UKHUWAH UNIVERSAL

Hampir dalam setiap kesempatan – kesempatan dakwah baik itu pada saat khutbah jum’at atau acara – acara keagamaan yang lainnya sering sekali kita mendengar bahkan sampai bosan, para pembicara atau ustadz menyampaikan materi tentang Ukhuwah Islamiyah. Semakin bosan karena para pembicara itu menyitir dalil – dalil yang sama dan sangat familiar dalam konsep dan kemasan yang itu – itu juga.

Ukhuwah Islamiyah adalah persatuan dan kesatuannya seluruh umat muslim dengan tidak memandang perbedaan – perbedaan mazhab pemikiran, organisasi, partai politik, suku bangsa dan Negara serta perbedaan – perbedaan lain yang dapat memicu perpecahan dalam Islam atau komunitas muslim dalam artian yang lebih sempit. Konsep Ukhuwah Islamiyah ini merupakan konsep persatuan yang sangat ideal , bagaimana tidak, masing – masing individu secara ikhlas sudah tidak melihat dan mempersoalkan lagi semua pebedaan – perbedaan yang memang merupakan suatu realitas demi persatuan dan kesatuan seluruh umat muslim

Sungguh cita – cita yang sangat mulia. Tetapi sayangnya selalu yang lebih ditekankan dalam ukhuwah yang universal ini hanya dari sisi Islamiyahnya saja yang cenderung ekslusif, hal ini secara eksplisit mengatakan bahwa ukhuwah itu harus terjalin diantara umat muslim saja, sedangkan umat yang non muslim berada diluar kategori ukhuwah ini. Sungguh hal ini merupakan suatu bentuk pengeringan dan penyempitan makna dari pesan agama yang luhur ini. Bukankan Islam itu rahmatan lil alamin, kalimat lil alamin disini merupakan gambaran dari makna universalitas, lil alamin ini sama sekali tidak menyiratkan suatu keadaan yang partikular, lokal, apalagi seperti persepsi umat Islam sekarang ini mengenai ukhuwah Islamiyah yang sangat diskriminatif.

Ukhuwah Islamiyah ini memang merupakan jargon politik Islam untuk mempersatukan seluruh umat muslim demi melawan orang - orang kafir dalam peperangan karena logikanya dalam suatu peperangan tidak mungkin dapat dimenangkan apabila didalamnya terjadi perpecahan dan konflik intern lainnya, maka dalam hal ini setiap umat muslim harus benar – benar terjalin dalam suatu ukhuwah Islamiyah.. Jargon inipun yang dipraktekan pada zaman nabi, khulafaur rasyidin sampai para khalifah – khalifah Islam yang lainnya. Namun dalam konteks Negara Indonesia saat ini yang sangat plural yang terdiri dari tidak hanya umat muslim saja maka pemaknaan sempit akan ukhuwah Islamiyah ini justru akan menyebabkan tumbuhnya sikap intoleran terhadap orang non muslim dan hal ini akan berimbas pada rusaknya rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Dapat dibayangkan apabila umat Kristen juga memaknai secara sempit ukhuwah nasraniyah nya, umat Hindu dengan ukhuwah hinduniyah nya, dan agama –agama yang lainnya memaknai persatuan agamanya dengan pandangan sempit semacam ini maka dapat dijamin disintegrasi bangsapun akan terjadi dan Indonesiapun akan batal sebagai Negara karena salah satu konsep dari pengertian Negara adalah bersatunya masyarakat dalam suatu wilayah tertentu yang didasarkan pada sejarah masa lalu dan cita – cita yang sama, tetapi sungguh yang terjadi di Indonesia sekarang ini sangat ironis,dengan didasari masa lalu yang sama, perjuangan yang sama, semangat yang sama dan kepedihan yang sama tetapi tidak bisa menciptakan cita – cita yang sama pula, apalagi sampai terjadi perpecahan dan peperangan sesama warga Indonesia hanya karena perbedaan dan ego kelompok tertenu yang sama sekali tidak toleran.

Maka dari itu rasanya kita perlu untuk lebih memahami pesan agama ini dengan pemaknaan yang lebih universal, pemahaman sempit mengenai ukhuwah islamiyah ini hanya akan menimbulkan perpecahan dan sikap indifferentisme antar agama, yaitu suatu sikap acuh, cuek, tak perduli dan tidak saling ‘menyapa” dengan para pemeluk agama lain. Padahal dalam surah Al Hujarat disebutkan bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia bersuku – suku dan berbangsa – bangsa agar saling mengenal satu dengan yang lain,nah berarti dengan sikap indifferentisme pesan Al Quran yang mulia ini tidak akan terealisasikan bahkan dikhianati akibat sekali lagi pemahaman atas konsep ukhuwah Islamiyah yang sempit dan ekslusif.

Untuk lebih memaknai pesan agama ini dengan pemaknaan yang lebih universal dan mengandung semangat dari surah Al Hujarat diatas, maka rasanya menghilangkan subjek “Islamiyah” dibelakang kata ukhuwah mungkin tidak telalu berlebihan dan lebih baik apabila kata Islamiyah itu kita sedikit reformasi misalkan dengan kata Indonesia, warga Negara, atau bahkan umat manusia . Dan bagi umat Islam jangan takut dengan penggantian kata tersebut karena hal ini sama sekali tidak menghianati pesan agama, jangan ada anggapan dengan dihilangkannya subjek Islamiyah dibelakang kata ukhuwah berarti telah mendistorsi pesan agama, ini merupakan suatu mispersepsi, justru dalam hal ini kita telah melakukan pengembangan yang bersifat lebih substansial dan lebih relevan. Jadi dengan kata lain yang lebih ringan dengan adanya ukhuwah universal maka praktis ukhuwah tidak hanya terjalin eksklusif dalam komunitas muslim saja tetap ukhuwah dapat terjalin lebih luas lagi mencakup ukhuwah sebangsa bahkan semanusia. Negara dan seluruh manusianya berukhuwah, maka praktis Islamnya pun berukhuwah. Tetapi sialnya banyak sekali umat Islam sekarang ini yang terjebak dalam pemahaman makna ukhuwah Islamiyah ini dalam pengertian yang sangat diskriminatif, dan karena telah mapannya pandangan seperti ini akhirnya telah membentuk suatu paradigma bagi kebanyakan orang muslim yang notabene paradigma semacam ini bertentangan dengan prinsip dan semangat Islam sebagai rahmatan lil alamin dan juga dapat menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan didasari kondisi semacam ini maka perlu kiranya kita sebagai umat manusia yang beriman untuk menciptakan uhkuwah yang lebih universal dan plural demi menjaganya kondusifitas dan harmonisasi Negara dan seluruh umat manusia dalam artian yang lebih universal lagi.

Kalau kita kaitkan ukhuwah universal ini dengan tragedi kemanusiaan gempa bumi dan ombak tsunami baru – baru ini yang melanda banyak Negara di Asia khususnya di Indonesia maka inilah momentum yang tepat yang diberikan Tuhan untuk dapat merealisasikan ukhuwah universal ini sebagai wujud konkrit dari pesan Agama yang Agung. Semoga Alloh menempatkan para korban bencana alam tsunami ditempat yang mulia. Amin. Huwallohu A’lam.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 1 Tanggapan... read them below or add one }

Ainun mengatakan...

Term "Ukhuwwah Islamiyyah" sering diartikan secara sempit dengan "persaudaraan seagama/ sesama muslim". Makna ini rancu dan menyesatkan umat manusia secara keseluruhan. Pemaknaan persaudaraan seagama/sesama muslim tersebut lebih tepat dengan istilah 'Ukhuwwah Imaniyyah". Sedangkan Makna yang tepat untuk Istilah "Ukhuwwah Islamiyyah" itu adalah persaudaraan Islami atau persaudaraan dalam sistem Islam atau persaudaraan berdasarkan ajaran Islam. Kata "Islamiyyah" yang dirangkaikan pada kata "Ukhuwwah" adalah sebagai kata sifat (ajektifa)yang mengandung "ya nisbat". Pemaknaan ini mengandung nilai persaudaraan universal sebagaimana universalnya jaran Islam itu sendiri. Jadi kata "Islamiyyah" itu tidak perlu diganti dengan istilah lain, namun yang perlu dirubah adalah pemaknaannya yang benar sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Pemaknaan ini akan sekaligus merubah paradigma kita tentang makna ukhuwwah.Setelah diteliti dalam al-Qur'an, baik teks maupun konteksnya, bahwa ukhuwwah itu melintasi perbedaan suku, ras, bangsa, budaya, agama, bahkan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini. Inilah makna hidup rahmatan lil'alamin. (QS. al-Anbiya: 107), (Qs.al-Hujurat :13.)Dapat disimpulkan, Ukhuwwah Islamiyyah dalam al-Qur'an itu adalah: 1)Ukhuwwah Makhluqiyyah; 2) Ukhuwwah Insaniyyah/Ukhuwwah Basyariyyah; 3) Ukhuwwah Wathaniyyah wa nasab; 4) Ukhuwwah fi din al-Islam/Ukhuwwah Imaniyyah.(Lihat Konsep Ukhuwwah, H.M Quraish Shihab Wawasan al_Qur'an). Aenudina@yahoo.co.id (pemerhati ukhuwwah dan sedang melakukan penelitian tesis tentang ukhuwwah dalam al-Qur'an).

Posting Komentar