Menggali Pesan Puasa

Saking betahnya kita tinggal dan bermain-main di dunia yang fana ini, tak terasa beberapa mingguan lagi kita semua akan sampai di bulan ramadhan, bulan suci bagi umat muslim di seluruh dunia. Pada bulan ini setiap muslim--yang telah memenuhi kriteria khusus menurut fikih—melaksanakan salah satu ritual wajib dalam Islam, yaitu puasa. Di bulan ini pula Allah menjanjikan maghfirah yang besar dan bonus-bonus pahala lain yang sangat menggirukan, mulai dari dilipat gandakannya pahala dari berbagai amalan sampai dua puluh tujuh derajat, dibukakannya semua pintu surga dan ditutup semua pintu neraka, dan reward lain yang telah Allah janjikan. Hampir semua umat muslim pun menyambutnya dengan senang dan menjalankan ritual tahunan tersebut sambil berharap Allah membalas semua amalannya dengan pahala yang tinggi, bahkan surga secara langsung.

Janji-janji Allah akan pahala dan keutamaan ibadah puasa di bulan Rmadhan itu sebagai motivator untuk semua muslim agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadahnya. Tapi rewards Allah yang sangat menggiurkan itu jangan sampai menjebak kita pada konsep ibadah pahala oriented. Sayyidina Ali kw menyebut orang-orang yang beribadah dengan konsep

seperti ini sebagai ibadahnya seorang abid atau budak. Karena kita percaya apapun yang Allah perintahkan pasti mengandung hikmah bagi diri kita sendiri, maka kitapun harus bisa menangkap hikmah atau pesan-pesan moral yang ingin Allah sampaikan melalui ritual puasa ini. Hal ini dapat membangkitkan ruh dalam puasa kita sehingga ibadah puasa yang kita lakoni tidak menjadi kering dan terkesan formalistik.

Ayat al-Quran yang populer mengenai puasa yaitu ayat 183 surah al-Baqarah. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Dalam ayat ini dapat kita ketahui bahwa ritual puasa itu telah ada sebelum Islam lahir, jadi puasa itu bukan genuine Islam. Umat Yahudi dan Nasrani pun malakukan ritual ini, bahkan agama-agama budaya waktu itupun sama melaksanakannya, cuma berbeda waktu dan ketentuannya . Hal ini mempunyai arti bahwasanya Islam itu menjunjung tinggi local wisdom. Islam ramah terhadap tradisi dan budaya lokal. Islam mengadopsi lalu memodifikasi ritus warisan tradisi tadi sehingga benar-benar sesuai dengan semanagat Islam dan tersiangi dari nilai-nilai dan praktik jahiliyah. Bukan hanya ritual puasa saja yang merupakan adaptasi dari ritus lokal, ibadah haji pun sama. Kita jangan terlalu mempermaslahkan praktik-praktik lokal masyarakat dalam menyambut kedatangan bulan suci ini. Itu semua hanyalah ekspresi kegembiraan yang dituangkan dalam bentuk ekspresi yang mungkin berbeda-beda pada tiap daerah. Pahami praktik-praktik penyambutan tersebut—walaupun memang tidak mempunyai landasan teks agama—sebagai bentuk dari keramahan Islam terhadap budaya lokal.

Kalau kita tinjau ritual puasa dari sisi praktiknya--tidak makan dan minum, berhubungan seksual, dan menjauhi pantrangan lain dari mulai terbit fajar sampai waktu maghrib tiba—maka kita dapat melihat dengan jelas pesan moral yang ingin Islam sampaikan, yaitu emotional control-kontrol emosi. Menurut ilmu psikologi, ada tiga jenis usia, yaitu usia secara kronologis, usia secara biologis, dan usia secara psikologis. Sedangkan sasaran “pendewasaan” yang menjadi oreintasi puasa adalah jenis usia yang ketiga—usia secara psikologis. Dewasanya usia jenis ini dapat diukur melalui salah satu parameternya, yaitu kemampuan individu dalam melakukan kontrol terhadap emosinya sendiri. Semakin tinggi kemampuannya dalam mengkontrol emosi jiwanya, maka semakin berkualitas dan semakin dewasa orang tersebut. Adanya kemampuan kontrol emosi--baik itu secara individu maupun komunal—akan bermanfaat bagi carut marutnya kondisi keamanan di Indonesia saat ini yang inkondusif karena maraknya aksi-aksi kekerasan akibat adanya clash sosial, ekonomi, agama, politik, dan budaya. Kalau semua pihak bisa menahan diri, tentu saja tidak akan ada intimidasi mayoritas pada minoritas, marginalisasi salah satu pihak pada pihak lain, pemaksaan kehendak dan keyakinan pada orang atau pihak lain, dan penjajahan ekonomi salah satu bangsa atau pihak pada bangsa atau pihak yang lain.

Kalau semua umat muslim menjalankan puasa secara “sadar”, tidak hanya pahala oriented saja, maka kita akan menemukan satu metode terapi dalam ritual ini. Waktu berpuasa, para pelaku puasa itu sebenarnya sedang menjalankan shock terpahy. Berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, dimana kita dapat makan dan minum kapan saja bahkan sampai berlebihan, pada bulan Ramadhan ini para pelaku puasa dipaksa untuk merasakan lapar dan dahaga sehingga mereka dapat merasakan secara langsung penderitaan yang diderita oleh orang-orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan dan diminum. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sensitifitas atau kepekaan sosial sehingga dapat menghilangkan syahwat serakah yang salah satunya termanifestasikan dalam sistem ekonomi monopoli dan sistem politik invansi yang saat ini dilakukan oleh negara-negara adikuasa.

Dalam ritual puasa, pesan egaliter sangat tercermin di dalamnya. Semua umat muslim yang telah baligh dan telah memenuhi ketentuan fikih yang lainnya wajib menjalankan puasa. Ibadah puasa bukan untuk kalangan atau kelas tertentu saja melainkan bagi semua kelas. Tak ada majikan atau buruh, tak ada kategori gender, tak ada pejabat atau rakyat, semuanya menjalankan ibadah puasa. Ini berarti bahwa adanya kelas itu hanya ada dalam realitas sosial saja, sedangkan di mata Allah, semua orang itu adalah sama, yang membedakannya adalah kualitas ketaqwaannya saja. Islam tidak mengajarkan nilai dan sikap diskriminatif, Islam sangat menjunjung tinggi semangat egalitarianisme. Maka akan menjadi kontraproduktif apabila orang Islam yang notabene menjalankan ritual puasa tapi masih melakukan praktik diskriminasi, misalnya menempatkan wanita dan orang non muslim menjadi warga negara kelas dua.

Dan satu yang menarik dari ritual puasa ini adalah bahwa ternyata ritual puasa dilakukan oleh hampir semua agama. Puasa berbeda dengan ritual lain dalam Islam yang menjadi simbol eksklusif seperti shalat dan ibadah haji. Kristen dan Yahudi sudah jelas, agama budaya pun semacam Hindu, Budha dan Kong Hu Cu mempunyai praktik ritual semacam ini. Ini berarti bahwa puasa itu merupakan ritual yang sifatnya universal, bukan milik Islam saja. Dan itu semakin menambah keistimewaan bagi ritual puasa. Terakhir, marilah kita sama-sama melaksanakan ibadah puasa, yang merupakan salah satu rukun dari lima rukun Islam. Kita harus berupaya untuk dapat mengambil pesan dan nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa ini, sambil berupaya untuk merealisasikannya. Walaupun pahala itu penting, tapi jangan kita jadikan itu sebagai orientasi tunggal, karena setiap ibadah itu harus mempunyai konsekuensi sosial. Ibadah kita harus membawa kemaslahatan bukan untuk diri kita sendiri—konsep pahala, tapi juga harus membawa dampak kemaslahatan bagi yang lainnya.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar