Relativitas Tafsir

Dalam memahami Al-Quran, penguasaan gramatika dan gaya bahasa arab sangat diperlukan sebab tanpa keduanya, penafsir akan kehilangan peta dan arah. Tetapi perlu ditegaskan disini bahwa sekalipun Al-Quran itu adalah wahyu, karena bahasa Arab yang dijadikan wahananya masuk kategori kebudayaan yang relative, dalam artian bahasa yang digunakan Al-Quran yaitu bahasa Arab tetap tunduk dan terikat pada konteks budaya, histories, kultur, sosiologis dan unsure-unsur lain yang notabene kesemuanya itu merupakan sesuatu yang sangat relative. Maka dinamika perdebatan dan penafsiran seputar doktrin Al-Quran tak pernah selesai. Makna dan pesan yang dikandung Al-Quran tidak akan terungkap seara tuntas dan bisa dipahami oleh pembacanya meskipun ahli bahasa. Al-Quran selalu melahirkan multimakna, karena dari segi bahasa memungkinkan, sehingga ada beragam mazhab atau aliran pemikiran Islam, baik dalam bidang hukum, teologoi, filsafat, tasawuf maupun politik. Berbagai isu yang diperselisihkan oleh para ulama tidak mungkin diselesaikan dengan cara penyeragaman makna. Hal ini karena teks Al-Quran maupun Hadis membuka diri untuk ditafsirkan, sementara sekarang kita tidak memiliki juru penafsir yang mempunyai otoritas mutlak sejak wafatnya Muhammad Rasulullah SAW.

Uraian singkat diatas menjelaskan pada kita bahwa penafsiran yang selama ini kita lakukan terhadap teks AL-Quran tidak bersifat absolut tetapi bersifat relative. Bagaimanapun juga

pada saat kita membaca suatu teks, saat itu pulalah kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan teks tersebut yang akhirnya kitapun melakukan penafsiran atas teks yang kita baca tersebut. Pada saat melakukan penafsiran itulah diri kita tidak akan lepas dari sisi subjektivitas karena sewaktu kita melakukan penafsiran kita selalu dipengaruhi oleh variable-variabel lain selain daya intelektualitas kita, variable-variabel tersebut antara lain psikologis pembaca, keadaan sosiologis , lingkungan, tradisi , budaya, aspek histories, tingkat wawasan dan pengetahuan serta variable-variabel lain yang selalu eksis pada saat kita melakukan penafsiran terhaap teks. Maka tidak terlalu mengada-ada bila ada yang mengatakan bahwa Al-Quran itu bagaikan sebuah cermin yang dapat memantulkan seribu bayangan tergantung pada siapa yang bercermin di kaca itu. Hal itu sangat logis karena pada saat kita membaca Al-Quran horizon Al-Quran yang luas itu akan terciutkan pada keadaan atau kecenderungan diri kita. Sebagai contoh orang yang kecenderungan dalam fiqihnya kuat maka pada saat orang itu membaca teks Al-Quran seolah –olah Al-Quran tersebut telah berubah menjadi kitab fiqih saja.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah untuk menegaskan bahwa penafsiran yang kita lakukan terhadap Al-Quran itu tidak ada yang bersifat absolute dan mutlak, maka dari itu kita harus benar-benar tawadhu dalam hal ini karena kalu ada yang menganggap absolute dan mutlak terhadap penafsirannya maka orang itu telah berlaku sombong dan salah dan tentu saja telah berseberangan dari semangat Al-Quran itu sendiri dan ada sedikit lagi tambahan apabila tafsiran terhadap Al-Quran itu dianggap absolute maka sebenarnya orang itu telah menganggap rendah terhadap Al-Quran dan sekali lagi telah berlaku sombong dihadapan Alloh, karena hanya pengarang atau penulis saja yang mengetahui apa yang menjadi ide atau kehendak yang penulis tuangkan dalam sebuah teks dan dalam konteks ini berarti hanyalah Alloh SWT yang mengetahui ide gagasan dari Al-Quran yang sebenarnya dan Muhammad Rasulullah yang telah diberi otoritas mutlak oleh Tuhan untuk menafsirkan Al-Quran. Wallahu A’lam

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar