Khidmat ilmiyah Ajengan Jalaludin Tasik dan Ajengan Maman Majalengka, Sumedang 18-10-2009

Manaqib kali ini diselenggarakan pada malam Senin tanggal 18 Oktober 2009 bada Isya di Sumedang, tepatnya di leleson Ibu Hj. Dahman. Manaqib ini diseleggarakan secara rutin satu bulan sekali.

Dalam kesempatan kali ini, Ajengan Jalaludin salah satu sesepuh Khotaman/Manakiban dari Tasik mengajak ikhwan semua untuk senantiasa meningkatkan amal shaleh. Terlebih dalam bulan Syawal. Menurut Baliau, Syawal sendiri mempunyai arti “meningkat”. Artinya, amaliyah dalam bulan ini hendaknya lebih meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas daripada bulan kemarin, Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan latihan, dan panen amalnya—seharusnya—di bulan Syawal ini. Bukan malah sebaliknya.

Beliau juga menerangkan salah satu keterangan agama bahwa seluruh manusia adalah hina di hadapan Hadirat Allah swt. Terkecuali ia yang menyambungkan, menjaga, memelihara

habluminalloh sekaligus habluminannas. Ini merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, bagai dua sisi mata uang. Yang satu menggenapi yang lain. Habluminalloh adalah hubungan kepada Yang Khalik (interaksi vertical) sedangkan habluminannas yaitu hubungan dengan sesama manusia (interksi horizontal). Apabila yang dua ini terjadi dan terjaga dengan baik maka naiklah derajat kita sebagai manusia mungguhing Alllah.

Dalam praktiknya, habluminalloh terbagi ke dalam dua bentuk, yaitu: bentuk lahir dan bentuk bathin. Lahiriyah dan bathiniah. Kasat dan tak kasat mata. Habluminalloh lahir yaitu seluruh laku ibadah lahir, fisik, seperti: shalat, puasa, zakat, haji, dan seluruh ibadah lahir yang sifatnya kasat mata. Ibadah badaniyah ini mempunyai hukum-hukum tertentu yang telah dirumuskan oleh para ulama fiqih. Karena sifatnya yang jasadi, bentuk habluminalloh ini sangat terbatas dan rigid karena memang terikat oleh hukum-hukum dan ketentuan.

Selanjutnya adalah hablluminalloh dalam bentuknya yang bathiniyah, yaitu seluruh laku ibadah yang tak kasat mata, yang tak kentara. Itulah amaliyah qalbu, yakni eling, ingat, wushulnya hati kepada Yang Maha Satu (perhatikan, bukan satu!), Ia lah Hadhrot Allah swt atau yang dikenal dengan dzikrulloh. Inilah substansi dari semua ibadah. Mubaligh Suryalaya ini menegaskan bahwa nilainya semua ibadah diukur dari hatinya. Tak ada ibadah tanpa dzikrulloh. Berbeda dengan habluminalloh badaniyyah yang terbatas, yang terikat oleh hukum, ibadah bathin ini tidak berbatas oleh ruang dan waktu. Setiap gerak, perbuatan, bahkan denyut jantung hendaknya senantiasa ada dalam keadaan eling atau dzikir pada Allah swt. Intinya, dzikir merupakan nafas semua ibadah.

Sama halnya dengan habluminalloh, habluminannas pun terbagi ke dalam dua bentuk: lahir dan bathin. Habluminannas lahir yaitu dengan menjaga dan memlihara hubungan baik kita dengan sesama manusia, seperti yang tersurat dalan Tanbih. Sedangkan habluminannas bathin yaitu dengan menjaga kesucian hati kita kepada orang lain, siapapun itu. Tidak ada rasa dendam, iri, dengki, dan penyakit-penyakit hati yang laiinya. Sebaliknya hati kita harus senantiasa positif kepada yang liyan. Ajengan Jalaludin juga menambahkan bahwa menjaga hubungan baik itu bukan hanya dengan saudara-saudara kita yang masih jumeneng, melainkan dengan mereka yang telah meninggalkan kita pun harus senantiasa terjaga dan terpelihara. Salah satu caranya adalah dengan selalu mendoakan mereka.

Ajengan Maman, sesepuh Khotaman/Manakiban dari Majalengka, menambahkan bahwa semua laku ibadah itu diterima Allah apabila dengan amaliyah itu dapat meningkatkan kualitas hidup seorang muslim. Sebagai contoh, apabila seorang muslim melakukan ibadah shaum di bulan Ramadhan namun tidak dapat meningkatkan amalnya di bulan-bulan yangn lain, ini merupakan indikasi bahwa ibadah shaumnya di bulan Ramadhan itu tidak diterima oleh Allah. Begitu juga dengan ibadah shalat, haji, dan lain sebagainya. Jadi, amal ibadah kita itu diterima Allah apabila amal tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pembahasan ini bukan hanya menyangkut kepada sisi ritual saja, melainkan juga relevan untuk segi social. Singkatnya, kesalehan ritual kita harus menjadikan kesalehan social. Saleh ritual, juga saleh social.


***Pemaparan ini hanya sebatas yang dapat saya tangkap dan yang hanya mungkin dan bisa dikomunisaikan kembali. Semua kekeliruan dalam pemaparan ini murni dari kesalahan saya yang bodoh dan masih ghoflah. Mohon dimaklum! 

Lihat khidmat ilmiyah Ajengan Tohor Abdul Kohir ra

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar