"Dimanakah Cinta?"


"Dimanakah cinta?"

Wajah itu kini lekat memandangku sempurna.
Kepedihan macam apa yang telah ia arungi hingga mendapatkan kearifan puncak yang tegas tergores dalam raut rupa sucinya?
Mata putih itu masuk menembus jiwa, menelanjangi diri yang selalu bermahkotakan kepura-puraan.
Aku hanya tertunduk memandang bumi, seolah tak mau kehilangannya.
Satu gelengan kecilpun terlontar dari sisa kesadaran yang hampir musnah

Gelombang kata-kata berderu memenuhi semua ruang otak, berkelindan membentuk jawaban-jawaban sekaligus pertanyaan.
Namun gelombag itu tak kuasa membuncah. Ia hanya menderu deras menyusuri lorong-lorong sarap dan menyisiri serabut-serabut maha tipis yang berkusut di kepala.
Aku hanya bisa pasrah mengalah di hadapan perbawanya yang hanya bisa disaingi Sang Nabi.

Seuntai angin surga menghembus keluar dari dadanya.

Ia menerpaku lembut. Kesejukannya yang hakiki menyiram hati bergurun yang kerontang. Lama aku tertegun dalam sensasi surgawi dan penyaksian atas cinta tak berbatas. Tubuhpun akhirnya bergoyang tak kuasa menahan beratnya cinta yang menindih, dan rindu yang menghujam.

Saat diri berada di puncak kepayang, sayup terdengar lantutnan seruling nay mengalun dari bibir makshumnya, membangunkanku.
Kudengar irama nay berbunyi syahdu: "Carilah cintamu!"

Hati yang tersadar karena mabuk memberi sejumput keberanian dalam diri. "Ke mana ku harus mencari?"

Ia hanya menyunggingkan bibirnya, tersenyum. Seulas senyum yang membuatku tenggelam dalam samudera hatinya yang tak bertepi.
"Waktuku tak banyak. Aku harus segera beranjak"

Perasaan putus asa menggores jantung hingga nanahnya mengucur membasahi kalbu.
Pedihnya pengalaman menyeret ingatankau pada suatu masa saat diri berpisah dengan sang asal. Ketika seruling terpisah dari dapuran bambu.

Dengan satu teriakan hati, kusempurnakan sayatan ini hingga perih menjelma menjadi diriku sendiri. "Tak bisakah kau tinggalkan pesan atau petunjuk?"

"Ia berada di dua jari di bawah susu kirimu"

Hening.
Udara terlihat berwarna.
Gerak dunia terasa berhenti.
Poros bumi beralih ke tubuhku. Diriku diam terbakar. Diriku yang menyaksikan ia menghilang ditelan zaman. Zaman yang ia kuasai.

Gambar diambil dari sini


Reblog this post [with Zemanta]

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 10 Tanggapan... read them below or add one }

diar mengatakan...

Kawan, apakah "di manakah cinta itu" sama dengan apa itu yang namanya ektase.

Tutur bahasanya lembut...

feverklik mengatakan...

ok nice inpoo ditunggu kunjungannya

irmasenja mengatakan...

selamat pagi,...

penyusunan kalimatnya bgs bgt meskipun aku hrs sedikit berpikir hehe...mencari apa makna dari tulisan ini.
pencarian cinta kah ??

tetep berbagi mutiara kata sob... ^_^

erlyna maya mengatakan...

... kalimat demi kalimat sell memerlukan beberapa saat untuk mencerna artinya... Aku yg LA-LO atw memang ciri khas Insan yaaawh... whatever... aku suka...

Nur_Ma"Khairatun hisan" mengatakan...

Salam...em..best,banyak mkne yg tersirat,sampai kne bace 2 3 kali..hu2,trskan pencarian 'CINTA' yg hakiki...peace:)
-Cantik layout baru.

lina@happy family mengatakan...

Tulisan yang indah, tapi saya agak sulit mencari makna yang tersirat... Mohon maklum, orang awam nih

rahasia yang terabaikan mengatakan...

hai kawan.......wah-wah...templatenya udah bagus gtloh?klo di edit malah jelek nih....cz udah rapi......makasih ya......kemarin ninggal komen di blog q...cm baru sempet di baca gt.......salam!!!

masterGOmaster mengatakan...

puisi yang menari hati memang sih kalo bicara tentang cinta di sekeliling kita bagaikan taman firdaus, bahagia selalu. BTW tentang pertanyaannya.. templatenya di kembalikan ke classic saja terus periksa ada perubahan nggak.tapi ingat harus di download dulu templatenya jaga2 kl ada kesalahan lg.terima kasih

ateh75 mengatakan...

Aliran sahdu tulisanmu membuatku terpesona Akhi..semoga cintamu kan kau raih dalam hariban-Nya.

oema mengatakan...

wah... jadi inget Jalaludin Rumi.hehe.. dimana cinta? hanya kamu yang sanggup merasakan keberadaannya, bahkan di saat matamu terpejam..

Posting Komentar