaji makanan komplit dengan lauk-pauknya. Tak seperti biasanya, mereka terlihat murung. Tak ada rona bahagia di wajah-wajahnya. Beban yang teramat dalam tergambar jelas dalam mimik dan auranya. Suasana kurasakan begitu tegang dan ganjil. Aku terus memperhatikannya.

Dimulai dengan air putih dalam gelas kaca bercorak belimibng. Ia terlihat mulai bergerak-gerak gelisah. Riak airnya terdengar begitu gaduh. Andai saja ia mengisi penuh wadahnya, tentu saja sebagian telah tumpah ke meja makan, terpisah dari kawanannya. Perbuatan air putih kini berhasil memprovokasi sepotong daging sapi berlumurkan bumbu yang telah bertransformasi menjadi makanan khas padang yang pedas: rendang. Ia mulai

beremoh. Mungkin kesadaran masa lalunya sewaktu masih menjadi sapi mulai bangkit kembali. Emohan yang mulanya terdengar pelan, berat dan tak bertenaga kini mulai mengeras dengan intensitas yang semakin tinggi. Daging rendang terdengar menyatakan sikap setuju pada kegelisahan air putih. Melihat reaksi dari kawannya, ulah air pun semakin menjadi. Suara riak air yang tadinya terdengar saru kini semakin terang. Semakin jelas bahwa riak itu menyatakan sebuah sikap protes. Tentu saja protes yang tak aku pahami.
Sendok dan garpu yang mulanya lebih memilih untuk bersikap netral dan pasif rupanya terbakar juga emosi solidaritasnya. Atau mungkin mereka tak kuasa menahan beban moral-yang selama ini disimpan rapat-rapat dalam alam bawah sadarnya-menjadi eksekutor bagi daging rendang dan sejenisnya. Peristiwa ini mereka jadikan momment untuk membuktikan pada daging rendang bahwa selama ini ia terpaksa menjalankan tugas, dan sebenarnya "kami juga berada pada pihak kalian"! Sendok dan garpu mulai beradu, saling menggesek-gesekkan dan sesekali saling membenturkan tubuhnya. Mereka menjadi semacam chear leaders bagi air putih dan rendang yang sedang berlaga, demo yang sedikitpun tak ku mengerti

Melihat semangat patriotik rakyatnya yang begitu tinggi tak ayal membuat sang pimpinan tersadar atas kemengalahannya selama ini. Jantungnya berdetak semakin kencang. Aliran darah yang beredar dalam tubuhnya kini terasa panas dan sanggup memanaskan kedua matanya yang terlihat semakin merah.

Sesaat memorinya melayang ke sebuah area persawahan saat dirinya masih menjadi pohon padi. Ia teringat bagaimana dirinya berjuang keras demi mempertahankan hidup. Dengan tetap berdiri ia harus kuat melawan tikus-tikus sawah yang cekatannya bukan main. Tubuh-tubuh tikus yang bagi manusia hanya menimblukan sensasi geli, namun baginya ia adalah ancaman hidup. Ia pun teringat pada jasa sahabat lamanya, ular sawah. Belum lagi kesalnya menghadapi burung-burung nakal yang begitu doyan memacoki dirinya. Dan lagi-lagi ia hanya bisa menghadapinya dengan terpaku sambil sedikit berharap pada orang-orangan sawah, hasil kreasi dari pak tani yang kreatif. Ia pun bersyukur pada pak tani.

Perenungan kilat ini membawanya pada sebuah kesadaran revolusi. "Demi Dewi Sri yang memberkahi diriku dengan anugerah hidup, aku tak boleh mati sia-sia". Kini matanya yang telah merah menyala beredar mengelilingi air putih, daging rendang, sondok, garpu, dan rakyatnya yang lain yang memang menunggu titah rajanya dengan harap-harap cemas. Akhirrnya revolusi pun dimulai. Dengan lantang nasi memberi komando "Hanya ada satu kata, LAWAAAN"!

Sesaat kegaduhan menghilang, tergantikan dengan hening yang membius. Tak ada gerak ataupun isyarat. Suasana terasa mencekam. Hanya terlihat mata-mata prajurit yang menatap patuh pada komandannya. Namun setelah sekian detik berlalu, kini meja makan terdengar begemuruh dengan sorak sorai dan yel-yel pembakar semangat. Lauk pauk yang mulanya menggugah selera kini berubah menjadi prajurit-pajurit perang yang siap mati demi sebuah tuntutan, yang sekali lagi masih belum aku mengerti.

Kulihat sebuah festival gaduh di meja makan. Bukan hanya para pionir saja yang beraksi, namun kini semua anggota meja makan telah terlibat aktif. Sambal berteriak, lalap berorasi, dua potong tempe lompat-lompat tak jelas, bahkan kerupuk pun berkomat-kamit seperti mengirimkan jampi jahat untukku. Dan sang komandan, nasi dapat kulihat murkanya begitu menyalak-menyalak. Sepintas aku miris melihatnya. Di hadapan bala tentaranya ia terlihat begitu gagah seperti Saladdin saat memipin pasukan muslim dalam perang salib.

Ingin terhindar dari dominasi mereka, aku putuskan untuk menyerang balik mereka semua. Dengan satu hantaman keras tangan kanan ke meja makan,"Stop"! Mereka semua terdiam. Kini keheningan kembali menjalar mengitari meja makan. Semua anggota meja makan kembali terpaku berhenti dari aksinya. Bahkan kerupuk pun berhenti berdoa. Atmosfer meja mekan terasa begitu dingin, mencekam. Walau aku tahu pasti mereka diam bukan karena takut mati melainkan komando dalam isyarat yang diberikan komandan nasi. Kutatap nasi dengan amarah. Ia balik menatapku dengan sorotan mata menuntut. Di matanya kulihat ia memendam kepiluan teramat dahsyat yang hanya bisa dibandingi dengan kepiluan Ibis saat diusir Tuhan yang telah ia sujudi beribu-ribu tahun. Perlahan namun terdengar menggelegar, ia berbicara yang diarahkan hanya untukku, "Kami hanya menuntut apa yang seharusnya engkau tunaikan. Tolong, sempurnakan qada dan qadar kami"!

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 19 Tanggapan... read them below or add one }

Ndoro Seten mengatakan...

subahanallah....ini kan kisah miniatur negeri zamrud khatulistiwa yang katanya penggalan tanah surga itukah?

annie mengatakan...

Ide yang menarik, sobat. Bisa menjadi seribu satu tafsir. Mereka ditakdirkan sebagai sarana menuju keseimbangan alam, manusia khalifahnya. Protes mereka adalah protes alam yang membumihanguskan keharmonisan. Maka agar kembali damai dalam cinta, tempatkan mereka dengan mulia, sebagaimana awal penciptaan mereka, juga awal penciptaan manusia!

mas ichang mengatakan...

wew...salut... pemilihan kata yang mantap......... ini bisa sebuah surat tuk dilayangkan ke pihak yang berkepentingan mas.

Newsoul mengatakan...

Hm....tak terbayangkan, metafora yang unik. Permintaan untuk minta disempurnakan qadha dan qadar itu juga berat. Mantap sobat. Tentang komentar di postingan saya, ya itu curahan hati yang mantap juga. Bedanya saya memaksudkan hal tsb sebagai bekal melakukan perjalanan hidup di dunia, anda memfokuskan pada bekal di akherat kelak. Bekal utama keyakinan dan cinta (padaNya), mustinya cukup juga sebagai bekal untuk perjalanan ke akherat.

M.RIDWAN MAHADI A.T mengatakan...

dari judulnya aja sudh keren "Festival Meja makan",,,dan Di "matanya kulihat ia memendam kepiluan teramat dahsyat yang hanya bisa dibandingi dengan kepiluan Iblis saat diusir Tuhan yang telah ia sujudi beribu-ribu tahun" kata kata ini sungguh luar lebih dari biasanya(luar biasa)..saya sangat salut kepada mas Insan,Imajinya tinggi. Salut banget Mas,saya Acungkan Dua jempol,Mantaf.....dan saran saya Postingan Mas insan kan bagus bagus tu kenapa nggak diterbitkan aja...apalagi yang satu ini,Mantaf deh...bukan sekedar pujian tapi Nyata!!!!(saya baca berulang ulang lho!!!nice writing.....

insanitis37 mengatakan...

@All: Terimakasih banyak atas waktu yang telah sobat semua luangkan...
Allah Yang Maha Menggores Pena

www.sampara.com mengatakan...

Hmmm... mantap deh pokoke.

Irwan Bajang mengatakan...

Baca2 tulisan di sini asik2..bagus dan keren

lina@happy family mengatakan...

Festival meja makan, saya takjub nih dengan pemilihan dan penyusunan kata2nya... Pikiran kritis yang disampaikan dengan cara tak biasa!

lagi usil mengatakan...

wah selamat udah merambah dunia perdotkoman ehehh...sudah saya update bro linknya. gimana kalau kita tukaran link? link anda sudah saya pasang di blog temanz: http://www.garis-bawah.com/blog-temanz. trims...

minomino mengatakan...

well,keren...saya jadi ingin menyaksikan kegaduhan yang terjadi :)

ateh75 mengatakan...

Subhanallah rangkaian tulisan yg sarat makna ,semua yang hadir diFestival meja makan semua mengandung doa ,tanpa kita dengar.

rahasia yang terabaikan mengatakan...

GAK ADA KATA
LAIN SELAIN BAGUS Y,ANE SAMPE RELA HABISKAN WKT SORE UNTUK MEMBACA SAMPAI HABIS,MSKI HNY BISA ON LWT HP DAN DGN KONEKSI PUTUS2,TP TAK MENGAPA,OH YA,BEBERAPA KATA DARI CERITA D ATAS HAMPIR BERCIRIKAN 'HEMINGWAY' YG MENGGAMBARKAN RASA KE DALAM KATA...

suguh kurniawa mengatakan...

saya jatuh cinta pada tulisan ini.....nuansanya sangat politis sekali, banyak memakai simbol simbol yang terkesan sinis......^_^

Galeri mengatakan...

Sayang, saya tidak ada waktu festival itu terjadi.... hehehe bercanda. T.O.P BGT, sob. Keren abiiiiiiis!!!!!

Agung Aritanto mengatakan...

sebuah ide yang sederhana tapi hasilnya sungguh bagus saya suka dengan artikel anda ini

javabis99 | Bisnis n Hobby Blog mengatakan...

artikel bagus sekali sobat. salam.

SeNjA mengatakan...

sebuah metafora yg keren bgt,ide yg unik... gak bisa kmntr lagi,salute *_*
di blog ini byk sekali tulisan yg dalem dan sarat makna,...

Mizan mengatakan...

saya kagum dengan tulisan2nya, ide nya bagus.. sy harap bs membaca tulisan seperti ini lagi.. :)

Posting Komentar