Maaf. Ini Gelang Bukan Arloji!

Siang itu kota terasa gerah. Gerah ini hasil kolaborasi apik antara cuaca panas, jalanan macet, ditambah seorang sopir yang kurang memiliki kecerdasaan emosional. Siapa pun dijamin tak akan betah tinggal lama-lama dalam kotak berjalan yang bernama angkot dengan kondisi seperti itu.

Setengah perjalanan ke rumah dengan angkot ini kurasakan begitu berat seperti menjalani sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Indikasinya pun hampr serupa: lemah, letih, lesu, dan tentu saja bĂȘte alias bad mood. Siapa pun yang menyapaku saat itu, muluk kalau ia mengharapkan sekadar senyuman kecil atau basa basi penghias silaturahmi.

Angkot merapat ke samping kiri. Berhenti. Seorang penumpang pun bertambah. Tiba-tiba…
Fluktuasi emosi mendadak terjadi pada diriku. Daya vitalitas terasa merasuki tubuhku. Ia merambat dari ujung jari kaki, menelusuri aliran darah, hingga akhirnya sampai ke jantung. Kini kesegaran mengambil alih lesu yang dari tadi menduduki tubuh. Seperti malaikat yang memberikan kesegaran bagi penduduk neraka yang telah habis disiksa karena tak puasa, hanya untuk mendapatkan siksaan selanjutnya. Tiba-tiba.

Kurasakan kepala begitu ringan tak berbeban. Fungsi mata pun terasa begitu optimal. Apa pun terlihat cerah. Semua energi negatif terasa mengapung, menguap keluar melewati pori-pori tubuhku. Kini yang terasa hanyalah sensasi bugar dan nyaman. Persis seperti suasa waktu lebaran. Bahagia.

Interior angkot yang bahkan tak tahu apa itu salon mobil pun terasa begitu mewah layaknya mobil-mobil pemenang event Autoblackthrough. Aroma goreng tahu campur asap Djarum Black Slimz tercium seakan parfum import. Tak ketinggalan penumpang. Mereka terlihat anggun dan sopan dalam balutan busana elegan layaknya para penumpang dalam pesawat khusus Negara. Terutama ia. Seorang wanita muda berbalut kemeja putih yang duduk tepat berhadapan denganku. Ia lah sang penumpang baru, pembawa angin perubahan.

Kecantikannya mendorong keluar naluri pujangga yang lama terlelap dalam diriku, hingga mengalirlah sebuah syair gombal: Wahai engkau, siapakah gerangan dirimu? Pemahat manakah yang sanggup memahat dirimu sehingga menghasilkan rupa sesempurna ini? Ataukah kau adalah titisan tujuh bidadari firdaus bersatu? Hati ini hancur melihatmu. Sayangnya, ia tak mendengar.

Kuputar otak untuk dapat menghasilkan kata-kata pembukaan yang manis, berkesan, namun tak dibuat-buat dan tak berkesan norak. Memori ingatanku aku gali, siapa tahu di sana tersimpan sebuah file tentang kata pembuka indah dalam berkenalan di angkot. Namun semua itu sia-sia. Otakku terasa tiba-tiba tumpul. Ingatanku terasa mendadak pikun. Aku pun tak berhasil dengan cara ini.

Apabila otak tak dapat berkreasi positif dan ingatan mengalami error downloading, tentu saja cara terakhir adalah bermuslihat. Muncullah beberapa ide:

1. Kristin? Kemana aja? Di mana sekarang anak-anak SMP yang lain? Si Lia udah merit?. Strategi pertama, “Strategi teman lama, dan sekarang terlihat pangling”. Strategi ini tak disetujui sistem otak karena terdeteksi sebuah kemungkinan: Apabila ia kaget, malas berpikir flash back, bayangkan respon spontanitasnya! Pasti akan mengakibatkan dirimu trauma angkot.

2. Seting alarm hand phone agar bunyi satu menitan lagi. Apabila alarm menyala, angkat hand phone, seolah-olah ada telpon masuk. Berbicaralah dengan penelepon virtual itu dengan tema pembicaraan: penelepon menanyakan posisi kamu sekarang berada di mana. Tapi sayangnya kamu bukan asli kota ini, jadi tak hapal nama jalan. Maka, tanyakanlah pada wanita itu: Maaf teh, kita sedang di jalan apa ya? Strategi ini bernama “Strategi tersesat di kota”. Lagi-lagi ditolak karena siapa tahu di antara penumpang ada yang tahu bahwa aku asli orang sini. Malunya kebawa sampai akhirat. Lagipula terasa ribet, dan siapa tahu dia juga bukan warga asli kota ini.

3. Injak sepatunya. Aduh maaf mba, aku benar-benar gak sengaja. Lalu kamu gosok-gosok sepatunya, perlihatkan sangat merasa gak enak di depannya. Wanita itu pasti menolaknya, dan terjadilah pembicaraan. Selanjutnya, terserah anda.

Rencana sudah fix. Strategi ketiga lah yang siap digunakan. Baru saja misi akan segera dimulai, tiba-tiba bibir dalam hatiku berbisik pelan namun terdengar jelas: Kamu gitu amat sih! Mau kenalan saja harus menghalalkan segala cara. Maksa! Kata itu terdengar menuding dan menghakimi. Tentu saja aku jengah karena tudingan itu mengancam serius harga diriku sebagai laki-laki. Aku tak mau membenarkan tudingan itu. Maka kuputuskan untuk membatalakan strategi ini. Habislah stok strategiku.

Angkot terus melaju. Kecepatannya jauh lebih cepat seratus kali dari gerakkan otakku dalam mereka rencana mencari celah dalam sempitnya angkot untuk dapat berkenalan, atau sekadar tahu nama wanita itu. Sopir menginjak pedal gas, keringatku terpacu keluar. Sopir over gigi, pantatku yang bergoyang gelisah.

Sampai akhirnya garis finish perjalananku—perempatan RUmah Sakit--telah dapat kulihat dari dalam angkot. Namun aku masih belum juga menemukan satu cara pun untuk dapat berkenalan dengannya. Waktu itu aku gemas pada diriku sendiri. Ingin sekali aku membelah diri menjadi wujud baru, dan mengumpat habis induk diriku yang terlihat begitu tolol.

Syukur aku persembahkan. Di detik-detik terakhir itu lah akhirnya pertolongan pun datang. Sejurus aku melihat dirinya mengenakkan sesuatu di pergelangan tangannya kirinya. Benda itu berwarna hitam, melingkar, persis seperti sebuah arloji. Meluncurlah ide dalam benakku secepat aliran listrik dalam syaraf-syaraf otak. Bibirku mesem. Aku pun urungkan niat untuk membelah diri karena aku mulai merasa bangga pada diriku sendiri yang tanpa sepengetahuanku memiliki tenaga dalam (aku percaya bahwa konsep tenaga dalam itu adalah kekuatan besar dalam diri yang tak lazim dalam keadaan-keadaan normal. Ia hanya keluar saat kondisi abnormal, ketika diri dalam keadaan benar-benar gawat darurat).

Tanpa pikir panjang—dalam kondisi seperti ini, pikir panjang bukan bentuk dari kearifan, namun wujud dari kesia-siaan—aku langsung bertanya padanya:

“Maaf teh, jam berapa ya?” Mataku berisyarat menunjuk arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Oh ya, kulakukan itu dengan tingkat kepercayaan diri selevel Tantowi Yahya.

Pertama kali bibirnya mengulas senyum. Aku pun bangga. Selanjutnya bibir itu pun bergerak, berujar: “Aduh maaf ya. Ini gelang. Bukan arloji!!!

XXX

Angin kurasakan gerah. Ruangan begitu sumpek, memancing ambek. Dan sang kondektur menyemarakkan derita ini dengan nyanyian paraunya yang sumbang: “Rumah Sakit habis…Rumah Sakit habis…” 

 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 13 Tanggapan... read them below or add one }

Warung Bebas mengatakan...

Ini cerpen ya?

SeNjA mengatakan...

hemm,.... hihihi,aduuhh....jadi senyum2 sendiri nih ^_^

lain kali teliti dulu ya sob,benarkah itu jam ? hehe...
kayanya ide nginjek sepatu blh jg tuh,paling nanti kamu dicemberutin haha...

seru dan enak bgt dibacanya ^_^

nuansa pena mengatakan...

ha ... ha ... ha ..... maaf baru mulai aja sudah ceroboh .... apalagi berlanjut jadi "Cinta Buta" ..... ! Pengalaman pertama yaa ..... jangan batasi pikiran anda ..... langsung aja ngomong ingin kenalan ... khan belum kenal .... itu pun kalau ada kesempatan lagi!

ateh75 mengatakan...

hehehe...cinta dalam angkot nih judulnya,godaan yg menyulut sang pujangga ,...sayang sang bidadari tak mendengar syairmu...kasiaaaaan deh hihihi...

alkatro mengatakan...

harusnya mas tanya ' anda senang pakai gelang apa pakai arloji?' .. hi hi hi..

diar mengatakan...

He heh...

Kesihan deh si tokoh yang kepingin kenalannya. He heh... aku juga suka begitu lho kalau seangkot sama cewek cantik.

He heh...

ateh75 mengatakan...

Wilujeng sonteun...
ih..atuh teu sawios-wios kang,meuni sakituna ..abdi mah biasa-biasa wae ulah sakituna..hehe...teu keudah nyuhunkeun hapunteun ka abdi ,da teu aya nu-leupat.

lagi usil mengatakan...

huahahah, pesona kemeja putih emang membutakan mata, ato sebaliknya, mewaskitakan, membuat mata melihat apa yang sesungguhnya tidak aja :D
trims dah mampir bro...

Get Your Wish mengatakan...

wahahaha beneran kocak. memang gelangnya dari kulit yah, koq terlihat seperti arloji?

Ndoro Seten mengatakan...

Ini bukannya pengalaman pribadi?

annie mengatakan...

hihi ... bodor!
Nanti-nanti sering keluar masuk toko perhiasan biar tahu model gelang keluaran baru, jangan ketuker dengan arloji.
kali ini sang pujangga mati kutu hehe ...

oema mengatakan...

Hehe..lucu banget kang...sederhana tapi menrik! sip deh!. O iya.. pesan akang udah di bales tuh.. terima kasih atas komentrnya...

lina@happy family mengatakan...

Lucu banget, mau kenalan aja kok repot2...

Posting Komentar