Komentar Atas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II


Akhirnya, setelah proses panjang dan menarik, karena media menyajikannya layaknya “reality show”, telah terbentuk juga Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dan telah disahkan. Tak lupa, ritual sumpah jabatan pun telah digelar. Seperti biasa, dengan menggunakan kata “Demi Allah”. Inilah susunan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Dengan formasi ini tentu saja tak semua pihak puas. Lebih tepatnya “terpuaskan”. Banyak di antara mereka yang pesimis dengan formasi kabinet ini. Lebih tepatnya pesimis akan intergritas dan kapasitas mereka sebagai individu.

Mereka yang pesimis ini memiliki asumsi bahwa dalam merumuskan formasi kabinetnya, SBY cenderung mengabaiakan profesionalitas. Malah sebaliknya, mengedepankan kepentingan politik (khususnya dukungan atas pemerintahnnya sendiri). Para menteri yang idealnya adalah orang-orang yang ahli di bidangnya atau pakar professional, ini malah berisi orang-orang “titipan” partai politik. Istilah apatisnya “Politik dagang daging”. “Presiden tersandera oleh partai politik.” Begitulah bahasa salah satu tokoh partai HANURA dalam acara Janji Wakil Rakyat di TV One.

Tapi para pendukung formasi kabinet ini pun ternyata memiliki argument, lebih jelasnya “kelitan”, bahwa menteri itu gak selalu harus profesional. Karena tugas menteri itu kan hanya sebagai manager, yang memenejemen. Kan dibawahnya punya dirjen-dirjen yang telah biasa bekerja…Justru menteri-menteri itu harus memiliki keberpihakan politik dengan presiden, demi berjalannya program-program pemerintah.

Didengar, dipikirkan, dan akhirnya dihayati, memang ada benarnya juga dalih yang diberikan tokoh-tokoh partai koalisi itu. Ya terlepas bahwa argument itu muncul karena didasarkan bahwa kader-kader partainya terpilih duduk di kabinet. Kalu gak kepilih mah ya pasti beda cerita deh…Tapi kan kita gak boleh suudzon ya. Nanti dosa lho!

Yang paling saya setuju karena dalih mereka itu memiliki muatan local wisdom atau kearifan lokal. Argumen mereka itu bersumber dan sejalan dengan pikiran orang-orang tua dulu yang masih belum melek pendidikan. “Ngapain ndo, kok sekolah pake tinggi-tinggi segala. Presiden sudah ada. Wakilnya juga ada. Menteri sudah banyak, yang mau juga gak sedikit”

Nah mungkin inilah landasan berpikir mereka, dan mereka juga memang para pemegang prinsip: “Memelihara tradisi lama yang baik” Karena mereka itu alumni-alumni kampus yang pinter, jadi rumusan “dulu” itu pun mengalami perkembangan agar sejalan dengan alam pikiran modern: “Dalam urusan pemerintahan, profesionalitas dan kapasitas itu tak terlalu penting. Yang lebih penting adalah dukungan politik. Pokoknya Politik…Hidup Politik…”

Apabila kita amati, mereka memberikan satu pendidikan moral bagi kita yang tentu saja bermanfaat bagi kehidupan kita: “Ngapain ndo, kok sekolah pake tinggi-tinggi segala. Buang-buang waktu dan biaya saja. Sudah, mending sekarang kamu berteman dengan para birokrat, jalin hubungan dengan orang-orang penting, pererat siltaurahim dengan para tokoh partai politik. Dan jangan lupa, jadilah kamu tokoh partai. Sekarang professionalitas gak penting. Yang penting bagi kamu sekarang adalah dukungan partai!” 

***Gambar dari http://www.indonesia-monitor.com/ 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 1 Tanggapan... read them below or add one }

annie mengatakan...

Semoga mereka dapat mengemban amanah menjadi pemimpin yang baik dan lurus di jalan-Nya. Amiiin

Posting Komentar