Percakapan

Sayup-sayup suara alarm dari Hand Phoneku merambat melalui udara. Tak begitu tergesa, tapi akhirnya ia tertambat juga di kedua telingaku yang belum begitu siap untuk terjaga. Perlahan tapi pasti, suara dering alarm itu semakin tinggi melengking, terdengar kuno dan putus asa hampir menyerupai suara lokomotif kereta api tua yang sarat akan cerita mistis—bukan dalam konsep religious study.

Tanpa kesadaran penuh, aku memaksakan diri menurunkan kedua kakiku turun dari tempat tidurku dan tanpa perlu melangkah lagi tanganku bisa menggapai Hand Phone yang tergeletak bebas di rak bukuku yang menempel di tembok sisi kanan kamar.

Setelah itu berhasil, aku pun menjatuhkan tubuhku di ranjang, memasrahkan seluruh tubuh dan beban kewajiban ini di atas sebuah kasur busa yang sama sekali tak pernah mempermasalahkanku, apalagi komplain terhadapku dan duniaku. Ia selalu menerima aku apa adanya, tak terkecuali. Walau terkadang ia juga menghukumku dengan membuat tubuhku agak pegal-pegal.

Dan akupun kembali ke posisi semula, tidur, setelah sebelumnya mata lelahku melihat angka di layar Hand Phoneku: 05.10 dan seperti biasa tanganku refleks mematikan nyala alarm..

Dalam tidurku yang sudah tidak pulas lagi, muncul gambar-gambar yang me-reply peristiwa malam tadi sebelum aku tertidur. Dari teropong mimpiku, dapat kulihat mimik muka temanku yang menyiratkan kemalasan dan tanpa apresiasi menghadap ke arahku yang sedang berbicara meluap-luap bergairah dengan air muka penuh semangat.

“Sekarang rasanya aku mulai memahami bahwa perintah untuk beragama secara kaffah itu yaitu terintegrasinya antara: syariat, hakikat, dan makrifat. Kita tidak bisa menjalankan agama secara parsial.” Aku mulai menghela nafas di tengah pikiranku yang sedang merangkai kalimat agar terdengar efektif namun dalam dan esoteris.

Temanku menghisap kembali rokoknya yang terjepit antara telunjuk dan jari tengahnya sambil tangan kirinya yang bebas, memelintir ujung-ujung rambutnya. Sebuah respon gesture yang akan membuat seorang orator politik manapun menahan kata-katanya dan mulai mengalihkan pembicaraanya ke topik lain namun masih sesuai dengan agenda partainya dan berharap topik ini dapat memancing antusias audiensnya.

“Sebuah kesia-siaan apabila kita hanya berdiam diri di syariat tanpa beranjak menuju hakikat.” Aku tak mempedulikan respon lawan bicaraku.

“Bayangkan, betapa tanpa artinya orang berbicara dengan bahasa yang tanpa ia mengerti. Tak jauh beda dengan orang yang berjalan jauh dengan tertatih tanpa tahu ke mana arah tujuannya. Kedua orang ini sama-sama tak dapat memaknai!”

Temanku sedikit mengangguk dengan gambar gairah samar-samar terlukis di wajahnya, seperti awan mendung yang mulai bergerak berpencar, tak lagi egois menghalangi cahaya sang surya yang selalu ingin menyinari desaku.

Dengan sedikit gerakan, aku merubah posisi dudukku sebagai simbol bahwa aku lebih serius dengan apa yang akan kukatakan. “Para pecinta hakikat sudah tidak banyak mempermasalahkan lagi praktik ritual yang sering menjadi bahan perdebatan sengit para kaum syariat. Mereka mulai menemukan setitik cahaya di tengah belantara gulita. Mereka mulai mengetahui arti ungkapan, ‘Lilinnya boleh beda tapi tetap cahanya sama’. Atau ungkapan lain yang lebih low profile, ‘Banyak jalan menuju Roma’”

Aku menatap sosok di depanku dengan sorot mata yang lebih serius lagi serasa ingin mendoktrin pikiran temanku tanpa menggunakan kata-kata. “Yang mereka ingin capai, dan satu-satunya motivasi mereka beribadah adalah…”Aku memberi jeda pada kata-kataku sendiri dan kembali berujar dengan memberi penekanan khusus: “Cinta”. “Saat kita ibadah tapi tak ada ikhlas dan rasa cinta, sebenarnya kita tak sedang beribadah namun berkhayal sedang beribadah. Untuk apa kita berupacara tapi tak ada rasa khidmat dan cinta pada tanah air? Namun duduk-duduk di taman, atau sekadar mendengarkan alunan musik sambil santai di rumah tapi sang hati sedang diliputi rasa kasmaran kepada Tuhan, atau seidaknya dapat mengingatNya, itu adalah ibadah. Harganya jauh melebihi daripada ritual yang tidak hadir cinta di kalbunya”.

“Substansialis…kejawen mungkin? Temanku bertanya dengan setengah menyelidik.

“Maksudnya?” Pancingku agar temanku lebih beragumen, dan yang pasti agar ia lebih benar-benar terlibat dalam diskusi ini.

“Yang aku tahu sih katanya ada aliran yang hanya mencari substansi dari ajaran agama dan kurang peduli pada praktik formal karena mereka anggap itu adalah cangkang sedangkan yang dibutuhkan adalah isi. Dan kalau tidak salah sih--ini juga cuma kata temanku—aliran kejawen seperti itu. Temanku pernah berkata bahwa shalat mereka tidak di atas sajadah dan berpraktik seperti umumnya, karena bagi mereka hidup baik tanpa melakukan kejahatan (fahsya dan munkar) itu adalah shalat yang sebenarnya.” Walaupun bernada di-netral-kan tapi aku tahu kalau teman diskusiku kali ini tidak setuju dengan pandangan seperti ini.

“Mmmh…ya, aku tahu sih, walaupun aku belum setuju kalau semua kejawen seperti itu. Bahkan sebenarnya aku ragu kalau penjelasannya hanya sebatas itu.”

“Aku juga ga tau banyak sih” keluh temanku.

Suasana hening. Yang ada hanya sayup-sayup suara Dewa 19 yang mengalun dari komputer 























***Cerpen ini merupakan adaptasi dari kisah nyata saya sendiri

Penulis: Insan Setia N

Lihat cerpen lain: 

 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar