Ramalan Kiamat 2012 Itu

Di tengah gonjang ganjing ramalan kiamat 2012, terdengar suara-suara parau yang membuat alun isu itu terdengar semakin sumbang. Ia menyemarakkan bentuk kreatifias manusia itu dengan berbagai applause dan respon. Mulai dari anggukan mengiyakan, sikap ambigu yang tergambar dari angkat bahu, sampai mengenyahkan sama sekali.

Dari sekian banyak suara parau di tengah isu ramalan kiamat ini, ada satu suara yang terdengar nyaring namun sekaligus rancu dan takut. Suara ini bernada sinis dan berwujud sarkasme. Penyuaranya menafikan sama sekali prediksi kiamat. Namun tidak hanya sampai di situ. Penolakannya membabi buta. Ia menyerang personalitas para “peramal” dengan tusukkan lidah menyayat. Setahu saya, suara ini bersumber dari sebagian agamawan Islam. Yang menilai dirinya sendiri modernis.

Mereka ini orang-orang tak berbeban. Keringanan mulut mereka hampir menyerupai muntah yang tak pernah bisa ditangguhkan. Ia akan dikeluarkan langsung dari perut menuju mulut, tanpa pernah nyangkut di otak. Mereka berbuat dzalim dengan menyerang personalitas, tidak ksatria karena enggan bergelut di medan argumen. Bagi peramal yang berasal dari spiritualis mereka labeli dengan: musyrik. Untuk para ilmuwan mereka hakimi dengan: kafir. Sekali lagi, tanpa beban. Dari perut berakhir di mulut.

Bukan berarti saya benar, namun bagi saya pola pikir mereka rancu. Dengan lantang seperti halnya para pesabda, mereka menyitir dalil agama yang menyatakan bahwa “pengetahuan manusia tentang ghaib—salah satunya kiamat—hanyalah sedikit saja. “

Kita simpan dulu argument mereka ini. Sekarang mari perdengarkan tuturan mereka selanjutnya: “Sok tahu! Tidak ada seorangpun yang tahu akan hari kiamat.” Dengan mengaksesorisi ucapannya dengan embel-embel agama agar orang lain takut menyerang pendapatnya, mereka hiasi tutur itu dengan kata-kata minimalis yang manis: “Mendahului Tuhan!”

Bagi saya rancu. Bukankah mereka sendiri yang menyatakan informasi agama bahwa pengetahuan tentang hal ghaib itu sedikit saja. Namun dengan menegaskan: tak ada satupun orang yang tahu kapan hari akhir akan terjadi, seolah mereka tahu pasti tentang hal ghaib. Tahu pasti bahwa tak akan ada yang tahu mengenai hari akhir. Bukankah ini kontradiktif? Lalu, frasa “sedikit saja”. TIdakkah itu berarti bukan tidak ada sama sekali?

Saya melihat bahwa sumber dari segala sumber penloakan ekstrim itu bukanlah murni dari semangat agama, namun lebih cenderung pada ketakutan personal. Ketakutan akan kebenaran prediksi tersebut. Mungkin saja diam-diam, di alam bawah sadar, mereka menyimpan satu kepercayan kecil pada ramalan itu. Karena mereka ingin menutupinya, terutama menutupi dari dirinya sendiri, maka ditolaklah ramalan itu, tanpa lupa menyerang para sumber ramalannya juga.

Di sini saya bukan membela pihak yang melakukan dan percaya pada ramalan kiamat itu. Namun saya menyayangkan sikap dan perbuatan mereka yang menolak tanpa adab. Bukankah setiap orang mempunyai kemerdekaan untuk berpendapat, menganalisa dan mengambil predisksi? Lalu kenapa yang tak percaya akan hasil prediksi itu jadi kebakaran jenggot? Perbedaan dalam hal prediksi itu kan biasa. Ya namanya juga prediksi, ramalan. Mungkin di sinilah letak urgensi keberimanan yang netral. Mengimani sesuatu tanpa harus menyalahkan apalagi menyerang “iman-iman” yang lain.


Bila iman atau kepercayaan telah mengakar kuat dalam diri, ia tak akan takut pada pertanyaan dan sanggahan. Sebaliknya, iman yang goyah selalu takut pada sanggahan dan pendapat lain.Teks
Apakah kita pernah mencari pembenaran, justifikasi, mereka argument untuk menegaskan 2+2=4? Saya rasa tidak. Karena kita telah benar-benar mengimani bahwa hanyalah 4 hasil tambah 2 dengan 2. Kalaupun ada orang yang tiba-tiba menyatakan hasil dari penjumlahan itu adalah 5, saya yakin kita hanya pergi memunggunginya tanpa buang-buang waktu berdebat dengannya. Itu karena kita yakin.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 8 Tanggapan... read them below or add one }

SeNjA mengatakan...

hemm,....

subhanallah,sereemmmm.... kiamat pasti adanya tapi hanya Allah yg tahu.

ajeng mengatakan...

Kiamat itu pasti datang,cuma kita tidak tahu kapan waktunya. Dari pada mikir kapan datangnya, akan lebih baik kalau kita membekali diri kita kalau sewaktu-waktu kiamat itu datang.. Begitukah?

ateh75 mengatakan...

Bagi kita sebagai umat beriman tidak perlu risau dengan isu kiamat 2012,tidak perlu menunggu 2012 untuk menunggu kiamat bila kita takut dengan kematian kita ingat detik ini apakah esok kita masih ada didunia ini ? jadi persiapkanlah amal ibadah kita dari sekarang...

Galeri mengatakan...

Saya berpendapat dengan Ateh75...

lina@happy family mengatakan...

Ini semua urusan Allah! Walau dalam hati kecil saya sebenarnya tidak ingin mengalami kiamat, biarkanlah saya berpulang dengan jalan yang damai...

Sumber Belajar mengatakan...

Hmmm...kiamat ya....

Menurut saya, definisi kiamat adalah pemusnahan manusia secara langsung dan terjadi bersamaan, entah itu dengan bencana alam atau yang lain. Jadi jika ada seekor manusia yang masih hidup, berarti belum kiamat.

Nah, sekarang sudah berjalan proses pemusnahan ini. Contoh, cadangan makanan yang berkurang, ketersediaan udara layak hirup berkurang, kanibalisme(sekarang manusia bisa membunuh manusia lain, baik langsung maupun tidak walau tidak dimakan dagingnya, ini berarti manusia sama dengan scorpio), dan banyak contoh lain.

"iman" pada awal dibuat adalah untuk menjaga agar manusia bisa selaras dengan alam tempat tinggalnya dan sejalan dengan manusia lain. Tetapi sekarang "iman" digunakan sebagai alibi untuk membunuh manusia lain yang tidak "sejalan". Saya sepakat dengan pendapat anda tentang istilah kafir, musyrik, domba yang tersesat, atau istilah lain yang merendahkan penganut iman lain. (saya suka argumen anda).

Kembali menanggapi tentang kiamat tadi, yah kembali kepada pikiran kita masing2. Mau menyiapkan diri silahkan, mau cuek silahkan, atau mau menanggapi dengan serius juga boleh.....kembali pada kualitas pribadi masing2. Kalau saya cuek saja. Kenapa? Kita hanyalah organisme yang kebetulan bersel banyak dan secara kebetulan pula mempunyai insting untuk berpikir secara terbuka. Jadi pemusnahan masal ini mungkin hanyalah sebagian kecil dari siklus alam semesta yang kita belum bisa menjangkaunya, baik secara nalar atau spiritual.


Oya, saya tertarik dengan catatan anda yang dibawah :
"Apakah kita pernah mencari pembenaran, justifikasi, mereka argument untuk menegaskan 2+2=4? Saya rasa tidak. Karena kita telah benar-benar mengimani bahwa hanyalah 4 hasil tambah 2 dengan 2. Kalaupun ada orang yang tiba-tiba menyatakan hasil dari penjumlahan itu adalah 5, saya yakin kita hanya pergi memunggunginya tanpa buang-buang waktu berdebat dengannya. Itu karena kita yakin. "

2+2=4 itu juga kebetulan, kenapa karena hasil 2+2=4 itu terjadi di himpinan bilangan real. Jika kita menjumlahkan 2 dengan 2 di himpunan bilangan modulo 2, maka hasilnya sama dengan nol (0). jadi 2+2 tidak selalu sama dengan 4.

Sumber Belajar mengatakan...

Ya saya sengaja memberi link tersebut agar nantinya yang pada ngasih komentar disini pada baca post saya itu.

Saya juga kurang sepakat dengan orang2 yang sok agamis (padahal mereka sendiri belum paham bener tentang imannya), dan mengkritisi iman orang lain atau membantah argumen2 dengan pengetahuan iman mereka yang dangkal.

Mudah2an pembaca disini juga baca post saya. Ibu adalah manusia terdekat dengan kita. Jadi sebelum sok suci mending kita menyucikan diri dulu.

Terima kasih sudah mampir. Untuk tukeran link boleh....

diar mengatakan...

Artikel yang bagus kawan.

Jadi jangan menanggapi sesuatu yang tak pasti

Posting Komentar