Makna Kebebasan Dalam Islam

Selamat tahun baru hijriah. Selamat berhijrah, semoga kita bertambah cerah.
Islam (sebagai agama), dalam perjalanannya banyak sekali menampakkan wajah. Ia tak hadir hanya dalam satu rupa, namun dalam beragam wujud. Atau mungkin para penafsirnyalah yang memiliki banyak kaca mata dalam melihat dan memperlakukan "Islam"? Satu waktu ia dapat menjadi pendorong revolusi bagi warga kelas dua dalam mendapatkan keadilannya kembali. Namun kita juga tahu--bahkan mungkin mengalami--Islam pernah dijadikan legitimasi oleh pihak-pihak tertentu dalam memberangus kebebasan manusia. Islam pernah dijadikan belenggu bagi kebebasan berkespresi. Islam pernah dijadikan plester demi membungkan mereka yang menyampaikan pendapat. Islam pernah dijadikan peluru dalam membunuhi kreatifitas para pelaku seni. Fenomena-fenomena "perenggutan" semacam ini selalu mengantar kita pada sebuah pertanyaan: Bagaimana Islam Memandang Kebebasan?

Motivasi saya mengangkat tema kebebasan dalam tulisan kali ini karena masih banyak sekali orang yang menganggap atau memahami kebebasan itu secara dangkal. Banyak orang yang
memaknai kebebasan itu hanya dengan sikap ”semau gua”, permisive atau segala boleh dan serba relatif. Setiap kali mendengar kata kebebasan ini disebut, benak mereka langsung mengimajinasikan suatu ”dunia” tanpa aturan, nilai, moral, dan anarkis. Hanya dalam tataran inilah mereka memaknai arti kebebasan.

Salah satu faktor yang melatar belakangi atau mempengaruhi sikap seseorang adalah pemahaman. Sikap orang terhadap sesuatu sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap sesuatu tersebut. Jadi, kalau pemahamannya negatif dan kurang komprehensif maka sikap yang muncul cenderung negatif dan distorsif. Maka tidak heran bila banyak sekali orang (khususnya umat muslim) yang menolak dan menyangkal kebebasan karena mereka masih memaknai kebebasan sebatas harfiah, yaitu ”bebas”. Bebas bersikap, bebas melakukan apa saja, bebas beragama dan berkeyakinan, bebas berpikiran dan berpendapat, bebas bergaul, dan bebas-bebas yang lain. Bebas-bebas ini mereka tolak karena dianggap bertentangan dengan agama yang telah mempunyai nilai-nilai dan aturan final yang harus ditaati dan tidak boleh di-bebas-kan. Dengan asumsi ini mereka menolak kebebasan dan memusuhi para pembela kebebasan.


Pertanyaan selanjutnya adalah: benarkah bahwa kebebasan itu hanya sikap dan pandangan segala boleh saja? Apakah benar kalau kebebasan tidak diajarkan dan diwahyukan Tuhan?


Pertama kali manusia dilahirkan ke dunia yang fana ini kebebasan telah melekat pada dirinya secara alamiah, dalam kebebasan yang sebebas-bebasnya. Tanpa nilai, aturan, moral, bahkan agama. Tuhan menyerahkan dan mempercayakan segalanya murni kepada manusia. Sampai akhirnya lingkungan mengajarkan dan menuntut manusia untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan aturan, nilai dan etika yang disepakati dan dianut oleh masyarakat (behaviorisme). Siapa yang berbuat diluar aturan yang telah dispakati itu maka pelakunya akan dikenakan sanksi. Karena ada sanski berarti ada batasan. Maka aturan atau batasan inilah yang membatasi kebebasan yang melekat pada tiap individu.

Saya memberikan ilustrasi di atas hanya untuk memperlihatkan bahwa tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya. Apalagi segala boleh. Setiap masyarakat manapun pasti mempunyai aturan bersama demi terjalinnya harmonisasi antar anggota kelompok masyarakat. Aturan atau hukum--tidak hanya sebatas hukum postif--itulah yang mengatur kebebasan individu agar tidak berbenturan dengan kebebasan individu lain. Kebebasan orang mendengarkan musik misalnya, tidak boleh mengusik kebebasan orang lain untuk merasakan kenyamanan dalam keheningan. Dengan sendirinya hukum menjadi semacam mekanisme ”penertiban” kebebasan antar individu.

Karena itu, kebebasan harusnya dipahami dalam konteks pemberian ruang dan kesempatan kepada tiap individu untuk memenuhi hak-hak pribadinya dan untuk mengaktualisasikan dirinya sebatas itu tidak bertentangan dengan hukum dan aturan. Hak-hak dasar ini juga diatur dalam konstitusi kita, seperti hak untuk berafiliasi dan menyamapaikan pendapat, hak untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan sekaligus menjalankannya, hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, hak untuk untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama bagi setiap warga negara dan hak-hak lainnya. Singkatnya kebebasan adalah memberikan keleluasaan individu untuk memenuhi hak-haknya.

Jadi, makna kata kebebasan itu sama sekali bukan sikap permisif atau segala boleh seperti yang disangkakan para konservatif melainkan kebebasan yang mempunyai rasa tanggung jawab, kebebasan yang tidak melawan aturan dan hukum.

Islam mengajarkan tentang kebebasan dan penghormatan akan pilihan setiap individu. Kita dapat merujuk kepada dua hal; yaitu dari aspek doktrinal dan dari praktik sejarah.

Dalam level doktrinal kita akan menemukan diantaranya diktum lâ ikrâha fî al-dîn (tidak ada paksaan dalam beragama) dan lakum dîinukum wa liyadîn (untukmu agamamu dan untukmu agamaku). Melihat dua penggalan ayat Al-Quran ini dapat kita pahami bahwa Allah memberikan kebebasan yang sangat luas pada seluruh umatnya bahkan untuk tidak beragama sekalipun. Allah membebaskan manusia untuk memilih jalannya sendiri: jalan yang lurus atau yang sesat, keselamatan ataupun kecelakaan. Seperti yang dikatakan Al-Quran, andai saja seluruh umat manusia tidak taat dan menyembah Nya, maka Allah sedikitpun tidak akan rugi.

Ayat lainnya adalah faman syâ’a falyu’min, wa man syâ’a falyakfur (barangsipa yang menghendaki bolehlah dia beriman dan barangsiapa yang menghendaki bolehlah dia kafir). Serta banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menjamin akan kebebasan, khususnya kebebasan beragama dan berpendapat, yang tidak mungkin saya uraikan satu per satu.

Dalam periode Nabi kebebasan itu sangat dihormati. Seperti yang kita ketahui bahwa pada saat itu banyak perbedaan di anatara para sahabat dalam menerjemahkan atau memahami sunnah Nabi. Tetapi Nabi mengapresiasi perbedaan itu secara arif. Nabi pun melarang memerangi pendapat orang yang berbeda. Konon, sewaktu zaman khulafâ al-râsyidîn, ada seorang sahabat yang bernama Abu Dzar al-Ghifari. Oleh Nabi, lidahnya dijuluki sebagai orang yang paling jujur di bawah kolong langit. Itu merupakan pujian Nabi untuk seorang yang memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Hal ini tidak berarti Islam mengajarkan relativisme-nihilistik. Tetap ada nilai ideal. Dengan kebebasan bukan berarti kita membenarkan hal-hal yang secara ideal salah. Juga bukan membenarkan pandangan atau tindakan orang lain berdasarkan keyakinan kita. Kita hanya memberikan ruang dan kesempatan yang sama bagi orang lain untuk melakukan apa yang ia yakini. Secara ideal-teologis saya percaya bahwa hukum ibadah Shalat itu wajib dan berdosa bagi umat muslimin yang meninggalkannya. Tapi keyakinan ini tidak lantas membuat saya membenci dan memaksa orang lain untuk melaksanakan Shalat juga, karena itu adalah hak pribadinya yang harus saya hormati dan terjamin kebebasannya. Adapun kewajiban saya sebagai sesama muslim adalah menasihatinya dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, itupun harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf.

Apabila kebebasan dapat terjamin maka ada beberapa implikasi postif dari hal itu, diantaranya: 

  • Pertama, dengan kebebasan yang terjamin maka hak-hak individu seperti hak beragama dan berpendapat akan lebih terjamin (orientasi demokrasi). 
  • Kedua, kebebasan yang terjamin akan memberikan stimulus atau rangsangan bagi setiap orang untuk berpikir dan bertindak lebih kreatif dan inovatif, karena tidak ada ketakutan kalau pikiran dan cara-cara ”baru” itu mendatangkan bahaya bagi dirinya sendiri. 
  • Ketiga, kebebasan (berpendapat) akan semakin memungkinkan terciptanya tatanan yang lebih berkeadilan karena memberikan kemungkinan yang semakin besar pada tiap masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan aspirasinya, berpartisipasi secara lebih luas dalam pengambilan kebijakan-kebijakan publik (demokrasi deliberatif) 
  • Keempat, kebebasan (berpikir) akan memberikan peluang yang lebih besar dalam pencarian kebenaran karena dengan adanya kebebasan berpikir bisa memperkuat atau merevisi kebenaran saat ini yang telah mapan atau bahkan menemukan kebenaran-kebenaran lain yang berada di ”pinggiran”, berada di luar kebenaran dominan.
Kebebasanpun tidak dapat hidup dan tumbuh begitu saja. Ia harus ditanam dan dipelihara agar lestari dan berbuah.  Dan itu adalah tanggung jawab kita semua. Tanggung jawab manusia yang memiliki amanah kekhalifahan. Maka saya apresiatif sekali terhadap inovasi-inovasi Djarum Black dalam keikutsertaannya memelihara kebebasan sekaligus merangsang kreatifitas dan inovasi para generasi muda. Blackinnovationawards, Blackinnovationawards goes to campus, Black Blog Competition, adalah bukti konkrit dari concern-nya Djarum Black terhadap pengembangan dan penyaluran kreatifitas anak bangsa.
Semoga kebebasan senantias mewujud. Bukan hanya ada dalam dunia ide, namun dapat menjejak di bumi dan menjadi bagian dari pengalaman kita sehari-hari. 

Baron dan Byne, dalam Jalaluddin:2005 mengatakan ”Kebebasan dan keragaman boleh jadi meresahkan sewaktu-waktu, tetapi itulah harga yang harus kita bayar untuk menghindari kebekuan” 

Gambar diambil dari sini
 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 29 Tanggapan... read them below or add one }

el-abid mengatakan...

visit me

ateh75 mengatakan...

Tausiah yang sangat mencerahkang kang...

Selamat Tahun baru hijriyah 1431,Semoga awal dari hati yang baru pula bersih dari noda nafsu amin...

Indahnya Berbagi mengatakan...

Menarik, inspiratip Tp...Jarum Black itu apa? Bukanx nama rokok? Khn haram? Klu mmg iya, kita g' diberikan kbebasan menempatkan suatu dalil pmbnaran. Wallahu'alam

Kalau mau anaa bisa bantu edit kolom footernya.

Lho shoutmix udah ada diblog anaa sejak awal anaa buat blog? Antum baru liat? Memang anaa meletakkan shoutmixnya hanya pada halaman awal (home) begitu jg bbrapa widget lainx (banner& info blog), anaa tidak tampilkan widget itu pada halaman selanjutnya (saat link readmore u/ mmbaca postingan di klik). Itu ada trikx jg.

rumah blogger mengatakan...

untuk semuanya saya ucapkan selamat tahun baru Islam, sukses semuanya

sabirinnet mengatakan...

saya juga mengucapkan selamat tahun baru hijriah, mohon maaf kalo ada salah selama ini, semoga tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin, amiinn

FaiS mengatakan...

mantab tulisan'y...
seLamat tahun baru isLam 1431H.. sowry yach teLat..,

Iswady mengatakan...

Dari kata-kata yang tersusun membuat saya takut berkomentar karena keindahannya.

setiakasih mengatakan...

Ulasan yang indah...
Aku kagum.. subhanallah..

p.s: layout baru ya.. :)

Rkeyla mengatakan...

Wach...templatenya baru yach kawand
Makin mantap nie postingannya
Met tahun baru Hijriyah semoga tahun ini bisa menjadikan kita orang yang lebih baik lagi dari pada tahun kemarin

nuansa pena mengatakan...

Subhanallah, aku copy artikel pencerahan untuk pribadi!
Selamat Tahun Baru Islam!

annie mengatakan...

Subhanallah....
sebuah tulisan hasil perjalanan ruhani yang tak sederhana. Sae, Kang. Manfaat dan mencerahkan.

annie mengatakan...

Nuhun, Kang ah ... hehe janten isin.

didiet mengatakan...

selamt tahun baru hijriyah ya mas...gpp kan telat ngucapinnya

Zahra Lathifa mengatakan...

ck ck ck...bagus banget nich kang, reflektif! selamat tahun baru juga yaa..semoga hari2 menjadi lebih baik amin :)

insanitis37 mengatakan...

@All: Terima kasih atas support dan atensinya. Hanya Allah Yang Maha Menggores Pena.
@Indahnya berbagi: Rokok haram ya?? Mungkin ini perlu diskusi lebih lanjut. Trims udah selalu mau direpotin sama aku, hehe

7 taman langit mengatakan...

salam sejahtera
salam kenal dari blogger ingusan

Indahnya Berbagi mengatakan...

kalau bisa buat saja file zip u/template antum, kmudian kirim ke email anaa.

sudah tidak diragukan lagi keharamannya. anaa lulusan sebuah pesantren disulawesi.

bluethunderheart mengatakan...

kunjungan perdana
salam hangat selalu

Newsoul mengatakan...

Kebebasan berekspresi boleh-boleh saja, asal tidak berbuat kerusakan dan bathil di muka bumi ini. Penjabarannya luas. Saya cuma mau bilang, ketika kita menyoal kebebasan, maka sebenarnya semua yang melata di muka bumi ini tidak benar-benar bebas, ada aturan yang harus kita ikuti. Dalam tiap sudut jiwa kita, sebenarnya kita tau aturan itu. Ini mungkin yang disebut titik God spot, hati nurani kita. Sang Khaliq akan menuntun kita bila kita mendengarkanNya. Selamat Tahun Baru hijriah juga sobat.

Jiox mengatakan...

mantaap.. tambah keren tambah rame.. met thn baru hijriah akang, mohon mf kl ada khilaf kata, maklum masih agak ingusan.. he he.. titip untuk mas sabirin jg dan senior semuanya ( mo koment dr pagi con. ane sule mulu)

diar mengatakan...

Artikel yang bagus kawan.

Setujulah aku dengan ide-ide di dalam isi artikel itu.

Hidup kebebasan yang bertangung jawab. Hidup!!!

Miracle Of Moslem mengatakan...

Bang....ini blog q yang baru......aq dah follow n masang linknya....jangan lupa di linkback ya.....

lina@happy family mengatakan...

Tulisan yang mencerahkan...
Kebebasan memang harus diikuti dgn tanggung jawab.

SeNjA mengatakan...

karena dua hari kmn gak enak badan aku jadi terlambat datang ke rumah baru mas insan ini,gak papa ya...dari pd tidak sama sekali.

selamat tahun baru islam ya mas ^_^,rumah barunya Ok jg...warnanya lebih terang ya....

annie mengatakan...

Di daftar "Blogroll" abdi ada pembaharuan artikel dari blog akang berjudul Submit Artikel, tapi diklik naha teu aya?

KANdaNGTips.bloGspot.Com mengatakan...

Seharusnya memang kita mengikuti kebebasan yang diajarkan islam. No barat!

agoez mengatakan...

Pertamax Tulisannya.......Salute

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Kebebasan harus mempertimbangkan perasaan umat beragama, etnis, dan suku tertentu. Di mana
pun, kebebasan harus tetap mengikuti rambu-rambu agama dan budaya pada wilayah serta komunitas bersangkutan.

Tanpa ada rambu-rambu semacam itu kebebasan menjadi anarkhi dan berujung pada kekacauan.

Munir Ardi mengatakan...

Islam sendiri agung hanya orang yang menjalankannya secara berbeda-beda

Poskan Komentar