Mbah Surip dan Ibrahim

Mbah Surip dan Ibrahim. Mereka baru saja meninggal. Mereka meninggalkan jejak. Mereka dikenang. Mereka berbeda tetapi mungkin sama.

Mbah Surip memegang gitar, Ibrahim membawa bom rakitan. Mbah Surip meninggalkan pesan cinta dengan jargon “I love you full”nya, Ibrahim—yang semula disangka Nurdin M Top—meninggalkan suara kebencian dengan teriak “ledakkan!”nya. Mbah Surip mencipta “tak gendong”, dan Ibrahim merakit bahan peledak. Mbah Surip membuat tertawa, sedangkan Ibrahim memunculkan tangisan dan menggores setiap hati. Mbah Surip menawarkan damai, Ibrahim memaksa untuk berperang. Mbah Surip dikenang sebagai musisi sederhana dengan lagu rege ceria, Ibrahim kita kenang sebagai perawat bunga yang menebar terror.


Kini Mbah Surip dan Ibrahim telah tiada. Walau berebeda, tetapi mereka sama menghadap kepada Yang Maha Satu. Mereka kembali kepada Sang Asal. Mereka adalah seruling-seruling kecil yang berasal dari dapuran bambu yang sama. Walaupun kita tahu setiap seruling mengeluarkan suara khas, melantunkan lagu berbeda.

Dan kini, kita, seruling-seruling yang masih diberi kesempatan untuk berdendang, memiliki kebebasan untuk berbunyi. Apakah kita akan melantunkan irama kasih yang meninggalkan syahdu, ataukah akan mendendangkan suara kebencian yang bising dan mengancam. Dari suaranya itulah kita dapat mengetahui akhir dari perjalanan seruling.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar