Pelepasan Ikan: Tolak Bala Ramah Lingkungan


Suatu hari seorang teman—bukan asli Sumedang—memintaku untuk menemaninya menemui seorang berilmu dan saleh yang dapat diminta bantuan dengan doanya. Ia merupakan pimpinan di salah satu cabang perusahaan yang bergerak di bidang finance, dan waktu itu kantor cabangnya tengah mengalami hambatan dalam produktivitas.

Mendapat ajakan itu, ingatanku langsung tertuju pada salah seorang guruku yang tinggal di Sumedang. Banyak orang yang sedang ditimpa “kesulitan” meminta amalan darinya, atau sekadar berkah doa. Tanpa pikir panjang, akupun langsung mengiyakan dan berangkatlah kami berdua menemui guru itu di kediamannya.

Kami disambut guru itu dengan sapaan ramah dan canda ringan. Tak ada sedikitpun

ketegangan dalam komunikasi kami. Ia tidak memposisikan dirinya sebagai “orang pintar”, juga tidak menempatkan kami sebagi “orang susah” yang mudah dieksploitasi seperti yang kerap dipraktekkan oleh dukun-dukun palsu.

Setelah temanku memaparkan permasalahan dan mengutarakan keinginannya, guru itu membacakan rapalan tertentu pada segelas air putih. Jujur, melihat praktek guru itu, aku agak under estimated terhadap dirinya. Suudzon terlintas dalam hati dan benakku. “Berdoa ya berdoa aja gak perlu pakai media. Memang Tuhan memerlukan perantara?” mungkin seperti itulah gelisah hatiku waktu itu. Namun kelak--setelah aku mengetahui penemuan Dr. Masaru Emoto dari Yokohama Municipal University Japan, dengan peneltiannya terhadap air yang ternyata Air bisa “menangkap” getaran rasa dalam bahasa apapun, tulisan, gambar, dan musik. Air juga bisa “mengerti”, menyimpan dan menyalurkan informasi—aku dapat memahami praktek guru itu.

Temanku meminum habis air doa itu seperti yang diperintahkan guru, lalu beliau menyuruh temanku untuk membeli ikan kecil (benih ikan) sekira dua sampai tiga kiloan. Untuk jenis ikan, beliau menganjurkan pakai Mujair saja karena ikan jenis itu dapat bertahan hidup di berbagai media air. Sampai di sana belum terlihat kejanggalan apapun. Mungkin saja guru itu ingin beternak ikan. Namun setelah mengetahui kepentingan dari benih ikan itu, aku agak mengernyitkan dahi, heran. Alumnus beberapa pesantren itu meminta temanku untuk melepaskan benih ikan itu di sungai. Dengan sebelumnya temanku harus “ijab kabul” dulu dengan ikan-ikan itu—dahiku semakin mengernyit—dengan ijab kabul: Ikan, saya lepaskan dirimu. Sekarang kamu sekalian berdzikirlah pada Allah dan tolong doakan dirku…” Walau di sana tersirat logika dari ritus tersebut--meminta doa pada makhluk lain—tapi tetap saja saya bingung dan curiga. Apakah ini tidak bid’ah? Mana dalilnya? Apakah ini bentuk sinkretisme agama?

Sampai akhirnya rasa syak wasangka itu hilang, setelah aku tidak melihat pengalaman spiritualitas dari kaca mata modern yang mendewakan kebenaran objektif, sebuah kebenaran yang dapat diverifikasi. Sekarang aku melihat spiritualitas dengan sudut pandang kritis terhadap cara pandang modern. Cara pandang seperti itu bagiku terlalu arogan. Di dalamnya tersirat hasrat kekuasaan yang ingin menguasai seluruh semesta dengan memasukannya terhadap “akal logika”. Cara pandang itu tak memberi ruang bagi sesuatu yang misteri, pengalaman spiritual.

Bagiku saat ini, kebenaran objektif bukanlah sesuatu yang begitu sakral—jebakan takhayul orang modern—satu-satunya yang mutlak. Bagiku ada yang lebih penting dari itu. Ialah “pemaknaan”. Dalam hal spiritual, kebenaran objektif sudah tak begitu penting. Yang lebih penting adalah sejauh mana sesuatu itu memberi, dan diberi makna oleh kita, manusia, sebagai makhluk spiritual.

Ritual pelepasan itu memberi makna bagi kita bahwa sebagai manusia kita tak hidup sendiri. Kita berdampingan dan hidup bersama dengan alam: binatang, tumbuhan, ekosistem… Dalam amaliyah itu memberi ruang bagi kemungkinan intervensi binatang terhadap manusia (ikan mendoakan manusia), sesuatu yang telah menjadi “tak mungkin” dalam kesadaran kolektif manusia. Selama ini manusia telah terlanjur menempatkan binatang, tumbuhan, alam sebagai komoditi belaka yang dapat dieksploitasi, dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan manusia. Ritual ini kembali menyadarkan kita bahwa makhluk lainpun memiliki status hamba, sama halnya seperti manusia. Kesadaran akan staus hamba yang tidak hanya dimonopoli oleh bangsa manusia, bisa menumbuhkan kearfian manusia dalam mengambil manfaat dari alam.

Sekarang, saat menulis posting ini, saya membayangkan andai saja seminggu ada tiga orang yang meminta bantuan kepada guru itu, dan beliau mensyaratkan hal serupa, ritual pelepasan ikan, berarti sembilan kiloan benih ikan akan hidup di sungai. Dan bila itu terjadi setahun saja, saya optimis sungai Cipeles Sumedang akan penuh kembali dengan ikan-ikan. Itu berarti bisa bermanfaat bagi warga sekitar, juga dapat membantu menahan kerusakan sungai.

Mungkin ada diantara sobat semua yang ingin melaukan ritus ini??? 


***Gambar dari www.antarafoto.com/

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 4 Tanggapan... read them below or add one }

eNeS mengatakan...

Inilah yg banyak terjadi di masyarakat sob.
Tuhan gak perlu perantara, gak perlu ritual-ritual yg Dia sendiri tidak memerintahkannya.

Saya percaya adaya "perantara" (wasilah), tp harus melalui agen Tuhan, seperti para Nabi dan Wali-Nya. Bukankah shalawat juga wasilah, dan ini diperintahkan Nabi Saww (shalallahu 'alaihi wa aalihi wasalam). Makanya hanya kepada Nabi dan ahlul bait (aali) saja saya berwasilah sob... Karena Nabi Saww menganganggap kita sebagai orang pelit apabila bersawilah hanya kepada dirinya (membaca shallaahu alaihi wasalam saja. Tidak lengkap.)
Jadi, bershalawatlah karena para malaikatpun berwasilah kepada Nabi saww. Bukan begitu pak ustadz?

JT mengatakan...

dilihat dari makna dan manfaat pelepasan ikan, dan masyarakat jadi sadar akan pelestarian ekosistem, dan alam itu good.
sementara doa, akan terkabul hanya dengan ritual pelepasan ikan sehingga mendarah daging, lalu yaqin jika tidak ada ritual, tidak ada ikan, doa tdk terkabul... ustadz lebih faham???

Insan Setia N mengatakan...

@Kang eNeS: Haha, ustadz ti mana sob. sanes ustadz ieu mah, borokok mah enya. Sepakat pisan tah sob cacariosan teh, ah da urang mah saha atuh. Mau langsung saja ke Allah seperti orang wahhabi, saya gak pede. Kenal (baca:ma'rifah) saja belum. Mau minta tolong ke orang beriman,saleh, bingung nu mana?? Ah yg pasti2 aja, seprti kata kang eNes, ke Rasul sama waliNya.
@JT: kita analogikan sanggahan akang dgn ritual yang berbeda: kalau doa, akan terkabul hanya dengan "shodaqoh" (jelas ini termaksud di hadtis2 shohih) sehingga mendarah daging, lalu yaqin jika tidak ada ritual, tidak ada shodaqoh, doa tdk terkabul...
Kang JT yang baik, jd hemat sy, kita berpikirnya jgn terlalu idelogis. Inikan hanya sebuah alternatif(sama dengan shodaqoh, shalat hajat, dll) coba hilangkan kata: HANYA DENGAN.
Ini bukan cuma satu2nya, Sekali lagi, hanyalah alternaitf. Mungkin dalam konteks "kerusakan bumi" seperti saat ini, ritus pelepasan ikan ini akan menjadi sebuah alternatif ritus yang efektif dan penting. Itu saja
Tnx 4 Comment kang...

Galeri mengatakan...

Baca semua, tp No comment akh. Sdh terjwb. Nice blog

Posting Komentar