Rel Kereta

Sengatan matahari yang terasa begitu panas akibat bolongnya lapisan ozon yang merupakan efek dari pemanasan global tak menyurutkan langkah kakiku yang mengayun dengan tergesa. Pikiranku terasa macet untuk berpikir rasional. Satu-satunya yang hadir dan memenuhi benak hanyalah rel kereta, yang merupakan obsesiku selama tiga bulanan terakhir.

Rel kereta seakan menjadi cita-cita terbesarku,bahkan mengalahkan mimpi menjadi Bono U2. Melampaui itu, ia telah menyurup dalam jiwa sekaligus menempati posisi sentral dalam otakku. Tak jarang bayang-bayang rel kereta masuk dalam mimpi tidurku dan kumanfaatkan dengan mencoba berbagai eksperimen. Mulai dari duduk santai di ujungnya, tidur terlentang di atasnya, sampai eksperimen terekstrimpun aku coba, yaitu berguling-guling menyusuri sepanjang rel sampai titik terjauh hingga aku terbangun tidur.


Dan kini, semua ingin, mimpi, dan obsesi yang selama ini menggulung diriku lahir batin terasa mulai menguap, perlahan terbang keluar merambat melalui pori-pori kulitku,menysusuri lubang-lubang tubuhku, dan meresap keluar dari kesadaranku. Saat ini ia bukan lagi mimpi atau obesi yang abstrak, namun benar-benar menjadi realita yang konkrit. Rel kereta telah benar-benar di hadapanku. Hanya dengan mengayun kecil kaki kiriku, niscaya kaki kananku dapat menginjak tubuhnya yang terlihat begitu menggoda.

Lama aku tertegun di hadapannya. Kuamati ia secara detail, tak luput satu mili pun. Ternyata ia tak beda dengan bayangannya yang selama ini selalu tervisualisasikan dalam pikiranku. Kucoba menutup kedua mataku demi merasakan kehadirannya, menyelaraskan sinyal di antara kami. Tak begitu lama aku berkontemplasi, aku telah dapat merasakan harmonisasi antara aku dengannya. Aku mulai merasa fana di hadapannya. Kini tak ada jarak antara aku dengannya. Sebentar dari itu,aku mengalami disoreintasi ruang dan waktu. Egoku telah lebur dalam egonya, bagaikan hilangnya air sungai tatkala ia bermuara di lautan.

Tiba-tiba suara bentakan keras memburaikan kontemplasiku dan langsung mengembalikan individualitasku. Ingin sekali aku marah dan berbuat tak manusiawi terhadap sumber suara itu, sampai aku sadari bahwa bentakan itu bersumber dari seseorang yang begitu kukenal karena ia adalah bagian dari diriku yang telah bermanifestasi menjadi bayangan diriku sendiri. Dan kini ia tengah berkacak pinggang di seberang rel.

“Apa maumu?” aku balik membentak dengan tidak menyembunyikan kekesalanku.

“Apa yang sebenarnya engkau inginkan? Lihatlah dirimu sekarang! Kau begitu konyol! Tak sayang kau kehilangan seglanya yang telah kau miliki hanya demi mimpi ingin menjadi sempurna yang sebenarnya tak jelas itu?” Dengan berteriak ia balik bertanya padaku.

“Selama ini apa yang telah kumiliki? Kedudukan? Harta? Wanita? Semua itu tak memberiku kepuasan apapun. Kaulah yang puas selama ini!”

“Aaah sudahlah. Ini bukan saatnya berfilosofi. Ini saatnya hidup! Realistis! Kau pikir dengan mewujudkan mimpimu, dirimu akan menjadi benar-benar sempurna? Apakah kau tahu pasti kehidupan di sana? Kau pernah ke sana?”

Kalimatnya cukup berhasil mempersuasiku. Karena ia bagian dari diriku, ia hapal betul wilayah terlemahku yang dapat menjadi celah walau diriku dalam kondisi sekuat apapun. Aku pun tergoda untuk berpikir, mengkaji ulang, dan mengevaluasi secara objektif pikiranku sendiri. Benteng pertahananku sebagian telah ia duduki.

“Ayolah kita pulang, kita kembali merayakan pesta kemenangan kita” Intonasinya mulai menurun hampir terdengar seperti rengekan. “Hidup ini memerlukan sesuatu dan itu wajar. Kita harus berani berjuang untuk hidup. Hidup dan menang”. Kata-katanya kini terdengar seperti sebuah kearifan.

Di saat kendali diriku dalam pegangannya, secepat aliran listrik dalam saraf otak, melintaslah sebuah ilham bagai cahaya dalam benakku, ‘Satu gerakan hidup saat ini, sekecil apapun ia, niscaya akan menentukan masa depanmu.’ Sesaat setelah ilham kecil itu melintas, terdengar suara gemuruh kereta api melaju cepat melintas ke arah depanku. Kutengok dan memang ia begitu dekat. Tepat kereta itu melaju di depanku saat itu pula aku langkahkan satu kakiku ke depan, dan Wuushhhh…….Cratttt!

Hening. Tak ada lagi suara selain gemuruh mesin kereta api yang terdengar memekikkan telinga. Suara rel yang berderit karena menahan beban tubuh kereta terdengar pilu dan putus asa. Tak terdengar lagi teriakan dan bantahan. Kini semuanya telah usai. Kugapai mimpi dan kukalahkan bagian diriku.

XXX Kubalikkan tubuh, berjalan lunglai, anganku melayang, sambil berpikir bagaimana caranya hidup tanpa telur rajah firaun yang kini telah terdadar di atas rel. Sebuah eksperimen sempurna yang bahkan belum aku mimpikan. 


***Lihat cerpen  serupa di sini

Penulis: Insan Setia N

Lihat cerpen lain: 
 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar