Wedal

Para readers dan teman-teman Black Community semua, pada posting dalam Djarum Black Competition Vol. II ini, saya akan mengangkat tema budaya. Mungkin sebagian kita ada yang merasa aneh karena tema budaya ini sepintas tidak relevan dengan tema Djarum Black yang lebih ke life style-kontemporer, seperti event Djarum Black Night Slalom, dan berbagai even lainnya yang cenderung "pop". Tapi bagi saya tema budaya juga sangat layak untuk kita ketahui karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Dan tentu saja kita semua tidak mau menjadi generasi yang terputus dari akar budayanya; generasi yang teralinesasi dari "kehidupannya" sendiri. Anggap saja posting budaya kali ini sebagai "Black In News" alternatif dari saya. Semoga tidak menjadi bete :-)
  ****
Wedal, atau dalam istilah Jawa disebut weton yang berarti hari kelahiran seseorang, mempunyai makna khusus bagi orang Sunda—tentu juga suku-suku yang lain. Ia tidak dilewatkan begitu saja sebagaimana mata modern memandang. Orang-orang dulu selalu memberi makna, menempatkan arti dalam setiap hal, termasuk dalam hal sekecil dan se-profan “hari lahir.” Mungkin karena hal itulah mereka merasa kaya ditengah keterbatasan materi. Tak seperti kini yang memunggunginya.

Adapun tentang hari Jum’at—karena ini hari lahir saya-- menurut kepercayaan Sunda bersimbol air. Mereka percaya sifat-sifat air termanifestasikan dalam karakter orang berwedal Jum’at. Orang yang lahir di hari ini digambarkan sebagai orang yang agak labil. Layaknya air yang mengalir berliuk-liuk mengikuti badan sungai, jalannya tidak lurus. Maka wedal Jum’at terkenal moody. Semua tergantung mood. Kalau lagi senang terhadap sesuatu, ia akan keukeuh terus di sana, tak peduli dengan apapun. Namun setelah ia mendapatkan hal lain yang baginya lebih menarik, ia akan meninggalkannya begitu saja tanpa kenang, karena fokusnya akan habis pada sesuatu yang baru itu.

Karena sifat individualistik (bukan dalam arti negative-tak peduli pada yang lain) inilah maka wiraswasta, menjadi blogger, dan jenis-jenis pekerjaan lain yang mandiri (tanpa atasan) sangat cocok baginya. Mereka tak mau dikendalikan oleh pihak luar. Orang-orang
berwedal ini ingin apapun sesuai dengan keinginan pribadinya. Inilah paradoks dari wedal Jum’at: ia labil dalam sikap (berubah-ubah), namun sekaligus teguh terhadap yang ia yakini.

Karena faktor luak liuk air ini jugalah yang menyebabkan orang-orang berwedal Jum’at cukup fleksibel dalam sosialisasi. Mereka tidak kaku. Ia selalu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi apapun. Tak ada ruang bagi fanatisme dalam diri orang-orang berwedal Jumat. Mungkin.

Hari Jum’at layaknya air. Bila ia dalam porsi yang cukup maka akan membawa manfaat yang banyak bagi kehidupan. Kehadirannya dibutuhkan banyak orang. Namun sekalinya ia overload, meledak, lihatlah tragedy banjir yang saggup memporakporandakan banyak bangsa. Orang berwedal Jum’at bila ia dewasa, memiliki keelingan diri yang tinggi, ia akan membawa kemaslahatan dan banyak dibutuhkan oleh sekitarnya. Namun sekali saja fluktuasi emosinya meningkat, apalagi sampai kalap, out of control, daya destruktifnya akan terlihat mustahil keluar dari seseorang yang memiliki perbawa santai.

Itulah simbol air.

Selain bersimbol air, hari Jum’at juga memiliki “itungan” tertentu, yaitu enam. Dalam istilah Sunda disebut “biji”. Bijinya enam. Kalau akan melakukan tirakat, orang-orang berwedal Jum’at menggunakan bilangan enam dalam patok lakunya. Misalkan puasa, orang berwedal ini diharuskan enam hari melakoni tirakat puasanya.

Terkait simbol bilangan enam ini, katanya, orang yang medal di hari Jum’at sangat bagus berjodoh dengan orang berwedal Rabu. Sedangkan Rabu sendiri berbiji tujuh. Bila mereka berjodoh, maka angka akumulasinya adalah tiga belas (6+7). “Itung-itungan”, tiga belas itu jatuh di angka empat. Dan konon, angka empat (4) ini merupakan angka yang sempurna, istimewa. Dalam bahasa Sunda ada istilah “masagi” (dalam bahasa Indonesia persegi) yang berarti paripurna, perfect. Dan kita tahu, persegi memiliki empat sudut, empat titik.

Dari sisi simbol pun Jum’at dan Rabu memiliki korelasi spiritual. Bila Jum’at mengandung air, maka Rabu mengandung Api. Jadi apabila mereka bersatu, unsur Yin dan Yang dalam mahligai rumah tangga terjalin sempurna. (Kalau ini analisis iseng diriku, hehe).

Konon katanya (lagi), orang yang lahir di hari Jum’at memiliki watek (watak) suci. Mereka tak bisa menjalani laku “hitam” seperti “muja” atau ngiprit. Bahkan orang-orang ini tak akan terkena pelet. Orang berwedal Jum’at cocok menjadi spiritualis atau pengaji ilmu-ilmu agama.

Masih relevankah kita membincang hal ini? Saya balik tanya: Tidak patutkah kita mengenal dan mengenang warisan leluhur, penyebab kita ada sekarang?
“Relevansi” dalam konteks modern selalu menyiratkan guna, fungsi. Yang mana sesuatu itu bisa menjadi berguna dan berfungsi bila sebelumnya orang meyakininya terlebih dahulu. Inilah letak kesalahan umum orang-orang modern. Selalu mengacaukan antara: “mengetahui” dengan “meyakini.” Padahal beda terang antara ke dua kata ini.

Marilah kita kenali jejak-jejak eksistensi para tetua kita. Dengan itulah kita tidak menjadi ahistoris dan teralienasi dari budaya sendiri. Karena mengetahui tak berarti harus meyakini!

Selalu Ada Ruang Bagi Toleransi (Bila Kita Mau): Catatan Idul Adha


Idul Adha yang biasa disebut juga dengan Idul Qurban atau lebaran haji, baru saja kita lewati bersama dengan penuh suka cita. Hampir semua umat Islam terlibat dalam perhelatan ritus yang syarat makna ini. Mereka yang memiliki kemampuan, melakukan penyembelihan hewan kurban. Sementara umat muslim lain yang tidak mampu atau karena hal lain tidak dapat melakukan kurban, mendapatkan pemberian daging kurban. Tak ada yang lebih tinggi dari yang lain, karena si pengkurbanpun membutuhkan orang lain yang tak berkemampuan untuk menerima daging kurbannya, yang berarti menyempurnakan ibadah kurbannya. Semua terlibat, semuanya memiliki andil.

Bila kita perhatikan, dalam ibadah kurban ini tidak hanya berisi ritual ibadah semata yang merupakan eksklusif umat Islam, namun ia juga memiliki aspek cultural yang bersifat inklusif. Apabila takbiran, shalat id, penyemblihan hewan kurban, dan serangkaian ibadah lain yang biasa dilakukan dalam Idul Adha adalah eksklusif umat Islam (karena sifatnya ibadah maghdoh), sementara budaya silaturahim, saling bermaaf-maafan, berbagi makanan, mengucapkan selamat, itu bukan hanya milik umat muslim saja, namun saudara kita yang non Islam sekalipun dapat ikut serta melakukannya, “merayakannya”. Tak ada larangan untuk itu karena aktifitas tersebut masih dalam wilayah sosial yang bersifat profan, bukan dalam lingkup ibadah yang sifatnya sakral dan inklusif.

Saya pikir di semua perayaan hari besar agama manapun selalu memiliki dua sisi ini: ritual dan kultural, atau ibadah dan sosial. Bila sisi ritual bersifat eksklusif, milik umat yang bersangkutan saja, sedangkan sisi cultural bersifat inklusif, terbuka untuk bersama-sama “dimiliki” dan dan diryakan oleh umat agama lain. Sisi inklusif inilah celah bagi kita untuk dapat menunjukkan apresiasi pada pemeluk agama lain demi mewujudkan toleransi dan solidaritas. Berdasarkan pertimbangan ini pula banyak para pakar Islam yang membolehkan umat muslim mengucapkan “selamat” kepada umat agama lain yang sedang merayakan hari besar agamanya. Karena, sekali lagi, keikutsertaannya hanya dalam wilayah kultrual atau sosial saja, bukan dalam wilayah ritual atau ibadah.

Saya mengangkat tema ini karena saya pikir sikap toleran semacam ini sangat kita butuhkan demi terwujudnya sebuah relasi sehat antar umat beragama. Di tengah isu-isu “dikotomis” yang saat ini begitu mendominasi dengan berbagai wujud—dan tentu saja berpotensi konflik antar umat beragama--entah itu dalam: teori akademis seperti “Clash Of Civilization”; teori “perang agama” dalam perang Palestina-sekutu vis a vis Israel-sekutu—walau menurut pendapat saya itu bukan karena agama, namun lebih pada permasalahan geopolitik--; juga dalam dikotomi ideologi thagut (berhala) dan ideologi Tuhan seperti yang sering didengungkan para fundamentalis agama; laku hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan cinta sesama menjadi begitu niscaya. Karena hanya dengan saling menghargai, menghormati dan cinta-mencintai, tatanan hidup yang damai dan jauh dari perang dapat terwujud.

Perwujudan jalinan persaudaraan ini tentu bukan hanya dalam Idul Adha atau perayaan hari besar agama saja. Dalam hal atau segi apapun, pasti akan ada ruang bagi toleransi, celah untuk kita dapat saling menghargai dan berbagi. Catatannya: asal kita mau. Asal kita mau mewujudkan nilai-nilai persaudaraan,pasti terbuka beragam jalan dan bentuk. Saya tidak berniat untuk promosi atau apapun, namun secara pribadi saya mengucap salut pada Djarum Black dengan inovasi-inovasi promosinya, terutama inovasinya dalam membentuk komunitas-komunitas berdasarkan hobi atau minat pribadi. Bagi para penghobi mobil, Djarum Black membentuk Black Car Community. Sementara Black Motor Community dibentuk bagi mereka yang senang berinovasi dengan kendaraan roda duanya. Bagi saya ini sangatlah positif dan patut dicontoh oleh pihak-pihak  lain yang memiliki kepentingan promosi, karena inovasi promosi Djarum Black ini tidak “jualan” belaka yang hanya berorientasi profit, namun di dalamnya mengandung semangat persaudaraan dan kebersamaan yang diawali dalam lingkup kecil, yaitu orang-orang yang memiliki kesamaan minat atau hobi.


Terakhir saya berharap, dengan kita berbagi salam dan saling mengucap selamat kepada mereka yang liyan, dapat merekatkan tali hubungan di antara kita. Bukan hubungan acuh dan dingin, namun hubungan hangat yang intim. Ini juga yang menjadi pesan moral Islam. Saling jaga menjagai, cinta mencintai. Tak ada permusuhan, tiada peperangan.

Pemuda: Sebuah Otak-Atik Kata

Pe-muda. Pemu-da. P-e-m-u-d-a. Saya otak-atik kata “pemuda” ini menjadi beberapa variasi,mulai dari pemisahan imbuhan dari kata dasar, sampai menilik setiap huruf per huruf pembentuk kata ini—layaknya otak-atik Jawa—namun tetap saja saya tidak menemukan “sesuatu” di kata yang hari ini kita peringati bersama.

Sampai akhirnya sesuatu itu saya temukan (atau justru sesuatu itu yang menemukan saya) setelah saya mesandingkan kata “pemuda” ini dengan kata lain yang umum di masyarakat sehingga menjadi sebuah frasa. Seingat saya cukup banyak kata yang digabungkan dengan kata ini. Seperti, Pemuda

Selepas Tes CPNS

Hari ini aku tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Bukan CPNM (Calon Pegawai Negeri Militer). Kenapa? Jangan tanya, karena aku hanya akan menjawab "tak suka aja" dan kalian pun akan bersekongkol menudingku sedang bicara tak jujur. 

Kuikuti tes tanpa belajar tanpa persiapan. Bahkan pensil dan serutanpun mendadak beli di jalan. Penghapus, ah aku lupa si putih mungil itu. Lebih tepatnya malas beli! Karena aku yakin di sana akan ada orang baik yang baru saja kenalan namun telah langsung percaya. Dan benar saja, orang itu berkata, "Kalau mau silakan aja mas penghapusnya dibelah dua" Apa aku bilang kan? Hapus anggapan kalian bahwa tabiat dasar manusia itu adalah jahat nan aniyaya.

Memang tak ada persiapan.  Bangun kesiangan karena malamnya begadang guna otak-atik  template demi kepentingan kompetisi, plus wara-wiri ke blog-blog sobat, terutama ke blognya teman-teman di Black Community yang ikutan Djarum Black Blog Competition Vol II. Dan ternyata hasilnya  cukup memuaskan--sejauh penilaianku sendiri. Kini red-black mendominasi sekaligus menjadi karakter blogku ini. Tak terasa nongkrongin komputer sampai sekitar jam dua pagi. Lebih tak terasa karena sewaktu online "lembur" itu ditemani Djarum Black Slimz yang dipadu dengan bergelas-gelas capucinno. Mmh, mantap....!

Melihat soal-soalnya sih aku pede sekali. Walau jawabannya gak tau juga ya. Pede lulus dong? Tanyakan pada ibu atau teman-teman dekatku. Tiga tahunan terakhir, setiap aku selesai testing CPNS dan mendapat serbuan pertanyaan itu, hanya satu jawaban konsisten yang selalu keluar dari mulut tak bertulang ini: "Pede lulus!" Dan selama itu pula lidah memang benar-benar tak bertulang.Sebagai orang yang telah malang melintang di dunia pertestingan CPNS, aku tahu betul apa saja yang dikompetisikan dalam perebutan kursi anget-anget kuku PNS ini. Semuanya dirangkum dalam rumus 3 K: (Aku tak bermaksud mengingatkan sobat semua pada tokoh agama AA Gym)
  1. Kompetensi.
  2. (Katanya) kedekatan. Di dalamnya termasuk segala unsur.
  3. (Konon) keberuntungan atau milik.
Untuk point pertama, ini berkaitan erat dengan kemampuan akademik. Oh ya, ditambahkan sedkit: posisi duduk. Bukankah posisi menentukan prestasi? Saya sih agak ragu juga terkait opsi ini. Lho, kenapa? Saya kasih gambaran saja: IPK cukup gede, namun berjalan lurus dengan SP (Semester Pendek/Semester Penyelamat) yang banyak, itu namanya apa? Silakan menafsir. Sedikit tambahan, proses kuliahpun memerlukan waktu injury time satu tahun. 

Posisi duduk? Posisiku paling belakang. Bangku depan kosong, kanan juga tak hadir. Untuk yang kiri akunya telah terlanjur malu. Udah penjiem penghapus, masa mau dicontek juga?

Opsi ke dua, jelas aku tak punya. Relasi merupakan konsekuensi logis dari lingkungan atau pergaulan. Nah ini, kerja cuma nongkrongin komputer butut doang, kapan kenalan sama "mereka"nya? Ya keculai kalau "mereka" blogger juga. Tapi kayanya gak mungkin deh. Mereka kan kerjanya dengerin ide, bukan nuangin ide! Kalau fesbuker sih mungkin. Gak ada yang ngespos, ya udah ngespos diri.

Masa aku mau ngandelin kedekatanku dengan para Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dampinganku? Inget ya, kedekatan di sini artinya deket sama mereka yang sekolah, sekaligus berwenang. Sedangkan mereka, putus sekolah dan tak berkuasa. Masa iya testimoninya mau ada yang denger?

Untuk yang terakhir: milik, keberuntungan, kehendak alam, atau dalam bahasa agama: takdir. Ini cukup kompleks. Karena keberadaannya juga--meminjam judul lagu Utphia--antara Ada dan Tiada. Ada karena ia cukup sering kita temui. Ia dapat kita temukan dari seorang yang setia kawan yang nganter sahabatnya casting film. Eh taunya iya sendiri yang dapat peran. Jadi artis beken pula. 

Atau, berawal dari niat nyolong mangga pak haji, malah berjodoh sama anaknya yang ca'em nan sholehah itu. Sobatpun dapat menambah daftar persitiwa "milik" ini.

Sekaligus ia juga tiada. Karena kehadirannya tak dapat dipastikan sama sekali. Tak mungkin ada orang yang berpikir: Tiduran di rel kereta ah, kalau miliknya selamat mah, kereta juga gak bakalan ngelindes.  Atau, sudahlah besok hari kita dan anak-anak jangan makan dulu. Toh kalau miliknya harus kenyang, ya pasti kenyang!


Itulah milik. Ghaib dalam keberadaannya dan Ada dalam kegahaibannya. BIla kompetensi dan dan kedekatan itu masuk wilayah lahiriah yang dapat dipahami oleh alam pikiran, sedangkan milik atau keberuntungan berada dalam wilayah bathin. Ia tak bisa dipahami oleh akal, karena tempatnya bukan di sana. Namuni ia terletak di dalam ruang spiritual yang berada di diri. Ia tak dapat diperdebatkan, namun terbuka untuk dihayati. Itulah milik.

Ada juga sebagian orang yang mereduksi kehendak alam ini ke dalam nominal yang pasti. Matematis. Mereka selalu bilang, "Sebesar apapun upaya manusia dalam menggapai kehendak, itu hanya 99%. Belum seluruhnya, karena sisanya, 1% adalah kehendak Tuhan alias takdir"  

Walaupun cuma berkuantitas kecil (1%) namun ia banyak dijadikan tumpuan harapan kebanyakan orang. Mungkin karena ia penentu, penggenap. Lebih baik satu menggenapkan daripada 99 melenyapkan.

Dan pertanyaan kritis atas pandangan yang hampir mapan ini adalah: apa jaminannya kita telah mempersembahkan 99%, dan hanya menunggu sisanya saja? 

Adakah kita yang kegeeran? Atukah kita malas bergelut di 99% yang notebene ada dalam kendali kita, dan lebih senang memperhatikan 1% yang sebenarnya di luar kekuasaan dan kendali kita? Kalau jawabannya iya, bersiaplah mendapat julukan baru dari Covey: Si Manusia Reaktif. Adapun aku, telah duluan mendapatkannya  


 







 

Maaf. Ini Gelang Bukan Arloji!

Siang itu kota terasa gerah. Gerah ini hasil kolaborasi apik antara cuaca panas, jalanan macet, ditambah seorang sopir yang kurang memiliki kecerdasaan emosional. Siapa pun dijamin tak akan betah tinggal lama-lama dalam kotak berjalan yang bernama angkot dengan kondisi seperti itu.

Setengah perjalanan ke rumah dengan angkot ini kurasakan begitu berat seperti menjalani sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Indikasinya pun hampr serupa: lemah, letih, lesu, dan tentu saja bĂȘte alias bad mood. Siapa pun yang menyapaku saat itu, muluk kalau ia mengharapkan sekadar senyuman kecil atau basa basi penghias silaturahmi.

Angkot merapat ke samping kiri. Berhenti. Seorang penumpang pun bertambah. Tiba-tiba…
Fluktuasi emosi mendadak terjadi pada diriku. Daya vitalitas terasa merasuki tubuhku. Ia merambat dari ujung jari kaki, menelusuri aliran darah, hingga akhirnya sampai ke jantung. Kini kesegaran mengambil alih lesu yang dari tadi menduduki tubuh. Seperti malaikat yang

Karnaval Hantu


Penyingkapan hal-hal tersembunyi. Pelaziman sesuatu yang tabu. Sebetulnya sudah agak lama saya ingin menulis mengenai hal tersebut. Namun setiap kali akan memulai, ada suatu perasaan mengganjal dalam hati yang mengatakan bahwa ada suatu hal yang belum tuntas. Sesuatu itu bernama paradoks. 

Pelaziman dan penyingkapan hal yang tabu, tersembunyi, selalu meninggalkan paradoks: upaya simpatik mengangkat sesuatu yang “bayang-bayang” dalam kehidupan dan kesadaran masyarkat menjadi benar-benar realistis, namun sekaligus penelanjangan yang bukan pada tempatnya dan berakhir menjadi eksploitasi yang menyakitkan.

Kita masih ingat, beberapa tahun silam--walau sampai sekarang pun masih berlangsung dengan porsi yang agak menurun--saat fenomena gaib yang misterius disingkapakan dan disajikan begitu vulgar di media-media visual sehingga menjadi bagian dalam kehidupan

Bismillah dan Penilaian: Sebuah Prolog Djarum Black Blog Competition Vol II

Bismillah. Dengan kata inilah saya memulai. Setelah memastikan bahwa blog saya ini, www.insanitis37.com, telah masuk dalam daftar registered blog atau blog yang telah diregistrasi di kontes blog yang diselenggarakan oleh Djarum Black, yakni Djarum Black Blog Competition Vol II, spontan, saya mengucapkan kata itu: bismillah.

Seharusnya kata ini dilafazkan oleh semua umat muslim ketika mereka hendak melakukan suatu aktivitas. Terlepas besar-kecil, ringan-berat, mudah-susah aktivitas tersebut. Tapi entah kenapa, kata ini mengalami degradasi makna. Atau justru sebaliknya: peningkatan makna? Sekarang ini biasanya kita hanya mengucapkan kata ini tatkala dihadapkan pada suatu aktivitas yang besar atau penting saja. Tetapi kata ini kerap hilang dalam aktivitas yang remeh temeh dan sehari-hari. Akhirnya bismillah menjadi tanda pembuka bagi sesuatu yang “besar” atau juga sulit. Karena saya mengucapkan lafaz ini sesaat setelah saya resmi menjadi peserta Djarum Black Blog Competition Vol II maka kontes blog ini merupakan sesuatu yang “besar” dan penting bagi saya. Sekaligus menyenangkan. Sungguh, betapa

Hari Ini Aku Masuk Neraka

Jangan pernah kau bertanya padaku tentang secercah pelita atau cahaya berpijar

Karena sesungguhnya aku tengah hanyut dalam samudera gulita yang tak berdasar


Jangan pernah kau bertanya padaku tentang jalan lurus yang kan mengantarmu pulang

Karena sesungguhnya aku tengah terjebak dalam kesesatan nyata yang tak mungkin kau bayang


Jangan pernah kau bertanya padaku tentang awan putih atau cinta abadi

Bertanyalah padaku tentang kabut keabadian dan hawa benci

Bertanyalah padaku tentang sembilu yang selalu menyat hati para khianat, menggores semua jiwa terlunta

Bertanyalah padaku tentang angin malam yang selalu berhembus mehngantar sepi mencekam, sesal yang meradang.

Bertanyalah padaku tentang derita tanpa akhir, siksa tak berampun.

Karena hari ini aku berada di neraka. 


[Hari ini aku masuk neraka. Namun siapa tahu, besok lusa atau beberapa jam ke depan, Sang Ridwan akan mengirimiku sepucuk surat dengan perihal: Pemanggilan Calon Surga. Tanpa lampiran]

Award: Dari dan Untuk Sahabat


Lagi-lagi Jum'at. Lagi-lagi beruntung. Ah sudahlah, jangan terlalu di ada-ada, direka menjadi seolah realita. Itu kan hanya kebetulan saja. Dan jangan pernah beredebat denganku tentang adakah konsep "kebetulan"? Karena kutahu hujahmu terlalu kuat untuk kuterjang. Hujah tentang kosep "di-betul-kan". 

Di wahana blog ini, alam mempertemukan saya dengan seorang wanita nan baik hati. Tak terlalu penting apakah ia tidak sombong dan rajin menabung. Karena sebentuk award ini telah cukup memmbangun persepsi tentang ia yang dermawan dan ramah hati.


Ia tak turun dari kayangan, namun bidadari manapun pasti memendam iri padanya. Secantik dan sesempurna apapun bidadari, saya jamin tak akan memiliki ilmu potret. Ya, itulah Mba Cicin Hadiyati, wanita cantik yang jago photo. Cobalah sobat semua berkunjung ke "rumah"nya: Galeri Fhoto, dan bersiaplah untuk melihat dan menganga. Hasil jepretannya begitu memikat. Walau saya awam mengenai seni photo, namun rasa pendeteksi indah  belumlah mati. Ia terasa jelas di hati. Indah


Sekali lagi, untuk Mba Cicin Hadiyati, terima kasih dari hati. Semoga Mba senantiasa bahagia di semua alam.


Untuk mengenang awardnya Mba Cicin ini, maka aku akan menapaki jejaknya, mencontoh sunnahnya. Bila ia bagikan kembali award dari sahabatnya pada sahabatnya yang lain, maka akupun akan melakukan demikian. Semoga dengan ini ia merasa lebih dihargai.


Baiklah, akan kubagi award ini kepada beberapa sobat blogger. Untuk award ini, karena berasal dari seorang seniman, maka akupun akan membagikannya pada sobat-sobat blogger yang memiliki interesting terhadap seni. Dan biar tak terlalu melebar, maka award kali ini saya batasi hanya akan diserahkan kembali pada sobat blogger yang concern terhadap seni sastra.



Award ini juga sebagai bentuk rasa salut saya pada sobat semua. Di saat dunia blog tengah ricuh dengan kegiatan business, dan semakin identik dengan alam Hi-Tech, namun kalian masih konsisten menyikapi blog secara konvensional, yaitu sebagai wahana penuangan ide-ide personal. Kalianpun racik ide-ide itu dengan sangat indah sekaligus menggugah, dengan caranya masing-masing. Ada yang berupa artikel, diary, puisi, sajak, prosa, cerita, dan sebangsanya. Semuanya tetap indah.



Bailah, saya tuliskan nama-nama sobat blogger penerima award ini:
Terahir dari saya, semoga award ini menjadi penyemangat sobat semua dalam berkarya.
Semoga berkenan...

[Catatan: Gambar awward ini tidak mengandung backlink pada blog ini]

Sebuah Award, Belalang, dan Tanpa Filosofi

Jum'at. Inilah wedal atau wetonku. Konon hari ini pula yang menjadi hari baik buatku di antara enam hari lainnya. Karena tak mau dilabeli musyrik oleh sebagaian kawan islamis, akupun menyatakan diri tak mempercayainya. Walau jauh di alam bawah sadar, tersimpan kepercayaan kecil padanya. Ia terselip di antara akal sehat dan rasa spiritual. Mungkin ini warisan dari para leluhurku yang notabene USA (urang Sunda asli). Karena "ilmu" yang telah “mendarah daging” akan terrekam dalam gen manusia dan dapat terwariskan secara biologis. Mungkin dengan proses alamiah inilah “ilmu” menjaga diri dari kepunahannya.

Bukan bermaksud untuk "menyambung-nyambungkan". Juga tidak memaksakan korelasi tak tepat antar peristiwa demi menyokong suatu pendapat absurd agar terlihat konkrit. Namun
di hari inilah, Jum'at, wedalku, aku mendapat satu anugerah. Anugerah itu berupa penghargaan atau award dari salah satu sahabat blogger. Sahabat ini selalu menyajikan tulisan ringan nan sehari-hari namun dimaknai sedemikian rupa
sehingga bisa tampil dan ditilik dari sisinya yang lain. Mengubah peristiwa remeh temeh menjadi sesuatu yang layak diperhitungkan. Ia wanita (menghindari penggunaan kata per-empu-an),menamai dirinya "new soul". (Mba) Elly Suryani nama aslinya. Melihat title blognya saja: "Life With Your Own Vision" akan memaksa kita untuk menilai bahwa Mba Elly ini seorang yang teguh, tak terambing dengan visi-visi asing di luar dirinya, walau semapan dan sepopular apapun visi yang liyan itu. "Sendiri melawan dunia Mba?" Heheh.

Inilah wujud apresiasinya padaku.Terlepas dari mana asal award ini bermulai.



Belalang. Kenapa meski belalang? Apakah ada filosofi di sana? Saya yakin pasti ada. Bukankah selama ini kita percaya bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki nilai filosofis? Iseng-iseng, saya coba bertanya pada ibuku. Siapa tahu kearifan yang tersimpan dalam usia jelang senjanya dapat menawar rasa penasaran yang bermain nakal di hati. Seperti mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya mencipta (tentu saja yang belum ada) ibuku hanya menjawab, "Ah jelek!"
Oh, belalang juga berkonotasi jelek ya? Tapi kenapa tak dipakai Polri ya, malah lebih memilih buaya yang tak setia itu? Selorohku dalam hati.

Karena masih dahaga tentang sesuatu di balik belalang, akupun mencoba googling dengan keyword: Filosofi Belalang, karena terinspirasi dari judul buku Dewi 'dee' Lestari: Filosofi Kopi. Namun link yang ditampilkan di halaman pertama tak ada satupun yang relevan dengan "filosofi belalang". Sayapun teringat bahwa google saat ini telah menjadi arena adventure menantang yang dihuni para master SEO. Tak ada tempat bagi para filsuf! Mana mau filsuf optimasi search engine, hehe. Pencarian via dukun sakti Googlepun nihil. Akhirnya akupun tak tahu apa filosofi yang dapat diambil dari seekor serangga yang identik dengan Ksatria Baja Hitam itu.

Di saat itulah muncul perasaan ganjil dalam hati. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Perasaan absurd itupun mulai bergerak dan mencari bentuk, hingga sempurnalah dalam sebaris kalimat reflektif: “Apakah segala sesuatu harus selalu mengandung nilai filosofis?” Pertanyaan ini mengantarkan pada sebuah pertanyaan selanjutnya: Apakah sesuatu tidak bisa menjadi netral dan biasa-biasa saja, sehingga dapat dilewatkan begitu saja?

Filosofi tentu saja merupakan produk manusia. Karena ialah yang kuasa untuk mempersepsi, melakukan interpretasi, dan berakhir dalam pemaknaan atau pemberian nilai atas suatu fenomena. Kopi tidak memberi nilai bagi dirinya sendiri, sampai Ben, tokoh utama dari cerita Filosfi Kopi karya Dewi ‘dee’ Lestari,memberi makna bagi dirnya (kopi) sehingga muncullah “filosofi kopi”. Padi berbuah ya padi berbuah saja. Sampai akhinya ada orang yang merasa tergugah melihat pohon padi yang semakin berbuah namun tubuhnya semakin menunduk. Maka lahirlah istilah “ilmu padi” yang berarti--kurang lebih—tetap rendah hati dengan ilmu dan pencapaian yang dimiliki.

Itu semua mengantarkan saya pada sebuah pemahaman subjektif bahwa segala sesuatu di luar manusia adalah tak berwana.Tak berjenis. Netral. Kitalah sebagai penafsir yang melakukan pewarnaan dan pelabelan terhadap mereka. Sebagai manusia, dengan akal budi, kita memberi sesuatu pada dunia di luar kita sehingga akhirnya merekapun memiliki makna, nilai dan filosofi. Namun secara tak sadar sebenarnya kita tengah terjebak dalam sikap congkak dan berlaku totaliter. Sewenang-wenang dalam menafsir dan menilai sesuatu yang belum tentu sesuatu itu sesuai dengan tafsiran kita. Manusialah sebenarnya yang mencipta ini menjadi begini dan itu menjadi begitu, tanpa memberi kesempatan pada mereka untuk menjadi dirinya sendiri, apa adanya. Tanpa nilai dan tanpa filosofi.

Sikap seperti ini saya rasa relevan dilakoni saat dunia tengah dipenuhi banyak persepsi dan dijejali berjuta interpretasi. Yang mana sebagian atau keseluruhan interpretasi itu bisa jadi menyesatkan.Karena sejelas dan segamblang apapun kita mempersepsi, namun tetap saja sang pengamat berjarak dari yang diamati.

Sebagai ilustrasi, coba lihat barisan interpretasi atas fenomena bencana alam yang akhir-akhir ini sering melanda Negeri kita: gejala alam biasa, ujian, sampai laknat Tuhan. Yang mana yang paling benar? Jawabannya adalah tidak tahu. Karena seperti yang telah saya sampaikan di atas, kitalah yang menterjemahkan, yang memberi nilai.Sedangkan tentang sejatinya fenomena itu sendiri, hannyalahTuhan dan dirinya sendiri yang tahu. Bukankah akan lebih bijak bila memandang bencana itu hanya sebatas bencana saja. Tanpa dibarengi dengan tudingan yang belum tentu benar.

Akhirnya akupun menghentikan pencarian atas filosofi belalang. Biarlah belalang menjadi belalang, tanpa harus direduksi dengan sebuah penilian yang berbatas dan identik dengan kepentingan manusia. Saat ini aku lebih memilih hanya menjadi penikmat dan pengagum belalang saja. Hanya itu. Tak ada interpretasi. Tanpa Filosofi.

[Tambahan: Bagi sobat yang penasaran dengan filosofi belalang, silakan berkunjung ke rumahnya Mba Elly. Di sana ada dua post menarik tentang belalang: Pak Belalang dan Bu Daun; dan Belalang Yang Smart Enough]

Festival Meja Makan

Siang itu aku duduk termenung di depan meja makan yang telah tersaji makanan komplit dengan lauk-pauknya. Tak seperti biasanya, mereka terlihat murung. Tak ada rona bahagia di wajah-wajahnya. Beban yang teramat dalam tergambar jelas dalam mimik dan auranya. Suasana kurasakan begitu tegang dan ganjil. Aku terus memperhatikannya.

Dimulai dengan air putih dalam gelas kaca bercorak belimibng. Ia terlihat mulai bergerak-gerak gelisah. Riak airnya terdengar begitu gaduh. Andai saja ia mengisi penuh wadahnya, tentu saja sebagian telah tumpah ke meja makan, terpisah dari kawanannya. Perbuatan air putih kini berhasil memprovokasi sepotong daging sapi berlumurkan bumbu yang telah bertransformasi menjadi makanan khas padang yang pedas: rendang. Ia mulai

beremoh. Mungkin kesadaran masa lalunya sewaktu masih menjadi sapi mulai bangkit kembali. Emohan yang mulanya terdengar pelan, berat dan tak bertenaga kini mulai mengeras dengan intensitas yang semakin tinggi. Daging rendang terdengar menyatakan sikap setuju pada kegelisahan air putih. Melihat reaksi dari kawannya, ulah air pun semakin menjadi. Suara riak air yang tadinya terdengar saru kini semakin terang. Semakin jelas bahwa riak itu menyatakan sebuah sikap protes. Tentu saja protes yang tak aku pahami.
Sendok dan garpu yang mulanya lebih memilih untuk bersikap netral dan pasif rupanya terbakar juga emosi solidaritasnya. Atau mungkin mereka tak kuasa menahan beban moral-yang selama ini disimpan rapat-rapat dalam alam bawah sadarnya-menjadi eksekutor bagi daging rendang dan sejenisnya. Peristiwa ini mereka jadikan momment untuk membuktikan pada daging rendang bahwa selama ini ia terpaksa menjalankan tugas, dan sebenarnya "kami juga berada pada pihak kalian"! Sendok dan garpu mulai beradu, saling menggesek-gesekkan dan sesekali saling membenturkan tubuhnya. Mereka menjadi semacam chear leaders bagi air putih dan rendang yang sedang berlaga, demo yang sedikitpun tak ku mengerti

Melihat semangat patriotik rakyatnya yang begitu tinggi tak ayal membuat sang pimpinan tersadar atas kemengalahannya selama ini. Jantungnya berdetak semakin kencang. Aliran darah yang beredar dalam tubuhnya kini terasa panas dan sanggup memanaskan kedua matanya yang terlihat semakin merah.

Sesaat memorinya melayang ke sebuah area persawahan saat dirinya masih menjadi pohon padi. Ia teringat bagaimana dirinya berjuang keras demi mempertahankan hidup. Dengan tetap berdiri ia harus kuat melawan tikus-tikus sawah yang cekatannya bukan main. Tubuh-tubuh tikus yang bagi manusia hanya menimblukan sensasi geli, namun baginya ia adalah ancaman hidup. Ia pun teringat pada jasa sahabat lamanya, ular sawah. Belum lagi kesalnya menghadapi burung-burung nakal yang begitu doyan memacoki dirinya. Dan lagi-lagi ia hanya bisa menghadapinya dengan terpaku sambil sedikit berharap pada orang-orangan sawah, hasil kreasi dari pak tani yang kreatif. Ia pun bersyukur pada pak tani.

Perenungan kilat ini membawanya pada sebuah kesadaran revolusi. "Demi Dewi Sri yang memberkahi diriku dengan anugerah hidup, aku tak boleh mati sia-sia". Kini matanya yang telah merah menyala beredar mengelilingi air putih, daging rendang, sondok, garpu, dan rakyatnya yang lain yang memang menunggu titah rajanya dengan harap-harap cemas. Akhirrnya revolusi pun dimulai. Dengan lantang nasi memberi komando "Hanya ada satu kata, LAWAAAN"!

Sesaat kegaduhan menghilang, tergantikan dengan hening yang membius. Tak ada gerak ataupun isyarat. Suasana terasa mencekam. Hanya terlihat mata-mata prajurit yang menatap patuh pada komandannya. Namun setelah sekian detik berlalu, kini meja makan terdengar begemuruh dengan sorak sorai dan yel-yel pembakar semangat. Lauk pauk yang mulanya menggugah selera kini berubah menjadi prajurit-pajurit perang yang siap mati demi sebuah tuntutan, yang sekali lagi masih belum aku mengerti.

Kulihat sebuah festival gaduh di meja makan. Bukan hanya para pionir saja yang beraksi, namun kini semua anggota meja makan telah terlibat aktif. Sambal berteriak, lalap berorasi, dua potong tempe lompat-lompat tak jelas, bahkan kerupuk pun berkomat-kamit seperti mengirimkan jampi jahat untukku. Dan sang komandan, nasi dapat kulihat murkanya begitu menyalak-menyalak. Sepintas aku miris melihatnya. Di hadapan bala tentaranya ia terlihat begitu gagah seperti Saladdin saat memipin pasukan muslim dalam perang salib.

Ingin terhindar dari dominasi mereka, aku putuskan untuk menyerang balik mereka semua. Dengan satu hantaman keras tangan kanan ke meja makan,"Stop"! Mereka semua terdiam. Kini keheningan kembali menjalar mengitari meja makan. Semua anggota meja makan kembali terpaku berhenti dari aksinya. Bahkan kerupuk pun berhenti berdoa. Atmosfer meja mekan terasa begitu dingin, mencekam. Walau aku tahu pasti mereka diam bukan karena takut mati melainkan komando dalam isyarat yang diberikan komandan nasi. Kutatap nasi dengan amarah. Ia balik menatapku dengan sorotan mata menuntut. Di matanya kulihat ia memendam kepiluan teramat dahsyat yang hanya bisa dibandingi dengan kepiluan Ibis saat diusir Tuhan yang telah ia sujudi beribu-ribu tahun. Perlahan namun terdengar menggelegar, ia berbicara yang diarahkan hanya untukku, "Kami hanya menuntut apa yang seharusnya engkau tunaikan. Tolong, sempurnakan qada dan qadar kami"!

Kontroversi Faith Freedom dan Pelajaran Darinya

Gelombang penolakan terhadap situs Faith Freedom terus berlangsung tak kunjung lelah. Bahkan bukan hanya dalam tataran wacana saja, aksinya sekarang lebih menjurus pada kegiatan operasional yang konkrit. Sewaktu saya blogwalking, ada beberapa blogger yang mensupport para hacker untuk meng-hack situs tersebut. Bagiku mereka seolah berkata: “Bila kalah bicara, ya bunuh saja lawan diskusinya.”

Apa yang menyebabkan sebagaian umat muslim ini begitu bencinya pada Faith Freedom? Tiada lain karena situs ini berisi tulisan-tulisan yang mengkritisi dan membantah pandangan mapan dalam Islam. Bahkan lebih jauh, situs ini juga berisikan ajakan untuk meninggalkan agama Islam. Ali Sina (nama samaran), pelopor

gerakan ini merupakan seorang ex muslim yang berasal dari Iran dan sekarang tinggal di Amerika. Di sana ia dan timnya mengelola yayasan yang bernama Faith Freedom International. Faith Freedom International atau yang disingkat FFI, mengklaim telah mengungkapkan fakta yang sebenarnya tentang Islam berdasarkan bukti-bukti ilmiah Islam. Walaupun organisasi ini ditujukan untuk mengkritisi semua agama, bahasan yang sering muncul adalah mengenai Islam.

Di sini saya tidak akan membahas gagasan-gagasan yang diusung Faith Freedom. Bagi sobat yang ingin mempelajari wacana tandingannya, sobat semua bisa mengunjungi http://answering-ff.org/ Di sana teman-teman muslim berkumpul dan mengeluarkan pendapat guna menyangkal wacana yang digulirkan Faith Freedom.

Melihat gelombang kebencian umat muslim terhadap situs ini, ada sisi lain yang bagi saya menarik. Kontoversi ini mengingatkan saya pada seseorang, yang dalam konteks ini menjadi persamaan dari tokoh Ali Sina namun dalam posisi yang berbeda. Ia sama-sama walk out dari agama warisannya, dan berakhir menjadi penghujat agama sebelumnya. Bila Ali Sina keluar dari Islam dan berakhir menjadi seorang agnostic (tidak memeluk agama apapun), sedangkan Hj. Irena Handono keluar dari Kristen, menanggalkan jubah biarawatinya, untuk berpindah agama menjadi Islam. Sekali lagi, mereka sama-sama menghujat habis agama sebelumnya.

Fenomena ini mengingatkan saya akan relativitas dalam hidup. Mengajarkan kita bahwa semua yang ada di bumi membutuhkan kontkes. Tidak bisa berdiri dengan sendirinya. Keberadaan “sesuatu” itu harus ada yang menafsir sehingga dapat benar-benar menjadi “sesuatu.” Keberadaan Hj. Irena Handono adalah pahlawan dalam pandangan sebagian umat muslim, namun pengkhianat nyata bagi umat nasrani. Ali Sina adalah kafir dalam pandangan umat muslim, berbarengan dengan itu, ia adalah penerima anugerah hidayah agung bagi sebagian umat nasrani. Mereka menjadi pahlawan sekaligus penjahat, tergantung pada siapa yang menafsir.


Relativitas adalah sebuah keniscayaan. Ia merupakan konsekuensi logis dari hidup. Kehidupan yang diisi oleh manusia-manusia yang memiliki karakter individual yang khas. Manusia-manusia yang memiliki kemampuan dan kebebasan dalam menafsir, namun sekaligus memiliki ambang batas yang tak dapat dilewati. Ambang batas inilah yang menjadi jawaban dari pertanyaan: Kenapa hidup ini tak mutlak, serba relatif?

Pancasila



PANCASILA

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
"Hanya sebuah pengingat bagi Kita, Bangsa, yang sering lupa. Yang terkadang silau oleh mereka yang mengumbar romantisme  masa lalu. Atau terbujuk oleh tawaran tetangga yang menjanjikan kemajuan masa depan." 
Gambar diambil dari sini 

Ramalan Kiamat 2012 Itu

Di tengah gonjang ganjing ramalan kiamat 2012, terdengar suara-suara parau yang membuat alun isu itu terdengar semakin sumbang. Ia menyemarakkan bentuk kreatifias manusia itu dengan berbagai applause dan respon. Mulai dari anggukan mengiyakan, sikap ambigu yang tergambar dari angkat bahu, sampai mengenyahkan sama sekali.

Dari sekian banyak suara parau di tengah isu ramalan kiamat ini, ada satu suara yang terdengar nyaring namun sekaligus rancu dan takut. Suara ini bernada sinis dan berwujud sarkasme. Penyuaranya menafikan sama sekali prediksi kiamat. Namun tidak hanya sampai di situ. Penolakannya membabi buta. Ia menyerang personalitas para “peramal” dengan tusukkan lidah menyayat. Setahu saya, suara ini bersumber dari sebagian agamawan Islam. Yang menilai dirinya sendiri modernis.

Mereka ini orang-orang tak berbeban. Keringanan mulut mereka hampir menyerupai muntah yang tak pernah bisa ditangguhkan. Ia akan dikeluarkan langsung dari perut menuju mulut, tanpa pernah nyangkut di otak. Mereka berbuat dzalim dengan menyerang personalitas, tidak ksatria karena enggan bergelut di medan argumen. Bagi peramal yang berasal dari spiritualis mereka labeli dengan: musyrik. Untuk para ilmuwan mereka hakimi dengan: kafir. Sekali lagi, tanpa beban. Dari perut berakhir di mulut.

Bukan berarti saya benar, namun bagi saya pola pikir mereka rancu. Dengan lantang seperti halnya para pesabda, mereka menyitir dalil agama yang menyatakan bahwa “pengetahuan manusia tentang ghaib—salah satunya kiamat—hanyalah sedikit saja. “

Kita simpan dulu argument mereka ini. Sekarang mari perdengarkan tuturan mereka selanjutnya: “Sok tahu! Tidak ada seorangpun yang tahu akan hari kiamat.” Dengan mengaksesorisi ucapannya dengan embel-embel agama agar orang lain takut menyerang pendapatnya, mereka hiasi tutur itu dengan kata-kata minimalis yang manis: “Mendahului Tuhan!”

Bagi saya rancu. Bukankah mereka sendiri yang menyatakan informasi agama bahwa pengetahuan tentang hal ghaib itu sedikit saja. Namun dengan menegaskan: tak ada satupun orang yang tahu kapan hari akhir akan terjadi, seolah mereka tahu pasti tentang hal ghaib. Tahu pasti bahwa tak akan ada yang tahu mengenai hari akhir. Bukankah ini kontradiktif? Lalu, frasa “sedikit saja”. TIdakkah itu berarti bukan tidak ada sama sekali?

Saya melihat bahwa sumber dari segala sumber penloakan ekstrim itu bukanlah murni dari semangat agama, namun lebih cenderung pada ketakutan personal. Ketakutan akan kebenaran prediksi tersebut. Mungkin saja diam-diam, di alam bawah sadar, mereka menyimpan satu kepercayan kecil pada ramalan itu. Karena mereka ingin menutupinya, terutama menutupi dari dirinya sendiri, maka ditolaklah ramalan itu, tanpa lupa menyerang para sumber ramalannya juga.

Di sini saya bukan membela pihak yang melakukan dan percaya pada ramalan kiamat itu. Namun saya menyayangkan sikap dan perbuatan mereka yang menolak tanpa adab. Bukankah setiap orang mempunyai kemerdekaan untuk berpendapat, menganalisa dan mengambil predisksi? Lalu kenapa yang tak percaya akan hasil prediksi itu jadi kebakaran jenggot? Perbedaan dalam hal prediksi itu kan biasa. Ya namanya juga prediksi, ramalan. Mungkin di sinilah letak urgensi keberimanan yang netral. Mengimani sesuatu tanpa harus menyalahkan apalagi menyerang “iman-iman” yang lain.


Bila iman atau kepercayaan telah mengakar kuat dalam diri, ia tak akan takut pada pertanyaan dan sanggahan. Sebaliknya, iman yang goyah selalu takut pada sanggahan dan pendapat lain.Teks
Apakah kita pernah mencari pembenaran, justifikasi, mereka argument untuk menegaskan 2+2=4? Saya rasa tidak. Karena kita telah benar-benar mengimani bahwa hanyalah 4 hasil tambah 2 dengan 2. Kalaupun ada orang yang tiba-tiba menyatakan hasil dari penjumlahan itu adalah 5, saya yakin kita hanya pergi memunggunginya tanpa buang-buang waktu berdebat dengannya. Itu karena kita yakin.

"Dimanakah Cinta?"


"Dimanakah cinta?"

Wajah itu kini lekat memandangku sempurna.
Kepedihan macam apa yang telah ia arungi hingga mendapatkan kearifan puncak yang tegas tergores dalam raut rupa sucinya?
Mata putih itu masuk menembus jiwa, menelanjangi diri yang selalu bermahkotakan kepura-puraan.
Aku hanya tertunduk memandang bumi, seolah tak mau kehilangannya.
Satu gelengan kecilpun terlontar dari sisa kesadaran yang hampir musnah

Gelombang kata-kata berderu memenuhi semua ruang otak, berkelindan membentuk jawaban-jawaban sekaligus pertanyaan.
Namun gelombag itu tak kuasa membuncah. Ia hanya menderu deras menyusuri lorong-lorong sarap dan menyisiri serabut-serabut maha tipis yang berkusut di kepala.
Aku hanya bisa pasrah mengalah di hadapan perbawanya yang hanya bisa disaingi Sang Nabi.

Seuntai angin surga menghembus keluar dari dadanya.

Ia menerpaku lembut. Kesejukannya yang hakiki menyiram hati bergurun yang kerontang. Lama aku tertegun dalam sensasi surgawi dan penyaksian atas cinta tak berbatas. Tubuhpun akhirnya bergoyang tak kuasa menahan beratnya cinta yang menindih, dan rindu yang menghujam.

Saat diri berada di puncak kepayang, sayup terdengar lantutnan seruling nay mengalun dari bibir makshumnya, membangunkanku.
Kudengar irama nay berbunyi syahdu: "Carilah cintamu!"

Hati yang tersadar karena mabuk memberi sejumput keberanian dalam diri. "Ke mana ku harus mencari?"

Ia hanya menyunggingkan bibirnya, tersenyum. Seulas senyum yang membuatku tenggelam dalam samudera hatinya yang tak bertepi.
"Waktuku tak banyak. Aku harus segera beranjak"

Perasaan putus asa menggores jantung hingga nanahnya mengucur membasahi kalbu.
Pedihnya pengalaman menyeret ingatankau pada suatu masa saat diri berpisah dengan sang asal. Ketika seruling terpisah dari dapuran bambu.

Dengan satu teriakan hati, kusempurnakan sayatan ini hingga perih menjelma menjadi diriku sendiri. "Tak bisakah kau tinggalkan pesan atau petunjuk?"

"Ia berada di dua jari di bawah susu kirimu"

Hening.
Udara terlihat berwarna.
Gerak dunia terasa berhenti.
Poros bumi beralih ke tubuhku. Diriku diam terbakar. Diriku yang menyaksikan ia menghilang ditelan zaman. Zaman yang ia kuasai.

Gambar diambil dari sini


Reblog this post [with Zemanta]

Tentang Jum’at (Tahu Tanpa Harus Yakin)

Wedal, atau dalam istilah Jawa disebut weton yang berarti hari kelahiran seseorang, mempunyai makna khusus bagi orang Sunda—tentu juga suku-suku yang lain. Ia tidak dilewatkan begitu saja sebagaimana mata modern memandang. Orang-orang dulu selalu memberi makna, menempatkan arti dalam setiap hal, termasuk dalam hal sekecil dan se-profan “hari lahir.” Mungkin karena hal itulah mereka merasa kaya ditengah keterbatasan materi. Tak seperti kini yang memunggunginya.

Adapun tentang hari Jum’at—karena ini hari lahir saya-- menurut kepercayaan Sunda bersimbol air. Mereka percaya sifat-sifat air termanifestasikan dalam karakter orang berwedal Jum’at. Orang yang lahir di hari ini digambarkan sebagai orang yang agak labil. Layaknya air yang mengalir berliuk-liuk mengikuti badan sungai, jalannya tidak lurus. Maka wedal Jum’at terkenal moody. Semua tergantung mood. Kalau lagi senang terhadap sesuatu, ia akan keukeuh terus di sana, tak peduli dengan apapun. Namun setelah ia mendapatkan hal lain yang baginya lebih menarik, ia akan meninggalkannya begitu saja tanpa kenang, karena fokusnya akan habis pada sesuatu yang baru itu.

Karena sifat individualistik (bukan dalam arti negative-tak peduli pada yang lain) inilah maka wiraswasta, menjadi blogger, dan jenis-jenis pekerjaan lain yang mandiri (tanpa atasan) sangat cocok baginya. Mereka tak mau dikendalikan oleh pihak luar. Orang-orang

berwedal ini ingin apapun sesuai dengan keinginan pribadinya. Inilah paradoks dari wedal Jum’at: ia labil dalam sikap (berubah-ubah), namun sekaligus teguh terhadap yang ia yakini.

Karena faktor luak liuk air ini jugalah yang menyebabkan orang-orang berwedal Jum’at cukup fleksibel dalam sosialisasi. Mereka tidak kaku. Ia selalu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi apapun. Tak ada ruang bagi fanatisme dalam diri orang-orang berwedal Jumat. Mungkin.

Hari Jum’at layaknya air. Bila ia dalam porsi yang cukup maka akan membawa manfaat yang banyak bagi kehidupan. Kehadirannya dibutuhkan banyak orang. Namun sekalinya ia overload, meledak, lihatlah tragedy banjir yang saggup memporakporandakan banyak bangsa. Orang berwedal Jum’at bila ia dewasa, memiliki keelingan diri yang tinggi, ia akan membawa kemaslahatan dan banyak dibutuhkan oleh sekitarnya. Namun sekali saja fluktuasi emosinya meningkat, apalagi sampai kalap, out of control, daya destruktifnya akan terlihat mustahil keluar dari seseorang yang memiliki perbawa santai.

Itulah simbol air.

Selain bersimbol air, hari Jum’at juga memiliki “itungan” tertentu, yaitu enam. Dalam istilah Sunda disebut “biji”. Bijinya enam. Kalau akan melakukan tirakat, orang-orang berwedal Jum’at menggunakan bilangan enam dalam patok lakunya. Misalkan puasa, orang berwedal ini diharuskan enam hari melakoni tirakat puasanya.

Terkait simbol bilangan enam ini, katanya, orang yang medal di hari Jum’at sangat bagus berjodoh dengan orang berwedal Rabu. Sedangkan Rabu sendiri berbiji tujuh. Bila mereka berjodoh, maka angka akumulasinya adalah tiga belas (6+7). “Itung-itungan”, tiga belas itu jatuh di angka empat. Dan konon, angka empat (4) ini merupakan angka yang sempurna, istimewa. Dalam bahasa Sunda ada istilah “masagi” (dalam bahasa Indonesia persegi) yang berarti paripurna, perfect. Dan kita tahu, persegi memiliki empat sudut, empat titik.

Dari sisi simbol pun Jum’at dan Rabu memiliki korelasi spiritual. Bila Jum’at mengandung air, maka Rabu mengandung Api. Jadi apabila mereka bersatu, unsur Yin dan Yang dalam mahligai rumah tangga terjalin sempurna. (Kalau ini analisis iseng diriku, hehe).

Konon katanya (lagi), orang yang lahir di hari Jum’at memiliki watek (watak) suci. Mereka tak bisa menjalani laku “hitam” seperti “muja” atau ngiprit. Bahkan orang-orang ini tak akan terkena pelet. Orang berwedal Jum’at cocok menjadi spiritualis atau pengaji ilmu-ilmu agama.

Masih relevankah kita membincang hal ini? Saya balik tanya: Tidak patutkah kita mengenal dan mengenang warisan leluhur, penyebab kita ada sekarang?

“Relevansi” dalam konteks modern selalu menyiratkan guna, fungsi. Yang mana sesuatu itu bisa menjadi berguna dan berfungsi bila sebelumnya orang meyakininya terlebih dahulu. Inilah letak kesalahan umum orang-orang modern. Selalu mengacaukan antara: “mengetahui” dengan “meyakini.” Padahal beda terang antara ke dua kata ini.

Marilah kita kenali jejak-jejak eksistensi para tetua kita. Dengan itulah kita tidak menjadi ahistoris dan teralienasi dari budaya sendiri. Karena mengetahui tak berarti harus meyakini!

Tanpa Sinetron

Kuberanjak dari kamar, kaki melangkah tak lebih dari sepuluh ayun. Kulihat sinteron menyalak.

Pintu rumah kulewati, menjemput rumah tetangga. Kulihat sineron mengalun.

Aku pusing

Kuhentak pedal kuda berbau bensin, menyusuri jalan berliku demi berakhir di kediaman kawan. Kudengar pemain sinetron dibincang.

Kuhempas rasa malas demi kunjung ke alat penghidupan yang bernama kantor. Kudengar

Sisi Laa Ilaaha Illalah Yang Terlupakan

Tak ada orang tersandung dengan batu besar. Pepatah ini begitu relevan bagi kita yang seringkali mengagungkan hal-hal yang kita anggap besar, istimewa, spektakuler, hingga akhirnya melupakan hal-hal yang kecil, remeh temeh. Maka tak aneh kalau banyak orang yang tersandung justru karena batu yang kecil. Bukan batu besar.

Lihatlah kita. Saat kita mendapat nikmat yang menurut kita besar, maka perhelatan hajat besar pun digelar. Sembelih ini sembelih itu, undang sana undang sini. Sampai di sini tak ada masalah. Namun ketika fokus kita hanya tertuju pada hal-hal yang besar, mengeliminir hal kecil; takjub pada sesuatu yang luar biasa dan menafikan hal yang sehari-hari, hati-hatilah kita. Jebakan kufur nikmat selalu siap menyandungi jalan kaki kita. Tanpa kita sadari.

Dari sekian banyak macamnya, satu hal yang kali ini akan saya angkat.

Di sini, saat ini, ketika Islam menjadi agama yang besar, saat pemeluknya bukan lagi para

Tukeran Link


Para sobat blogger yang baik, terimakasih telah mengunjungi rumah saya. Walaupun segini adanya, namun saya berharap sobat semua bisa betah dan kerasan ngadem di sini. Maaf bila rumah ini tak secanggih blog para Blog Master, atau postingan yang disuguhkan tak seindah para blogger pujangga. Sekali lagi, hanya segini adanya!


Namun begitu, rumah ini akan selalu terbuka bagi sobat semua yang kemalaman di jalan, kepanasan di luar atau sekadar nyasar keseret aji Mbah Google (Saya kira blog serius, eh taunya blog sableng, hehe) Melampaui itu, sayapun ingin siapa saja teman blogger yg pernah singgah di gubuk ini sudi meninggalkan jejak, demi saya kenang kapanpun saya mau. Saya yakin, sependek apapun perjumpaan namun meninggalkan jejak, itu akan lebih berharga daripada pergumulan lama yang tak berbekas.


Bagi para sobat blogger yang sepakat dengan pikiran saya, silakan tinggalkan alamat blogblog sobat sobat (link), plus anchor text atau title . Insya Allah, akan saya kenang link sobat di blog ini, tepatnya di tab view yang terletak di sidebar dengan title "Pojok Sobat>Jejaring". Kebanggan bagi saya bila link sobat mejeng di pojok itu.


Jadi, silakan, mangga, tinggalkan link sobat di kotak komentar.


Oh ya, akan betapa indahnya bila jalinan ini terjadi dua arah, sehingga tidak terkesan bertepuk sebelah tangan. Dan sayapun ingin dikenang oleh sobat semua, tak ingin terlupakan  begitu saja. Singkatnya, sayapun ingin meninggalkan jejak di rumah sobat semua. Namun bila sobat berkenan. Bila tidak pun (mungkin karena ada sesuatu hal), ya tidak apa-apa. It's Okay. Tapi tetap, sobat bisa mendapatkan link rumahnya di gubuk ini. Terima kasih,,,,Salam Blogger

List link sobat yang telah request:

Tentang Perbedaan Yang Niscaya

Di sini tidak ada tendensi apapun. Apalagi kampanye trans gender. Hanya sekadar pengingat bagi sebuah bangsa yang telah lupa akan keniscayaan dan pentingnya persamaan atau egalitarianism. Sebuah bangsa yang dikuasai hegemoni mayoritas dengan membantai para marginal. Sebuah bangsa yang tak pantas menyebut dirinya MERDEKA, sementara ada sebagian rakyatnya yang terlunta, dipandang sebelah mata, 
dan diposisikan sebagai warga Negara nomor dua. 



Sama halnya dengan kita yang selalu mendambakan pengakuan dan kesederajatan, merekapun ingin dirinya benar-benar hidup di bumi pertiwi ini. Hidup sebagai manusia biasa, yang tidak dilecehkan dan disingkirkan hanya karena masalah ORIENTASI SEKSUAL.

Beda adalah niscaya. Lain adalah hukum alam. BIla Tuhan menghendaki, niscaya Dia akan menjadikannya satu umat saja. Namun, kita tak mengeahui, sedangkan Dia Maha Mengetahui.