Kita Tersenyum Yuk…

Kita semua sebagai mahluk sosial tentu saja mempunyai banyak keinginan. Dan memang dalam tataran tertentu keinginan-keinginan tersebut merupakan kebutuhan kita untuk dapat terus bertahan di lingkungan social kita.

Sebagai mahluk social yang tak pernah henti berinteraksi dengan anggota social lainnya kita semua menginginkan pengakuan atau eksis. Kita selalu ingin keberadaan kita di akui oleh orang lain. Begitu juga prestise. Siapa yang tak menginginkan prestise? Di alam modern yang struktur sosialnya demikian kompleks, meniscayakan kita semua untuk mendambakan prestise di masyarakat. Bahkan orang rela untuk tidak dibayar dalam bekerja (sukwan dinas) hanya untuk bisa mengenakan seragam pegawai negeri sipil. Itu semua didorong oleh keinginan akan prestise. Pun sama halnya dengan aktualisasi, popularitas,dan kitapun dapat membuat daftar yang panjang akan semua kebutuhan-kebutuhan ini.

Tapi terkadang kita bertanya, apakah memang ini yang benar-benar penting dalam kehidupan kita? Saya katakan itu memang penting untuk kita dapatkan. Tetapi, ada satu hal yang sering luput atau terlupakan dari kita semua yang kedudukannya sama penting bahkan melampaui itu semua. Apakah gerangan? Saya jawab, sederhana saja. Hanya garis horizontal tipis di wajah kita: SENYUMAN. Percayalah, bahwa senyuman itu bukan saja penting untuk diri kita, tetapi orang lainpun mengharapkan itu. Kita benar-benar butuh yang satu ini.

Senyuman adalah ciri orang-orang proaktif. Orang yang reaktif sangat susah melakukan hal sederhana ini. Lebih dari itu senyuman juga merupakan salah satu ciri dari hamba Allah yang baik. Karena segaris senyuman tulus hanya dapat keluar dari seorang hamba yang hatinya selalu ridho atas segala ketentuan, bersyukur atas segala keadaan, dan akhirnya ikhlas atas semua qada dan qadar dari Allah SWT. Dan semua itu hanya berada dalam diri seorang mukmin yang telah tercerahkan jiwanya.

Maka dari itu, yuk kita tersenyum. Hadapi segala “kenyataan” (saya enggan menggunakan kata masalah) dengan tindakan yang paling proaktif: TERSENYUM. Mari kita sambut semua “tamu-tamu” yang menghampiri kehidupan kita dengan seulas senyum tulus. Kita tersenyum, saudara kita tersenyum, tetangga tersenyum, masyarakat tersenyum, bangsa tersenyum, dan akhirnya duniapun tersenyum.

Mari kita bernyanyi bersama:

“Hadapi dengan senyuman semua yang terjadi biar terjadi. Hadapi dengan tenang jiwa semua akan baik-baik saja…”

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar