Khidmat Ilmiyah KH. Tohir Abdul Kohir ra, Sumedang 18-10-2009

Manakib kali ini diselenggarakan pada Minggu pagi tanggal 18 Oktober 2009 jam 08.00 WIB di Sumedang, tepatnya di leleson Bpk. Oman dalam rangka walimatul safar ibadah haji. Khidmat ilmiah oleh KH. Tohir Abdul Kohir ra (Ajengan Ohir) Wakil Talqin Abah Anom (Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin) Sumedang.

Dalam thausiyahnya, Beliau ra menegaskan bahwa substansi semua ritus dalam ibadah haji adalah menegakkan dzikrulloh. Tidak hanya ibadah haji. Namun semua laku ibadah dalam agama Islam memiliki substansi dzikrullloh. Alhamdulillah, Pangersa Guru Agung qsa telah memberikan alatnya bagi kita semua.

Ajengan Ohir ra juga mengingatkan para ikhwan dan jamaah yang hadir untuk senantiasa sadar, eling, bahwa di atas keinginan kita sebagai manusia, ada Kehendak Yang Maha Berkehendak. Selain rencana kita, ada Qada dan Qadar dari Allah Yang Maha Menentukan. Cita-cita kita tak selamanya akan selalu terwujud. Maka dengan kesadaran akan adanya

Sesuatu Yang Maha Besar di luar kita, diharapkan kita senantiasa ikhlas dan ridho atas segala ketetapannya. Walaupun mungkin pada saat itu, ketepan Allah berbeda dengan ingin kita. Kenyataan begitu tak memihak pada kita. Namun sesungguhnya kita tak mengetahui akan segala sesuatu. Dia-lah Yang Maha Mengetahui. Berkhusnudzonlah pada Allah. Berbaik sangkalah pada-Nya. Bukankah Allah sebagaiman dengan prasangka hambanya? Bukankah sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik pula di hadapan Allah?

Beliau (Ajengan Ohir r.a) memberikan sebuah metafora yang sangat indah mengenai ini. “Keinginan, cita-cita kita itu bagaikan layar sebuah perahu. Sedangkan Ketetapan Allah adalah angin laut yang meniup dan mengarahkan arah perahu. Maka dari itu, arahkanlah layarmu sesuai dengan arus angin. Bila engkau tetap keukeuh melawan arus sang angin, niscaya layarmu akan bertabrakan dengan daya angin sampai akhirnya perahumu yang akan terjungkir.

Selain membahas tentang qada dan qadar-Nya, Beliau r.a juga mengajak agar semua ikhwan dan tamu undangan untuk menjadi haji! Pangersa Kiai Ohir ra memberi tekanan khusus dengan menggunakan kalimat seru. Sambil bercanda dengan penuh adab, Beliau r.a menyindir orang yang suka melamun, memanjangkan angan-angan. Golongan ini seringkali mengatakan: “Andai saja saya punya uang, ada rizkinya, ingin saya naik haji” Ini adalah contoh dari perkataan orang-orang pengkhayal dan reaktif. Mereka tipikal orang yang menunggu kondisi, memindahkan tanggung jawab dirinya pada sesuatu di luar dirinya (dalam hal ini kondisi). Mereka berfokus pada sesuatu yang tidak berada dalam kekuasaannya daripada berfokus pada dirinya sendiri. Mata menengadah melihat bintang, sementara emas diinjakkan terlupakan.

Banyak diantara tamu yang hadir agak mengernyitkan dahi, bingung, tak mengerti akan apa yang diucapkan Pangersa Wakil Talqin itu. Bagaaimana bisa melaksanakan ibadah haji bila tak punya bekal alias duit? Lalu Pangersa r.a menerangkn lebih lanjut bahwa tidak semua umat muslim yang berangkat ke tanah suci akan menjadi haji. Pun sebaliknya. Ada juga orang yang tak berangkat ke Mekkah dan Madinnah namun maqomnya di sisi Allah bahkan lebih tinggi dari orang yang melaksanakan haji secara syariat. Ajengan Ohir r.a menerangkan suatu pemaparan hakikat bahwa agama itu tak mewilah-wilah. Tak ada yang diistimewakan di atas yang lain. Kalau dalam bahasa sekarang mungkin disebut egaliter. Ya, islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai egalitrianisme. Kalau kedudukan haji mabrur dan mabruroh hanya boleh dicicipi oleh orang-orang kaya saja, lalu bagaimana dengan nasib orang miskin? Apakah karena kemiskinanya—yang sebenarnya itu juga bukan karena keinginannya sendiri—Allah menisbikannya? Memarginalkannya? Maha Suci Allah dari sifat demikian.

Di sela-sela pemaparannya itu Wakil Talqin Sumedang ini mengisahkan tentang seorang sol sepatu yang tak jadi melaksanakan haji karena uangnya telah habis dishodaqohkan pada orang yang sedang werit, repot payah secara ekonomi. Namun anehnya, selang beberapa waktu ada kiriman ke rumahnya yaitu piagam haji untuk dirinya yang dikeluarkan oleh Kerajaan Arab Saudi. Ia hanya bisa melongo karena tak merasa berangkat ibadah haji.

Jalan yang bisa ditempuh oleh orang yang tidak atau belum punya bekal ibadah haji namun ingin mendapatkan gelar haji, Ajengan Ohir r.a melanjutkan kajiannya, yaitu dengan melakukan salah satu anjuran Panutan alam saw: Bangun dan lakukan shalat shubuh berjamaah. Setelah itu berdzikirlah sampai waktu isyrok (sekira pukul enaman), lalu shalatlah dua rakaat. Inilah yang disebut dengan shalat sunnat isyrok. Kanjeng Nabi saw mengatakan ”Ialah haji sempurna. Sempurna. Sempurna.” Beliau saw mengulang kata sempurna sebanyak tiga ulangan.

“Jadi jangan melamun lagi! Kalau benar mau, ingin menjadi haji sempurna ya lakukanlah itu.” Ajengan Ohir ra menyeru keras para mustami dengan nada tersirat guyon. Namun tentu saja bagi orang-orang yang belum terbiasa melakukannya hal ini akan menjadi suatu amaliyah yang terasa berat. Untuk mengatasinya, Beliar r.a menyarankan, agar melakukan riyadhoh (latihan dengan melakukan suatu disiplin tertentu dengan maksud agar seseorang yang melakukan riyadhoh itu bisa mengendalikan hawa nafsunya).

Dalam pemaparannya yang gamblang tentang keutamaan amaliyah malam, Pangersa Ajengan Ohir ra mengisahkan tentang satu karomah Pangersa Guru Agung Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, qsa. Satu waktu ada dua orang yang showan ke Pangera Abah Anom dan mereka meminta sesuatu yang sama, yaitu bimbingan riyadhoh. Namun menarik sekali, Pangersa Abah Anom qsa tidak memberikan bentuk riyadhoh yang sama, walaupun jelas-jelas permintaan mereka berdua itu sama. Kepada salah satunya Pangersa Abah Anom qsa menyuruh agar bangun tepat waktu shubuh, jangan sampai kesiangan shalat shubuh. Namun untuk yang lainnya, Beliau qsa memerintahkan agar bangun lebih awal, sekira jam tigaan malam. Terlihat agak aneh. Setelah ditanyakan pada dua orang yang bersangkutan, didaptkanlah penjelasan bahwa ternyata orang yang disuruh Guru qsa bangun waktu shubuh itu memang sehari-harinya ia selalu kesiangan shalat shubuh. Sedangkan yang lainnya mengaku bahwa dirinya telah terbiasa bangun shubuh, namun belum terbiasa bangun malam.

Di sinilah letak salah satu keutamaan Guru Mursyid. Ia tahu akan keadaan murid-murdinya. Pembedaan perlakuannya bukan didasarkan pada nafsu namun kebijakan yang suci dari keadaam mukasyafah. Sungguh tak ada rahasia di hadapan Guru Agung qsa. Semoga Allah senantiasa menambah-nambah karomah barokah Beliau. Allahuma Amiin. ***Pemaparan ini hanya sebatas yang dapat saya tangkap dan yang hanya mungkin dan bisa dikomunisaikan kembali. Semua kekeliruan dalam pemaparan ini murni dari kesalahan saya yang bodoh dan masih ghoflah. Mohon dimaklum!

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar